MIRNA

MIRNA
episode 207



Badu merasakan jika ada yang menghalangi jalan puterinya untuk menuju peristirahatan terakhirnya.


Ia lalu mengambil sebuah buku yasin yang dibawanya dari rumah saat mendapat panggilan polisi mengenai penemuan sosok mengerikan yang diduga adalah Yanti, puterinya.


Ia memiliki firasat yang tidak mengenakan dan akhirnya membuatnya untuk membawa buku yasin dan akan menjenguk Yanti dipuskesmas nanti saat setelah pulang dari kantor polisi.


Badu mulai membacakan pendahuluan surah yasin dan melanjutkan surah yasin itu dengan derai air mata yang dapat lagi Ia tahan.


Seketika Nini Maru yang ternyata telah memanggil Rey dan juga Ki genderuwo ngacir seketika saat badu mulai membacakan surah tersebut.


Ketiga iblis tersebut melesat mencari tempat persembunyian dan ki Genderuwo membawa kedua sekutunya ke rumah Lela yang sudah lama Ia tinggalkan dan tentunya sangat Ia rindukan.


Sementara itu, Badu terus membaca surah yasin tersebut hingga akhir, dan saat itu Badu kembali membisikkan kalimah syahadat ditelinga kanan Yanti sang puteri semata wayangnya.


Saat itulah bibir Yanti bergerak, dan bersamaan pulahan belatung berjatuhan dan bibir Yanti tak bergerak lagi, lalu detak jantungnya terhenti, dan tak ada lagi denyut nadinya.


Seketika Badu kembali terisak dengan isakan yang memilukan. Seluruh pasien yang berada satu bangsal dengan Yanti merasa sedih dan juga takut penuh kengerian melihat kondisi Yanti yang tak layak lagi disebut manusia, karena sangat mengenaskan.


Setelah memastikan Yanti tak lagi bernyawa, maka pihak puskesmas segera mengurus jenazahnya dan membuat surat kematian untuknya yang kini sudah ditanggungjawabi oleh sang Ayahnya.


Badu mengabari istrinya untuk mempersiapkan proses fardhu kifayah untuk puterinya.


Beberapa warga yang mendengar kematian Yanti yang merupakan sosok yang selama ini meresahkan warga desa merasa penasaran dan sebagian lagi merasa acuh tak acuh.


Namun karena seorang ustaz yang memberikan pengertian kepada warga menyelesaikan Fardhu kifayah tersebut, akhirnya beberapa warga mencoba mempersiapkan segalanya.


Berbeda dengan Badu yang terpukul dengan kematian sang puterinya, namun Ibunya tampak biasa saja, sebab ia hanyalah seorang ibu tiri belaka, dan tidak begitu bersedih hati atas kematian Yanti.


Jasad Yanti tiba dirumah, lalu dengan cepat disegerakan untuk dimandikan, dan saat memandikan jenazah, tidak ada yang memangkunya, karena merasa ngeri dan juga takut, sehingga jenazah tersebut diletakkan di tempat pemandian yang sudah dirancang oleh persatuan kemalangan desa.


Hanya pemandi jenazah dan dua orang lainnya yang membantu untuk memandikan.


Belatung-belatung berjatuhan dari tubuh Yanti yang tentunya membuat para pemandi jenazah merasa ketakutan, namun berusaha untuk tetap memandikannya.


Arwah Yanti yang telah berpisah dari raganya melihat dirinya yang dimandikan memandang dengan bingung. Ia belum menyadari dengan apa yang terjadi padanya. Ia melihat rumah ayahnya, ya rumah yang sudah lama Ia tinggalkan di datangi beberapa warga yang melayat dan merasa penasaran.


Setelah selesai pemandian, Ia di kafankan, lalu dishalatkan oleh beberapa orang saja. Setelah itu Ia dibawa menggunakan keranda menuju pemakaman.


Saat akan sampai menuju kelubang pemakaman, Para pemikul keranda jenazah merasakan jika jenazah Yanti sangatlah berat sekali, dan membuat beberapa orang yang memikulnya tiba-tiba keram dibagian pundaknya dan tanpa terduga, keranda yang dipikul terlempar ke depan tanpa sebab dan membuat jenazah Yanti ikut meluncur keluar dari keranda dan terkena kubangan yang ada didepannya.


Warga seketika berteriak ketakutan dan merasa kebingungan.


Saat akan diangkat untuk dimasukkan kedalam lubang makam, jenazah itu kembali berulah dan terlepas dari tangan para warga yang akan mengangakatnya, dan meluncur masuk sendiri ke dalam lubang makam yang membuat semua mata terbeliak menahan rasa takut.


Badu menangis terisak dan tidak menyangka dengan apa yang dilihatnya. Ia tidak menduga jika kematian puterinya menyisahkan kisah yang sangat mengerikan.


Badu merafalkan doa terakhir untuk puterinya dan melangkah pergi.


Saat kepergian ayahnya yang meninggalkan makamnya,Yanti merasakan jika kini dirinya menjadi yang terhukum dan malaikat mulai menanyainya.


Saat bersamaan, tanah makamnya yang masih merah dipenuhi belatung yang menutupi semua permukaannya, dan ini sangat mengerikan bagi siapa yang melihatnya.


Sementara itu, kisah kematian Yanti menjadi perbincangan yang sangat panas, dan warga berharap jika kematian Yanti akan membuat desa kembali tenang dan aman.


Namun apakah harapan itu akan terwujud? Apakah penyebab dari teror diwarga desa sudah musnah? Warga tidak mengetahui jika sumbernya masih berkeliaran dan akan terus meneror hingga terpenuhinya tumbal 40 janin dan tumbal 40 lato-lato dengan sempurnah.


Keranda Yanti yang terjatuh dan jenazah wanita pengabdi iblis itu terkubur secara sendiri menjadi perbincangan warga. Mereka terus bergosip hingga tidak menyadari jika jin qorin Yanti mengawasi mereka dengan tatapan yang sulit dimengerti.


Sementara itu, Lela yang sudah lama menantikan ki Genderuwo, tampak tersenyum saat melihat Sosok itu muncul dihadapannya.


"Ki.. Kemana saja sudah lama tidak berkunjung?" ucap Lela yang dapat melihat sosok asli Ki genderuwo.


Namun bukannya takut, Ia tampaknya sudah terbiasa dengan sosok itu.


Lalu Nini Maru dan juga Rey kini hanya menjadi penonton bagi kedua makhluk beda alam tersebut.


"Apakah Kau merindukanku, Lela?" tanya Ki Genderuwo dengan bangga, sebab Lela ternyata sudah menjadikannya candu yang tak dapat dilupakan.


"Aku sangat merindukanmu, Ki.. Bisa kah kau hadir dalam wujud kakek Nugroho?" tanya Lela dengan tak sabar.


Ki Genderuwo menganggukkan kepalanya, lalu mengubah wujudnya menjadi kakek Nugroho, dan Lela yang tidak menyadari kehadiran Nini Maru dan juga Rey, menyergak kakek Nugroho yang sudah lama dirindukannya. Ia merindukan sentuhan pria renta itu. Keduanya bergumul dihadapan Nini Maru dan juga Rey.


Meskipun Nini Maru merasa kesal karena Ki genderuwo bergumul dihadapannya, namun Ia merasa senang jika seandainya Lela mengandung dan melahirkan anak manusia setengah iblis.


Malam menjelma. Para takziah datang yang hanya beberpa orang saja. Sebab warga merasa takut untuk keluar rumah.


Saat selesai acara takziah Bejo dan dua orang warga lainnya menuju pulang, saat itu mereka melewati jalanan sepi. Dari arah kejauhan mereka melihat sosok Yanti dengan rongga penuh belatung dan tubuhnya yang hancur menatap para warga yang sedang berjalan menuju pulang.


Tubuhnya tampak terlihat oleh pendaran lampu jalan yang membuat para warga termasuk ejo ngacir berbalik arah dan tidak berani untuk pulang.


Mereka terpaksa menginap dirumah salah satu warga yang tak jauh dari rumah ayah Yanti.


Ternyata yang mereka lihat itu adalah jin qorin Yanti yang kini dimanfaatkan oleh Nini Maru untuk meneror warga desa.


Hal tersebut bertujuan agar tidak ada yang mendoakan Yanti dan tentunya warga tidak akan datang lagi untuk bertakziah.