
Mirna baru saja selesai membersihkan dirinya, Ia melihat jam dinding sudah pukul 4 sore.
"Mas.. Mirna balik ke rumah dulu, Ya.. Ini jadwalnya Mbak Syafiyah pulang kerja" ucap Mirna kepada Satria yang baru saja selesai shalat Ashar dan sedari tafi bergumul diranjang panas mereka.
"Ini rumah Kamu juga, menginaplah semalam disini" pinta Satria.
"Jangan Mas, nanti Mbak Syafiyah kasihan" uvap Mirna sembari menyisir rambutnya, lalu mengikat ekor kuda.
Satria hanya menghela nafas beratnya dan tak mampu lagi mencari alasan untuk mencegah kepulangan Mirna.
Sesaat keduanya keluar dari kamar. Mirna menyempatkan untuk memasak makan malam, agar Syafiyah dapat tenang karena seharian bekerja.
Setelah selesai memasak, Mirna menatanya diatas meja makan, sekaligus membersihkan piring kotor dan mencucinya.
Tak berselang lama, Syafiyah pulang dari puskesmas dan mencium aroma dari sebuah masakan.
Ia memastikan jika itu adalah ulah Mirna. Perutnya seketika merasa lapar, namun Ia mencoba berpura-pura tidak lapar karena harus menjaga image.
Syafiyah mengucapkan salam dan masuk kedalam kamarnya.
Tampak Satria yang sedang duduk di meja kerjanya dengan rambut basah sembari menatap layar laptonya, Syafiyah memastikan jika suaminya pasti bercinta seharian dengan Mirna.
"Sudah pulang?" sapa Satria" dengan lembut, namun matanya masih menatap pada layar laptop.
"Ya.." jawab Syafiyah singkat.
Syafiyah tahu jika, gajinya tidaklah sebanding dengan penghasilan Satria, namun Ia biasa bekerja dari saat masih remaja, sehingga Ia tidak dapat melepaskan pekerjaannya.
Selama ini Satria juga sudah melarangnya untuk bekerja, namun Ia bersikeras untuk tetap bekerja, dan ingin mendapatkan penghasilan sendiri.
Syafiyah melucuti pakaiannya, hari hampir senja dan Ia membersihkan dirinya dikamar mandi. Tak berselang lama, Syafiyah sudah selesai keluar dari kamar mandi, dan ia tak melihat Satria dimeja kerjanya.
"Kemana Mas Satria? Mengapa tidak ada disini?" guman Syafiyah lirih.
Sesaat Syafiyah yang masih mengenakan handuk mencoba membuka pintu kamar dan melihat dimana keberadaan suaminya.
Samar -samar Ia mendengar percakapan antara Suaminya dengan Mirna.
"Mirna pulang saja, Mas.. Makan malam sudah Mirna masakkan" ucap Mirna dengan lirih.
"Menginaplah disini malam ini, Sayang" terdengar suara rengekan Satria kepada Mirna yang mencoba menahan Kepulangan Mirna.
"Ini jatah Mbak Syafiyah, Mas harus berbuat adil" Mirna terus menolak permintaan Satria.
Syafiyah terus mendengarkan percakapan keduanya, hingga tiba-tiba sebuah petir meyambar dan diiring kilatan halilintar yang seolah sedang menunjukkan amarahnya kepada para makhluk dibumi.
Mirna yang kaget seketika memeluk Satria, dan Satria dengan sigap memeluknya. Sakit..? ya, tentu sangat sakit melihat hal tersebut, namun Syafiyah hanya dapat melihatnya saja.
"Lihatlah.. Alam tak menyetujuimu untuk pulang malam ini, Mas akan coba berbicara kepada Syafiyah, masuklah ke kamar" Titah Satria dan membuat Mirna akhirnya mengalah.
Malam ini malam Jum'at kliwon dan tepat pada malam 1 suro, malam dimana banyak para tetuah memandikan barang magic simpanan mereka. Dan para makhluk halus berkeliaran.
Mirna akhirnya melangkah masuk kedalam kamarnya, dan Satria kembali menuju kamar utama.
Mengetahui Satria akan menuju kamar, Syafiyah buru-buru menjauhi pintu kamar dan menuju lemari pakaian.
Syafiyah mencari lingere yang baru saja dipesannya dan memakainya.
Karena waktu hampir Maghrib, Syafiyah menutupinya dengan pakain tidur, Ia berniat untuk meminta jatahnya malam ini, meskipun Ia tak pernah memintanya selama ini.
Namun ternyata Ia merasa takut juga kehilangan Satria.
Adzan berkumandang dimushallah. Satria bersiap-siap berwudhu, lalu mengajak kedua istrinya untuk shalat berjamaah di rumah.
Mirna yang masih sangat awam dengan tata cara Shalat hanya masih mengikuti gerakan yang lakukan oleh Satria.
Namun Ia pastinya Ia harus belajar menghafal semuanya.
Perbuatan Mirna membuat satu sosok wanita bergaun merah itu murka. Tubuh sosok bergaun merah itu bagaikan panas terbakar dan tak menerima semuanya begitu saja.
"Mirnaaaaa!! Dasar pengkhianat..!!" teriak sosok itu dengan penuh amarah.
Seketika Mirna mendengar teriakan kesakitan tersebut, dan saat Satria sudah selesai shalat, lalu mulai berdzikir, Mirna mencoba mendengarkan apa yang diucapkan oleh Satria dan mengikutinya.
Seketika tubuh sosok wanita bergaun merah itu semakin terasa panas dan membuatnya mennggelepar bagaiakan cacing kepanasan.
Lalu sosok bayangan hitam yang tak lain adalah Rey datang menghampirinya "Ada apa Ni?" tanya sosok Rey yang tampak gelisah dan ketakutan melihat Sosok wanita yang tak lain adalah Nini Maru dalam kesakitan.
"Titahkan kepada Yanti untuk mencari tumbal janin malam ini.. Cepaaat!!" titah Nini Maru dengan tubuh yang semakin kepanasan.
"Ba-baik Ni.." ucap Rey dengan cepat dan menghilang untuk menemui Yanti sang budak Iblis.
Sementara itu, Satria baru saja mengakhiri dzikirnya dan kemudian berdoa, lalu memutar tubuhnya dan menyalim kedua istrinya.
Perlahan Nini Maru mulai reda rasa panas ditubuhnya yang sampai mengeluarkan asap seolah Ia sedang terpanggang.
"Dasar, Kau Mirna.!! Anak laknat..!!" makinnya dengan sangat lantang. Sosok itu mencoba untuk bangkit dengan tubuh yang dagingnya tampqk berkelupas dan mengalirkan darah yang semakin menambah keseramannya.
Nini Maru kemudian duduk bersila untuk mengembalikan energi negatifnya.
Sementara itu, Rey terbang melayang menuju warung Yanti yaang kini mulai didatangi oleh para pemuja kemaksiatan.
Kesebelas pria yang kemarin ngacir tanpa membayar sepeserpun akhirnya datang kembali.
Namun Yanti tak ingin rugi kedua kalinya, Ia meminta pembayaran diawal untuk mencegah kerugian yang ditimbulkan.
Iringan dentuman musik yang menggema mebambah suasana warung yang tampak semakin gemerlap dengan sejuta kenik- matan yang ditawarkan.
Lisa dan Yanti yang kini memakai pakaian sangat menggoda, menambah suasana semakin riuh.
Tangan-tangan kotor para pria itu mulai bermain disetiap inti tubuh kedua wanita murahan itu, dan mereka merasa wanita paling cantik karena diperebutkan oleh banyak pria.
Lisa yang sudah setengah tanpa busana mulai merasakan kepalanya berat karena dicekokin minuman berakohol oleh kelima pria yang kini sedang mengerumuninya. Bahkan dari mereka ada yang menyiramkam sebotol minuman berakohol ke sekujur tubuhnya.
Kondisi yang sama-sama mabuk dan tak menyadari segalanya, membuat mereka tenggelam dalam lautan dosa.
Layaknya binatang yang tidak mengenal norma dan susila yang ada, mereka bergumul ria menggilir Lisa yang sudah tidak mengenal dirinya sendiri.
Wanita itu bagaikan barang tak berharga yang diperebutkan bagaikan sebuah bola yang diover kesana kemari setelah pemainnya memuntahkan lahar mereka ditubuh Lisa.
Sementara itu, Yanti masih sibuk melayani ke enam pria lainnya, namun Sosok Rey datang menghapirinya.
Karena keenam pria itu sudah menggilirnya, mereka terkapar tak berdaya. Lalu Rey menarik tubuh Yanti sudah tanpa sehelai benangpun, Ia membawa Yanti kedalam kamar rahasia dan tak lupa menarik salah satu pria yang sudah terkapar tak sadarkan diri ikut kedalam kamar.