MIRNA

MIRNA
episode 127



Yanti mencoba menyingkarkan tubuh pria itu dari atas tubuhnya. Sebab pria itu tampak begitu seperti tak terkendali, ada sesuatu kekuatan hang merasukinya sehingga membuat pria itu tampak tak merasa lelah setelah hampir 4 jam lamanya terus menggarap sawahnya.


"Menyingkirlah brengsek..!! Organ intiku sudah sangat nyeri!" maki Yanti yang merasakan sangat ngilu dibagian organ intinya.


Ternyata Mirna menyisipkan sebuah tenaga yang membuat pria itu seperti kerasukan dan tak puas untuk terus bercinta.


Namun tenaga Yanti kalah akan kekuatan sang Pria dan Ia terus saja berusaha melepaskan dirinya, namun sepertinya pria itu tak juga ingin berhenti. Hingga akhirnya Yanti kelelahan dan tak sadarkan diri.


Melihat Yanti yang dalam pandangannya adalah Mirna itu tak sadarkan diri, pria itu semakin bersemangat terus menggarapnya, hingga sampai subuh dan setelah pengaruh energi yang disusupkan Mirna kepadanya habis, Pria itu ambruk menindih tubuh Yanti yang sudah tak sadarkan diri.


Mentari pagi bersinar dengan terang. Cahayanya menerobos masuk kesebuah kamar melalui ventilasi jendela yang memancar mengenai tubuh dua insan yang tanpa busana.


Yanti mengerjapkan kedua matanya, dadanya terasa sesak karena tertindih tubuh pria yang berada diatasnya.


Yanti yang sudah kehabisan tenaga, mencoba menyingkirkan tubuh pria dari atas tubunya.


Dan dengan sisa-sisa tenanganya, Ia berhasil menyingkirkan sang pria, hingga terlentang ke sisi kirinya.


Yanti membuka penutup wajah pria itu. Begitu Asing, sebab tidak pernah terlihat di warungnya atau juga dilingkungan desanya.


Yanti merasa bingung mengapa pria itu tiba-tiba berada dikamarnya, seolah-seolah sedang seperti dilemparkan begitu saja.


Pria itu sepertinya sangat kelelahan dan kehabisan energi, begitu juga sama halnya dengannya.


Yanti ingin beranjak dari ranjangnya, namun Ia seakan lemah tak berdaya. Hingga Ia kembali lagi tertidur.


Waktu menuunjukkan pukul 11 siang. Pria yang bersama Yanti mengerjapkan matanya, Ia mengamati sekelilingnya, dan melihat kamar yang sangat asing baginya.


Pria itu mengusap kedua matanya untuk memperjelas pandangannya. Ia tersentak mendapati dirinya tanpa busana berada bersama seorang wanita yang terbaring disisi ranjangnya.


Bersamaan dengan hal itu, Yanti juga terbangun dam terkejut melihat pria itu sudah terbangun.


"Siapa Kau?! Mengapa Aku berada disini?!" tanya Pria itu dengan penuh keheranan.


"Heei.. Seharusnya Aku yang bertanya padamu mengapa Kau tiba-tiba ada dikamarku dan menggarap tubuhku" jawab Yanti yang sudah mengumpulkan tenaganya.


Ia merasa bingung mengapa sampai kelelahan menghadapi satu pria itu, biasanya sepuluh pria pernah Ia hadapi sekaligus, pria yang saat ini bersamanya seolah seperti kerasukan 20 tenaga pria dalam satu tubuh.


Pria itu menatap Yanti dengan seksama "Siaaall... ! Ku kira aku bercinta dengan wanita cantik itu malam tadi, ternyata Aku bercinta dengan wanita buruk rupa sepertimu" ucap sang pria saat memperhatikan wajah Yanti yang masih ada bekas luka di bagian sisi wajah sebelah kirinya.


Yanti yang mendapatkan penghinaan dari pria itu dan mencela wajahnya seketika merasa tersinggung dan marah.


"Siaallan Kau..!! Sudah menggarapku berani-beraninya Kau menghina wajahku, ingin cari mati rupanya Kau, ya?" jawab Yanti dengan geram.


Pria itu berusaha menyingkir dari ranjang karena melihat amukan Yanti. Namun sejujurnya Ia merasa sangat kesal, sebab yang Ia ajak bercinta tidak sesuai ekspektasi.


Pria itu memunguti pakaiannya dan segera mengenakannya.


Yanti yang melihat pria itu ingin pergi begitu saja, lalu beranjak dari ranjangnya "Heei.. Enak saja Kau ingin pergi begitu saja, bayar dulu uang bercintamu..!!" hardik Yanti dengan geram karena sudah merasa dirugikan.


Pria itu berbalik dan menatap Yanti dengan penuh emosi "Heeei.. Yang dirugikan itu aku, sudah mengeluarkan tenagaku untuk wanita sepertimu" tukas pria itu dengan kesal, lalu mendorong tubuh Yanti dengan cepat hingga terjerembab keatas ranjang.


Pria itu melintasi ruangan karaoke. Tampak empat gadis remaja masih terkapar dengan hanya menggunakan underware saja dengan beberapa pria yang ikut terkapar karena mabuk.


Pria itu menyadari jika ini adalah warung remang-remang penyedia jasa plus-plus.


Pria itu memegangi kepalanya yang seakan pusing karena masih merasa bingung mengapa Ia sampai ditempat ini.


Ia berjalan menyusuri jalanan raya dan mencoba mencari tumpangan untuk kembali pulang kerumahnya.


Sementara itu, Yanti merasa kesal dan menggerutu sebab telah digarap secara gratis hingga membuat Ia merasa dirugikan.


"Awas saja Kau, aku akan mebalasmu suatu saat nanti dan menjadikanmu tumbal untuk Rey" Guman Yanti sembari menggeretakkan gigi-giginya.


Ia berjalan menuju menuju keluar kamarnya. Ia melihat para pelayanannya tampak masih tertidur dengan pulas.


Ia membangunkan para pria yang juga masih tertidur sangat pulas tersebut.


Dengan kondisi yang masih pusing dikepala mereka karena sisa-sisa alkohol yang masih berada dialiran darah mereka membuat mereka masih sempoyongan.


"Beriakn uang kalian" ucap Yanti kepada para pria yang masih berusaha untuk sadar dari rasa kantuk mereka.


Yanti memaksa mereka mengeluarkan uang dari saku mereka dan menghitung total yang harus mereka bayar.


Setelah mendapatkan setoran masing-masing, akhirnya Yanti mendapatkan uang dalam jumlah banyak hari ini.


Ia kembali ke kamar dan akan memberikan bagian kepada para remaja tersebut saat mereka sudah sadar sepenuhnya.


Para pelanggan pria sudah meninggalkan warung satu persatu dan tersisa hanya empat remaja tersebut.


Setelah beberap menit lamanya, Keempat remaja itu terbangun dan mengusapkan kedua mata mereka untuk memperjelas pandangan.


Tia beranjak bangkit dan memungut pakaiannya, lalu mengajak ke tiga sahabatnya untuk membersihkan diri dikamar tengah.


Setelah selesai membersihkan diri, mereka mengetuk pintu kamar Yanti untuk meminta upah mereka yang mana nantinya akan digunakan membeli narkotika dan bersenang-senang.


Yanti keluar dari kamarnya, dan memberikan upah kepada ke empat gadis remaja itu.


Setelah menerima upahnya, mereka beranjak pergi meninggalkan warung dan akan kembali lagi sore hari nanti.


Yanti memastikan keempat remaja itu telah pergi, lalu buru-buru mengunci pintu warungnya.


Yanti menuju dapur dan menuju kamar rahasianya.


Ia membuka bungkusan plastik berisi jasad pria yang telah diasinkannya dan menyeretnya menuju kamar mandi tempat dimana Ia meletakkan biawak berukuran besar yang dibelinya dari Didi.


Biawak itu masih berendam didalam bak mandi, lalu Yanti memasukkan jasad pria itu kedalam kamar mandi dan meninggalkannya diatas lantai.


Lalu Ia buru-buru mengunci pintu kamar mandi. Sesaat Ia mendengar suara biawak itu turun dari dalam bak mandi menuju lantai dan terdengar suara cabikan-cabikan dari gigi biawak tersebut yang memangsa tubuh asin sang pria.


Aroma anyir menyeruak keruangan tersebut, lalu Yanti segera keluar dari kamar tersebut dan merasa lega sebab sudah menghilangkan pria itu dengan begitu mudahnya.