MIRNA

MIRNA
Episode 54



Malam ini Mirna masih berbaring dikamarnya. Sudah dua malam Satria tidak mengunjunginya. Ia merasakan rindu yang sangat luar biasa. Jika sampai saja pria itu tidak hadir malam ini, maka esok pagi Ia akan menemui Satria dirumahnya.


Mirna menyenandungkan senandung cinta untuk prianya, Ia berharap suaminya mendengarnya. Dua malam tanpa sentuhan pria itu membuatnya uring-uringan.


Saat Ia sedang bersenandung, tiba-tiba Ia mendengar suara dentuman diatas atap rumahnya yang terbuat dari seng.


Suara dentuman itu sangat keras dan membuatnya berhenti bersenandung.


Mirna memejamkan matanya dan mencoba mencari tau siapa pelaku yang membuat kegaduhan itu ditengah malam sepinya.


Seketika kedua bola mata wanita itu terbuka lebar dengan tatapan tajam.


Disisi lain, Satria juga merasakan rasa menahan rindu yang teramat dalam kepada istri mudanya. Namun Syafiyah sua malam ini bersikap aneh. Ia tidak ingin ditinggalkan danbtidka ingin jauh dari Satria. Bahkan tidurpun Ia tidka ingij melepaskan genggaman tangannya.


Saat ini Syafiyah sudah terlelap, Satria tahu jika reaksi obat itu ternyata ampuh juga. Satria tepaksa memberikan obat tidur kepada Syafiyah agar Ia dapat menemui Mirna malam ini.


Bagaimanapun istri mudanya itu selalu membuatnya terpuaskan dan tak mampu Ia pungkiri, jika kecantikan dan pesona Mirna sudah memikatnya sejak awal bertemu.


Satria mengendap-endap keluar dari kamar dan menuju keluar, lalu mengunci pintu rumahnya dari arah depan.


Satria memanggil Widuri, meminta tolong untuk menjaga Syafiyah beberapa saat saja, karena Ia ingin menemui Mirna.


Widuri menganggukkan kepalanya, dan terbang melayang masuk kedalam rumah lalu bertugas sesuai perintah Satria.


Lalu Satria mengemudikan mobilnya menuju rumah Mirna, yang pastinya wanita itu juga sudah merindukannya.


Mirna beranjak dari ranjangnya, dan keluar dari kamar. Ia melihat sosok bayangan hitam berada didalam rumahnya. Tatapan liar sosok itu seperti penuh hasrat dan dendam.


"Mirna.. Bukankah Nini Maru telah menjodohkanmu denganku.. Namun mengapa Kau memilih pria itu? Jika masalah tampan, Ya. Dia lebih tampan.. Namun jika masalah keperkasaan maka aku 10 kali lipat lebih perkasa dibanding dirinya" ucap Sosok itu dengan suara geraman yang penuh amarah.


"Siapa bilang Dia perkasa? Aku yang merasakannya, bukan Kamu.. Lagipula Qku menginginkan keturunan yang suci dan Agung darinya, bukan keturunan kotor sepertimu.. Apalagi bertampang jelek dan menyebalkan" jawab Mirna dengan sangat santai yang membuat telinga sosok bayangan hitam semakin panas.


"Sialan Kau Mirna.. Jika Aku sempurnah dalam wujudku.. Kau akan menyesalinya.. Terimakasih sudah memberikan tumbal organ Vital untuk semua korban kebinalanmu, yang mana semua itu sudah membantu sepertiga pemulihan wujudku.. Hahahaha..." ucap sosok itu dengan tawa yang menggelegar.


Mirna terdiam dan tercengang "Kalau begitu Aku tidak akan pernah lagi memberikanmu tumbal apapun, dan tidak akan ada lagi korban yang akan aku jatuhkan.. Lagioula Aku waktu itu berbuat seperti itu karena pelampiasanku saja.. Namun sekarang Aku sudah menemukan Cintaku.. Maka ku pastikan tidak akan ada korban lagi" jawab Mirna sinis.


Sosok itu semakin tertawa terbahak.. "Namun kini ada yang menggantikanmu.. Dan korban akan tetap berjalan.." jawab sosok itu. Ia semakin mendekati Mirna, berjalan dengan langkah kasarnya "Ayolah Mirna.. Tidur denganku sekali saja, maka Kau akan terpuaskan, dan akan lahir anak tangguh dari penyatuan ini.." ucap Sosok itu dengan langkah yang semakin cepat.


Hingga akhirnya sosok itu berada dekat didepan Mirna dan ingin menarik pinggang Mirna.


Namun Mirna dengan cepat melompat kedinding dan melemparkan selendangnya kearah sosok itu.


namun sosok itu tiba-tiba menghilang. Mirna mencoba mencari keberadaannya, namun tiba-tiba sosok itu berada dibelakang tubuh Mirna dan mencengkramnya, lalu membawanya ke kursi tamu.


Sosok itu menghempaskan tubuh Mirna dan bersiap menggagahinya "Diamlah.. Bantu Aku menyempurnakan setengah wujudku. Semua ini karena ulah Satria sialan itu.." ucap Sosok bayangan hitam yang merobek paksa pakain Mirna.


Mirna mencoba meronta dan mengeluarkan tenaganya untuk melawan sosok menjijikkan dihadapannya yang kini sudah berada diatas tubuhnya.


Seketika sosok itu terpekik menahan sakit dan mencekik leher Mirna agar melepaskansegera benda berharganya.


Sesat Satria datang dengan mendobrak pintu Mirna. Lalu Ia menarik punggung sosok bayangan hitam dan Mirna melepaskan cengkramannya dibenda kenual itu.


Satria menghempaskan tubuh sosok itu didinding dan mebatapnya dengan penuh amarah.


"Kau.. Dasar brengsek.. Ternyata Kau masih hidup juga, Rey... Rasakan ini.." ucap Satria lalu mengeluarkan ajian segoro geninya. Namun Mirna mengerang kepanasan. Seketika Satria menghentikannya, Ia lupa jika Mirna adalah sosok setengah manusia.


"Kali ini Aku mengampuni, jika sampai Kau berani menyentuhnya, Maka akan Aku binasakan Kau dengan mudahnya" Ucap Satria, lalu meraih tubuh Mirna dan membawanya kedalam pelukannya.


"Ayo Kita pulang.. Jangan pernah lagi pulang kerumah ini, karena ini sangat berbahaya untukmu" ucap Satria dengan tenang.


Seaat Satria mengambil sebuah batu kerikil yang terdapat dipot bunga milik Mirna, dan menjentikkan dengan jemari telunjuknya lalu mengarahkannya kepada sosok Rey yang berusaha untuk beranjak bangkit dari lantai dan..


Taaaak..


Batu kerikil berisi mantra itu akhirnya mengenai luka bakar diwajah Rey yang masih dengan penuh luka.


Aaaaaargh..


Rey terpekik menahan sakit, sebab Satria mengisi batu kerikil ini ajian segoro geni, sehingga membuat wajah Rey terbakar dan sehingga membuat Rey meronta kesakitan lalu menghilang.


Satria masih mendekap tubuh Mirna dan membawanya kedalam mobil. Ia membukakan pintu mobil dan membawa Mirna duduk didepan kemudi.


Lalu Satria mengemudikan mobil dan membawanya pulang kerumah.


Sesampainya dirumah, Satria membawa Mirna kedalam kamar Hadi dan keluar kembali, lalu memeriksa Syafiyah yang masih tertidur, dan berterima kasih kepada Widuri yang sudah menjaganya.


Satria kembali lagi kekamar Hadi untuk menjenguk Mirna. Tampak Mirna masih duduk ditepian ranjang, dan Ia mengahmpirinya.


"Mas.. Berikan Aku keturunanmu.. Sebelum Nini Maru dan juga Rey menyempurnakan wujud mereka" pinta Mirna dengan menghiba.


Satria menatap mata itu, lalu menganggukkan kepalanya, dan mulai mencumbu istrinya.


Satria membisikkan kalimat doa sebelum mereka bertempur, agar Mirna mengikutinya, dqn tidak ada Syetan yang ikut dalam pertempuran keringat mereka.


Mirna mengikuti apa yang diucapkan oleh Satria, lalu keduanya memadu kasih dimalam yang dingin dan panjang ini.


Syafiyah tiba-tiba terbangun, Ia tidak mendapati Satria dikamarnya, Ia terasa sesak ingin buang air kecil, ingin beranjak bangkit dari ranjang namun takut ketahuan, akhirnya Ia memilih buang air dipampersnya.


Sebenarnya Ia tersiksa dengan kepura-puraaannya, namun Ia merasa tidak ingin kehilangan Satria karena kini telah berbagi ranjang dengan Mirna.


Syafiyah bingung dengan sikapnya, namun Ia semakin gelisah setelah melihat suaminya tak lagi diranjangnya "Kemana Mas Satria? Apakah Ia menemui Mirna?" sesaat rasa cemburu menghampirinya.


Disisi lain, suara rintihan dan lenguhan manja Mirna membuat Satria semakin bersemangat, dan hal yang tak pernah Ia dapatkan dari Syafiyah, kini Ia temukan segalanya pada diri Mirna.