MIRNA

MIRNA
episode 221



Nini Maru melesat menuju goa. Dadanya sangat sakit ketika sebuah hantaman cahaya keperakan mengenai dadanya.


Ia terbaring diatas batu tempatnya bertapa. Yanti yang melihatnya terluka parah segera menghampirinya, sedangkan Rey yang baru saja selesai melakukan pelepasan mendengkur dengan luka terbakar dibagian dada kanannya.


"Ni.. Nini kenapa?" tanya Yanti penasaran.


"Gak lihat, apa? Ini sakit tau?!" jawab Nini Maru ketus sembari memegangi dadanya yang yang kembali terluka parah.


"Iya, saya lihat itu terluka, tapi kan ada penyebabnya?" ucap Yanti dengan tubuh penuh belatung dan rongga mata kirinya yang berlubang semakin banyak dipenuhi belatung.


Nini Maru melirik kesal pada Rey "Ini semua karena si Rey sialan itu! Coba saja kalau dia tidak menggarap si Rina, mungkin perempuan itu tidak akan lari!" gerutu Nini Maru yang sangat kesal kepada Rey dan Ia meraih sebongkah batu yang dapat digenggam jemari keriputnya lalu melemparkannya kepada Rey yang masih mendengkur.


Taaaaaak..


Batu itu tepat mengenai kening Rey.


Aaaaaarrrgh..


Ia terbangun dan menatap batu yang baru saja mengenai keningnya. Lalu Ia memegan keningnya yang sakit.


"Ni.. Ini sangat sekali! Apa salahku?!" tanua Rey penasaran.


Nini Maru membolakan matanya " Apa Kau fikir Kamu saja yang sakit, Ha?! Ini juga sakit!" sergah Nini Maru yang memperlihatkan luka bakar dibagian dada kirinya.


Rey mengerutkan keningnya yang benjol akibat ditimpuk batu oleh Nini Maru.


"Mengapa Nini bisa terkena ajian itu? Bukannya tadi Nini masih disini?" tanya Rey bingung.


"Ini semua karena ulahmu hingga membuat Rina kabur. Saya tidak mau tau, kamu harus segera mencari perempuan itu dan bawa Ia kemari segera!!" hardik Nini Maru dengan kasar.


Rey dengan terkejut segera bangkit dari duduknya "Kemana aku mencarinya?"


"Ke Jonggol..!!"


"Yang bener saja, Ni?"


"Ya, kerumah Satria lah!!" jawab Nini Maru kesel.


Rey menciut hatinya mendengar nama itu "Wah, kalau ke situ saya tidak berani, Ni!" jawab Rey jujur.


Nini Maru mengeluarkan sedikit tenaganya, lalu meraih sebongah batu yang berada di lantai goa dengan jarak jauh dan kembali melemparkannya kepada Rey.


Dengan cepat Rey menghindar, sehingga batu tersebut mengenai dinding goa dan menimbulkan suara ledakan yang dahsyat.


Melihat hal itu, Rey langsung ngacir meskipun tubuhnya saat ini sedang merasakan sakit dan luka bakar didadanya.


Yanti yang melihat kepergian Rey berusaha untuk menghalanginya "Heei, tunggu.. Aku ikut" teriak Yanti yang ingin ikut pergi bersama Rey.


Rey menoleh kepadanya "Aku gak sudi bawa Iblis hancur seperti kamu" cibibr Rey langsung menghilang.


Seketika membolakan matanya "Siaaall..!! Awas kamu, ya! Kalau tiba-tiba nanti aku cantik lagi jangan ngarep kamu dekati aku" omel Yanti dengan hati yang sangat panas.


Namun Rey gak perduli dan Ia memilih ngacir untuk menghindari dua iblis wanita yang sama hancurnya.


Sementara itu, Satria membawa tubuh Rina ke rumahnya. Mirna yang mengetahui hal itu ikut membantu menurunkan tubuh wanita yang saat ini menggunakan gamisnya.


"Bagaimana kondisinya , Mas?" tanya Mirna yang melihat wanita itu tak sadarkan diri.


Satria memandang Rina yang kini tak sadarkan diri dan darah masih merembes dari luka dibokongnya yang terkena gigitan taring Ki Kliwon.


"Sembuhkan dahulu lukanya yang berdarah itu, agar Ia dapat disucikan" Titah Satria kepada Mirna.


Setelah selesai, Mirna membawa tubuh Rina ke luar kamar dan meletakkannya ditempat yang diperintahkan oleh Satria.


Lalu Satria duduk bersila dan begitu juga dengan Mirna.


Lalu Satria memejamkan kedua matanya dan mulai menggerakan bulir tasbihnya dan merafalkan dzikirnya dengan begitu khusyuk.


Disisi lain, Mirna merasakan sebuah hawa kegelapan sedang mengitari rumahnya. Ia memejamkan matanya sejenak dan seketika membuka matanya, lu dengan cepat melesat keluar meninggalkan Satria.


Sesampainya diluar, Ia melihat Rey yang kini sedang mengitari rumahnya. Ternyata Ia ditugaskan Nini Maru untuk mengambil tubuh Rina Kembali.


Melihat kehadiran Mirna, seketika Rey memandang dengan debaran hati yang tak menentu


"Hallo, Cantik! Mengapa wajahmu tidak tersenyum saat memandangku? Kurang tampan Aku bagimu, sehingga kau tak sudi kiranya menatapku" ujar Rey yang matanya tak lekang memandang Mirna.


Mirna hanya menyunggingkan senyum datar.


"Apa yang kau cari disini?" tanya Mirna, meskipun Ia mengetahui jika Rey sedang menginginkan tubuh Rina yang diculik oleh Satria.


"Aku ingin menemuimu.. Maukah Kau ikut denganku? Aku sudah lama menaruh hati denganmu, dan ingatlah, jika Kau itu ditakdirkan untukku" ucap Rey dengan penuh keyakinan.


Mirna melirik dengan sorot mata sinis "Jangan pernah bermimpi untuk mendapatkanku, enyahlah Kau sekarang juga"ucap Mirna dan melakukan serangan tiba-tiba yang dengan melayangkan selendang hijau silkynya.


Ujung selendang itu mengenai wajah Rey, hingga menyebabkan kulit wajah Rey terkelupas.


Aaaarghhhh...


Rey terpekik tertahan. Rasanya sangat sakit, lalu tampak darah hitam keluar dari lukanya "Mirnaaaa.. Ingatlah ucapanku! Suatu saat nanti aku akan mendapatkanmu, camkan itu!" ucap Rey yang merasa begitu terhina dengan perbuatan dan perkataan Mirna.


"Dan Aku yakin jika itu tidak akan pernah terjadi" jawab Mirna penuh keyakinan.


Rey terbakar emosiny "Jangan pernah menyepelekanku" jawab Rey dengan cepat.


Lalu Ia memberikan serangan balasan kepada Mirna dan kali ini Ia mencoba mengeluarkan sisa tenaganya dengan memutar tangannya dan menekannya ke arah depan. Lalu sebuah cahaya merah terang yang keluar dari telapak tangannya kini menuju hendak menghantam Mirna.


Namun dengan cepat Mirna menghindar dan cahaya merah terang itu menghantam sebuah pohon nangka yang tumbuh dibalik pagar rumah Satria.


Buuuuuummm..


Suara ledakan saat cahaya itu membentur dengan batang pohon dan membuat pohon itu hangus terbakar.


Mirna menggerakan selendangnya dengan tubuh berputar, lalu sebuah cahaya jingga keluar dari selendangnya dan menghantam Rey.


Wuuuush.. Buuuumm..


Suara ledakan dari cahaya tersebut saat membentur tubuh Rey.


Aaaaaarrrgggh..


Suara Rey terpekik terkena hantaman dari selendang Mirna. Seketika Rey tepental dan menabrak tembok dinding rumah Satria.


Saat Ini Ia terluka parah, dan Mirna ingin segera menghabisinya.


Lalu Mirna menggulung selendang selendang mikiknya dan dan merafalkan dzikir yang diajarkan oleh Satria.


Ia ingin mengeluarkan ajian tapak geni dan memusnahkan Rey. lalu dengan gerakan melayang diudara dannm bergerak cepat Ia menuju ke arah Rey yang sedang sekarat dengan menggunakan ajian tapak geni yang dapat dengan mudah menghancurkan Rey saat ini.


Saat tinjunya hampir meyentuh tubuh Rey, tiba-tiba sekelebatan bayangan melesat dan dengan cepat membawa tubuh Rey pergi menghilang.