
"Aaaarrgghhh.." Ki Rogo tertusuk kerisnya sendiri yang dibalik oleh Yanti.
Darah menyembur dari mulutnya, lalu Yanti merobek perut itu menggunakan keris yang tertancap di perut Ki Rogo hingga sampai kebagian lato-latonya dan...
Kreeeeesss..
Suara keratan dari keris itu dan membuat Ki Rogo harus kehilangan lato-latonya, dan Yanti dengan cepat memakannya.
Lalu dengan cepat Yanti menjatuhkan tubuh Ki Rogo yang kini sudah mengejang dengan isi perut yang terburai dan jatuh ke tanah denga kondisi yang mengenaskan.
Seketika oara personil kepolisian tersentak kaget saat melihat tubuh Ki Rogo hancur tak berbentuk dengan luka yang sangat mengerikan.
Lalu mereka menembaki Yanti yang masih melayang diudara.
Dengan kekuatannya yang menyatu bersama tiga iblis tersebut, Ia mengumpulkan peluru yang melesat ke arahnya, lalu dengan cepat mengembalikannya kepada Personi kepolisian yang kini harus menerima serangan dari Yanti.
Beberapa peluru mengenai tubuh para polisi tersebut, sehingga yang mendapatkan serangan tersebut harus menderita luka dari peluru yang menembus daging mereka.
Seorang personil kepolisian terkapar saat peluru itu menyasar tepat dikeningnya dan menembus hingga sampai kepala belakangnya.
Irjen Santoso terbeliak matanya menyaksikan peristiwa tersebut. Lalu beberapa personil lainnya terluka karena peluru itu ada yang menyasar di bagian pundak, dada dan anggota tubuh lainnya.
Kini Yanti telah berubah menjadi sosok mengerikan setelah ketiga Iblis bersatu bersama raganya.
Aroma anyir dan juga amis yang bersatu dengan aroma kenanga silih berganti bersama terpaan angin yang bersemilir.
Tawa kemenangan membahana di malam itu, hingga sebuah benda melesat menuju ke arahnya dengan cahaya keperakan dan menegenai wajahnya.
"Aaaaarrgggh.." suara lengkikangan kesakitan kini menggantikan tawa Yanti yang tadinya congkak.
Lalu dengan cepat Yanti melesat membelah kegelapan malam dan menghilang.
Irjen Santoso dan juga personil yang masih selamat terperangah melihat cahaya keperakan yang tadi melesat menghantam Yanti. Namun mereka tak melihat sesiapapun yang menolong mereka, dan itu menjadi misteri. Andai saja mereka menegetahui siapa sang penyelamat, maka itu akan menjadi mudah bagi mereka untuk bergabung membasmi Yanti.
Kemudian Irjen Santoso memerintahkan kepada pasukannya yang masih selamat untuk membawa para personil yang terluka dan juga tewas terkena serangan balik dari Yanti.
Seketika mereka membatalkan misi penangkapan Yanti, dan memasukkan jasad Ki Rogo yang kini sudah tak bernyawa lagi dengan tubuh yang hancur berderai dan bahkan ada dari serpihan dagingnya yang tercecer karena terhempas dari ketinggian yang dilakukan oleh Yanti.
Lalu kesatuan tersebut pergi meninggalkan lokasi dengan hasil nihil.
Yanti menembus kegelapan malam dan dengan wajah yang luka parah serta hampir terbakar setengahnya membuat seperti aroma daging bakar, hingga tanpa sadar bola mata kirinya mencuat seperti hendak terlepas.
"Aaaaarrggh.. Sakit, Ni.. Ki.." teriak Yanti saat menyadari jika bola mata kirinya mencuat bagai hendak terlepas dan kulit wajah kirinya hangus yang membuat bertambah parah kengerian dalam wujudnya.
"Nini.. Dulu kau menjanjikan kepadaku kulit mu-lus dan wajah cantik jika bersekutu denganmu, namun mengapa ini yang ku dapat? Aku kngin wajah dan tubuhku yang dahulu..!!" erang Yanti dengan kesal dan merasa Ia telah terjebak dalam persekutuan ini.
"Diaammlah..!! Ingin kembalipun Kau sudah percuma, sebab kami telah menyatu dalam ragamu, sekarang ikuti saja alurnya, Kau harus menerima takdirmu dalam kesesatan ini" ucap Nini Maru dengan kasar.
Yanti masih merasakan perih dan juga sakit pada luka bakarnya, dan ini sangat menyiksanya.
Sementara itu, para personil kepolisian sudah tiba dirumah sakit dan membawa para personil yang terluka untuk dirawat dan jasad Ki Rogo disatukan dengan cara dijahit, meski jasadnya tak lagi utuh agar dapat dengan mudah memandiknnya.
"Bagaimana ini, Pak..? Bukannya kita menangkap pelakunya, tetapi menambah musibah yang sangat besar"ucap seorang diantara mereka dengan perasaan yang sangat gelisah.
Irjen Santoso tampak bingung dengan apa yang harus dilakukannya saat ini, sebab ini bukanlah hal yang biasa.
"Kita harus mencaritau siapa yang membantu kita saat tadi. Dapat dipastikan jika irang tersebut sangat sakti dan dapat melenyapkan iblis tersebut" ujar Irjen Santoso dengan yakin.
"Namun kenyataannya, Kita tidak tau siapa orang itu" jawab seorang Brigjen yang kini menatap para rekannya yang terluka karena ikut dalam penyerangan tadi.
Irjen Santoso mendenguskan nafasnya dengan berat, sungguh kasus yang rumit karena melibatkan sosok ghaib yang mengerikan.
Ditempat lain, seseorang sedang membakar dupa dan kemenyan serta sesaji ayam cemani dan juga burung gagak.
Sebuah kain hitam terbentang dengan diatasnya sebuah nampan bundar yang berisi sesaji dan seorang pria yang kini berpakaian serba hitam dan memakai ikat kepala berwarna hitam sedang membaca mantra pesugihan.
"Ni.. Ni.. Datanglah.. Aku memanggilmu" ucap pria itu dengan mulutnya yang terus merafalkan manntra ghaib tersebut.
Sesaat Nini Maru yang mendengarnya tersenyum seringai.
"Ayolah ada seseorang yang datang memuja dan memanggil" ucap Nini Maru dengan sumringah.
"Kemana, Ni?" tanya Yanti penasaran.
"Ikuti saja kemana aku membawa tubuhmu" titah Nini Maru kepada Yanti.
Lalu tanpa protes, Nini Maru membawa tubuh Yanti melesat menuju tempat dimana seseorang sedang memujanya.
Dengan cepat Nini Maru tiba didalam sebuah ruangan yang terdapat cahaya remang-remang karena hanya menggunakan penerangan lampu pelita.
Aroma anyir, amis dan kembang kenanga serta kabel terbakar silih berganti menjadi aroma kehadiran Yanti dengan ketiga iblis yang kini berada ditubuhnya.
"Ada apa Ki Brewok.. Kamu telah memanggilku?" tanya Nini Maru dengan suara parau.
"Akhirnya kamu datang juga, Ni.. Aku menyediakan tumbal janin kepadamu, harap kamu menerimanya" ucap Ki Brewok yang dengan tatapan serakah.
Ia melihat tubuh Yanti kini dikuasai oleh tiga iblis yang membuatnya tidak manusiawi.
"Baiklah.. Aku juga membutuhkannya saat ini" ucap Nini Maru dengan sangat senang.
Ki Brewok menepuk tangannya, dan muncul seeorang dari balik pintu bersama wanita yang tangannya diikat dan meronta-ronta ingin dilepaskan.
"Heeemm...Rina.." guman Yanti dengan lirih. Saat ini Rina tidak mungkin mengenalinya karena penerangan yang sangat suram dan juga kondisi tubuhnya yang sangat menyeramkan.
"Lepaskan.. Lepaskan saya" ucap Rina dengan meronta. Namun cengkraman tangan pria muda itu sangat kuat, hingga membuatnya tak berdaya.
Ki Brewok menatap Rina dengan sarkas.
"Baringkan Ia didekat dupa" titah Ki Brewok dengan tegas.
Lalu pemuda itu dengan cepat memaksa Rina untuk berbaring, dan tanpa perintah apapun dari Ki Brewok, pemuda itu melucuti pakaian Rina hingga tanpa sehelai benangpun, dan mempersilahkan Kepada Ki Brewok untuk melakukan apa yang mesti dilakukan.