
Satria tersentak dari tidurnya. Ia melihat sisi kiri dan kanannya, namun tak terlihat Syafiyah berada diranjangnya.
Ia bergegas bangkit dari tidurnya, dan saat ini waktu menunjukkan pukul 11 malam.
"Kemana Syafiyah" guman Satria lirih, sembari keluar dari kamarnya.
Saat Ia berdiri diambang pintu kamarnya, Ia melihat pintu depan terbuka, seketika Satria terperanjat dan berlari menuju keluar rumah.
Tampak dikrjauhan Ia melihat sosok wanita yang sedang menggunakan pakaian tidur sedang berjalan menuju arah semak belukar yang tak jauh disisi kiri rumah mereka.
Satria melesat dengan cepat dan menarik pergrlangan tangan Syafiyah lalu membawa dalam dekapannya.
Tampak pandangan Syafiyah kosong , memandang objek yang berada diatas dahan pohon yang memandangnya dengan seringai tajam, dan tubuh Syafiyah seketika lunglai tak sadarkan diri.
"Siaaal..!" maki Satria saat menoleh kearah sosok makluk berbulu tebal dan kedua bola mata merah yang sedang memandang kearahnya.
Ternyata sosok itu adalah kakek Nugroho yang menjelma menjadi Genderuwo atas perintah Nini Maru untuk mengelabui Syafiyah dan merubah wujud menjadi Satria.
Syafiyah yang lemah tak menyadari, jika sosok yang tadi memanggilnya didepan rumah adalah makhluk berbulu. Ia mengira itu adalah Satria yang meminta dibukakan pintu karena pulang kemalaman.
Sosok yang menyerupai Satria itu membawanya menuju ke semak yang berada di sisi kiri rumah mereka.
Nini Maru yang sudah lama tidak mendapatkan tumbal janin, melihat sisi kelemahan dari istri pertama Satria, dan ini merupakan sebuah keuntungan yang besar.
Satria menatap penuh amarah. Ia melihat jika ada sebuah konspirasi antara genderuwo itu dengan Nini Maru.
Kini Ia harus menjaga Syafiyah dengan begitu intens.
Satria melihat sosok itu melayang turun dari dahan pohon dan menantang Satria dengan tatapan tajam.
Melihat hal itu, Satria menyandarkan tubuh Syafiyah disebatang pohon rambutan, lalu menatap tajam pada sang genderuwo yang kini sedang menantangnya.
Sesaat Satria mengeluarkan sebilah keris dan dari keris itu mengeluarkan hawa panas yang sangat teramat panas, lalu Satria melemparkannya dengan cepat kearah makhluk berbulu itu, dan...
Aaaargggh...
Suara erangan kesakitan yang melengkin saat keris tersebut mengenai lengan sang genderuwo.
Di sisi lain, Nini Maru menyelinap dibalik pohon rambutan untuk menculik Syafiyah yang tak sadarkan diri, namun Hawa panas menghalanginya.
Nini Maru merubah posisinya dengan merayap dari atas pohon rambutan dan Ingin menarik rambut Syafiyah.
Sosok wanita bergaun merah itu
terus berusaha menggapai tubuh lemah Syafiyah dengan sekuat tenaganya dan menghindari hawa panas yang memendar dari keris yang menancap dilengan kiri Genderuwo tersebut.
Sementara itu, Keris yang menancap dilengan genderuwo itu kembali melesat ketangan Satria dan meninggalkan luka hangus di lengan Genderuwo yang menghilang begitu saja.
Disisi lain, Nini Maru masih berusaha mencapai rambut Syafiyah yang sedikit lagi digapainya.
Seketika Satria merasakan hawa kehadiran Nini Maru yang ternyata sudah berada dibelakangnya.
Mata keduanya saling pandang dan sama terkejutnya. Melihat aksinya kepergok, Nini Maru mengambil langkah seribu dan menghilang. Satria bergegas menghampiri Syafiyah, lalu membopongnya dan membawanya masuk kedalam rumah.
Ia menatap perut Syafiyah yang tampak mulai membuncit, dan ini memasuki bulan ke tiga kandungannya.
Sesaat terdengar suara adzan subuh berkumandang. Satria tersentak dari tidurnya, dan Ia melihat Syafiyah sedang tertidur, lalu Ia menyadari jika semua ini hanya mimpi bekaka.
Satria mengusap wajahnya lalu beristighfar dan meludah ke kiri sebanyak tiga kali karena baru saja mengalami mimpi buruk.
Ia memandang Syafiyah, Ia melihat jika Syafiyah menjadi target dari Nini Maru. Makhluk itu melihat sisi lemah Syafiyah yang dapat dengan mudah diperdaya.
"Ternyata Ia memulai kebangkitannya kembali" guman Satria, lalu beranjak dari ranjangnya dan menuju kamar mandi untuk shalat subuh.
"Sayang, bangun, shalat subuh berjamaah" ucap Satria sembari mengguncang lembut Syafiyah, namun wanita itu hanya menggeliat dan tertidur kembali. Satria memutuskan shalat sendirian.
Setelah shalat subuh, Ia berdzikir dan menggunakan sebuah tasbih yang terbuat dari bahan kayu yang hanya berjumlah sebels butir saja.
Syafiyah terbangun, dan melihat Satria baru saja shalat subuh, Ia kemudian beranjak dari ranjangnya dan menuju kamar mandi untuk berwudhu.
Pukul menunjukkan delapan pagi. Syafiyah bersiap-siap untuk berangkat bekerja. Ia berpamitan kepada Satria tanpa sarapan dahulu karena merasa sudah kesiangan.
"Sayang, tunggu!" ucap Satria kepada istrinya.
"Ada apa, Mas?" tanya Sfafiyah yang tampak tergesa-gesah.
Satria mengeluarkan sebuah tasbih yang digunakannya untuk berdzikir barusan, lalu meraih pergelangan tangan Syafiyah, dan Ia memakaikannya menjadi gelang tangan dipergelangan tangan istrinya.
"Apaan sih, ini Mas? Malu ah, pakai beginian" prites Syafiyah yang merasa risih dengan gelang tangan tersebut.
"Sudah..!! Jangan membantah, pakai saja dan jangan dilepas!" ucap Satria dengan nada penuh penekanan.
Syafiyah hanya memanyunkan bibirnya dan berpamitan pergi bekerja.
Syafiyah melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, Ia merasa sudah sangat terlambat. Saat ini Ia merasa sedikit mual karena masih mengalami morning sickness.
Sebenarnya Ia tak menyukai kehamilannya, Ia merasa janin dalam kandungannya hanya akam menghambat dan mengganggu karir yang masih dirintisnya, Ia masih ingin berkarir dan tanpa gangguan dari bayi yang dikandungnya.
Syafiyah juga merasa jika kelak anak itu lahir, maka akan merepotkannya, sebab tentu akan mengganggu tidur malamnya, dan tentunya akan membuatnya lelah saat bekerja.
Shafiyah sudah sampai di puskesmas, Ia bergegas turun dari mobilnya, lalu tanpa sengaja gelang tasbih itu tersangkut dipintu saat Ia hendak keluar.
"Apaan, sih ini.. Merepotkan saja, lalu dengan kesal Ia membukanya dan melemparkannya diatas nakas mobil.
Syafiyah berjalan dengan tergesah-gesah, sebab Ia merasa sudah terlambat karena hari ini ada kunjungan dari orang BPJS kesehatan yang sedang melakukan pertemuan pembahasan tentang program pemerintah yang mengalihkan para member program BPJS mandiri ke BPJS gratis.
Syafiyah terlambat sekian detik, dan tampak para tamunya sudah menunggunya diruang rapat.
Ia sedikit kesal dan menhalahkan semuanya kepada Satria yang tadi menahannya hanya karena gelang tasbih tersebut.
Rapat berlangsung dengan lancar, dan para peserta rapat mulai meninggalkan ruangan rapat, begitu juga dengan Syafiyah yang menuju keruang kerjanya.
Saat memasuki ruang kerjanya, Ia merasakan sebuah desiran angin berhawa dingin dengan aroma kembang kenanga yang menyeruak di ruang kerjanya. Ia merasakan sesuatu yang membuat bulu kuduknya meremang.
Namun, semua terhenti, saat terdengar sebuah ketukan dipintu, dan seorang pegawai honorer masuk lalu memberikan laporan hasil rapat tadi.
Syafiyah memeriksanya dan menganggukkan kepalanya.
"Setelah makan siang, Saya ada rapat diluar kecamatan, dan urus jadwal keberangkatan saya, jika ada yang mencari katakannsaya sedang keluar" titah Syafiyah kepada Pegawai honorer tersebut.