
Didi teecengang melihat sahabatnya yang berlari dengan begitu kencangnya.
Saat Dino sudah berada dihadapan Didi, Ia meletakkan kedua tangannya dilutut dengan posisi rukuk alias membungkuk.
Nafasnyanya yang tampak tersengal dan deru jantungnya yang memburu, terlihat jelas jika Ia baru saja melihat sesuatu yang membuatnya begitu sangat syok.
Didi mengahmpirinya, mengusap punggung sahabatnya itu dengan kasar "Heiii.. Istighfar, Kamu Din.." Didi menyarankan dan mencoba menenengkan sahabatnya itu.
"Astagfirullah halladzim.." ucap Dino berulang kali, hingga akhirnya nafasnya mulai normal.
Setelah mulai tampak normal, Dino mengarahkan jemari telunjuknya kearah balik pohon tempat dimana Didi menembak tupai merah barusan.
"Kamu lihat apaan disana?" tanya Didi penasaran, yang mengikuti pandangannya kearah telunjuk Dino.
Sementara itu, Didi yang merasa sangat penasaran, mencoba menelusuri arah lokasi yang ditunjuk sahabatnya yang kini berwajah pucat bagaikan kapas.
Suasana yang masih dingin diselimuti kabut embun tipis membuat Didi yang penasaran menjadi semakin merinding dengan suasana yang mencengkam.
Ditepi hutan ini hanya mereka berdua saja, dan makhluk apa kira-kira yang dilihat Dino sehingga berubah pucat pasi wajahnya.
Didi melangkahkan kakinya dengan sangat hati-hati, lalu melongok kebalik pohon tempat dimana Ia menembak tupai merah tadi.
Setelah Ia melongokkan kepalanya, kini Ia yang terperangah melihat kejadian tersebut dan kedua matanya membola menatap apa yang dilihatnya.
"Ma..mayat..." ucap Didi dengan bibir yang bergetar. Ia berbalik arah dan menemui sahabatnya, nafasnya ikut tersengal, namun Ia mencoba tenang dan mengambil phonselnya, lalu menghubungi Pak RT yang merupakan tetangganya. Ini kedua kalinya Didi menemukan mayat tanpa busana yang lokasinya tak jauh dari tempatnya menemukan mayat laki-laki yang tersangkut dibatang pohon.
Tak berselang lama, warga yang mendengar berita itu mulai berkerumun dan memenuhi lokasi kejadian yang mana mereka penasaran dengan berita penemuan mayat tersebut.
Setelah setengah jam lamanya, akhirnya polisi datang untuk mengevakuasi kedua penemuan mayat laki-laki yang saling tindih dan dan tanpa busana, serta yang membuat kegemparan para warga Ialah kedua Pria itu kehilangan lato-latonya.
Seketika terjadi perbincangan warga yang mulai berspekulasi tentang pendapat mereka masing-masing.
Polisi mengevakuasi kedua jenazah itu dengan memakan waktu yang cukup lama. Polisi mengangkat motor yang menimpa kedua pria tersebut.
Saat motor diangkat, posisi kedua pria itu saling tindih dan dengan saling membelakangngi seolah sedang melakukan perzinahan melalui jalur belakang.
Warga tercengang melihat kondisi mayat yang sangat mengenaskan.
Setelah semua alat bukti dikumpulkan, maka kedua mayat itu dibawa ke Rumah sakit untuk dilalukan autopsi.
Setelah mendapatkan hasil autopsi, keduanya dinyatakan penyuka sesama jenis dan karena ditemukan jalur belakang keduanya lecet dan terdapat cairan kental milik kedua pria tersebut.
Bahkan ketika polisi mengambil sidik jari dari keduanya, tidak ada sidik jari siapapun kecuali sidik jari kedua pria itu.
Namun kedua alat vital tercabut saat keduanya sudah dalam kondisi tak bernyawa, bukan dicabut paksa saat keduanya masih hidup.
Dan kematian kedua pria itu karena kehabisan energi dan juga karena tertimpa kendaraan motor mereka sendiri.
kasus kehilangan alat vital ini sudah keenam kalinya terjadi, namun polisi belum juga dapat memecahkan kasus yang sangat misterius ini.
Dimana setiap korbannya tidak ditemukan sidik jari dari pelaku yang diduga pembunuh dari korban.
Pada malam harinya, Didi yang pagi itu sempat trauma karena dua kali menemukan sosok mayat ditempat lokasi yang tidak berjauhan dari lokasi penemuan mayat sebelumnya, merasa sedikit trauma. Namun Ia mencoba membuang bayang-bayang ketakutannya.
Keduanya berjalan menuju warung Mbak Lela untuk mendapat Wifi gratis dan membeli minuman ringan.
"Di.. Sepertinya sudah beberapa kali ya kasus kehilangan alat vital dikampung kita ini" ucap Dino sembari berjalan dan memainkan phonselnya.
"Iya.. Sepertinya ini sebuah kesengajaan, deh, bukan kebetulan belaka" jawab Didi yang terus berjalan memainkan phonselnya.
"Iya.. siapa ya pelakunya? Bahkan sidik jarinya tidak ada.." ucap Dino, dan kini mereka memasuki warung Mbak Lela.
"Mbak, saya pesan teh susu dingin satu ya" ucap Didi kepada Mbak Lela yang sedang memasak air didapur.
"Saya syrup strawberry dingin saja mbak.." ucap Dino.
"Makanannya gak sekalian, Di?" tanya Mbak Lela yang sudqh mulai tampak segar setelah pasca keguguran waktu itu.
Didi masih sibuk dengan membalas chat onlinenya. "Mi instan tumis pedas saja, Mbak.. 2 porsi" jawab Didi setelah membalas chat onlinenya.
Lela lalu membuatkan pesanan keduanya, Ia mulai menumis bumbu untuk pesanan Didi dan juga Dino.
Tak berselang lama, pesanan keduanya sudah siap, dan Lela mengantarkan untuk keduanya.
"Wah.. Wangi banget masakannya, Mbak, Puji Dino.
"Masa, Sih.. Mbak pun wangi koq, bukan cuma masakannya saja" jawab Lela berkelakar.
"Ah, si Mbak bisa saja.." jawab Dino, sembari menyeruput kuah tumis mie instannya.
"Eh.. Din.. Kabar penemuan mayat pagi tadi masuk berita online Ne.." ujar Didi sembari memperlihatkan layar phonselnya tentang sebuah cahanel media online yang memberitakan penemuan mayat pagi tadi.
Dino menoleh kearah layar phonsel Didi dan membaca isi berita tersebut. "Iya, ya.. Bahkan berita itu memuat jika kampung kita ini sudah kali kejadian jasad korban kehilangan alat vitalnya. Sungguh hal yang aneh juga" Dino mengerutkan keningnya.
Lela tercenung mendengar perbincangan kedua pemuda itu.. "Bahkan almarhum suami mbak sendiri Bang Gugun juga kehilangan alat vitalnya" ucap Lela mencoba mengenang peristiwa itu.
Kedua pemuda itu saling pandang. "Iya, ya Mbak.. Apa kebetulan atau kesengajaan Ya?" ucap Dino penasaran.
"Ya mana Mbak tau, tetapi sepertinya korbannya para pria brengsek semua deh.." guman Lela dengan lirih.
Lalu kedua pemuda itu saling tatap lagi dan mengerutkan keningnya.
"Maksud Mbak bagaimana ya?" tanya Didi penasaran.
Lela menatap kedua pemuda itu "Sepertinya para pria itu habis bercinta dengan seseorang sebelum tewas mengenaskan.."ucap Lela menduga tentang pendapatnya.
Didi dan juga Dino menganggukkan kepalanya mencoba menyetujui pendapat Mbak Lela.
"Makanya, Din.. Jangan sembarangan kuda-kudaan sama cewek, kalau suka ma cewek itu dinikahi baru kuda-kudaan.. Jangan semabrangan saja.. Biar tidak bernasib naas seperti para korban-korban tersebut" ucap Didi, lalu menyeruput teh susu dinginnya.
Dino manggut-manggut mendengar ucapan Didi, sahabtanya. "Iya juga, Ya. Apa jadinya jika kita senang sesaat langsung menuju alam lain, dan kita dikebumikan dengan anggota tubuh yang tidak lengkap" Dino menimpali ucapan sahabatnya.
Lalu keduanya menyantap mie instan buatan Mbak Lela yang terasa sangat enak sekali.