MIRNA

MIRNA
episode 198



Ki Kliwon berguling dilantai goa dengan tubuh cekingnya yang luka lebam dibagian punggungnya.


Ia bergulingan karena hawa panas yang sangat menyiksanya. Sekujur tubuhnya bagaikan terbakar dan tak dapat Ia mencari cara untuk mendinginkannnya.


Ia merangkak dilantai menuju ceruk yang ada didepannya. Dengan sangat perlahan Ia menggerakkan tubuhnya dan mencoba masuk ke dalam ceruk yang berisi air.


Dengan susah payah, akhirnya Ia mencapai ceruk tersebut dan berusaha turun kedalam ceruk lalu berendam didalamnya.


Sesampainya di dalam ceruk, Ia berendam dan mencoba menghilangkan rasa panas dalam tubuhnya. Asap keluar dari tubuhnya, seolah-olah rasa panas itu sangat begitu kuat.


Setelah beberapa saat berendam, bukan menghilangkan rasa panas tersebut, tetapi semakin memperburuk kondisinya.


Air didalam ceruk tiba-tiba berubah menjadi panas dan perlahan mendidih membuat Ki Kliwon kebingungan.


Ia berusaha kembali naik ketepian karena air panas itu membuatnya begitu sangat tersiksa.


Keringat mengucur deras dari pori-porinya dan membasahi sekujur tubuhnya yang basah.


Dengan susah payah akhirnya Ia kembali naik ke tepian dan mencoba merangkak menuju lorong untuk keluar dari goa.


Ia melewati Yanti yang kini duduk bersila sembari bersemedi dan tidak menyadari jika Ki Kliwon kondisinya sangat mengenaskan.


Tubuh ceking itu terus bergerak dan merangkak keluar dari goa menuju hutan untuk mencari darah hewan sebagai penawar dari rasa panasnya sementara waktu saja.


Sesampainya didalam hutan, Ia duduk bersandar dan mencoba mencari hewan liar yang melintas dari hadapannya.


Tak berselang lama, Ia melihat seekor ular sanca sepanjang 3 meter sedang melintas dihadapannya dan menatapnya. tampaknya ular itu sedang ingin memangsanya.


Hal tersebut dimanfaatkan oleh Ki Kliwon dan Ia menggunakan sisa kekuatannya untuk membunuh ular sanca tersebut dan..


Ssssstttss..


Kreeeeeek..


Suara desisan ular yang ingin menerkamnya itu tiba-tiba berubah menjadi kesunyian, saat Ki Kliwon mencengkram leher ular tersebut dan mematahkan ujung ekor ular tersebut.


Lalu dengan cepat Ia menggigitnya dan mengisap darah ular tersebut dengan rakus dan perlahan rasa panas ditubuhnya mulai berkurang.


Namun itu tak mampu meredamnya hingga benar-benar dingin.


"Aku butuh darah manusia.. Dan ini sangat benar-benar panas. Aku butuh saat ini juga" guman Ki Kliwon dengan sangat lirih.


Ia mencoba beranjak bangkit dan melesat dan kegelapan yang membelah kegelapan malam kelam.


Ia harus memangsa satu manusia malam ini sebagai pereda hawa panasnya.


Pria ceking berada disebuah rumah yang dalam kondisi sepi. Ia melihat satu penghuni rumah yang saat ini sedang sendirian. Ia menginginkan darah dari satu manusia yang harus memu-askan hasratnya untuk menghilangkan rasa haus yang kian menderanya.


Ki Kliwon mencoba menerobos masuk rumah seorang wanita yang sudah lama hidup sendirian.


Wanita itu tak lain adalah Lisa. Ia sudah lama ditinggal merantau oleh paijo, namun tak juga kunjung kembali. Saat ini Ia sedang tertidur lelap dan selama ini Ia bekerja sebagai asisten rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan hidupnya selama tak lepas dari penyekapan Yanti.


Ia sangat lelah karena seharian bekerja dan tertidur lelap. Sesosok makhluk ceking dengan mata merah menyala dan gigi runcingnya terbang melayang diatas ranjangnya dan bersiap untuk mengisap darahnya.


Sesaat Ia meringis kesakitan dan menoleh ke arah sosok yang menghalangi rencananya.


"Kau.. Dasar kau pengkhianat..!! Mengapa keturunanku menyerangku?!"ucapnya dengan makian dan sangat kesal.


Seketika sosok bercadar itu menatapnya dengan tatapan tajam dan tanpa diduga, Ia melayangkan sebuah hantaman tenaga dalam dengan sinar cahaya berwarna jingga dan tepat mengenai dada Ki Kliwon.


Pria ceking itu kembali mengerang kesakitan karena hantaman tenaga dalam yang dilancarkan oleh sosok wanita bercadar yang tak lain adalah Mirna telah membuat luka dalamnya semakin parah.


Belum hilang lagi rasa panas dalam tubuhnya, kini luka dalam akan hantaman Mirna membuatnya semakin terpuruk.


Pria ceking itu memilih untuk pergi dan menghindari Mirna. Ia melesat mencari mangsa lain, dan harus mendapatkannya malam ini.


Setelah berhasil meloloskan diri dari Mirna, tersandar didinding rumah seorang wanita tua yang kini sedang memasak kue untuk dagangannya esok.


Wanita tua yang hidup sebatang kara dan tak memiliki sesiapapun lagi.


Ia masih membuat adonan untuk persiapan esok berdagang. Tangan rentanya tampak tak lagi kokoh untuk meletakkan beberapa adonan, hingga tanpa sadar, sebuah gigitan dilehernya dan gigi runcing itu telah menancap dan menghi-sap darahnya yang tak lagi seberapa.


Seketika wanita tua itu terdiam sesaat, bahkan untuk melawan, Iapun tak lagi dapat untuk menggerakkan tubuhnya yang terasa kaku.


Ia terhenyak bagaikan merasa mimpi. Lalu dengan cepat pria ceking itu menghabiskan darahnya dan tak menunggu lama, Ia ambruk dilantai dapurnya yang masih terbuat dari tanah.


Tubuh rentanya mengejang, dan tak berselang lama, tubuh itu tak lagi bergerak dan diam tanpa reaksi apapun.


Sosok ceking itu menatap dengan seringai dan dan sorot matanya yang tajam serta kemerahan kini tampak begitu sangat lega. Ia telah memenuhi segala keinginannya dan kini rasa haus itu sudah berkurang.


Ia melesat pergi meninggalkan tubuh wanita renta itu dan membelah kegelapan malam.


Ia melesat kembali ke goa dan pergi menuju batuan cadas tempat dimana Ia kemarin melakukan semedi untuk mengembalikan energi nya yang terkuras.


Setelah mendapatkan darah tumbalnya, Ia akhirnya dapat menghilangkan rasa hausnya yang sempat menderanya. Rasa panas di sekujur tubuhnya mulai terasa berkurang, meskipun tak lagi sepanas saat tadi.


Sementara itu, Nini Maru tampak gelisah dan tak lagi dapat menahan rasa panas dalam tubuhnya yang kini masih menderanya..


"Arrrrrrrrggghhh.. "


Erangan Nini Maru menggema diseluruh ruangan goa yang terdengar sangat menyeramkan.


Ia masih belum mampu juga mengatasi rasa panas ditubuhnya masih terus mendera dan semedinya belum juga berhasil untuk meredakannya.


Ia menggeliatkan tubuhnya, hingga membuat hawa panas itu melepuhkan kulit ditubuh kasar Yanti.


Sementara ketiga iblis itu tampak berusaha mendesak untuk segera mencari penawar tubuh mereka.


Kulit tubuh Yanti tampak kemerahan dan keringat mengucur deras dari pori-pori kulitnya yang tampak sangat mengerikan karena hawa panas itu membuatnya semakin mengelupas dan borok itu tampak retak dengan darah yang mengalir dari luka tersebut.


Seketika tubuh itu kembali seperti mengenaskan dan Ia bergelinjangan diatas dipan batu tersebut dan terjatuh ke lantai.


Nini Maru yang bersemayam ditubuh Yanti terus mengerang kesakitan dan tak lagi dapat menahan hawa panas tersebut yang semakin lama semakin menyiksanya.


"Aaaaarrghh.. aku butuh janin.. Aku butuh darah.. " erangnya dengan sangat gelisah.