MIRNA

MIRNA
episode 121



Syafiyah terbangun dari tidurnya. Ia melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Ia terburu-buru mandi karena takut akan ketinggalan ke kantor.


Setelah selesai mandi, Ia menuju dapur, namun tak menemukan Mirna di dapur. Ia menyingkap tudung saji dan tidak ada sarapan yang tersedia diatas meja.


"Kemana si Mirna? Kenapa Dia belum membuat sarapan? Enak saja dia tinggal dirumah ini tanpa bekerja dan menerima uang bulanan dari Mas Satria, tetapi membuat sarapan saja tidak mau" syafiyah menggerutu dengan kesal.


Dengan berjalan tergesah-gesah Ia menghampiri kamar Mirna dan mengetuk pintunya dengan keras.


"Mir.. Mirna.. Bangun kamu..! Mengapa sarapan belum kamu buat, sudah siang ini!" teriak Syafiyah dengan kesal.


Seketika Mirna tersentak dari atas ranjangnya.


"Mas.. Mirna balik dulu, Mbak Syafiyah belum sarapan dan Mirna belum memasak sarapan" ucap Mirna terburu-buru ingin pergi dari ranjangnya.


Namun Satria menarik pergelangan tangannya "Biarkan saja, masa iya buat telur ceplok doank tidak bisa buat sarapan, dan Kamu mendingan buat sarapan untuk Mas saja" ucap Satria yang masih menginginkan Mirna diranjangnya.


Mirna memejamkan matannya, lalu kemudian membuma matanya "Mirna sudah membuat sarapan untuk Mas.. Namun saat ini bukan hanya tentang sarapan saja, tetapi ada hal penting yang harus ditangani, Mbak Syafiyah dalam masalah besar"


Satria menatap Mirna dan mengecup keningnya "Pulanglah, dan jagalah Ia dengan baik" ucap Satria dengan lembut. Lalu Mirna berpamitan pulang dan melesat secepat kilat.


Sesaat Satria memejamkan matanya memanggil Chakra Mahkota. Lalu dengan cepat sosok naga itu datang dan bersimpuh di hadapan Satria.


"Ada apa Kamu memanggilku?" tanya Chakra Mahkota.


"Dampingi Mirna, lihat sedalam mana Ia benar-benar tulus terhadap Syafiyah. Jika ada yang mencoba menyakitinya, maka hancurkan mereka" ucap Satria dengan cepat.


"Baiklah. Aku akan mematuhi segala yang diperintahkan" ucap Chakra Mahkota lalu melesat menghilang.


Satria menghela nafasnya dengan berat, menatap nanar pada dinding kamarnya.


Satria menyadari jika Mirna adalah adalah manusia setengah jin, namun Ia ingin menguji sampai dimana istrinya itu benar-bemar ingin menajdi manusia seutuhnya.


Jika bukan karena keturunan dari Mirna yang dapat menghancurkan Nini Maru, mungkin Satria akan berfikir dalam untuk menikahinya. Namun semakin lama bersama wanita itu, Ia merasakan cinta yang semakin dalam, namun berusaha tidak untuk terlena.


Mirna melesat dengan cepat, dan dalam hitungan menit saja Ia sudah berada didalam rumah dan berjalan menuju dapur.


"Mir.. Mirna. Bangun..!!" teriak Syafiyah yang tampak sangat kesal karena Mirna tak kunjung membuka pintu kamarnya.


"Ada apa, Mbak?" jawab Mirna yang tampak menenteng sebuah kantong kresek dan membawanya ke dapur.


Syafiyah tercengang menatap Mirna yang tiba-tiba muncul dibelakangnya.


"Kamu darimana saja jam segini belum memasak sarapan?! Apa Kamu tidak tau jika saya akan terlambat ke kantor karena ulahmu" ucap Syafiyah ketus.


"Maaf, Mbak.. Saya tadi ke warung untuk berbelanja, Mbak Syafiyah mau telur ceplok atau omelet Mbak?" tanya Mirna yang tampak mebgeluarkan isi kantong kreseknya berupa beberapa butir telur yang dibawanya dari rumah Satria.


"Terserah..!! Buruan. Saya sudah terlambat" ucap Syafiyah dengan kesal.


Mirna tersenyum tipis, lalu membuatkan sarapan untuk Syafiyah. Ia menyeduhkan segelas teh manis panas hangat dan menghidangkannya kepada Syafiyah.


Setelah selesai sarapan, Syafiyah berangkat bekerja dan dengan tergesa-gesah melangkah karena melihat jam di arlojinya yang menunjukkan pukul sembilan dan sudah sangat terlambat.


Karena terlalu panik, highlessnya tergelincir dilantai dan membuatnya limbung kekiri dan dengan cepat Mirna menangkap tubuhnya agar tidak terjatuh dilantai.


Lalu Ia membantu Syafiyah berdiri tegak.


"Mbak dalam kondisi hamil, sebaiknya jangan menggunakan sepatu bertumit tinggi, ini akan menimbulkan keram pada perut Mbak.." ucap Mirna dengan tenang.


Syafiyah menatap marah "Heei.. Tau apa Kamu? Yang sekolah kebidanan itu saya bukan Kamu, pakai sok nasehati segala" ucap Syafiyah yang semakin kesal.


Lalu Ia memakai kacamatanya dan bergegas menuju ke mobilnya.


Mirna menatap kepergian Syafiyah dengan senyum geli. Baginya omelan Syafiyah hanyalah sebuah radio rusak yang tidak perlu didengar.


Syafiyah mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang tak biasa. Ia merasa semua keterlambatannya adalah salah Syafiyah yang tidak memasak sarapan dengan cepat.


Sementara itu, Yanti yang mendapat perintah dari Nini Maru untuk mencelakai Syafiyah sudah memantau dikejauhan yang menghadap ke arah puskesmas.


Setelah mengetahui Mobil Syafiyah akan berbelok menuju Puskesmas, Yanti memerintahkan sebuah mobil truck yang telah dibayarnya untuk menabrak badan mobil Syafiyah yang saat ini sedang melintas ditengah jalan karena hendak berbelok.


Sesaat Mirna merasakan sebuah ancaman bahaya yang sedang menanti Syafiyah, dan dengan kecepatan cahaya, Ia melesat mendorong mobil Syafiyah meluncur melewati badan jalan dan membuat Syafiyah panik karena mobi meluncur ke arah puskesmas dan mengalami rem blong, namun Mirna dengan cepat menahan mobil itu dari arah depan hingga membuat mobil beerhenti mendadak.


Sesaat kepanikan terjadi, suasana didalam puskesmas tampak riuh, dan beberapa staf menghampir Syafiyah didalam mobil yang saat ini dalam kondisi panik.


Sedangkan Mirna telah menghilang dengan cepat tanpa ada satupun yang melihatnya.


Sementara itu, Mobil truck yang hendak menabrak Syafiyah atas suruhan Yanti meluncur tanpa kendali dan menabrak sebuah pohon yang tumbuh ditepi jalan dan terdengar suara dentuman yang sangat keras.


Melihat semua itu, Yanti segera mengemudikan mobilnya dan meninggalkan tempat tersebut.


Disisi lain, Syafiyah membuka pintu mobilnya, Ia merasa sangat syok atas kejadian barusan. Ia melangkah turun dari mobil, namun karena sepatu tumit tingginya itu, Ia tidak dapat menopang tubuhnya yang masih lemah karena terkejut akan apa yang dialaminya, sehinga para perawat menangkap tubuhnya dengan cepat agar tidak terjatuh.


Sementara itu, perawat lainnya membawakan kursi roda agar Syafiyah dapat duduk dikursi tersebut dan dibawa keruangan untuk menenangkan dirinya.


Orang-orang mengerumuni Syafiyah saat melintasi koridor menuju ruangan tempat Syafiyah untuk mendapatkan perawatan syok terapy.


Seorang perawat membawa air minum untuk diberiakan kepada Syafiyah. memberikan Syafiyah untuk menenangkan dirinya.


Semua orang merasa sangat syok saat melihat mobil yang dikendarai Syafiyah tadi meluncur dengan kencang, sebab jika saja mobil itu tidak berhenti, maka kemungkinan Syafiyah akan menabrak tembok puskesmas dan mengalami cidera yang cukup parah.


Namun semua teratasi saat mobil dapat berhenti dengan tiba-tiba dan perlahan.


Syafiyah sendiri merasa bingung bagaimana mungkin mobil itu dapat berhenti mendadak, sebab Ia merasa jika mobilnya mengalami rem blong.


Ia tidak dapat mebayangkan jika mobil truck yang melaju kencang tersebut tiba-menabrak mobilnya, maka dipastikan Ia akan remuk bersama mobilnya.