
Rey uring-uringan. Sudah lama Ia tak mendapatkan lato-lato dari Yanti. Ia merasa harus segera menyelesaikan semua persyaratan yang mengharuskannya mendapat lato-lato sebanyak 40 buah.
Akhir-akhir ini Yanti sibuk dengan perintah Nini Maru yang untuk mencelakai Syafiyah, begitu juga dengan dirinya yang mendapatkan tugas yang sama.
Malam gelap dan juga sepi. Dua pemuda sedang berjalan kaki sembari memainkan phonselnya menuju warung Lela sang janda.
Kedua pemuda itu biasa mangkal diwarung tersebut dengan memanfaatkan wifi gratis Mbak Lela.
Sesampainya diwarung tersebut, Keduanya memesan pesanan minuman Mi-lo dingin kepada Mbak Lela dan juga nasi panjangnya alias lontong sayur khas Medan Sumatera Utara.
Lela lalu membuatkan pesanan keduanya. Meskipun malam hari, tak membuat keduanya memesan minuman hangat, tetap juga memesan minuman dingin, mungkin mereka sudah kebal dengan hawa dingin.
Setelah membuat pesanan keduanya, Lela mengantarkan pesanan tersebut.
Namun mata Dino sedikit terganggu saat melihat pakaian Mbak Lela yang sedikit berbeda dari biasanya.
Daster payung diatas lutut dengan leher lebar dan membuat buah melonnya seakan ingin muntah keluar karena berukuran lumayan besar.
Dino menelan salivanya, dan pemandangan itu mengganggu konsentrasinya.
Sedangkan Didi yang yang sedari tadi menatap layar phonselnya dan sedang asyik berbalas chat dengan kekasih onlinenya tak menyadari apa yang sedang dilihat oleh Dino.
Setelah Lela meletakkan pesanannya, Ia kembali ke dapur dengan melenggangkan pinggulnya yang menambah darah kelaki- an Dino menggebu.
Pemuda itu menyikut lengan Didi yang sedari bermain pbonsel sembari menyantap lontongnya.
"Di.. Kamu lihat gak?" bisik Dino yang menyeruput minuman dinginnya.
"Hemm.. Lihat apaan?" jawab Didi tanpa menoleh kearah sahabatnya, sebab sibuk membalas chat kekasihnya.
"Itu.. Mbak Lela.. Koq malam ini dandanannya beda" bisik Dino kepada sahabatnya.
"Beda bagaimana?" tanya Didi yang masih terus menatap layar phonselnya.
"Pakaiannya sedikit terbuka dan juga pendek. Sampai buah melonnya muntah pengen keluar dari sarangnya" bisik Dino dengan kondisi yang sudah gelisah.
"Mungkin gerah kali, jadi pengen cari angin" jawab Didi sekenanya.
Dino sedikit kesal dengan jawaban Didi yang dianggapnya terlalu sangat acuh tak acuh saat Ia membahas tentang kemolekan tubuh wanita.
Dino terus melirik Mbak Lela yang tampak melayani pembeli yang datang silih berganti.
Semilir angin menerpa tubuh Dino. Ia merasakan aliran darahnya seakan mengalir deras dan dorongan akan sebuah keinginan untuk menuntaskan sesuatu yang mendesak dibawah sana sepertinya tidak dapat ditahan lagi.
Sebuah bisikan yang mempengaruhi akal fikirannya kian terus membuatnya harus memaksa untuk menghampiri Lela yang sudah mengaganggu konsentrasinya.
Dino melirik sahabatnya yang tampak terus fokus dengan phonselnya, Ia menghabiskan lontong pesanannya dan beranggapan untuk menambah tenaga ekstra.
Ia mengamati pelanggan sudah mulai sepi dan Mbak Lela masuk kedalam rumahnya yang menyatu dengan warungnya.
"Di.. Aku ke toilet bentar, kebelet" ucapnya kepada Didi.
"Hemm.. Jangan lama-lama" jawab Didi sembari menyeruput minumannya. Lalu Dino beranjak menuju toilet seperti yang disebutkannya.
Setelah kepergian Dino yang katanya ke kamar Mandi, Didi merasakan jika bulu kuduknya meremang, dan meskipun Ia tidak begitu dapat melihat sosok astral dengan jelas, namun Ia dapat merasakan kehadiran makhluk itu.
Namun Didi mencoba mengabaikannya dan yerus melanjutkan chatnya.
Tak berselang lama, sang kekasih onlinenya menghubunginya, dan membuat Didi mengobrol dengan sang kekasih melalaui panggilan audio.
Dino masuk kedalam rumah Lela, beralasan ingin ke kamar mandi.
Tak berselang lama, Pintu terbuka dan tampak Lela keluar dari kamar mandi, dan sedikit tersentak saat melihat Dino sudah berada diambang pintu.
"Eh.. Dino, mau ke kamar mandi juga?" sapa Lela yang hendak keluar dari kamar mandi.
Namun tatapan Dino tampak berbeda. tatapannya terlihat kosong, namun penuh hasrat menggebu.
"Mbak.." ucapnya lirih.
"Ya"
Dino menatap kedua mata Lela dengan begitu lekat. Seketika Lela tampak terdiam dan tak mengerti dengan apa yang terjadi.
Ia menurut saja saat Dino menariknya ke meja dapur yang menjadi dapur utama selain dapur warung.
Mereka tidak menyadari dengan apa yang sedang mereka lakukan, semuanya terjadi begitu saja.
Didi merasa mengapa sahabatnya begitu sangat lama ke toilet, dan Ia merasa sangat curiga. Ia takut jika sahabatnya itu mungkin saja pingsan dikamar mandi.
Ia meminta iknin kepada kekasihnya untuk mengakhiri panggilan telefonnya, dan mengatakan jika sahabatnya tak kunjung keluar dari kamar mandi.
Didi memasuki rumah Mbak Lela yamg mana letak kamar mandi berada didalam rumah dibagian dapur utama.
Sesampainya dipintu penghubung, Ia merasa curiga karena mendengar suara rintihan dari dua insan yang dipastikan Didi sedang bercinta.
Ia mencoba mengintai dari pintu penghubung antara dapur dan ruang tengah.
Seaat Ia tersentak saat menyaksikan sahabatnya dengan Mbak Lela sedang melakukan hubungan terlarang, dan tampak samar-samar dibelakang tubuh sahabatnya sosok bayangan hitam yang sdang siap hendak melakukan sesuatu kepada sahabatnya yang saat ini sedang memompa Mbak Lela dengan ritme yang lebih cepat dan menandakan pelepasan akan segera datang.
Dengan Cepat Didi menarik sahabatnya dari tubuh mbak Lela dan menyeretnya menjauh sedangkan segalanya sudah berada diujung pelepasan.
Didi dengan cepat menutup senjata sahabatnya yang sedang tegak berdiri.
Ia tidak perduli sahabatnya itu mengomel dan memakinya karena gagal mendapatkan puncaknya.
Didi tanpa permisi membuka lemari es milik Mbak Lela, lalu mengambil sebotol air mineral dingin dan menyiramkannya ke senjata sahabatnya yang berdiri.
Dan beruntungnya susana warung sudah sepi, sehingga tidak ada yang melihat apa yang dilakukan oleh Didi kepada sahabatnya.
Seketika Dino meringis kedinginan dan membuat senjatanya perlahan mengkerut.
Dengan cepat Didi memakaikan kembali celana sahabatnya yang hanya melorot sebatas pangkal Kaki saja.
"Ayo pulang, ada yang tidak beres disini" ucap Didi menarik pergelangan sahabatnya yangasih meringis karena perbuatan sahabatnya tersebut.
Meskipun menggerutu, akhirnya Dino mau juga diajak pulang. Didi mengantarkan sahabatnya hingga sampai ke depan pintu, dan benar-benar masuk kedalam rumah.
Lalu Ia kembali kerumahnya yang hanya berhadapan rumah dengan rumah sahabatnya.
"Siapa sosok makhluk itu? Mengapa mengincar senjata milik Dino? Apakah itu jin peliharaan Mbak Lela?" guman Didi dalam hatinya dan masuk kedalam kamarnya.
Didi masih bergidik membayangkan jika saja Mbak Lela memelihara jin tersebut, apakah selama ini Mbak Lela memelihara peliharaan jin yang membuat korbannya kehilangan alat lato-latonya sebagai penglaris warungnya?
Didi mulai menerka-nerka apa yang terjadi selama ini. Sebab sudah banyak warga laki-laki yang meninggal kehilangan lato-latonya, namun semua korbannya sepertinya habis bercinta dengan hubungan terlarang.
Sebab ada beberapa warga yang meninggal dunia tetapi tidak kehilangan alat lato-latonya, berarti nin tersebut hanya mengincar si pembuat kemaksiatan. Didi mulai menyimpulkan satu persatu dugaannya.
"Sepertinya untuk beberapa hari ini Aku tidak mengajak Dino ke warung itu terlebih dahulu, karena ini sangat membahayakan nyawa Dino" guman Didi lirih.