MIRNA

MIRNA
episode 205



Petugas medis yang mendapati dua orang pasien yang datang secara misterius dengan kondisi mengenaskan segera mencoba memberikan pertolongan dan mereka membawa keruangan UGD.


Mereka tersentak kaget karena keduanya mengalami pendarahan yang mana akibat keguguran dan yang membuat heran ada beberapa belatung menempel di sela-sela darah yang merembes dari jalan lahir kedua wanita tersebut.


Bahkan dipakaian mereka juga menempel beberapa belatung yang tampak masih hidup.


Keduanya belum dapat dimintai keterangan karena dalam kondisi tak sadarkan diri karena darah yang terlalu banyak dikeluarkan oleh keduanya.


Sedangkan perawat masih mencoba menyadarkan Tini karena untuk mengeluarkan placenta yang masih tertinggal didalam rahimnya karena jika itu tidak keluar akan dapat mengancam keselamatannya.


Tini yang berulang kali ditepuk oleh para medis untuk menyadarkannya, maka dengan terpaksa Tini mencoba membuka matanya meski terasa sangat berat.


Setelah Tini tersadar, perawat memberikan intruksi kepada Tini agar berdehem sebanyak tiga kali untuk membantu mengeluarkan placenta tersebut.


Setelah melakukan intruksi yang diberikan oleh perawat tersebut, akhirnya placenta itu berhasil keluar dari rahim Tini, dan Kini Tini sudah dipasang infus dan penambahan kantong darah untuk menyelamatkan nyawanya.


Pihak keluarga yang telah dihubungi akhirnya tiba untuk memberikan pertanggungjawaban kepada keduanya.


Kedua keluarga itu tak percaya jika anak wanita mereka ternyata hamil diluar nikah tanpa ada pria yang bertanggungjawab untuk kehamilannya, serta keduanya melakukan aksi nekad untuk mengugurkan janinnya tanpa sepengetahuan keluarga.


Andai saja ke duanya tidak diselamatkan oleh sosok bercadar tersebut, mungkin mereka sudah meregang nyawa.


Ternyata bukan hanya saja nakal menggunakan narkoba, namun kedua wanita itu juga gemar bermaksiat hingga mengandung janin dari hasil perbuatan zinah.


Ditempat lain, Yanti yang mengalami keretakan dibagian tengkorak kepalanya melesat dengan cepat. Dua janin yang menjadi tumbalnya malam ini sudah memberikan energi kepadanya dan yang sudah disesapnya mengurangi rasa panas yang terasa seperti membakar tubuhnya.


Namun dua iblis lainnya masih tampak uring-uringan.


Rey menginginkan tumbal lato-lato yang sudah lama Ia inginkan, dan ini sangat menyiksanya.


Yanti kembali ke goa tempat dimana Ki Kliwon melakukan pertapaan. Ia juga ingin melakukan pertapaan untuk menyerap keseluruhan energi yang baru saja didapatnya.


Sementara itu, belatung yang masih mengerumuni tubuhnya masih juga tak ingjn beranjak pergi. sebagian belatung yang masuk melalui retakan dibagian kepalanya mulai menggerogoti bagian otaknya dan niatnya yang ingin melakukan pertapaan harus gagal karena tidak dapat konsentrasi melakukannya.


Nini Maru menggeram, lalu memaksa dirinya keluar dari raga Yanti dan diikuti oleh ketiga iblis tersebut.


Kini raga Yanti tanpa ketiga iblis tersebut. Ia tersentak kaget saat menyadari kondisi tubuhnya yang tak lagi layak untuk hidup.


Ia berteriak histeris karena tidak terima dengan tubuhnya yang dipenuhi borok dan belatung. Bahkan rasa sakit dibagian kepalanya yang mengalami keretakan dibagian tengkorak kepalanya dan belatung yang menggerogotinya begitu sangat menyakitakan.


Yanti tak mampu lagi menahannya, Ia berlari keluar dari goa dan terus berlari menembus kegelapan malam dan hutan yang sangat lebat.


Ia bahkan tak sadar tersayat onak berduri yang membuat luka disekujur tubuhnya semakin parah dengan daging yang berkelupasan.


Ke tiga iblis itu hanya memandanginya saja. Mereka tak lagi memperdulikan kondisi Yanti yang sangat mengenaskan, mereka seolah tak lagi membutuhkannya.


Yanti terus berlari dan Ia tidak sadar sudah berada dimana, hingga akhirnya Ia jatuh tersungkur ditanah dengan kondisi mengenaskan.


Pagi menjelang, sinar mentari menyinari alam dengan begitu hangatnya.


Namun baru saja Ia melangkah sekitar 30 meter dari rumahnya, Ia dikejutkan oleh sosok tubih bertelungkup diatas tanah dengan rambut yang beberapa helai saja, dan sekujur tubuh penuh luka dan borok yang mana belatung sangat begitu banyak berkerumun dihampir sekujur tubihnya dan juga bagian kepalanya.


Aroma anyir bercampur amis membuat Lisa merasa mual, dan Ia berteriak dengan sekuatnya.


"Aaaaaaaarrrggghh.."


Suara teriakannnya yang begitu sangat keras membuat warga yang masih menutup pintunya berhamburan keluar rumah unruk melihat teriakan Lisa yang begitu sangat membahana.


Warga menghampiri Lisa yang berdiri mematung memandangi sesuatu yang berada tepat dihadapannya.


Seketika warga ikut berkerumun melihat sosok yang bertelungkup diatas tanah dengan kondisi mengenaskan.


Sosok itu mengeluarkan aroma anyir dan juga bercampur amis yang sangat membuat perut terasa mual.


Sosok itu tanpa menggunakan busana, karena gaun yang dipakainya sudah robek dan tersangkut di semak belukar saat Ia melarikan diri dari goa.


Salah satu warga mengambil sebatang kayu penyapu dan mencoba membalikkan tubuh tersebut dan...


"Aaaaaaaarrrrrggghhh..."


Seluruh warga tersentak kaget saat melihat tubuh itu terlentang penuh kengerian. Rongga mata kirinya sudah berlubang tanpa bila mata dan penuh dengan belatung, sedangakan dua tonjolan didadanya juga dipenuhi pasir yang tadi menempel karena Ia bertelungkup.


Dua tonjolan itu juga tampak berlubang dan belatung berhamburan keluar serta organ intinya yang juga tak luput dari serangan para belatung tersebut.


"Heei.. Bukankah ini makhluk yang waktu itu pernah menimpaku saat di rumah Surti?" teriak seorang pria yang mengingat jelas kondisi makhluk tersebut.


Seketika seluruh warga yang berkumpul tampak tersentak kaget. Mereka semua saling pandang dan melihat ke arah sosok itu tampak masih berdetak jantungnya.


Mereka bergidik dan serasa ingin muntah saja "Apakah Dia pelaku pesugihan yang sudah meneror warga desa? Jika begitu kita bakar saja dia agar desa ini aman" ujar seorang warga memprovokasi.


"Iya.. Iya.. Kita bakar saja dia" yang lain menimpali dan menyetujui.


Tiba-tiba saja imam mesjid itu datanga dan mencoba menengahi warga yang sudah tersulut emosi.


"Tunggu.. Tahan saudara-saudara.. Apakah kalian tega melihat kondisinya yang sudah mendapatkannazab dari Rabb-Nya, namun kalian masih ingin menghakiminya? Lalu apa bedanya kalian dengannya?" ucap sang imam mesjid, yang membuka sorban di pundaknya, lalu menutupkan aurat yang merupakan dua tonjolan dan bagian organ intinya yang menjadi tontonan warga.


"Lalu apa yang harus kita lakukan, Ustaz?" tanya Seorang warga.


Ustaz tersebut menghela nafasnya "Telfon polisi, biar mereka yang mengurusnya dan sosok ini" pinta sang ustaz.


Lalu mereka menganggukkan kepalanya, dan menelefon kantor polisi atas penemuan Lisa dan juga warga yang membuat gempar dipagi hari.


Tak berselang lama, mob polisi datang dan membawa tubuh Yanti yang sudah tak berbentuk lagi ke puskesmas dan para medis berteriak melihat sosok yang sangat mengenaskan tersebut.


Namun karena tuntutan tugas, mereka mencoba membersihkannya dan membuangi belatung tersebut dengan cairan rivanol


Meskipun tubuhnya hanya menyisakan beberapa bagian daging tubuh saja, namun jantungnya masih terus berdetak dan mencoba untuk bertahan hidup.