
Tepat pujul 12 malam. Keduanya tersentak daei bangunnya saat alarm berbunyi dan keduanya bergegas berwudhu untuk shalat hajat terakhir mereka dalam melakoni ritual ajian Segoro Geni mereka.
Malam ini mereka tidak diperbolehkan tidur hingga menjelang subuh karena itu sebagai syaratnya.
Lalu keduanya mulai melakukan shalat hajat dan saat takbir pertamanya, terdengar dentuman yang lebih keras menghantam atap rumah.
Gemuruh mulai datang kembali disertai angin ribut yang begitu terasa mengerikan.
Para warga yang masih terlelap seolah tak menyadari apa yang terjadi.
Keduanya seolah sudah terbiasa oleh gangguan tersebut dan meneruskan shalatnya tanpa memperdulikan apa yang menjadi gangguan mereka.
Sementara itu, sukma Satria melesat kelura dari raganya. Ia melihat Nini Maru, Ki Kliwon dan juga Ki Genderuwo ternyata ikut dalam memimpin misi penggagalan ritual terakhir ke dua puteranya.
"Heei, Satria..!! Kami datang kemari untuk menjemput Samudera atas perintah Mirna! Ia menginginkan pertukaran jiwa dan juga kemusnahan kalian!" ucap Nini Maru dengan congkaknya.
Satria menatap ke tiganya beserta para pasukan yang dibawanya dalam jumlah yang begitu banyaknya.
"Tidak akan ada pertukaran jiwa! Kalian hanyalah makhluk laknat terkutuk yang telah membolak-balikkan kata!" ucap Satri menatap tajam pada para iblis tersebut.
"Hihihihihi.. Kau akan menangis seumur hidupmu, jika mengetahui Mirna bukanlah Mirnamu lagi! Tetapi Ia telah menjadi Mirnaku! Mirna yang akan menguasai jalan kesesatan dan akan menjadi sosok penguasa kegelapan yang dipuja oleh seseorang yang menginginkan kekayaan secara instan," ucap Nini Maru dengan nada penuh kemenangan.
Satria menatap tajam pada iblis betina tersebut.
"Aku akan merebut Mirna darimu, dan ku pastikan itu!" ucap Satria dengan bersungguh.
"Hihihihihi.. Mirna telah berubah wujudnya! Ia tidak secantik yang kau bayangkan dan cintamu akan hilang seketika saat melihat wujudnya yang sekarang! Hihihihi..," Tawa itu begitu terdengar sangat menjijikkan.
Dengan siaga Satria mencabut Kerisnya dan menyerang Nini Maru yang masih tertawa congkak.
Karena tak menyadari serangan dari Satria, hingga ujung keris sudah berada tepat di dada iblis betina tersebut, namun Ki Kliwon dengan cepat menahan serangan Satria dan menarik Nini Maru dari tempatnya sehingga serangan Satria meleset mengenai angin.
Lalu ketiganya menyerang bersamaan dan Para pasukan yang mereka bawa juga ikut menyerang Satria secara keroyokan.
Sesaat keris tersebut mengeluarkan cahaya berwarna jingga dan menyapu ribuan iblis yang berusaha untuk menyerang.
Tampak beberapa dari iblis itu melarikan diri dan sebagiannya terkena semburan api dari Chakra Mahkota yang mengenai iblis tersebut hingga terbakar.
Nini Maru, Ki Kliwon dan Juga Ki Genderuwo menyerang Satria secara bersamaan. Dengan menyatukan kekuatan, mereka bertiga berusaha untuk memberikan serangan yang dapat membuat Satria kewalahan.
Satria merafalakan ajian segoro geninya, lalu mengimplementasikannya dengan tenaga dalam yang tersisa.
Ia melesat diudara dan menyerang Nini Maru yang berada tak jauh darinya. Hawa panas bagaikan terkurung dalam open dirasakan oleh ketiga iblis tersebut.
Nini Maru melesat dengan cakar tajam dan runcing yang siap menggores dan mencabik tubuh Satria dari tiga penjuru.
Craaaaash..
Kuku runcing Nini Maru berhasil menggores lengan Satria dengan cepat dan membuat luka lebam dan robek.
Sementara itu, Ki Genderuwo menyerang dari arah belakang dengan sebuah tendangan yang menyasar pada punggung Satria, namun dengan sigap Satria menghindarinya dan tanpa sengaja tendangannya mengenai Nini Maru yang berada tepat dihadapannya.
Buuuuugh..
"Aaaaaarrggh.. Siaaalan, Kamu Ki!! Kalau mau nyerang liat-liat, Dong!" Omel Nini Maru sembari meringis menahan sakit.
"Sorry, Ni! Gak lihat kamu ada disitu!" jawab Ki Genderwo.
Satria mengambil kesempatan untuk membalas serangan mereka dengan keris ditangannya dan ajian segoro geninya Ia melesat dan berputar di udara dengan ujung keris mengarah ke dada kiri Nini Maru.
Saat ujung keris itu hampir menyentuh Nini Maru, sesosok makhluk mengerikan melesat menyelamatkan Nini Maru.
Satria tercengang saat melihatnya. Sosok itu menatap Satria penuh arti. Wajahnya sangat mengerikan. Kulitnya penuh kudis dan nanah dan sorot matanya sangat tajam.
Diatas kepalanya terdapat 2 tanduk dan ekor yang panjang pada bagian bokongnya.
Makhluk itu menatap Satria dengan begitu lama, dan Nini Maru tampak tersenyum menyeringai dari balik belakang sosok yang menyelamatkannya.
Tampak sosok itu terluka dibagian telapak tangannya seperti luka goresan dan hangus karena terkena ajian segoro geni Satria saat mencoba menyerang Nini Maru.
Sosok itu berbalik arah, tak mampu memandang tatapan Satria padanya, dan akan melesat membawa Nini Maru yang saat oni juga terluka karena hawa panas dari ajian segoro geni tersebut.
"Mirna.." ucap Satria lirih.
Sosok itu terdiam, dan tanpa menoleh kepada Satria Ia melesat meninggalkan Satria yang masih diam terpaku menatap kepergiannya.
"Mirnaaa.. Kembalilah..!"teriak Satria dan berusaha mengejar sosok tersebut yang Ia yakini adalah Mirna.
Penampilan seseorang bisa menipu pandangan mata, namun ikatan hati tak dapat dipungkiri, dan itulah yang saat ini sedang Satria rasakan.
Satria berdiri terpaku menatap kepergian sosok tersebut. Ia melesat mencoba mengejar sosok yang diyakininya adalah Mirna. Ia membelah kegelapan malam untuk mencari keberadaan sang pujaan hati.
Namun kekuatan kegelapan telah menghalangi pandangannya.
"Mirnaa.. Kembalilah! Aku tak kan merubah hatiku meskipun kondisimu telah berubah, Aku masih tetap sama mencintaimu. Kembalilah, Mirna," Rintihan hati Satria yang terasa menyayat hatinya.
Satria tersentak saat mendengar suara lanutan adzan Subuh yang memaksanya harus kembali ke raganya.
Satria melesat menuju pulang ke raganya. Tubuhnya tersentak saat merasakan panas dibagian lengannya yang membiru. Ia meliriknya, kemudian mencoba mengalirkan tenaga dalamnya untuk mengobati luka tersebut. Namun tenaga dalamnya masih belum optimal karena kemarin Ia baru saja mengobati luka dalamnya saat akan menerobos masuk ke dalam pintu penghubung dunia kegelapan.
Setelah selesai shalat subuh, Ia mencoba bermeditasi untuk mengemablikan tenaga dalamnya dengan sebuah ketenangan.
Setelah satu jam lamanya, akhirnya Satria mendapatkan kembali tenaga dalamnya. Ia menghela nafasnya dengan berat.
Tatapannya nyalang mengingat sosok tersebut. Hatinya hampa saat melihat sosok itu pergi tanpa melihatnya. Satria masih mengingat senandung yang selalu dilantunkan oleh Mirna saat masa mereka belum bertemu.
Perlahan Satria menyenandungkan dengan nada yang begitu perih dan menyayat hatinya.
"Kutunggu dirimu"
"Dipenantian panjangku"
"Hadirlah membawa cinta"
"Hingga akhinya kita bersatu"
"Mengikat janji yang tertunda"
"Duhai belahan belaian jiwa"
"Aku disini masih setia menanti"
Deeeegh...
Sebuah desiran menjalar didalam serpihan hati satu sosok yang kini sedang duduk termangu. Ia seperti mengingat lirik senandung tersebut, namun dimana? Kapan? Dan siapa?
Ia sendiri belum mendapatkan jawabannya.
Sementara itu, ternyata tubuh Nini Maru dan yang lainnya mengalami luka bakar saat terkena ajian segoro geni.
"Brengsek! Tubuhku terasa bagaikan terbakar. Kulitku melepuh dan ini sangat sakit!" ucap Nini Maru mengeluh.
"Kita harus mencari tumbal darah yang dapat menghentikan rasa panas ini" saran Ki Kliwon yang sudah lama menahan haus darah manusia. Sebab Jenglot sepertinya darah merupakan sumber kehidupannya.
"Tetapi hari sudah mulai siang, Ki.. Siang hari adalah kelemahan kita," ucap Ki Genderuwo mengingatkan.
"Tetapi kita tidak memiliki waktu lagi!" ucap Ki Kliwon penuh penekanan.
Mereka saling tatap, dan perkataan ki Kliwon ada benarnya. Mereka harus segera menemukan tumbal darah dan janin untuk Nini Maru.
Lalu mereka sepakat untuk berpencar mencari tumbal hari ini juga.
Sementara itu, Samudera dan Angkasa berangkat ke sekolah. Hari ini adalah hari terakhir untuk mereka melakukan ritual penyempurnaan lelaku puasa dan pastinya cobaan mereka akan semakin berat.
Keduanya berangkat ke sekolah tanpa berpamitan kepada Satria, sebab ayah mereka tak keluar kamar sedari subuh tadi.
Lalu mereka menuju garasi dan menggunakan motor Mirna, sebab motor mereka mengalami ringsek yang cukup parah.
Keduanya bergegas menuju sekolah, sebab hari ini ujian terakhir untuk materi soal kenaikan kelas.
Saat melintasi jalanan sepi. Mereka melihat Tasya berhenti ditengah jalan. Lalu mereka menepikan motornya sebab Tasya tampak berjongkok sedang memegangi perutnya.
Keduanya menghampiri Tasya "Heei.. Kamu kenapa?" tanya Samudera.
"Perutku mual banget! Sudah hampir 2 bulan ini aku selalu mual setiap pagi" ucap Tasya dengan wajah pucat dan berkeringat, lalu desakan dari dalam perutnya kembali membuat Tasya meraskan mual, meski isi lambungnya sudah habis terkuras dan hanya menyisakan cairan kuning yang rasanya sangat pahit dan menyiksa.
Angkasa tersentak kaget saat melihat sesuatu yang tumbuh didalam rahim Tasya. Ia membekap mulutnya.
"Tasya.. Siklus mens-truasi kamu bagaiamana?" tanya Angkasa dengan penasaran.
Tasya menoleh ke arah Angkasa yang mana pertanyaan remaja itu begitu konyol.
"Emangnya kenapa?" Tasya balik bertanya.
Angkasa bingung ingin menjelaskannya karena takut Tasya tersinggung.
"Aku, bingung untuk menjelaskannya" jawab Angkasa.
Tasya memutar tubuhnya dengan masih berjongkok "Katakan saja! Aku tidak akan marah," ucap Tasya meyakinkan Angkasa
"Ka-kamu sedang mengandung, Tasy" ucap Angkasa gugup.
Seketika mata Tasya membola. "Da-darimana kamu tahu hal ini?" tanya Tasya gugup.
Ia baru teringat akan kejadian malam itu saat Baron merudal paksanya. Dimana Baron menitipkan benih yang tak diinginkannya kedalam rahimnya. Sehingga tanpa Ia sadari jika benih itu tumbuh dan berkembang.
Angkasa bingung harus menjelaskannya. Namun Ia pernah membaca artikel jika tanda-tanda kehamilan itu dengan siklus datang bulan yang tidak datang dalam dua bulan berturut-turut dan Mengalami morning sickness.
"Ya. Karena gejala yang kamu alami mirip orang sedang mengandung. kalau mau lebih jelasnya, ya kamu periksakan ke bidan atau membeli tespack" Jawab Angkasa.
Tasya terperangah. Jika benar Ia mengandung, maka ini akan sangat memalukan dan Ia tidak ingin janin itu tumbuh dirahimnya, Ia harus membuangnya.
"Ya, sudah.. Ayo kita berangkat ke sekolah. Nantinkita ketinggalan," ucap Samudera.
"Angkasa, Kamu mau boncengin aku? Kepalaku masih sangat pusing, takutnya aku terjatuh dijalanan" ucap Tasya memohon.
Angkasa menganggukkan kepalanya dan membonceng Tasya ke sekolah.