MIRNA

MIRNA
Episode 50



Syafiyah mendengar deru mesin mobil yang tampak sudah meninggalkan halaman rumahnya. Ia terlihat sangat senang dan juga sangat lega, sebab Ia masih begitu sangat trauma akan kejadian tang sedang menimpanya pagi tadi.


Tak berselang lama, mobil Satria telah sampai didepan rumah Mirna. Satria ingin segera pergi namun Ia merasa sangat berat dan tak tega.


"Bisa buatkan Mas kopi panas?" ucap Satria dengan lirih.


Mirna menganggukkan kepalanya dan tampak tersenyum bahagia.


Senyum itu, yang membuat Satria betah menatapnya. Keduanya turun dari mobil dan menuju rumah Mirna.


Mirna membuka pintu rumahnya dan masuk kedalam yang diekori oleh Satria.


Mirna menuju dapur, dan Satria menutup pintu depan, karena Ia tak ingin orang sekitar melihatnya.


Mirna merebus air, dan menyeduh kopi untuk suaminya. Setelah selesai membuat kopi permintaan Satria, Ia menghidangkannya.kepada Satria. Lalu Mirna duduk disisi Satria dan bergelayut manja.


Tampaknya Ia terlihat begitu sangat senang "Mas nanti malam datang kemari?" tanya Mirna manja.


Satria menyeruput kopinya. Apapun yang dihidangkan Mirna saat ini membuatnya begitu menyukainya.


"Mas tidak bisa datang malam hari, karena Syafiyah kondisinya seperti itu" ucap Satria lirih. Namun Mirna terdiam dan masih tersenyum misterius tanpa Satria ketahui.


"Ya sudah, tidak apa-apa.. Ntar Mirna yang kesana kalau pagi dan membersihkan rumah" ucap Mirna lirih.


Satria terperangah "Emm..sebaiknya jangan, Sayang. Masa iya sudah jadi istri harus capek juga.. Nanti Mas akan usahakan mengatasi hal dirumah. Kamu jangan khawatir, bia Mas saja yang berkunjung kemari" ucap Satria mencoba mencegah kedatangan Mirna kerumahnya, karena permintaan Syafiyah.


Mirna hanya menganggukkan kepalanya. Lalu mendekap Satria. "Mirna mau makan siang, Mas" ucap Mirna manja.


Satria sadar jika Mirna belum makan siang dan sudah diajaknya pulang, Ia merasa menjadi seorang penjahat yang sangat kejam karena secara tidak langsung menyirkan istrinya.


"Kamu mau makan apa? Biar Mas yang belikan" Tanya Satria merasa bersalah.


Mirna tersenyum seringai "Mau makan Mas saja" jawab Mirna dengan senyum nakalnya.


Seketika wajah saria yang semula serius berubah menjadi penasaran.. "Mirna mau makan Mas lagi" ucapnya sembari mendorong tubuh Satria hingga terhempas ke sofa.


Mirna yang tampak agresif membuat Satria tak berdaya dan pasrah akan perlakuan Istri mudanya itu terhadap dirinya.


Tampaknya Mirna selalu mendominasi disetiap permainnya, hingga Satria harus membaca doa jima' nya dalam hati, dan setelah beberapa jam kemudian, Ia akhirnya melenguh panjang dan mencapai puncak surgawinya dengan begitu sangat terpuaskan.


Mirna menyudahinya dan membiarkan Satria yang masih terkapar disofa. Ia memeluk tubuh suaminya dengan perasaan yang sangat begitu senang.


Satria bingung dengan dirinya, bagaimana Ia dapat meninggalkan Mirna begitu saja, jika Mirna selalu membuatnya terbuai dan melayang.


Sementara itu, Syafiyah merasa ingin buang air. Pampersnya terasa sudah penuh dan jika Ia buang ke pempersnya, maka akan membasahi spreinya.


Syafiyah melihat sudah hampir 3 jam lamanya Satria mengantarkan Mirna, namun belum juga kembali.


Syafiyah menduga jika kini suaminya benar-benar telah jatuh cinta pada madunya itu. Rasa cemburu mulai menggelayuti hatinnya. Ternyata keputusannya menjadi boomerang bagi dirinya sendiri.


Syafiyah semakin gelisah karena sudah tidak dapat lagi menahan rasa buang airnya. Akhirnya Ia terpaksa mengeluarkannya dan benar saja, spreinya basah karena perbuatannya.


Syafiyah merasa risih dengan pampersnya yang sudah penuh dan membuat bokongnya terasa lecet karena memakai pempers seharian.


Syafiyah mencoba membuka pampersnya, dan Ia berusaha mengangkat pinggangnya agar dapat menarik pampers tersebut.


Syafiyah semakin penasaran. Ia mencoba memiringkan tubuhnya, dan Ia sangat terkejut, karena Ia dapat memiringkan tubuhnya dengan ringan.


Selama ini Ia begitu sangat tersiksa karena hanya bisa terlentang saja, sehingga membuat bokongnya lecet dan menimbulkan rasa perih apabila luka itu terkena air seni.


Syafiyah mencoba untuk bangkit dari tidurnya, dan sesuatu yang terduga, Syafiyah bisa bangkit dari tidurnnya dan Ia begitu sangat terkejut.


Syafiyah semakin penasaran dan berusaha untuk bangkit dari ranjangnya dan ingjn berjalan.


Sementara itu, Satria menatap Mirna yang masih mendekap tubuhnya dari atas, Ia mengecup lembut ujung kepala Mirna "Terimakasih. Kamu luar biasa, Sayang" bisik Satria ditelinga Mirna yang terdengar begitiu membuaikan wanita itu.


"Mas pulang dulu, Ya Sayang.. Esok Mas datang berkunjung kemari, dan jangan nakal" bisik Satria.


Mirna tampak begitu sangat kecewa, Ia masih ingin berlama-lama, namun Ia tahu jika Satria juga harus bekeja.


Mirna menganggukkan kepalanya, lalu melepaskan dekapannya "Mandi dulu, Yuk" ajak Mirna dengan nada manjanya.


"Tapi jangan minta lagi, Ya.. Mas kan harus bekerja juga, ntar kalau Mas lemah gimana besok mau datang kemari lagi?"


Mirna mengamggukkan kepalanya, lalu menyingkir dari tubuh Satria dan menarik suaminya untuk mandi bersama.


Lalu keduanya mandi dan membersihkan diri. Satria mengajarkan Mirna tentang doa mandi hadas besar agar Mirna kembali suci.


Setelah selesai mandi dan Mirna memenuhi permintaan Satria agar tak lagi menggarap Satria yang sedari tadi sudah digarapnya.


Ia melepaskan kepergian Satria dengan rasa sangat berat hati, namun Ia harus merelakannya karena ada Syafiyah yang juga menunggu pria pujaannya.


Sementara itu, Syafiyah berusaha melangkahkan kakinya, dan masih terasa sangat kaku karena sudah lama tidak dapat digerakkan.


Syafiyah terus mencobanya, dan lama kelamaan Ia semakin dapat melangkah dengan benar.


"Aku dapat berjalan lagi.. Teriak Syafiyah dengan sangat girang "Dan.. Mirna.. Apakah yang Ia lakukan padaku saat tadi?" Syafiyah merasa penasaran dengan perbuatan Mirna pagi tadi.


Tak berselang lama, mobil Satria terdengar sudah sampai didepan halaman rumah.


Syafiyah merasa bingung. Ia kembali memakai pampersnya yang sudah sangat penuh, lalu kembali berbaring diatas ranjang dengan wajah miris dan memprihatinkan.


Satria membuka pintu rumahnya, dan menuju kamarnya.


Ia melihat Syafiyah yang tampak sangat berantakan. Ia mengahampiri Syafiyah dan menggendongnya kekamar mandi, lalu membersihkan syahiyah dan menyalin pakaiannya.


Satria meletakkan Syafiyah sementara dilantai beralaskan bedcover. Lalu mengganti sprei yang terkena ompol Syafiyah.


Setelah selesai Ia meletakkan kembali Syafiyah ke ranjang dan bergegas mengambil makan siang Syafiyah yang sudah terlewat.


Syafiyah mendenguskan nafas lega, karena hampir saja ketahuan oleh Satria jika Ia sudah berjalan kembali.


Satria mengambil makan siang untuk Syafiyah. Ia teringat akan Mirna yang memasak ikan menu siang ini.


Mirna sudah membuatnya sangat terlena, semua yang dilakukannya membuat Satria begitu sangat terbuai.


Satria kembali kekamar, dan menyuapi Syafiyah dengan sabar. Namun bayangan Mirna selalu hadir dimatanya, ingin rasanya Ia berlama-lama dengan istri keduanya, namun Syafiyah kini berbalik dari keinginannya semula.