MIRNA

MIRNA
episode 139



Didi dan Dino segera menuju warung Opung Saragih. Mereka menjual hewan buruannya kepada pemilik warung tuak tersebut. Meskipun tubuh mereka menggeletar karena takut, namun mereka tetap sempat menjualnya.


Setelah mendapatkan uangnya, mereka menuju kembali pulang.


"Di.. Itu tadi apaan Sih? Kenapa gorilla ada taring dan kukunya runcing?" ucap Dino dengan tubuh masih gemetar.


"Entahlah.. Tapi sepertinya desa kita sudah tidak aman lagi" Didi mencoba menyimpulkannya.


"Jika kita tidak ke tepi hutan lagi, kita mau kerja apa, Di?" tanya Dino dengan perasaan bingung.


"Masalah itu nanti Kita fikirkan, sebab nyawa kita lebih penting"


Didi teringat akan wanita yang menyelamatkan mereka. "Wanita yang menyelamatkan kita tadi siapa, Din? Sepertinya dia memiliki ilmu beladiri" Didi mencoba mengingat bagaimana dengan mudahnya wanita itu melumpuhkan makhkuk tersebut.


"Iya.. Aku juga penasaran, dan mengapa Ia dengan mudah melumpuhkan makhluk itu, padahal tadi udah aku getok kuat, tapi gak mempan juga" jawab Dino yang juga penasaran.


Sementara itu, Yanti baru pulang dari berbelanja, dan Ia mendapati kamar untuk mengurung anak iblisnya itu terbuka.


Yanti tersentak karena terkejut. "Haah..? Kemana Ia perginya? Jika sampai Ia berkeliaran disiang hari dan ada yang melihatnya keluar dari warungku bisa bahaya" Yanti mulai panik.


Ia kemudian memeriksa seisi rumah dan mendapati anak iblisnya berada didapur dengan terkuka parah.


Yanti melihat pintu dapur terbuka "Siaaal.. Berarti Ia baru saja keluar, dan jangan-janga Ia massa warga hingga terluka parah seperti ini" guman Yanti dengan panik.


Yanti segera menutup pintunya, lalu Ia mencoba menyeret tubuh anak iblisnya kedalam kamar rahasianya dan membiarkannya disana bersama tulang belulang dan juga seekor biawak.


"Hei..!! Apa yang kau lakukan diluaran sana? jika tertangkap warga, bisa habis kamu dimassakan dan jadi rempeyek" Yanti mengomel dengan kesal.


Namun anak iblisnya hanya menggeram saja.


"Jangan lagi pernah keluar disiang hari, sebab kamu disiapkan untuk beraksi dimalam hari, Apakah kamu mengerti..?!" cecar Yanti kepada anaknya tersebut.


Anak iblis itu hanya menjawab dengan geraman. Tampak beberapa luka lebam dibagian tubuhnya. Kemudian Yanti beranjak keluar kamar tersebut dan menguncinya.


Saat Yanti baru saja keluar dari kamar tersebut, terdengar suara kegaduhan dari dalam kamar, dan saat Ia membukanya, ternyata anak iblisnya tengah mematahkan leher biawak yang dikamar mandi, dan dengan rakus memakannya .


Yanti membolakan matanya, dan segera menutup pintu kamar tersebut.


Disisi lain, Mirna kembali ke rumah Satria dan segera mencari suaminya. Ia melihat Satria masih berada dikamar Syafiyah dengan laptopnya.


"Mas.. Keluarlah, ada sesuatu yang ingin ku sampaikan" ucap Mirna dengan cepat.


Satria menganggukkan kepalanya dsn segera beranjak. Sedangkan Syafiyah masih tertidur.


"Ada apa?" tanya Satria.


"Ada sosok anak iblis yang sepertinya persilangan antara Yanti dan juga genderuwo" ucap Mirna dengan serius.


Satria terdiam.


"Dia sangat ganas, dan memangsa warga" Mirna kembali menimpali ucapannya.


"Nanti malam akan coba Mas selidiki. Kamu jangan terlalu agresif, ingat kandunganmu" ucap Satria dengan serius.


Mirna menganggukkan kepalanya dan menuju kamarnya. lalu Satria kembali ke kamar Syafiyah.


Malam hening dan penuh dengan kegelapan. Satria menemui Mirna dikamarnya.


"Mas akan keluar sebentar, kamu tetaplah dirumah, dan jangan kemana-mana..sepertinya mereka sedang menyusun kekuatan untuk menganggu Syafiyah dan juga kamu" ucap Satria.


Mirna menganggukkan kepalanya, dan berjaga di sofa untuk memantau kondisi Syafiyah.


Warung Yanti tampak dengan gemerlapan. Pelaku kemaksiatan tampak bersuka ria dan tak menyadari adanya bahaya yang tengah mengincar mereka.


Satria menerobos memasuki warung tanpa ada yang melihatnya. Tampak suasana begitu sangat menjijikkan. Para remaja dan pria yang sedang mabuk parah bermaksiat dengan bebas.


Satria melihat Yanti yang sedang berusaha menggiring seorang pria ke dalam kamarnya dan akan menjadikan pria itu tumbal bagi Rey dan juga bagi anak iblisnya sebagai santapannya.


Satria keluar dari warung, lalu memancing para pelanggan itu agar semua keluar dari warung dengan membakar salah satu sepeda motor dari pelanggan warung tersebut.


Cahaya api dan suara ledakan dari sepeda motor yang terbakar itu membuat para pelanggan ketakutan akan merembet ke kendaraan lainnya.


Lalu mereka berhamburan keluar dan menyelamatkan motor mereka.


Suara keributan membuat Yanti penasaran, dan hanya menggunakan underware saja Ia keluar dari kamar dan melihat keluar apa yang sedang terjadi.


Pria yang bersamanya juga ikut keluar dan dengan sempoyongan menyelamatkan motornya.


Setelah memastikan semua orang telah keluar, maka Satria membakar warung tersebut dengan mudahnya.


Seketika suasana menajdi heboh dan membuat Yanti kebingungan sebab Ia masih menggunakan underware dan tak sempat menyelamatkan harta bendanya.


Sementara itu, anak iblisnya terjebak didalam kobaran api dan tak mampu menyelamatkan diri karena kobaran api kian membumbung tinggi.


Bahan bangunan yang terbuat dari bahan kayu, membuat warung sekaligus rumah tersebut begitu mudah menjalar.


Rey dan Kakek Nugroho memandang penuh amarah, dan tak dapat menyelamatkan sang anak yang tampak berguling-guling berteriak kesakitan.


Rey dan juga kakek Nugroho tidak dapat menembus kobaran api tersebut, sebab iblis berasal dari api yang mana itu akan membuat mereka ikut musnah jika sampai nekad untuk menembusnya.


Sementara itu, sang anak iblis meraung-raung kesakitan bersama dengan api yang terus melahabnya.


Satria kemudian beranjak pergi bersama Chakra Mahkota yang tadi telah menciptakan kobaran api tersebut.


Nini Maru yang mengetahui anak iblis hasil dari rancangannya dimusnahkan Satria berteriak sekencang. Ia memaki dengan sangat lantang, tak mampu menahan lagi emosinya.


Ia bergerak melayang melayang mengejar Satria yang saat ini sedang menunggangi Chakra Mahkota.


Lalu dari arah belakang Ia mengimkan serangan dan tanpa diduga, Satria berbalik dan Chakra mahkota menyemburkan api dari mulutnya ke arah Nini Maru yang tak bersiaga mendapat serangan mendadak.


Lalu semburan api itu mengenai gaunnya dan membuatnya terbakar.


Seketika Ia panik karena gaun merahnya terbakar dan segera menanggalkan gaun tersebut lalu menghilang.


Sementara itu warung Yanti yang terbakar dengan tiba-tiba itu menjadi pusat perhatian warga dan mereka beramai- ramai untuk melihatnya.


Yanti kebingungan dengan kondisinya saat kni, lalu berlari menuju rumah Mirna dan bersembunyi di belakang rumah tersebut.


Anak iblisnya sudah terbakar dan mengejang bersama kerangka manusia yang tersimpan di dalam kamar rahasia tersebut.


Tampak mobil polisi datang untuk melihat kejadian terbakarnya warungnya.


"Siaall..!! Jika polisi sampai melihat tulang belulang korban tersebut, mereka akan menangkapku" Guman Yanti, lalu Ia mencari cara untuk segera menghindari polisi.


Yanti menuruni undakan tanah menuju tepi sungai dan menyeberanginya.


Yanti memasuki hutan untuk menghindari kejaran polisi sebelum esok mereka menemukan sisa tulang-belulang yang ada di kamar rahasianya.


Kobaran api yang membumbung tinggi tampaknya semakin berkobar melahab semua yang Ia miliki.