
Setelah mengenakan pakaiannya, Pria itu penasaran dengan usaha yang akan dibangun oleh Yanti.
"Memangnya Mbak mau bangun usaha apa?" tanya pria itu dengan penasaran.
"Warung kopi remang-remang" jawab Yanti yang masih membenarkan branya.
"Wah.. Mantab itu, Mbak.. Saya bakal sering mampir ini" ucap Pria itu dengan sumringah.
Melihat tonjolan di dada Yanti yang tampak begitu membusung, membuat pria itu kembali berhasrat.
"Mbak.. Boleh ya nyusu, sebentar saja.. Saya gak tahan lihatnya" pinta pria itu, yang tanpa persetujuan Yanti sudah mendekap wanita muda itu dan mencomot dengan mulutnya layaknya anak bayi.
Yanti tersentak dan terkejut, namun membiarkannya "Tetapi janji nanti bawa pelanggan ke warung saya yang banyak, Ya? 5 pelanggan yang bapak bawa akan saya kasih gratis nyusu bapaknya" ucap Yanti memberikan iming-iming.
Pria menganggukkan kepalanya dan masih terus menyusu dengan penuh semangat.
Setelah beberapa menit, pria itu melepaskannya karena sebuah panggilan telefon dan tampak wajahnya sangat kesal karena merasa terganggu.
Tampak pria itu begitu serius menerima panggilan telefonnya, dan menganggukkan kepalanya.
"Mbak, makasih, Ya bonusnya.. Saya pamit pulang, ada pasien saya yang akan berobat" ucap pria itu dengan wajah serius.
"Memangnya bapak dokter sehingga ada pasiennya?" tanya Yanti penasaran.
"Bukan, Mbak.. Saya dukun.. Kalau mbak mau penglaris buat warung Mbak bisa hubungi saya.." ucapnya dengan serius dan menyimpan phonselnya.
"Bapak ada jual ayam cemani dan burung gagak juga?" tanya Yanti penasaran.
"Wah..ada Mbak.. Lengkap dengan kembangnya juga" ucap pria itu yang tampak terburu-buru.
Yanti menganggukkan kepalanya dan memakai pakaiannya.
"Nama Bapak siapa?" tanya Yanti dengan penasaran.
"Brewok.." ucapnya dengan senyum menyeringai.
Yanti membalas senyum datar dan menyelesaikan memakai pakaiannya.
Pria itu berjalan menapaki undakan menuju rumah Mirna karena sepeda motornya diletakkan dibelakang rumah Mirna.
Terdengar suara mesin motor yang meninggalkan rumah Mirna.
Yanti ingin menapaki undakan, namun Ia mencium sesuatu yang sangat busuk. Yanti yang merasa sangat penasaran mencoba mencari sumber bau busuk menyengat tersebut.
Yanti menyusuri tepian sungai dan tak jauh dari tempatnya tadi bercinta Ia menemukan adanha tumpukan daun kering dan yang tampak dikerumuni lalat.
Yanti dengan memberanikan dirinya mencoba menghampiri tumpukan dedaunan kering yang dikerumuni lalat berwarna hijau dan sangat banyak sekali.
Yanti yakin jika aroma itu berasal dari tumpukan dedaunan kering tersebut.
Dengan menggunakan sebatang ranting kering, Yanti menyibakkan dedaunan tersebut. Lalat itu berterbangan karena perbuatan Yanti yang mengusik makanan mereka dengan meninggalkan suara desingan yang sangat begitu bising.
Yanti tersentak kaget karena melihat sosok jasad yang sudah hampir habis dagingnya yang menyisakan bola mata dan daging menghijau dibetis kaki kirinya.
Yanti menutup hidungnya dengan menggunakan pakaiannya untuk mengurangi rasa bau menyengat tersebut.
Daging yang masih tersisa dibetisnya dipenuhi belatung yang sangat menjijikkan.
Yanti melihat pergelangan tangan pria itu menggunakan sebuah jam tangan. Yanti menggali memorynya, Ia mengingat jika pria itu yang pertama menggaullinya di kamar mandi warung Lela dan memberinya uang.
Yanti tampak bingung mengapa pria itu sampai mati mengenaskan.
Setelah diamati, ternyata jasad pria terkubur didedaunan ditanah yang baru saja dibelinya dari dukun bernama brewok tersebut.
"Jasad ini harus disingkirkan, sebelum ada yang mengetahuinya. Namun bagaimana caranya?" Yanti berusaha berfikir keras untuk menyingkirkan jasad yang hampir menjadi tulang belulang itu.
Yanti bergegas untuk naik keatas tebing yang tidak curam.
Saat itu, sebuah panggilan mengalihkan perhatiannya. Tampak seorang pria senja berambut gondrong dan juga bejenggot putih mendayung sampan ketepian.
"Hemm.. Kakek itu. Sedang apa Ia disini?" Yanti berguman lirih.
Pria senja itu menambatkan sampannya, dan naik ketepian sembari membawa jaring dan wadah berisi ikan hasil tangkapannya.
"Apakah Kamu mencari alat untuk menguburkan sesuatu?" tanya Pria senja itu dengan tatapan dingin.
Yanti tersentak kaget karena tak menyangka jika kakek itu dapat menebak isi fikirannya.
"Bagaimana Kakek bisa tahu?" tanya Yanti penasaran.
Kakek Nugroho tersenyum smrik mendengar pertanyaan Yanti "Bahkan Kau bercinta ditangkahan sungai Aku tahu" jawab Kakek Nugroho dengan senyum liciknya.
Yanti terdiam mendengar pernyataan pria senja itu. "Emmm... Itu tadi hanya" ucap Yanti tergugup.
"Hanya enak-enakan maksdunya" jawab Kakek Nugroho menyela ucapan Yanti.
Yanti tersenyum tipis. Ia juga dapat menebak tatapan kotor pria senja tersebut dan mengerti apa yang diinginkannya.
"Aku akan membantumu, dan Kamu pasti faham apa yang menjadi imbalannya untukku" ucap Pria itu sembari berjalan menuju ketempat dimana jasad yang telah menjadi sebagian rangka itu terkubur dedaunan.
Seperti memiliki tenaga yang tidak biasa, pria itu menyeret jasad tersebut dan menyingkirkan sepeda motor yang menimpa jasad itu sebelumnya.
Hanya menggunakan golok yang tidak terlalu besar, pria senja tersebut menggali lubang dengan cara yang tak biasa dan begitu sangat cepat.
Yanti terperangah melihat tenaga kakek tersebut, hal yang mustahil pria tua sepertinya memiliki tenaga super yang luar biasa.
"Pantas saja Mbak Lela ketagihan, ternyata tenaganya seperti itu" guman Yanti dalam hatinya.
Dalam sekejab saja, sebuah lubang sedalam sat setengah meter sudah tersedia didepan mata Yanti.
Lalu dengan cepat Ia menyeret jasad tersebut dan menguburnya dengan sangat tak lazim.
Setelah itu, pria yang sudah memiliki kulit sedikit keriput tersebut menatap Yanti yang sedari tadi menyaksikan cara tak biasa kakek Nugroho dalam menggali lubang tersebut.
Pria senja itu menghampiri Yanti, lalu menekan tubuh wanita tersebut ke batang pohon yang sangat besar dan tampak seperti lapar.
"Bukankah Kau juga sudah menjadi budak iblis? Maka kau juga menjadi budakku juga" ucapnya dengan nada mengerikan yang terdengar ditelinga Yanti.
Pria senja itu dengan bibirnya yang sedikit keriput mulai menjelajahi tubuh Yanti yang kini sudah berada didalam cengkramannya.
Yanti yang kini menjadi abdi iblis tak lagi memperdulikan siapa saja yang menjamahnya, Ia merasa bangga menjadi idola para pria meskipun itu pria renta yang mengagagahinya.
Ditempat lain, Lela merasa kewalahan melayani pelanggan warungnya yang ramai.
Beberapa diantara mempertanyakan keberadaan Yanti tidak terlihat menjaga warung. Lela hanya menjawab jika Yanti kelelahan.
Lela akhirnya mengumumkan untuk menerima pegawai tambahan untuk membantunya melayani pelanggan.
Setelah mendapat waktu beristirahat, Yanti merasakan jika janin didalam rahimnya mulai ada getaran dan tendangan sediki.
Ia merasakan jika itu sudah sangat sedikit membesar dan Ia harus beristihat sejenak.
Setelah hampir senja, pelanggan mulai berpulangan satu persatu dan akan kembali ramai setelah habis Maghrib.
Di ujung jalan, tampak pria senja berambut putih itu berjalan menuju kewarungnya, Ia tampaknya begitu sangat senang, entah apa yang didapatnya hari ini sehingga begitu terlihat senang.
Ia singgah diwarung Lela, dan seperti biasanya memesan segelas kopi hitam yang menjadi pesanan langganannya.