
Ki genderuwo terpental jauh dengan sebuah hempasan dari Mirna yang membuat Mala dan Bayu terperangah.
Setelah iblis laknat itu menghilang, Mirna masuk ke dalam mobil dengan santai, sedangkan Satria tau apa yang kini ada dibenak Ibu dan Pak Bayu.
Mala ingin bertanya, namun Bayu menggenggam jemarinya dan menggelengkan kepalanya, agar tak menanyakan hal tersebut kepada Mirna untuk saat ink, dan sebaiknya Mala bertanya kepada Satria saja untuk menjaga hati menentunya.
Selama dalam perjalanan, mereka hanya terdiam membisu dan larut dalam fikiran mereka masing-masing.
Buuuugh...
"Aaaassrrgh.."
Teriak Ki Genderuwo saat mendarat cantik didinding rapuh rumah Nek Surti yang sudah hampir roboh.
Tubuh Ki Genderuwo terhempas ke atas jasad dua remaja yang semakin lama mulai membiru dan dan mengeluarkan cairan dari hidungnya yang merupakan cairan sari manusia.
Ki Genderuwo mengerang kesakitan, dan memegangi dadanya yang terasa sangat ngilu.
Ki Kliwon menghampirinya dan membantunya untuk beranjak bangkit. Lalu Ia mencoba menyalurkan energinya untuk mengobati luka Ki Genderuwo.
ditempat lain, Angkasa dan juga Samudera mampir ke warung Kang Ujang. Mereka bosan makan telur ceplok terus, dan melihat ada dua orang pembeli disana.
"Kang.. Bakso dua, Ya" ucap Angkasa ke pada Kang Ujang.
"OK,..!!" jawab Kang Ujang cepat.
Kang Ujang dengan cepat meracik pesanan Angaksa dan kini sudah siap dihidangkan.
"Minumnya apa, Bro.!!" tanya Kang ujang sok gaul.
"Teh manis dingin saja kang" jawab keduanya serentak.
"Om, Bro!!" balas Kang Ujang cepat.
Kedua bocah itu menyantab baksonya. Sesaat tercium aroma kembang kenangan melintas diindera penciuman mereka, lalu keduanya saling pandang dan merasakan jika ini adalah si kuntil yang lagi usil mengganggu ketenangan mereka untuk menikmati semangkok bakso yang baru saja mereka pesan.
"Dia disini?" bisik Samudera.
Angkasa menganggukkan kepalanya. "Mungkin mau pesan bakso juga" jawab Angkasa menimpali.
Keduanya tertawa cekikikan. Lalu Kang Ujang mengantarkan dua gelas teh manis dingin kepada dua bocah laki-laki itu.
Saat akan berbalik, Kang Ujang mencium aroma kembang kenanga, dan juga merasakan bulu kuduknya meremang.
Kang Ujang menyapu tengkuknya, dan merasakan jika ada sesuatu yang terasa menempel dipundaknya dan Ia meyakini jika ada makhluk astral disekitarnya.
Dua pembeli lainnya sudah selesai, dan kini tinggal Angkasa dan juga Samudera yang berada ditempat itu.
Ternyata benar, saat Angkasa menoleh ke arah Kang Ujang, Nini Maru sudah berada dibelakang Kang ujang dengan jarak yang begitu sangat dekat.
Kedua bocah itu tampak membolakan matanya dan mempercepat makan baksonya lalu menyeruput minumannya dan bergegas sari warung Kang Ujang.
"Kang.. Ini uangnya" ucap Samudera sembari meletakkan uang selembar 50 ribu rupiah.
"Kembaliannya..?!" ucap kang Ujang sembari berteriak karena dua bocah itu sudah beranjak pergi.
"Ambil saja, Kang!" sahut Angkasa yang segera mempercepat langkahnya.
"Dasar syetaan!! Orang makan bakso juga di ekori!" ucap Angkasa kesal.
"Minta di gampar juga tu syeetan!" Samudera menimpali.
Dengan perasaan kesal keduanya melangkah menuju rumahnya yang tak jauh dari lokasi Kang Ujang mangkal.
Wuuuuussshh... Ssssttt..
Saat keduanya hendak memasuki pintu pagar rumah, tampak sosok Nini Maru yang bargaun merah sedang bertengger dipagar rumah dengan rambutnya yang menjuntai panjang.
Keduajya terhenti dan mencoba menggeser pintu pagar, namun terasa berat dan tidak dapat dibuka.
"Eh..syeetan..! Kamu ini emang kurang kerjaan, Ya? Ngekori orang terus sudah keq debcolektor!" sergah Samudera dengan kesal.
Sesaat Nini Maru menatap keduanya dengan tatapan bola mata bersinar dan gigi taring yang meruncing menyeringai menatap keduanya.
"Hihihihihihi..." suaranya cekikikan penuh dengan ejekan.
Keduanya menggeser pintu pagar itu, namun tak dapat dibuka.
Sesaat Nini Maru melayang dan menangkap pakaian Samudera dibagian pungnggungnya, namun Angkasa mencoba menarik gaun Nini Maru hingga terlepas.
Melihat Angkasa mendapatkan gaunnya, Ia mencakar punggung Samudera.
"Aaaaasrgh.." Erang Samudera kesakitan, lalu Ninii Maru melemparkannnya begitu saja, dan dengan sigap Angkasa menangkapnya hingga mereka terjatuh berguling ditanah, sedangkan Nini Maru dengan cepat meraih kembali gaunnya dan melesat pergi.
Saat bersamaan, mobil Satria tiba didepan pagar, lalu Mirna bergegas turun dari Mobil dan membantu keduanya untuk berdiri, namun Samudera tampak lemah dan sesaat limbung, lalu terjatuh dan dengan cepat Mirna menangkapnya dan membopongnya dengan membuka pintu pagar menggunakan kakinya.
Angkasa ikut mengejar ibunua dan membuka pintu rumah, sementara Satria memasukkan mobil kedalam halaman rumah dan mengunci pintu pagar.
Mereka masuk kerumah dan bergegas mengunci pintu lalu Mirna meletakkan tubuh Samudera di atas sebuah ambal tebal dan menelungkupkannya.
Pakain Samudera robek, dan kuku runcing itu telah menancap dipunggung Samudera dan merobeknya hingga dalam.
Luka itu menganga dan membiru. Satria memeriksanya, dan melihat jika itu adalah perbuatan Nini Maru. Tiba-tiba suhu tubuh Samudera naik drastis dan Ia mengalami demam tinggi dan mengigau.
"Sayang.. Ayo kita lakukan penyembuhan" ucap Satria dengan cepat.
Mirna menganggukan kepalanya. Satria membuka pakaian koko Samudera dan tampak jelas luka itu begitu dalam.
"Aku ikut, Yah" sahut Angkasa yang akan ikut melakukan penyembuhan untuk Samudera.
Satria menganggukkan kepalanya. Lalu mereka duduk bersila dan mulai berkonsentrasi melakukan meditasi dan memejamkan kedua matanya.
Sesaat tubuh Samudera terangkat dari lantai beralaskan ambal dengan jarak 50 cm. Lalu tubuh samudera terbalut dengan cahaya berwarna keperakan dan yang tampak memendar ke seluruh ruangan dan ketiganya tampak masih terus menggulirkan butiran tasbih tersebut dalam jemari mereka yang melafazkan kalimah suci nama Sang Pencipta.
Sesaat cahaya itu memudar dan menghilang. Lalu tubuh Samudera kembali mendarat ke lantai dan sesaat Ia terbatuk, lalu mengerjapkan kedua matanya.
Satria, Mirna, dan juga Angkasa membuka matanya dan melihat Samudera sudah sadarkan diri.
"Samudera..!" ucap Mirna saat melihat puteranya sudah sadar dan luka dipunggungnya sudah hilang tak berbekas.
Lalu Mirna menghampirinya dan memangku Samudera dengan penuh rasa kekhawatiran.
"Ibu.." ucapnya lirih.
Mirna menganggukkan kepalanya dan membelai ujung kepala Samudera.
"Ibu disini.. Jangan takut.." ucapnya sembari menatap penuh ketenangan.
"Pergilah kekamar, dan beristirahat" titah Satria.
Lalu Angkasa membantu Samudera untuk bangkit dan membawanya ke kamar untuk beristirahat.
Sementara itu, Satria dan juga Mirna beranjak ke kamarnya karena waktu semakin larut malam.
"Bagaimana ini, Mas? Semakin lama meraka semakin menjadi-jadi" ucap Mirna sembari menyalin pakaiannya.
Satria mendenguskan nafasnya "Mereka harus melewati dua ujian lagi, sebagai pernyataan mereka lulus untuk dapat menerima ajian tersebut, sebab hanya orang yang memiliki kesabaran tinggi yang dapat mmenerima ajian tersebut. sebab jika Ia orang yang tempramen, maka itu akan sangat berbahaya" jawab Satria.