MIRNA

MIRNA
episode 201



Warga berbondong-bondong mendatangi rumah Surti yang berteriak dipukul 2 dini hari.


Yanti yang melihat kedatangan para warga merasa bingung dan panik. Ia merasakan jika tumbal lato-lato sudah jelas berada didepan matanya, namun Ia juga tidak ingin menjadi bulan-bulanan warga apalagi sampai dibakar hidup-hidup jika ke pergok oleh warga.


Dengan cepat Yanti mencoba kabur dari rumah Surti melalui pintu belakang yang saat tadi Ia dobrak sebagai jalan masuk.


Namun sialnya, saat Ia berlari, tanpa sengaja Ia menendang kaki meja dapur dan membuatnya terjatuh menghantam ujung sudut meja dan membuat rongga mata kirinya terbentur dan bola matanya terlepas lalu menggelinding dilantai dapur.


Yanti mengerang kesakitan, dan berniat akan memungut bola matanya tersebut, namun itu tidak memungkinkan, karena Ia mendengar langkah kaki warga sudah mendekat.


Yanti berusaha bangkit dan keluar melalui pintu dapur. Saat bersamaan, seorang warga berdiri didepan pintu dapur untuk memasuki rumah Surti karena tampak dibobol oleh seseorang.


Karena posisi yang tidak memungkinkan, akhirnya tubuh kasar Yanti menabrak warga tersebut dan mereka jatuh secara bersamaan dan tubuh Yanti menimpa warga pria berusia 39 tahun itu.


"Aaaaasrrrrrrgh..."


Seketika pria itu terpekik saat menyadari jika Ia ditin--dih oleh tubuh makhluk mengerikan dengan rongga mata kiri yang sudah kosong dan darah kental serta aroma anyir dari luka borok Yanti melekat dipakaian pria tersebut dan ini semakin membuatnya mual dan juga ketakutan memandang wajah menyeramkan Yanti.


Warga yang mendengar teriakan pria itu bergegas menghampir pintu dapur, dan Yanti berusaha untuk bangkit dan melesat dari kejaran warga. Namun saat akan melarikan diri, seorang warga berhasil menarik segenggam rambut Yanti dan tanpa sadar rambut dalam genggaman itu terlepas bersamaan menghilangnya Yanti yang menembus kegelapan malam.


Warga yang mendapatkan rambut Yanti dengan kulit boroknya seketika berteriak ketakutan dan melemparkan rambut beserta kulit kepalanya yang masih melekat itu sembarang arah membuat warga lainnya bergelinjang ketakutan.


Lalu sebagian warga memasuki kamar Surti dan mendapati Surti dengan pemuda warga sekitar tanpa sehelai benangpun dan tampak habis bergulat dimalam dingin.


Keduanya masih syok dan tidak sadar dengan apa yang terjadi pada mereka dan mengalami guncangan hebat.


Seorang warga melemparka kain jarik kepada Surti agar menutupi tubuhnya yang polos dan segera mengenakan pakaian, namun kedua insan me- sum itu tampak bengong dan seorang warga mencoba menepuk pundak Surti dan Rejo sang pemuda me-sum agar sadar dari keterkejutan mereka.


Keduanya tergagap sadar dan ketakutan antara makluk mengerikan dan juga warga yang pastinya akan mengahakimi mereka dan dinikahkan paksa.


Sementara itu, dua warga yang melihat sosok Yanti dan kini dalam kondisi trauma berusaha ditolong warga lainnya karena warga yang di tin-dih oleh Yanti masih dalam kondisi bengong dan tidak dapat mengatakan apapun.


Sedangkan yang berhasil menarik rambut Yanti hingga terlepas yang segenggam ditanggannya gemetaran dan seperti orang terkena tremor.


Wajah hancur Yanti tampak begitu terngiang diingatannya. Bahkan dua tonjolan didada Yanti yang dulunya begitu indah dan mengkal kini hanyalah bagaikan daging yang berborok dengan luka dimana-mana dan dua tonjolan didadanya juga mengeluarkan darah dan nanah yang menyebarkan aroma yang amis dan juga anyir.


kedua pria yang melihat sosok Yanti tersebut bahkan merasa mual dan muntah-muntah yang mana aromanya tak mau menghilang karena begitu sangat melekat.


Setelah mendapat pertolongan dari seorang imam mesjid dengan segala doa dan air penawar, akhirnya keduanya mulai sadar dan sudah dapat diajak bicara.


Seorang warga menemukan bola mata Yanti yang terlepas dan berteriak ketakutan dan berkerumun untuk memeriksa apa yang terjadi dan setelah mereka melihat bola mata itu dilantai, lalu memungutnya menggunakan kantong kresek dan juga rambut yang sempat tertarik dan dibuang dihalaman begitu saja.


Sedangkan Surti dan Rejo dinikahkan malam ini juga, agar mereka tak lagi berbuat zinah.


Disisi lain, Yanti mengerang kesakitan sembari memegangi rongga matanya yang mengucurkan darah dan kulit kepalanya bagian kanan yang terlepas karena rambutnya ditarik oleh warga.


Darah berceceran dimana-mana dan membasahi sekujur tubuhnya. Ia begitu amat sangat kesakitan. Keputusannya menjadi pengabdi iblis telah menjadikannya manusia paling merugi dan kini Ia bagaikan kerakap tumbuh dibatu, hidup segan mati tak mau.


Kini penderitaannya kian bertambah, hawa panas masih terus menyerangnya, sedangkan fisiknya sudah sangat tidak layak untuk disebut manusia, namun ketiga iblis itu masih terus mempertahankannya untuk tetap hidup.


Ia menangis merintih meratapi nasibnya yang sangat mengenaskan.


Suara tangisnya menggema diseluruh hutan, hingga terdengar sampai ke rumah warga. Seluruh warga merasakan bulu kuduk mereka meremang dan merasakan kengerian.


Warga mencoba mengintrogasi dua pria yang menajdi saksi jelas sosok makhluk itu.


"Bagaimana wujudnya?" tanya seorang warga yang penasaran.


Pria yang tadi ditindih Yanti seketika bergidik membayangkannya "Rong-rongga mata kirinya kosong dan darah bercucuran dimana-mana, serta kulit tubuhnya penuh dengan borok yang mengerikan" jawabnya dengan nada tergagap.


Ia begitu sangat gemetar jika mengingatnya. Ia merasa entah bermimpi apa hingga ditin-dih makhluk jelek dan mengerikan tersebut.


Andai yang memeluknya si janda Surti mungkin itu akan lebih baik, namun ini sangat sial karena Ia ditin-dih oleh makhluk menyeramkan tersebut.


Pria itu hingga meracau tak jelas karena terlalu takut dan traumanya.


Warga yang menemukan bola mata Yanti dan juga rambut beserta kulit kepala yang ikut terlepas memasuki kerumunan warga yang sedang mengintrogasi dua pria tersebut.


Lalu warga itu membuka isi kantong plastik dan memperlihatkannya kepada warga yang sedang berkumpul diteras tersebut sehingga membuat oara ibu-ibu itu terpekik ketakutan.


"ini bagaimana ustaz? Apakah Kita harus melaporkan kejadian ini le pihak berwajib atau kita akan membakar organ tubuh yang tertingal ini?" tanya warga yang menemukan bola mata tersebut.


Ustaz itu tampak berfikir "Mungkin kita harus membawanya ke kantor polisi agar ditemukan siapa pelakunya melalui tes DNA" ucap ustaz tersebut memberikan pendapatnya.


"Untuk apa ustaz? Jika pun ketahuan siapa pelakunya belum tentu polisi dapat meringkusnya" ucap salah satu warga yang merasa kesal karena kepolisian belum juha dapt menangkap pelaku dari pembunuhan dan hilangnya lato-lato para warga selama ini.


"Setidaknya Kita mengetahui siapa warga kita yang melakukan praktek pesugihan ataupun ilmu hitam, hinhga kita tidak menuduh orang lain secara serampangan" ujar sang ustaz membwrikan penjelasan kepada warga.


Kemudian warga menganggukkan kepalanya dan mencoba mengerti dan memahami apa yang dikatakan oleh ustaz tersebut.