MIRNA

MIRNA
episode-286



Para siluman berkepala banteng itu tampak begitu sangat mengerikan. Mereka mengejek Samudera yang terlalu yakin pada dirinya jika Mirna masih menyanyanginya.


"Heeii, Bocah! Mirna adalah keturunan iblis! Dan sifat iblisnya akan tetap ada sampai kapanpun. Maka serahkan saja jiwamu pada kami, sehingga kau tak perlu repot-repot untuk datang menyelamatkannya!" ucap siluman berkepala banteng yang terus saja memprovokasi Samudera.


Bocah itu terdiam, menatap para siluman banteng yang tampak mengejeknya dan menganggap apa yang sedang dilakukan oleh Samudera hanyalah sebuah ke sia-siaan belaka.


Para siluman banteng membawa tombak yang diujung kepalanya memiliki tanduk banteng dengan ujung tanduk yang meruncing.


Samudera yang hanya berbekal tongkat Hiking, berdiri dengan tegak menantang para siluman.


"Tidak segampang itu!" ucap Samudera yang tanpa diduga melayangkan tongkat hikingnya dengan cepat sembari membacakan ajian segoro geni dengan mengalirkan hawa panas itu ke batang tonkat hiking.


Wuuuushh.. Ssssttt..


Hembusan angin berhawa panas memendar di malam yang dingin dan juga mencekam.


seketika para siluman banteng tersentak dan terkejut merasakn serangan Samudera yang dengan tiba-tiba saja.


"Aaaaaarrrrggh..." siluman banteng itu berteriak kesakitan dan terlempar hingga sejauh 15 meter dari posisinya.


Tubuh mereka merasakan hawa panas yang membakar sebagian tubuh mereka.


"Dasaar, Bocah siaaalaan!!" maki panglima siluman banteng tersebut.


Dengan tubuh terluka dan hawa panas yang menderanya Ia melesat mengarahkan tongkat berkepala tanduk bantengnya ke arah Samudera yang tampak masih bersiap untuk menunggu serangan balasan.


wuuuush..


Taaaang...


Suara dentingan dari tongkat berkepala banteng itu beradu dengan tongkat hiking milik Samudera.


Seketika tombak berkepala tanduk terhenti pada ujung tongkat hiking samudera. Kembali hawa panas menghantar ke tongkat milik siluman banteng dan tanpa sengaja Ia melepasnya.


Dengan sigap Samudera melompat dan melesat menangkap tongkat milik siluman banteng dan mengusasainya lalu mengarahkannya kepada siluman tersebut dan memukulkan tepat dikepala banteng dengan sangat kuat..


Wuuuuusssh.. Taaak...


"Aaaaaarrrrggh.." teriak kesakitan siluman banteng dengan sangat kesakitan berjalan mundur beberapa langkah sembari memegangi kepalanya yang terkena senjata tombaknya sendiri yang kini berada dibawah kendali Smudera.


Cairan berwarna hijau mengalir dari luka parah yang dideritanya. Ia terhuyung dan merasakan sakit yang luar biasa.


Melihat panglimanya terluka parah, maka ke empat pasukannya bergerak menyerang beramai-ramai. Keempatnya melesat dan mengarahkan tombak mereka untuk menyerang Samudera, namun sebelum keempatnya berhasil mendaratkan serangannya, Samudera menghunkan ujung tanduk tombak milik panglima perang mereka ke arah perut sang panglima dengan disertai ajian segoro geni, sehingga membuat sang panglima hangus terbakar dan menjadi serpihan debu.


Ke empat bala tentara itu tercengang melihat panglima perang mereka hangus terbakar. Kemudian dengan memanggil bala tentara lainnya, seorang diantara mereka memberikan isyrat yang sangat mengejutkan.


Seribu pasukan datang dengan mengelilingi Samudera yang hanya seorang diri.


Menggunakan tongkat milik panglima perang yang kini dikendalikannya, Samudera mencoba bersikap tenang sembari menatap para lawannya.


Satu isyrat dari salah satu pengganti panglima perang mereka yang sudah tewas, dengan gerakan menghunuskan tombaknya, maka ribuan pasukan itu bersiap menghunuskan tombaknya.


"Serang!!!" teriaknya dengan sangat kencang dan membuat para pasukan itu melemparkan serangan tombaknya dengan sangat cepat dan tanpa diduga serbuan tombak meluncur menghujani Samudera yang kini berdiri ditengah-tengah mereka.


Dengan cepat Samudera memutarkan tombak milik panglima perang itu diatas kepalanya. Seketika sebuah hembusan hawa panas dengan cepat memendar kesegala penjuru dan sehingga membuat hujan tombak itu kembali terpental ke arah mereka dan menghujani pemiliknya dengan bara api yang berada diujung tombak dan ketika ujung tombak menyentuh pemiliknya, maka para siluman itu terbakar menjadi Abu.


Suara jeritan dan lolongan yang kesakitan membahana ditengah hutan belantara yang berada di badan gunung.


Seketika tampak hutan terang dengan ribuan cahaya api yang menghanguskan para silulaman tersebut.


Setelah tubuh para siluman menghangus dan berubah menjadi butiran debu, perlahan suara lolongan dan jerit kesakitan itupun meredup dan tak terdengar lagi.


Sayup-sayup terdengar suara kokok ayam hutan yang terdengar sayup dikejauhan.


Samudera meyakini jika waktu subuh telah tiba. Ia memilih untuk beristirahat sejenak dan shalat subuh.


Setelah bertayamum, Ia melaksanakan shalat subuh dan segera beribadah. Setelah selesai shalat subuh, tak lupa Ia merafalkan ajian segoro geni dan meniupkan dikedua telapak tangannya, lalu menyapukan kesekujur tubuhnya agar tetap menjaga keampuhan ajian tersebut.


Samudera merebahkan sejenak tubuhnya diatas bebatuan. Ia merasakan lelah yang teramat sangat. Ia menatap langit yang masih menggelap. Perutnya merasa lapar, sebab Ia belum makan dan juga minum. Ingin memasak mie instan, namun Ia kehabisan bekal air, dan Ia harus menemukan sumber mata air.


Perlahan langit tampak meremang, dan cahaya mentari pagi mulai menyembul malu-malu dibalik puncak gunung.


Samudera beranjak dari tempatnya. Kini tongkat milik Panglima perang siluman banteng menjadi teman perjalanannya.


Samudera mencoba mencari sumber mata air untuk minum, mandi dan juga memasak mie instan serta teh panas.


Udara dipegunungan semakin dingin, namun itu tidak berlaku pada Samudera, karena selama menuntut ajian segoro geni membuat suhu tubuhnya menjadi senantiasa terasa panas.


Samudera menajamkan indera pendengarannya. Lalu menyusuri sumber suara gemericik tersebut.


Perlahan Ia merasakan jika sumber suara itu semakin dekat. Samudera melihat dikejauhan jika tampak air terjun yang sangat tinggi dan hembusan dari percikannya terasa hingga sampai sejauh 20 meter.


Samudera bergegas menyusuri air terjun tersebut. Ia tak sabar ingin mandi dan melucuti pakaiannya.


Ia mencoba membenamkan tubuhnya yang terasa lelah di air terjun tersebut. Rasanya sangat begitu menyegarkan. Rasa lelah dan penat saat perjalanannya, membuat tubuhnya segar seketika.


Samudera memejamkan matanya, mencoba meresapi kesegaran air tersebut. Hingga tanpa sadar Ia telah menjadi pusat perhatian sesosok makhluk sedang bersembunyi di balik air jernih tersebut.


Sosok yang tak lain adalah banaspati air atau Sane atau juga hantu gulung tikar (bukan hantu bangkrut, ya) tapi tiap daerah penyebutannya berbeda.


Sosok itu terus mendekati Samudera yang masih tampak memejamkan matanya.


Sane itu perlahan melebarkan tubuhnya dibawah tubuh Samudera dan siap menggulung tubuh Samudera dengan tubuhnya untuk dijadikan mangsa dengan menghisap energi remaja tersebut.


Dengan cepat sosok itu menggulungkan tubuhnya ditubuh Samudera dan membuat tubuh itu bagaikan kebab Turky dengan isian tubuh Samudera.


Tak berselang lama, sosok itu tiba2 membuka tubuhnya dan terlempar jauh dengan menggeleparkan tubuhnya bagaikan cacing yang kepanasan.


Tubuhnya terburai lalu menghilang bersama pusaran air yang tampak berputar dengan kuat.


Samudera berusaha berenang menuju batuan besar yang terdapat di bawah air terjun. Ia tak menduga jika ditempat Ia berada ternyata ada banyak bahaya yang juga mengincarnya.


Samudera bergegas menyelesaikan mandinya, lalu memasak mie instan dan menyeduh teh hangat, sebab udara sangat dingin, meskipun Ia tidak merasakan hawa dingin tersebut, namun perutnya sangat keroncongan.


Setelah selesai memasak dan menyeduh teh panas, lalu menyantabnya.


Saat Ia sedang asyik menyantab sajiannya. Tiba-tiba Ia mencium aroma kasturi yang sangat begitu menyeruak.


Samudera merasakan aroma tersebut begitu sangat dekat.


Dan tiba-tiba Ia melihat sebuah cahaya berwarna ungu berpendar duduk tak jauh dari tempatnya duduk sembari menyantab sarapannya.


Samudera tersentak kaget, saat melihat pendaran cahaya itu menghilang dan berubah menjadi sosok peri yang sangat cantik dan tak pernah Ia lihat sebelumnya.


Samudera terperangah melihat akan kecantikannya. Ya, sungguh cantik.


Sosok itu melesat dengan sayapnya yang indah, lalu menghampirinya dan mendarat dengan lembut didepannya.


Tentu saja hal tersebut membuatnya menjadi merasa terkejut dan tak mengatakan apapun.


"Hai.. Aku Widuri, kamu tidak perlu takut akan kehadiranku, Aku akan menemani perjalananmu" ucapnya dengan lembut yang semakin membuat Samudera tak berhenti mengangakan mulutnya.


"A-apakah Kamu seorang peri?" tanya Samudera penasaran.


Widuri hanya tersenyum tipis "Terserah kamu akan memanggilku, namun yang jelas, aku akan menemani perjalananmu hingga sampai ke tempat tujuanmu, dan ku pastikan jika kamu berhasil selamat sampai ditempat" ucapnya meyakinkan.


Samudera tak menduga jika perjalanannya ke hutan larangan akan ditemani oleh wanita dari bangsa jin yang menyebutnya dengan dirinya peri dalam wujud yang cantik jelita dan penuh pesona.


Samudera hanya dapat memandang dengan penuh takjub akan kecantikan wanita itu yang untuk pertama kalinya menjadi sejarah dalam hidup Samudera mengagumi seorang wanita.


Setelah menyelesaikan sarapannya, Samudera segera mengemasi barang miliknya dan kembali melanjutkan perjalanannya dan tak lupa membawa tombak untuk menyeimbangkan berat badannya saat menapaki punggung gunung untuk mencapai puncaknya.


Dan ternyata benar, jika Widuri mengikutinya dari arah belakang dan dengan kedua sayapnya Ia terbang mengkuti Samudera dengan menebarkan aroma kasturi yang membuat perjalanannya terasa tidak begitu sepi.


"Kau mirip dengan ayahmu!" ucap Widuri membuka percakapan mereka yang tampak sepi sedari tadi.


Samudeea mengerutkan keningnya dan menoleh ke arah Widuri "Kau mengenal Ayahku?" tanya Samudera penasaran.


Tentu saja Aku mengenalnya!" jawab Widuri dengan cepat.


Samudera menatap Widuri penuh arti. "Bagaimana kau bisa mengenalnya?" tanya Samudera cepat.


"Itu rahasia, dan Kau tak perlu tahu akan hal itu!" jawab Widuri dengan cepat.


"Jika begitu, berarti ayahku tahu nika aku berada ditempat ini? Sebab seorang sahabat akan selalu memberikan informasi apapun kepada sahabatnya" ucap Samudera dengan nada menyindir.


Widuri hanya mengangkat ke dua bahunya seolah menghindari ucapan dari Samudera.


Samudera yang melihat Widuri tak mencawab pertanyaan dapat menduga jika Widuri telah memberikan informasi tentang keberadaan dirinya saat ini.


Remaja itu tak lagi perduli, Ia harus segera sampai ke puncak gunung dan menemukan keberadaan sang ibunya.


~Makasih buat semua para reader yang terus mengikuti kisah Mirna.. Maaf baru Up. Authornya baru saja lahiran dan lepas infus, sehingga baru bisa pegang phonsel.. Doakan author dan Dedek bayi sehat selalu agar dapat menyelesaikan novel ini diakhir bulan..Love u All reader ~