
Pagi menjelang. Lisa tersadar dari pingsannya saat merasakan semut menggigitinya didaerah jalan lahirnya, sebab aroma amis darah tercium sangat jelas.
Wanita itu tersentak saat mendapati dirinya berada dibawah pohon dengan pakaian bawahnya terdapat rembesan darah.
Ia melihat perutnya telah kosong dan tak ada lagi disana.
Lisa membekap mulutnya, Ia memandang kesekelilingnya, dan melihat warga belum ada yang terbangun.
Lisa beranjak dari duduknya, lalu berjalan tertatih masuk kedalam rumahnya dan mengunci pintu rumahnya.
Ia mencoba mengingat peristiwa semalam yang mana suaminya datang pulang dari perantauan dan mengajaknya keluar rumah, lalu mencumbunya dan membuatnya kontraksi.
Lisa bingung kemana janinnya. Namun Ia juga dilema, apakah Ia harus senang atau harus sedih kehilangan janin dalam kandungannya.
Lisa membersihkan dirinya di kamar mandi. Dan merendam pakaiannya yang penuh noda darah.
Ia masih terus berfikir siapa yang mengambilnya janinnya "Apakah Yanti yang melakukannya?" Lisa berguman dalam hati sembari menyabuni tubuhnya.
Lalu Ia teringat suaminya "Mas paijo? Kemana Dia? Mengapa Ia menghilang?" Guman Lisa dan mempercepat ritual mandinya.
Lisa kini sudah selesai mandi dan memakai pakaiannya yang bersih.
Ia duduk ditepian ranjang "Jika itu Mas paijo mengapa Ia tidak marah jika aku hamil? Sedangkan itu jelas-jelas bukan anaknya.
Saat Ia larut dalam fikirannya. Phonselnya berdering, dan satu nama panggilan masuk yaitu dari suaminya.
Lisa bergegas mengangkatnya, Ia penasaran kemana menghilangnya suaminya setelah membiarkannya keguguran dibawah pohon akibat dicumbu tanpa jeda.
"Hallo, Dik. Apa kabar?" tanya paijo dari seberang telefon.
Lisa mengerutkan keningnya dan merasa bingung dengan pertanyaan sang suami.
"Dik.. kenapa bengong? Mas hari ini balik, sekarang sudah di terminal Bus menunggu antrian beli tiket" ucap Pajio dari seberang sana.
Seketika Lisa membolakan matanya dan masih bingung.
"Dik.. "
"Iya, Mas.." jawab Lisa gelagapan.
"Ya sudah. Mas mau berangkat dan sudah dapatnya tiketnya" ucap Paijo mengakhiri panggilan teelfonnya.
Lisa gelisah. Siapa yang mencumbunya malam tadi jika saat ini suaminya masih berada diperantauan dan baru akan kembali.
Lalu janinnya? Antara senang karena janinnya hilang, sebab tidak akan menjadi pertanyaan dari suaminya karena Ia mengandung bukan anak suaminya.
Namun Ia bingung kemana janinnya? Mengapa hilang tak berbekas? Ia yakin jika ini ulah Yanti, dan Ia pelakunya.
"Sialan..!! Si Yanti. Pasti Ia menjadikan janinku tumbal kekayaannya dan malam tadi Ia memakannya" guman Lisa lirih, dan merasa tak tega membayangkan Yanti yang mencabik-cabik janinnya, dan meskipun itu hasil perselingkuhannya, namun Ia juga tidak rela jika janin itu menjadi tumbal oleh Yanti.
Lisa berniat jika bayinya lahir akan membawanya ke panti asuhan atau Ia berikan kepada orang yang menginginkan anak nantinya. Namun sepertinya niatnya itu tidak kesampaian."Awas saja Kau, Yanti.. Suatu saat akan ku bongkar kebusukanmu" guman Lisa dengan geram.
Lisa menggunakan korset untuk mengganjal perutnya yang baru selesai saja melahirkan meskipun bayinya tak ada bersamanya.
Karena perutnya sudah mengempis, Ia berani untuk keluar rumah, mencari rimpang kunyit dan kencur yang tumbuh disekitar perkarangan rumahnya.
Selama ini rumah Lisa tak terlihat ada penghuninya, dan selalu tampak gelap. Mereka mengetahui jika Lisa bekerja, tetapi tidak tahu dimana.
"Iya, Mbak.." jawab Lisa lirih, lalu dengan pisau digenggamannya Ia membil rimpang kunyit dan juga kencur untuk membuat jamu.
Setelah mendapatkan beberapa rimpang Ia ingin masuk ke rumahnya, namun ada beberapa ibu-ibu yang lagi ngerumpi didekat rumah nya karena rumah mereka berdekatan.
"Lagi ngerumpiin apaan, Bu?" tanya Lisa yang ingat tahu apa yang dibicarakan oleh para ibu-ibu tersebut.
"Itu, Mbak Lisa.. Warung yang didesa tetangga kan kebakaran dua malam yang lalu. Trus dengar desas-desusnya pemiliknya Yanti anaknya Pak Badu. Dan kabar yang menyeramkan, ada ditemukan 4 tumpukan jasad yang hangus terbakar tinggal abu, dan juga satu lagi mirip gorilla, dan satu ekor binatang yang mirip dengan biawak ikut juga terbakar dalam satu ruangan" seorang diantaranya menjekaskan.
"Iya.. Polisi masih mendalami kasusnya, masih diuji laboratorium, itu jasad pembunuhan atau pelanggan yang terjebak saat kebakaran, soalnya mencurigakan" yang lain menimpali.
Lisa terperangah. Ia tidak tahu jika warung Yanti terbakar, sebab selama ini Ia mengurung dirinya didalam rumah.
"Terus, Yanti nya hidup apa ikut terbakar?" tanya Lisa penasaran. Sebab Ia berharap Yanti ikut mati terbakar.
"Kabarnya sih, Dia selamat, sebab tidak ditemukan keberadaannya hingga kini" yang lain menimpali.
Lisa terdiam sesaat, ingin rasanya Ia mengungkapkan segalanya, namun saat ini Ia masih ingin menyimpannya saja, jiak sudah waktunya Ia akan membongkarnya, lagi pula Yanti juga menghilang entah kemana.
Lisa berpamitan dan masuk ke dalam untuk membuat jamunya. Sedangkan Ibu-ibu itu masih terus bergosip ria.
Sementara itu, Badu yang mendengar kebakaran warung didesa sebelah yang mana disebut-sebut milik anak perempuannya merasa sangat malu dan juga khawatir.
Apalagi selama ini juga mencurigai puterinya sebagai pelaku dari pengambilan janin ibunya sendiri, meskipun Ia belum dapat membuktikannya.
Badu merasa malu sebab warung yang didirikan Yanti menjadi warung remang-remang tempat untuk kemaksiatan.
Saat Badu dalam kecemasannya. Dua orang kepolisian menyambangi rumahnya.
"Pagi, Pak Badu" ucap Seorang polisi kepada Badu yang saat ini sangat terkejut karena kehadiran dua orang polisi yang tiba-tiba saja datang kerumahnya.
"Siang, Pak.. Ada apa ya?" tanya Badu dengan nada sedikit bergetar.
"Apakah saudari Yanti ada datang ke rumah ini, dan kami ingin menggali informasi tentang warungnya yang terbakar"
Badu tampak pucat, dan kini puterinya sedang dicari oleh pihak kepolisian.
"Yanti tidak ada datang kemari sejak Ia keluar dari rumah saya" jawab Badu jujur.
"Kami harap bapak tidak berbohong dan tidak mempersulit petugas untuk menangani kasus yang tengah kami dalami. Karena kasus knk saling berkaitan dengan kasus-kasus sebelumnya" ucap polisi itu dengan tatapan intimidasi.
"Tetapi saya tidak berbohong, Pak.. Jika bapak tidak percaya, silahkan masuk dan periksa rumah saya" jawab Badu dengan cepat.
Lalu dua orang polisi itu masuk dan menggeledah rumah Badu untuk menemukan Yanti yang kini menghilang tanpa jejak.
Setelah menggeledah semua ruangan dan juga tempat yang dicurigai tempat Yanti bersembunyi, namun mereka tak menemukan jejak keberadaan Yanti.
"Baiklah, Pak.. Terimakasih atas kerjasamanya, dan kami harap bapak bersedia hadir saat kami butuhkan untuk membantu proses penyelidikan" ucap polisi tersebut, lalu berpamitan pulang.
Badu semakin gemetar, dan kini Yanti menjadi buronan yang sedang dicari dan pastinya akan dijadikan tersangka jika saja terbukti melakukan pembunuhan kepada jasad yang terbakar diruangan kamar warungnya.