MIRNA

MIRNA
episode 86



Mirna telah menyelesaikan pekerjaan rumahnya. Ia harus pulang kerumah tepi hutan hari ini. Ia merasakan seperti ada sesuatu yang sangat mengganjal hatinya.


"Mas.. Mirna pulang hari ini" ucap Mirna saat sarapan pagi. Syafiyah yang masih menyuapkan sarapan dimulutnya sedikit merasa senang, sebab Mirna tak lagi serumah dengannya.


"Mengapa harus terburu-buru? Tetaplah disini, bukankah ini juga rumah kamu?" ucap Satria sembari menyudahi sarapannya.


Mirna merasakan jika Ia melihat sesuatu yang sangat genting dan harus diselesaikan, Ia tidak dapat berlama-lama dirumah ini.


"Ijinkan Mirna untuk tinggal beberap hari diruamh tepi hutan" ucap Mirna memohon.


Satria memejamkan matanya, lalu terdiam sejenak "Tapi kamu janji untuk menjaga diri dengan baik" ucap Satria mengijinkan meskipun tak rela.


Mirna menganggukkan kepalanya dan menyelesaikan pekerjaannya, lalu berpamitan untuk segera pulang.


"Biar Mas antar Kamu" ucap Satria berbegas bangkit dari tempat duduknya.


"Tidak, Mas.. Mirna bisa sendiri" jawab Mirna menegaskan dan mencoba menolak tawafan Satria.


"Tapi.." ucap Satria yang tercekat ditenggorokannya.


"Tak mengapa, Mirna bisa sendiri" lalu bergegas pergi keluar rumah.


Syafiyah juga bangkit dari duduknya, Ia juga akan berangkat bekerja dan berpamitan kepada Satria. Namun Mirna sudah lebih dahulu keluar dari rumah.


Syafiyah memasuki mobilnya, Ia masih melihat Mirna berbelok dari simpang rumah mereka.


Syafiyah mengemudikan mobilnya. Matanya jelalatan mencari Mirna. Terbesit dihatinya rasa tak tega melihat Mirna pulang berjalan kaki.sebab Ia merasakan jika Mirna tak pernah menunjukkan sikap yang membuatnya merasa disaingi.


"Kemana Dia? Mengapa tidak terlihat? Apakah Ia mendapatkan tumpangan?" Shafiyah merasa penasaran. Ia kemudian melajukan mobilnya, sembari matanya terus mengawasi jalanan untuk melihat madunya itu.


Namun hampir sampai dipuskesmas, Ia tak menemukan Mirna, lalu Ia berbelok untuk menyeberang ke puskesmas.


"Mungkin Ia sudah mendapatkan tumpangan" guman Syafiyah lirih.


Sementara itu, Mirna telah sampai dirumahnya. Ia menatap warung Yanti yang mana tampak dua arwah pria yang meminta tolong untuk disempurnakan.


Arwah kedua pria itu berada didalam kamar rahasia milik Yanti. Keduanya adalah korban dari kebiadaban Rey yang kembali berulah.


Mirna tidak dapat membiarkan Rey menyempurnakan tumbalnya, karena ini sangat berbahya baginya dan juga bagi masyarakat desa. Sebab Rey akan menjadi pemangsa manusia yang akan membuat warga desa terancam.


"Aku harus mencari cara untuk mencegah Rey semakin jauh mencari mangsa" Guman Mirna dengan lirih.


Kemudian Mirna masuk kedalam rumahnya dan berbaring sejenak diranjangnya.


Sementara itu, Yanti sibuk dengan dagangannya. Ia kembali memesan minuman tuak kepada abang togar. Kali ini Ia memesan hingga 2 jerigen bermuatan 30 liter, maka kini Ia memiliki 60 liter tuak sebagai stok untuk di warungnya.


Lisa masih merasakan tubuhnya begitu sangat sakit dan demam. Ia ingin meminta ijin kepada Lisa untuk pulang kerumah dan beristirahat barang sejenak.


Ia tidak dapat beristirahat jika harus tinggal diwarung, karena suara dentuman musik yang sangat mengganggu dan juga pelanggan yang terkadang memaksanya untuk dilayani tanpa melihat kondisinya yang kini sangat sakit.


Lisa berniat untuk berpamitan kepada Yanti. Ia berjalan tertatih menuju kamar Yanti, namun saat Ia akan mengetuk pintu kamar gadis itu, Ia mendengar suara rintihan Yanti dan lenguhan dari seorang pria.


Saat Lisa mencoba mengintai dari kubang kunci pintu kamar. Ia melihat Yanti sedang bercinta dengan Bang Togar si pemasok tuak.


Tiba-tiba saja Lisa memiliki niat untiluk melihat isi kamar rahasia yang yang membuat Lisa sangat penasaran.


Saat telah berada didepan pintu kamar rahasia itu, Yanti mencoba membukanya, dan ternyata sepertinya Yanti lupa menguncinya.


Lisa yang merasa penasaran, lalu mencoba masuk sembari celingukan melihat sekitar, untuk memastikan jika kondisi aman.


Yanti mengendap masuk kedalam kamar itu. Aroma amis menyeruak menusuk hidungnya, serta ada aroma busuk yang membuatnya merasa mual.


Lisa terperangah melihat sebuah kain hitam yang ditempelkan didinding hingga menjuntai kelantai.


Rasa takut bercampur gemetar membuatnya semakin penasaran dengan apa yang ada didalam nampan tersebut.


Lisa menutup hidungnya, sebab aroma itu sangat menyengat dan sangat busuk.


Lisa memperhatikan jika itu sebuah cawan bekas berisi darah, namun Lisa tidak tahu itu darah apa.


Wanita itu semakin gemetar, saat melihat ada bekas kembang dan juga tempat pembakaran dupa yang terlihat baru saja dilakukan beberapa hari yang lalu.


"Apa yang dilakukan Yanti sebenarnya? Mengapa ada pembakaran dupa dan penyerahan sesaji? Apakah Yanti melakukan pesugihan?" guman Lisa dalam hatinya.


Lalu Lisa memutar tubuhnya, melihat tumpukan dua buah karung muatan 50 kg disudut dinding kamar.


Lisa semakin penasaran, Ia mencoba menghampiri dua buah karung yang sangat mengusik keingintahuannya.


Ia membuka ikatannya, dan saat Ia membukanya, sebuah tengkorak kepala dengan rongga bagian mata dipenuhi belatung menggelinding begitu saja.


Lisa terpekik, dan langsung menutup mulutnya.


Ia begitu sangat bergetar dan ketakutan. Bagaimana mungkin Yanti menyimpan tengkorak manusia didalam karung dan kamar rahasianya.


"A-apakah ini tengkorak pelanggan yang selalu hilang?" guman Lisa dengan debaran dijantungnya yang semakin memburu.


Wanita seolah tak mampu menopang tubuhnya, Ia semakin lemah dan akhirnya jatuh tak sadarkan diri.


Malam telah menjelma. Kegelapan menyelimuti langit malam yang semakin kelam. Begitu juga ruangan yang kini ditempati Lisa, tampal sangat gela


Lisa mengerjapkan kedua matanya, saat Ia mendengar suara dentuman musik dan hingar bingar suara para pelanggan warung yang sedang menikmati kemaksiatan yang begitu nyata.


Lisa merasakan kepalanya yang sangat sakit, ternyata Ia bekum makan siang sedari tadi, sebab Ia pingsan saat memeriksa kamar rahasia Yanti.


Lisa menyentuh kepalanya yang berdenyut. Ia ingin beranjak dari tempatnya, namun Ia merasakan sesuatu yang menghambat kakinya.


Lisa melirik kakinya dalam kegelapan, lalu Lisa mencoba menyentuh pergelangan kakinya, dan ternyata telah dirantai dan diikatkan kesebuah tiang. Lisa tersentak kaget. Ia bingung mengapa Ia bisa terborgol dikakinua dengan dirantai besi.


Lisa semakin memucat dan dalam ketakutan yang luar biasa.


Lisa mencoba membuka borgol kakinya yang terasa sangat menyiksanya.


Tak berselang lama, Lisa mendengar suara derap langkah kaki dan menuju kearah pintu kamar rahasia Yanti.


Lalu pintu dibuka dan tampak sepasang kaki yang berjalan masuk kedalam kamar dan menutupnya.


Lalu Lisa melihat wanita itu menghidupkan saklar listrik dan seketika ruangan tampak terang.


Lisa tersentak melihat Yanti yang masih mengenakan pakaian aduhai menggoda untuk melayani para pelanggannya.


Yanti menghampiri Lisa yang masih terkapar lemas diatas lantai.


Lalu Yanti menyodorkan sepiring nasi dengan sayur dan lauk.


"Makanlah.. Jangan sampai Kau mati kelaparan, sebab Aku masih membutukanmu" ucap Yanti dengan nada penuh penekanan.


"Apakah Kau yang mengikatku?" tanya Lisa penasaran.


"Mengapa Kau begitu lancang, bagaimana kau sampai masuk ke kamar ini, sedangkan Aku sudah melarangmu" ucap Yanti ketus.


"Apa yang kau rahasiakan dariku?" tanya Lisa dengan cepat


"Karena Lau sudah mengetahuinya, Maka dengan terapksa Aku mengurungmu, agar rahasia ini tetap terus terajaga" ungkap Yanti dengan sarkas.