MIRNA

MIRNA
episode-277



Satria melihat kalender yang mana esok adalah hari Selasa Kliwon. Maka Satria memanggil kedua puteranya yang baru saja tiba rumah setelah melakukan shalat Ashar di mushallah dan juga baru pulang sekolah dan mengalami hambatan dijalan saat akan pulang menuju ke rumah.


Keduanya menghampirinya sang Ayah "Ada apa, Yah?" tanya Angkasa.


Satria menatap kedua puternya "Menjelang Maghrib nanti, kalian mandilah hadas besar, dan jangan lupakan itu!" ucap Satria.


"Kami tidak sedang bermimpi basah atau melakukan apapun sehingga harus mandi hadas besar, Yah" ucap Samudera protes


Satria membolakan matanya "Ayah bilan mandi hadas ya, Mandi, jangan protes" jawab Satria.


Keduanya tertunduk dan tidak dapat membantah lagi. Aura yang dipancarkan oleh ayahnya begitu besar, sehingga tidak dapat dibantah.


"Iya, Yah.. " jawab keduanya serentak.


Satria beranjak meninggalkan keduanya dan menuju kamarnya.


Lalu Angkasa mencolek Kakaknya dengan sikunya dan masuk ke kamar untuk menunggu menjelang maghrib dan menjalankan apa yang diperintahkan sang ayah.


Menjelang Maghrib keduanya mandi Hadas sebagaimana yang diperintahkan oleh sang Ayah secara bergantian. Lalu keduanya menuju Mushallah untuk shalat berjamaah hingga sampai Isya baru kembali.


Keduanya menuju meja makan dan melihat sang ayah sudah berada di meja makan dan ada ayam goreng yang tersedia hanya dengan saos cabai botolan.


Tampak mereka seperti tak berselera makan. "Apakah Ibu sudah makan-disana?" guman Samudera dengan lirih.


Satria menatap pada Samudera "Ibu sudah makan, maka kalian harus makan, dan jangan membuatnya bertambah sedih" jawab Satria.


Namun mereka seolah tak dapat menelan makan malam mereka, tenggorokan mereka seolah terasa sakit.


Satria beranjak dari meja makan tanpa menyentuh makan malamnya "Kalian makanlah, setelah makan temui ayah di ruang shalat!" Titah Satria kepada keduanya. Lalu beranjak menuju ruang shalat. Bagaimana Ia dapat menelan makan malamnya, jika Ia belum dapat menembus pandangannya tentang kondisi Mirna-istrinya.


Angkasa memandang Kakaknya yang tampak murung "Makanlah, Kak.! Sebab untuk menyelamatkan Ibu perlu energi. Maka kita harus makan" ucap Angkasa.


Samudera menatap adiknya dan dengan terpaksa menelan makan malamnya meski merasa tak berselera.


Setelah selesai makan malam, keduanya menuju ruang shalat tempat dimana Ayahnya memerintahkan keduanya untuk menemui beliau.


Sesampainya diruang shalat, mereka melihat sang ayah sedang duduk diatas sebuah sejadah dengan mata terpejam dan menggulirkan tasbihnya.


Keduanya menuju ambal tebal dan duduk berada tepat dibelakang Satria.


Mengetahui kedua puteranya berada dibelakangnya. Maka Satria menghentikan dzikirnya lalu memutar tubuhnya ke arah keduanya dan menatap satu persatu wajah Angkasa dan juga Samudera.


Satria menarik nafasnya dan menghelanya dengan sangat berat.


"Dengarkan apa yang akan ayah katakan. Mulai esok, kalian akan berpuasa, maka bersahurlah malam nanti. Dan kalian hanya bisa bersahur dengan nasi putih dan juga air putih saja tanpa lauk apapun dan begitu juga dengan berbuka dengan menu yang sama saat kalian bersahur " ucap Satria.


Keduanya merasa bingung dengan apa yang dikatakan oleh sang ayah.


"Lho! Puasa dalam rangka apa, Yah? Sampai hanya boleh makan nasi putih dan minum air putih saja?" tanya Angkasa penasaran.


"Puasa itu disebut dengan puasa mutih, sebab Ayah akan menurunkan sebuah ajian yang mana ajian ini sangat berat untuk kalian pikul, sehingga pengendalian emosi kalian harus dijaga, karena sangat berbahaya bagi manusia lainnya jiak sampai salah guna" ucap Satria.


Keduanya saling pandang dan belum mengerti apa yang sedang dikatakan oleh ayahnya.


"Ajian ini juga nantinya akan kalian gunakan untuk menyelamatkan Ibunda kalian!" jawab Satria.


"Berapa lama kami akan menjalani laku puasa ini, Yah?" tanya Samudera.


"Bagaimana jika kami batal dalam melakukannya, misalnya satu hari saja?" tanya Angkasa.


"Maka kalian akan mengulangi puasa itu dari awal" jawab Satria.


keduanya menganggukkan kepalanya dan mulai memahami langkah pertama yang dijelaskan oleh sang ayah.


Namun sebelum sahur, mulai malam nanti kalian harus mengerjakan shalat hajat tepat pukul 12 malam. kerjakan 2 rakaat sholat hajat khusus, setelah membaca Q.s Al-fatiha, kalian harus membaca Q.s An-Nasr 3x (rakaat I), dan membaca Q.s Al-Ikhlas 3x (rakaat II).


Keduanya mencoba mencerna apa yang dikatakan oleh ayahnya. Rasa ingin menyelamatkan ibunda membuat mereka harus ikhlas melakukan apapun.


setelah selesai salam. Maka kalian harus membaca do'a ajian sebanyak 333x ulangan sampai selesai.


"Apa rafal ajian-nya, Yah?" Tanya Angkasa penasaran.


"Nanti akan ayah beritahu" jawab Satria. Kemudian Ia menarik nafasnya dan menghelanya dengan berat.


Samudera dan Angkasa masih setia untuk mendengar kelanjutan ucapan Ayahnya.


"Namun satu hal harus kalian harus ingat, setelah selesai pembacaan do'a ajian, maka kalian harus meniiupkan mulut kalian ke arah 2 telapak tangan yang terbuka dan sapukan hingga merata ke seluruh tubuh" Satria kembali menjelaskan ucapannya.


Samudera dan Angkasa terus fokus untuk mendengarkan segala ucapan dari ayahnya.


Satria kembali melanjutkan penjelasannya, sembari menatap kepada keduanya.


"Setelah itu, ber-sahurlah dengan cara mutih dan menghindari makanan yang bersumber dari hewan bernyawa. Begitu juga dengan minum kalian harus benar-benar air putih saja tanpa pemanis"


Kedua bocah itu masih tetap fokus mendengarkan dan mengingat apa yang dikatakan oleh ayahnya.


"Setelah selesai bersahur, Kemudian pergilah tidur hingga saat tiba Sholat Subuh. Pada setiap selesai melaksanakan sholat wajib, hendaknya do'a ajian dibaca 3x tanpa bernafas dan jangan lupa untuk selalu meniupkan pada ke 2 telapak tangan kalian dan sapukan kesekujur tubuh (Cara memasukan daya ghaib sebuah ilmu)" Satria melanjutkan ucapannya.


Satria menghela nafasnya dan mencoba memberikan penjelasan selanjutnya


"Dan semua itu kalian lakukan untuk seterusnya dikerjakan selama lelaku ritual hingga tiba saatnya pada hari ke-tiga, Kalian dilarang keras untuk tidur semalaman suntuk hingga terbit fajar pada hari berikutnya selesai lelaku ritual! Apakah Kalian menyanggupinya?" tanya Satria kepada keduanya.


Keduanya merasakan jika lelaku itu sungguh berat. Namun semua mereka lakukan dengan ikhlas demi menyelamatkan ibunda-Mirna.1


"Mengapa kalian terdiam? Jika kalian sanggup maka katakan sanggup dan jika kalian tidak sangup maka katakan dari sekarang, agar ayah dapat mengetahuinya sejak dini!" ucap Satria.


"Aku sanggup, Yah.. demi ibu apapun akan Samudera lakukan" ucap Samudera dengan yakin.


"Aku, Juga, Yah! Aku tidak akan membaiarkan siapaoun berbuat jahat pada Ibu" Angaksa menimpali.


Satria tersenyum tipis dan sebenarnnya merasa sangat senang mendengar kedua puternya menyanggupi semua yang dikatakannya.


"Baiklah.. Pergilah untuk tidur, tepat jam 12 malam nanti bangunlah untuk shalat" ucap Satria kepada keduanya.


Lalu Angkasa san juga Samudera menganggukkan kepalanya dan menuju ke kamarnya.


"Bagaimana dengan mantra ajiannya, Yah?" tanya Samudera sebelum beranjak jauh.


"Mantranya akan ayah ajarkan sebelum kalian shalat sunah dua rakaat pada Bab berikutnya, sebab Authornya sudah mengantuk!" jawab Satria.


Lalu keduanya beranjak ke kamar untuk tidur, begitu juga dengan Author sudah ngantuk berat..


Hooooamm...