
Remaja puteri bernama Cyla yang baru saja mengalami keguguran paksa itu terjerembab dilantai.
Para penghuni rehabilitasi itu berhamburan mengerumuninya, lalu mencoba mengangkatnya dan membawanya ke kamarnya yang bersama dengan peserta rehabilitasi lainnya.
Mereka memanggil petugas dan meminta bantuan.
Setelah petugas datang dan memeriksa kondisi cyla yang saat ini ternyata sedang mengalami keguguran dan membuatnya tak sadarkan diri.
Para penghuni rehabilitas merasa penasaran dan juga bingung mengapa ini bisa terjadi pada gadis remaja itu, sebab Ia tadi tampak biasa saja.
Tia dan Tini tiba-tiba memegangi perut mereka yang sedang mengandung. Mereka membayangkan jika itu terjadi pada mereka tentu akan sangat sengsara sekali, namun semua sudah resiko, ingin menggugurkannya, mereka takut kejadian seperti Rini yang mati mengenaskan karena memaksa menggugurkan kandungnnya.
*****
Kegelapan malam yang mencekam. Wanda masih meringkuk ketakutan dengan apa yang terjadi pada dirinya. Ia tidak pernah membayangkan jika sosok mengerikan itu telah menyentuhnya.
Dan beruntungnya Didi, Suaminya berhasil menggetok kepala Yanti dengan senter, sehingga sosok mengerikan itu tak berhasil untuk mengambil janinnya.
Didi memeluk Wanda dengan penuh kelembutan. Ia ingin membantu menghilangkan ketakutan yang kini sedang melanda sang istri, dan itu terlihat dari tubuh Wanda yang tampak bergetar ketakutan dan menggigil.
"Istighfar, Sayang.. Tenangkan hatimu, dan jangan takut dengan makhluk sehina itu, sebab kita lebih mulia darinya, maka kita harus dapat melawan rasa takut itu" ucap Didi mencoba memberikan sugesti kepada istrinya.
Wanda mencoba beristighfar sesuai yang diminta oleh suaminya, Ia mencoba melawan rasa takutnya, karena Ia takut akan berpengaruh pada janin yang di kandungannya.
Setelah merasa tenang, perlahan Ia mulai tertidur dalam belaian dan sentuhan Didi yang terus melantunkan ayat suci yang Ia hafal untuk membuat Wanda tenang.
Sementara itu, Yanti melesat dikegelapan malam, nangkring didahan pohon petai dan menikmati hasil buruannya. Ia tampak begitu bahagia karena mendapatkan tumbalnya malam ini. Ia sedang menikmati sisa-sisa darah yang Ia dapat dari korbannya Cyla.
Sesaat kelebatan bayangan melintas dihadapannya. Yanti membolakan matanya saat melihat siapa yang berdiri dihadapannya. Belum sempat Ia membuka mulutnya, sebuah benda melesat menghantam wajahnya, dan membuatnya terpekik kesakitan dan memilih ngacir untuk menghindari serangan yang tiba-tiba saja mengahajarnya.
Yanti menembus kegelapan, dan kini berada dibawah pohon beringin sembari mengerang kesakitan dengan luka bakar yang memperparah wajahnya semakin buruk rupa.
Yanti yang kini menjadi wanita setengah iblis itu terus mengerang kesakitan. Baru saja Ia menik-mati tumbal yang Ia dapat, kini Ia harus kehilangan energinya kembali karena benda yang menghantamnya tadi membuatnya harus menahan rasa sakit yang sangat luar biasa, dan untuk mengurangi rasa sakitnya Ia harus mengeluarkan sebagian energinya.
"Aaaaargghh.. Dasaar..siaaall..!!" maki Yanti dengan kesal. Belum lagi hilang rasa getokan dikepalanya karena digetok senter oleh Didi, kini harus menahan rasa sakit yang dihantam oleh benda yang bersal dari tasbih milik Satria.
Kulit wajahnya mengelupas dengan darah yang mengalir dari luka tersebut, dan mengeluarkan aroma amis menjijikkan.
Dan tanpa diduga, luka itu perlahan menyebar kebagian lehernya, lalu terus menjalar kebagian tubuh lainnya.
Yanti merasa panik, Ia tidak terima dengan apa yang terjadi padanya.
"Ni.. Ini bagaimana, Ni.. Rasanya sangat sekali" ucap Yanti yang mengge-linjang karena rasa panas dan perih semakin begitu terasa.
"Diamlah..!! Apakah kau fikir kau saja yang merasakan sakit itu, aku juga sama merasakannya" sergah Nini Maru yang kini juga merasakan sakit tersebut.
"Apa yang harus kita lakukan untuk menghilangkan rasa sakit ini?" tanya Yanti dengan pani, Ia sudah tak sanggup lagi menahan rasa sakitnya.
Hal tersebut membuat Yanti tak berhenti untuk terus menggaruknya sehingga luka itu semakin parah.
Nini Maru teringat akan Rey. Ia memanggil sosok tersebut untuk segera hadir membantunya.
Seketika sosok itu hadir dihadapan Nini Maru dengan cepat.
"Ada apa memanggilku, Ni?" tanya Rey dengan penuh penasaran.
"Berikan madumu pada Yanti untuk menghilangkan rasa gatal pada tubuhnya" titah Nini Maru kepada Rey.
Seaat Rey melirik pada Yanti dengan tubuh mengerikan dan juga menjijikkan.
"Aku tidak mau, Ni.. Itu sangat menjijikkan" jawab Rey.
Seketika Yanti membolakan matanya, Ia sangat tersinggung dengan apa yang diucapkan oleh Rey barusan.
"Hey.. Apakah kamu fikir aku sudi bercinta dengan makhluk sejelek kamu" balas Yanti yang sudah tak terkontrol lagi karena sudah kedua kalinya Rey menghinanya.
Rey menatap dengan cibiran, Ia merasa tidak berhasrat melihat tubuh Yanti yang penuh dengan luka dan aroma menjijikkan.
Rey ingin segera pergi dan meninggalkan Yanti, namun dengam cepat Nini Maru mencegahnya, dengan menggunakan tubuh Yanti Ia mencengkram pergelangan tangan Rey dan menahannya.
"Jangan membantah..!! Lakukan apa yang kuperintahkan" titah Nini Maru yang kini menguasai tubuh Yanti seutuhnya.
Meskipun sebenarnya Yanti juga tak sudi bercinta dengan pria tersebut.
Rey yang tak dapat menghindar dari ancaman Nini Maru dengan terpaksa akhirnya menuruti permintaan Nini Maru.
Sudah beberapa menit lamanya, namun Rey tak jua menunjukkan senjatanya bangkit, dan hal ini membuat Nini Maru semakin kesal.
"Jangan sampai aku cabut senjatamu itu jika tak juga bangun" ancam Nini Maru dengan penuh penekanan.
Rey membolakan matanya, dan memandang pada Nini Maru dengan kesal.
"Sudah ku katakan jika aku tak berhasrat bercinta dengannya, dan Nini terus memaksa" bantah Rey tak terima dengan ancaman Nini Maru.
Nini Maru mencengkram senjata itu "Paksa dia agar bangkit, atau kau akan kehilangannya untuk selamanya" sergah Nini Maru dengan penuh kemarahan.
Bukannya semakin bangkit, tetapi senjata itu semakin melemah karena cengkraman tangan Nini Maru yang sangat keriput dan juga kasar yang dapat berubah-ubah. Dan kini jemari itu kembali kejemari milik Yanti yang semakin parah karena kini luka itu sudah menjalar ke jari-jemari tangan Yanti yang sudah penuh dengan luka kudis dan aroma yang sangat amis dan busuk.
Rey dengan cepat melepaskan cengkraman tangan Yanti dan segera ngacir lalu menghilang.
Ia tak lagi perduli dengan teriakan dari Nini Maru yang memanggilnya, Rey terus melesat menjauhi Nini Maru dan juga Yanti.
Setelah kulit tubuhnya yang penuh kudis menjijikkan, kini kepalanya juga mulai ikut berkudis dan berkelupas hingga membuatnya semakin menggaruk kepalanya dan rambutnya perlahan rontok, sehingga menyisakan beberapa helai karena Ia mengalami kebotakan disana sini karena lukanya yang cukup parah.