
Malam beranjak, dan kegelapan malam yang pekat kian menambah kesunyian.
Angkasa menarik tangan Samudera menuju ke pemakaman. "Heei.. Ini bahaya tau" omel Samudera kepada Angkasa yang kerjanya membuat menempuh bahaya.
Padahal luka dilengan dan ditelapak tangannya belum sembuh, tetapi kali ini Ia sudah kembali mencari sesuatu yang membuat Samudera selalu sport jantung.
Angkasa tak menghiraukan apa yang diucapkan oleh Kakaknya. Ia kembali membawa Samudera dibalik pintu pagar makam.
Tampak sunyi, lalu Angkasa membawa Samudera mengendap dibalik pohon beringin yang tumbuh dengan kokoh selama ratusan tahun. Saat menyentuhnya, Angkasa melihat bayangan dimasa lampau saat sang neneknya yang bernama Mala bertemu dengan kakek penggantinya yaitu Bayu. Dipohon ini dulu kakek Bayu itu selalu mengintai Mala sang Nenek saat berziarah ke makam tersebut.
Namun bayangan itu menghilang saat Angkasa mendengar derap langkah dari seseorang dikejauhan.
"Sssstttsss.. Dia datang!" bisik Angkasa dengan sangat merendahkan nada bicaranya.
Samudera melihat sosok manusia sedang berjalan dalam kegelapan menuju makam Melly.
Ia duduk bersila dan menyalahkan dupa serta membakar kemenyan dan juga perlengkapan ritual lainnya.
sosok tersebut merafalkan ritual yang membuat membuat makam Melly bergetar dan seketika terbelah. Lalu tampak tubuh yang pucat dari gadis itu bangkit dengan tampa sehelai benangpun. Tubuh itu menatap dingin dan rambutnya tergerai dengan begitu mengerikan. Ditangannya terdapat botol kaca minuman berakohol yang telah pecah bagian pangkalnya.
"Melly.. Balaskan dendammu, habisi mereka yang telah menyakitimu dan juga menodaimu!!" titah sosok tersebut dengan suara yamg lantang.
Sosok Melly mengangguk kepalnya dan ingin melesat menuju rumah sakit polisi tempa ke 3 sisia pelaku itu dirawat.
Dengan cepat Angkasa keluar dari persembunyiannya "Tuunggu!! Melly, jangan lakukan itu! Dendam tidak akan membuat hatimu menjadi tenang" ucap Angkasa yang mengagetkan sosok yang sedang memuja Melly.
Samudera yang mengerti tugasnya, segera menyergap sosok pemuda yang tak lain ada Syamsul sang ketua kelas yang selama ini bersikap culun namun diam-diam menaruh hati pada Melly dan tidak menerima kematian Melly yang sangat mengenaskan tersebut.
Lalu Syamsul ingin membalaskan kematian Melly dengan membangkitkannya kembali dan membunuh para pelaku pembunuh Melly melalui jasad Melly yang Ia puja dengan ritual yang Ia jalani.
Jasad yang dingin itu diam terpaku, sedangkan Syamsul meronta untuk melepaskan diri.
"Syamsul, kamu sudah tersesat terlalu jauh, bertaubatlah" ucap Samudera dengan nada tinggi.
"Diam kalian!! Jangan campuri urusanku!!" jawab Syamsul yang sangat kesal atas ulah kakak beradik yang sudah membuatnya gagal dalam menjalankan aksinya malam ini. Sedangkan misinya tinggal sedikit lagi, maka ke tiga pembunuh itu akan binasa semuanya.
"Melly, kembalilah.. Biarkan pihak kepolisian yang menghukum mereka. Kamu tenanglah disana, jangan turutkan dendam yang akan membuatmu semakin menderita" ucap Angkasa mencoba menyadarkan Melly.
Syamsul semakin meronta "Lepaskan, breengsek..!! Melly, jangan dengarkan mereka, ingatlah, mereka para bajingaan itu telah membuatmu menderita!!" ucap Syamsul dengan nada penuh provokator.
Melly merasa bingung, harus mendengarkan yang mana.
Karena tak memiliki pilihan, Samudera menotok pundak Syamsul hingga membuat remaja itu tak sadarkan diri.
Lalu Angkasa merafalkan dzikirnya dan membuat Melly bergetar hebat. Lalu botol kaca digenggamannya terjatuh dan dan Ia kembali masuk kedalam liang makam dan tanah makam yang tadinya terbelah kini kembali tertutup.
Lalu Melly kembali tenang didalam sana, sedangkan Syamsul masih tak sadarkan diri dan tergeletak disisi makam beserta dengan perlengakapan ritualnya.
Lalu Angkasa dan juga Samudera beranjak dari pemakaman dan menuju pulang. Namun sesesok makhluk bergaun merah turun melayang menghadang keduanya dengan rambut yang menutupi wajahnya dan suara cekikikan yang sangat mengerikan.
"Apa kabar cucuku? Tak terasa kau sudah begitu sangat besar. Ikutlah denganku, dan jadilah pengabdiku!!" ucap sosok mengerikan yang tak lain adalah Nini Maru.
"Siapa Kau?! Mengapa mengaku-ngaku sebagai Nenekku?" ucap Angkasa yang tidak terima jika iblis betina itu mengaku sebagai neneknya.
"Hiiiihihihihi.."
Nini Maru menggerakkan lehernya sehingga rambutnya tersingkap dan memperlihatkan wajah keriputnya dengan bola amta merah menyala, dan gigi taring yang berada diujung bibirnya.
"Kau harus menerima kenyataanmu, Angkasa.. Kau adalah keturunanku, keturunan iblis.. Dan Ibumu Mirna adalah manusia setengah Iblis yang selama ini Ia sembunyikan darimu! Maka dari itu aku akan kembali mengambilnya dan juga dirimu. Maka ikutlah denganku!" ucap Nini Maru dengan menjulurkan tangannya meminta Angkasa untuk menyambutnya.
"Bohong..!! Jangan dengarkan Dia, Dik.. Dia itu telah mencoba mempengaruhimu!" sergah Samudera, dan berharap Angkasa tidak terpengaruh atas ucapan Makhluk jelek tersebut.
Nini Maru menolehkan pandangannya kepada Samudera "Heeeii.. Keturunan Ki Karso.!! Jangan ikut campur kau! Jika aku berhasil membawanya pergi, maka Ia yang akan membunuhmu dengan tangannya!" ancam Nini Maru dengan nada penuh amarah.
Sementara itu, Angkasa merasakan sebuah keraguan atas ucapan dari Nini Maru.
"Ayolah cucuku, ikutlah denganku, dan jadilah abdiku, jangan menjadi pembangkang seperti ibumu!" ucap Nini Maru dengan penuh rayuan.
Samudera segera beranjak dan berdiri didepan Angkasa "Tidak akan ku biarkan kau membawa adikku pergi, dan kau hanyalah seorang pecundang..!! Jangan percaya ucapannya, Dik!" ucap Samudera yang pasang badan siap mempertaruhkan nyawanya agar makhluk itu tal membawa Angkasa.
"Hihihihihi..."
Nini Maru tertawa cekikikan yang membuat suara sangat menyeramkan. Jika hanya menghadapi bocah sepertimu sangatlah mudah bagiku" ucap Nini Maru dengan remeh.
Lalu dengan menggerakkan ujung jemarinya, dan membuat Samudera terangkat ke udara dan melayang setinggi dua meter dari tanah.
"lepaskan kakakku!!" teriak Angkasa.
Namun Nini Maru dengan cepat menjentikkan jemarinya dengan cepat dan membuat tubuh Samudera terpental menuju pohon beringin.
Namun dengan cepat sekelebat bayangan menangkap tubuh Samudera dan membawanya mendarat di atas tanah.
Lalu sosok itu menghentakkan selendangnya dan mengikat pinggang Angkasa lalu membawa kesisinya.
Nini Maru menatap dengan seringai.
"Hihihhihihi.."
"Akhirnya kau datang juga, Mirna ,Puteriku.. Kembalilah padaku, marilah kita kuasai dunia kegelapan yang penuh dengan kesesatan! Rey telah menatimu dan kalian akan melahirkan anak-anak iblis penguasa kegelapan!!" ucap Nini Maru dengan tatapan yang sangat penuh dendam.
"Pergilah, Ni.. Jangan usik kehidupanku!!" jawab sosok yang menyelamatkan dua remaja yang tak lain adalah Mirna.
Aku tidak akan pergi sebelum membawamu dan juga cucuku!!" ucap Nini Maru.
Angkasa menatap ibunya dengan penuh penasaran. Ia inginkan jawaban dari Ibunya dan apakah yang dikatakan oleeh iblis itu benar adanya.
Namun Mirna tak ingin menatap puteranya, karena itu sangat sulit baginya menjelaskan siapa jati dirinya sebenarnya.
Mirna tak ingin menggubris ucapan Nini Maru, dan Ia ingin membawa kedua puyeranya dengan segera.
Namun tiga sosok makhluk lainnya datang secara tiba-tiba dan menghadangnya.