MIRNA

MIRNA
episode-238



Syamsul melangkah menghampiri semua orang yang berada didalam ruangan.


Mereka berharap-harap cemas dan juga pensaran.


Syamsul meraih infokus yang ada dimeja guru, lalu menghubungkannya dengan phonselnya. Semua orang merasa sangat penasaran, namun tidak pada Satria, Ia justru bersikap tenang, sedangkan Tasya dan Baron tampak merasa sangat gelisah.


Lalu tampak vedeo diputar dan semua kejadian saat pertama Angkasa dan Samudera tiba dibalik belakang bangunan toilet, dan Baron serta dua rekannya yang mencoba menodai Tasya.


Semua orang terperangah bagaimana kata-kata menjijikkan diucapkan oleh seorang siswa seperti Baron terhadap teman sekelasnya.


Dari vedeo tersebut, jelas memperlihatkan siapa pelaku sebenarnya.


Kemudian para guru dan juga orangtua meminta maaf atas fitnah yang terjadi pada Angkasa dan juga Samudera. Kini mereka berbalik memuji keberanian keduanya yang berusaha menyelamatkan Tasya dari para siswa brandal tersebut.


"Bagaimana, Tasya? Jika kamu benar ternoda, maka mintalah Baron untuk bertanggungjawab atas apa yang terjadi padamu!" ucap Satria dengan tenang, nakun penuh penekanan.


Seketika Tasya tergagap dan merasa kebingungan. Ia tak sudi jika harus dinikahkan kepada Baron.


"Tidak.. Saya tidak sudi menikah dengan Baron, saya masih suci, dan itu karena Samudera dan Angkasa yang menyelematkan saya.." ucap Tasya kecepolosan yang semakin memperkuat bukti jika keduanya berada pada posisi yang benar.


Satria menghela nafasnya, dan tanpa sepengetahuan kedua puteranya, mereka telah memasuki ujian tingkat awalnya, dan berhasil melewatinya.


"Baiklah, karena semuanya telah jelas, maka saya akan membawa kedua putera saya pulang ke rumah, dan Samudera juga terluka, saya akan merawatnya. Masalah gadis ini silahkan diselesaikan dengan pihak terkait" ucap Satria denga tegas dan beranjak pergi meninggalkan ruangan guru, lalu menunggu kedua puteranya mengambil motor diparkiran dan membuntuti keduanya dari arah belakang hingga sampai ke rumah.


Sementara itu, Baron yang terbukti telah melakukan percobaan penca-bulan terhadap temannya dikenakan sanksi dari pihak sekolah untuk skorsing dan diberi pembinaan untuk kembali ke jalan yang benar.


Sedangkan Tasya merasa sangat malu saat vedeonya diputar dihadapan seluruh guru dan para orangtua siswa.


Bertolak belakang dengan Tasya, Baron justru senang mendapatkan skorsing dari pihak sekolah, sebab Ia akan bertambah bebas melakukan hal buruk yang Ia Inginkan.


Lalu kedua rekannya yang terluka diouskesmas juga mendapatkan sanksi karena membawa senjata tajam membantu perbuatan kriminal.


Setelah mendapatkan penayaran dari guru bimbingan konseling, ternyata ketiga siswa tersebut mengonsumsi barang haram sabu menurut pengakuan Baron yang mana mereka juga bagian dari kelompok binaan pak Remon.


Pengakuan Baron membuat membuat pihak sekolah merasa terkejut karena tidak menyangka jika Remon yang merupakan tenaga pendidik yang dipercaya justru menjadi duri dalam daging yang diam-diam membuat daging itu bernanah dan membusuk.


Begitu juga halnya dengan para siswa yang diam-diam dibawah binaanya menjadi siswa brandal yang membahayakan generasi yang diharapkan menjadi sosok yang berguna.


Sementara itu, Samudera dan juga Angkasa telah sampai dirumah, Satria meminta keduanya untuk pergi mandi dan membersihkan diri, lalu melaksanakan shalat Ashar karena waktu yang hampir habis.


keduanya bergegas melaksanakan perintah sang ayah. Setelah menyelesaikan perintah ayahnya, Satria memasuki kamar dengan membawa sebuah koper yang berisikan peralatan medis.


Keduanya merasa bingung dengan apa yang akan dilakukan oleh Ayah mereka.


Mereka penasaran mengapa Ayahnya begitu sangat cekatan menjahit luka Samudera dengan sangat tenang.


"Siapa Ayah sebenarnya? Mengapa semua hal Ia dapat tangani? Bahkan mereka juga tidak pernah tau jika Ayahnya seorang pemilik perusahaan besar yang mana dikelola oleh adik kandung Ayahnya yang bernama Hadi dan menetap dikota.


Selama ini mereka hanya diberi satu motor yang diapakai bergantian. Di garasi ada dua mobil mewah, namun mereka juga tidak diperbolehkan mengemudi karena belum cukup umur.


"Apakah Ayah seorang Dokter?" tanya Samudera dengan penuh penasaran.


"Ya.." jawab Satria singkat.


"Wooow.. Keren sekali? Tetapi mengapa Ayah tidak pernah terlihat mengobati pasien atau membuka praktik?" tanya Angkasa.


"Ini, Ayah sedang mengobati pasien yang terluka" jawab Satria.


Lalu keduanya saling berpandangan mata. Ayahnya tampak begitu misterius, dan sepertinya begitu banyak yang dirahasiakannya.


"Sebentar lagi waktu Maghrib, dan bersiapalah untuk shalat berjamaah, karena setelah itu ada dzikir yang akan kalian pelajari" titah Satria kepada keduanya, lalu mereka menganggukkan kepalanya.


Setelah melakukan shalat berjamaah dirumah, Satria menoleh ke arah kedua puteranya, sedangkan Mirna berada dibelakang puternya.


Satria memberikan mereka satu persatu sebuah tasbih yang terbuat dari pahatan kayu asam jawa. Isi bulir tasbih itu hanya sebelas butir saja.


"Dengarkan apa yang akan kalian lakukan malam ini, dan jangan pernah keluar dari yang telah ditetapkan" ucap Satria.


"Ya, Ayah.." jawab keduanya.


"Pejamkan mata kalian, berkonsentrasi dan jangan memikirkan hal lain. Ikuti setiap dzikir yang kalian lafazkan dengan hati dan fikiran yang fokus" ucap Satria lagi.


Kedua puteranya menganggukkan kepalanya.


"Jika begitu, mari kalian lakukan dzikir itu secara bersamaan dan tetplah untuk fokus, dan jangan lupa untuk kembalj kejalan pulang" ucap Satria menegaskan.


Lalu keduanya mulai memejamkan mata dan mengikiuti instruksi yang diberikan oleh sang ayah. "Bacalah apa yang akan ayah ajarkan..'Allahu'" sebut Satria dengan penuh penekanan.


Lalu keduanya mengikuti apa yang dilafazkan Ayahnya yang membuat mereka terus menerus melafzkannya.


Sesaat kedua bocah itu melafazkannya dengan suara yang nyaring, namun perlahan menghilang bersamaan dengan bergetarnya btubuh mereka dengan sangat kencang dan sesaat diam tak bergerak.


Keduanya melakukan perjalanan ghaib mereka dan tampak terlihat begitu banyak mahluk ghaib dengan berbagai rupa. Lalu mereka menuju sebuah istana yang sangat megah dengan nuansa berwarna hijau, sebuah permadani terbentang menyambut mereka dan keduanya menapaki permadani itu, hingga membuat mereka merasa seorang pangeran yang sedang berjalan diatas catwalk.


Keduanya tiba diujung permadani dan tampak duduk seorang pria sepuh dengan janggut yang sepanjang tiga jengkal dan bersorban hijau diatas kepalanya sedang duduk disebuah kursi kebesarannya.


"Selamat datang cucuku.. Apa kabar kalian berdua?!" tanya pria sepuh itu yang membuat keduanya semakin bingung, sebab orangtua tersebut tidak pernah mereka lihat sebelumnya.


"Maaf, Kek.. Sebanarnya kakek ini siapa? Sebab banyak sekali yang mengaku juga dari orangtua dari ibu saya Mirna" ucap Angkasa penasaran.


Sosok pria senja itu tersenyu menanggapi pertanyaan Angkasa.


"Saya adalah Syech Maulana dan merupakan kakek buyut kalianyang berasal dari ayah kalian, Satria.


Pria senja, itu tersenyum mendapatkan tamu yang sudah lama Ia nantikan.