MIRNA

MIRNA
episode-290



Sosok Ratu siluman Ular melesat pergi dan meninggalkan sosok tersebut dengan cepat.


Lalu sosok itu melesat menghampiri Samudera yang saat ini masih melemah dan tak sanggup untuk membuka matanya.


Sosok itu melesat memasuki perisai cahaya ghaib yang menjadi tempat untuk melindungi Samudera.


Sosok itu menepuk lembut wajah Samudera, meminta untuk tetap sadar.


"Kak.. Bangunlah..!" ucap sosok yang tak lain adalah Angkasa.


Samudera memaksa matanya untuk mengerjap, namun Ia begitu sangat lemah. Tetapi Angkasa memaksanya.


"Ayo.. Biar Aku bantu!" ucap Angkasa dengan tenang.


Samudera hanya mengerjapkan ke dua matanya lalu mencoba bertahan agar tetap menjaga ke sadarannya.


Angkasa meraih kedua ketiak Samudera. Memaksanya untuk duduk.


Meskipun tak kuasa untuk duduk, namun Angkasa terus memaksanya "Kuatkan hatimu! Bukankah Kakak ingin menyelamatkan ibu?!" bisik Angkasa ditelinga Samudera.


Mendengar bisikan itu, Samudera mencoba menahan semua penderitaannya.


Dalam kelemahannya, Ia mencoba mengangguukan kepalanya.


"Bagus! Sekarang duduk bersila dan bantu untuk fokus..!!"Titah Angkasa dengan nada penuh penekanan.


Samudera mencoba menganggukkkan kepalanya dan duduk bersila.


Lalu Angkasa menuju ke belakang punggung Samudera dan ikut duduk bersila.


Kedua telapak tangan Angkasa berada punggung Sang Kakak dan mencoba menyalurkan tenaga dalamnya kepada Samudera.


Sebuah cahaya keperakan tampak bersinar membungkus tubuh lemah tersebut.


Tubuh Samudera bergetar hebat dan keringat tampak mengucur deras.


Luka yang membiru dilengan kirinya masih tampak seperti memudar, namun racunnya belum sepenuhnya hilang.


Dalam beberpa menit kemudian, cahaya itu menghilang dan tiba-tiba Samudera terbatuk, lalu memuntahkan darah berwarna hitam kental dan membasahi rerumputan yang berada didiepan Samudera. lalu seketika rerumputan yang terkena oleh cairan kental berwarna hitam yang berasal dari mulut Samudera hangus seketika.


Nika dilihat dari ganasnya racun tersebut, maka dipastikan jika manusia awam yang terkena oleh racun tersebut akan mengalami kematian dalam waktu singkat.


Namun Karena Samudera memiliki tenaga dalam yang tinggi, maka Ia masih dapat bertahan hidup untuk beberapa waktu lamanya.


Samudera merasakan sesak didadanya sedikit berkurang karena penyaluran tenaga dalam yang membuatnya merasakan sedikit tubuhnya lebih ringan.


"Tidurlah. Esok kita akan melanjutkan perjalanan menuju goa tempat dimana Ibu sedang di sekap" ucap Angkasa mengingatkan.


Samudera menganggukkan kepalanya dan mencoba mengikuti saran yang diberikan oleh adiknya.


Samudera berbaring, dan mencoba memejamkan ke dua matanya untuk menjemput impiannya.


Pagi menjelma. Mentari bersinar diufuk timur. Samudera melirik lukanya. Tampak uka lebam tersebut sedikit memudar. Namun racunnya masih ada tertinggal didalam tubuhnya.


Samudera meraih tongkat bertanduknya "Ayo! Kita bergerak sekarang!" titahnya kepada Angkasa.


"Ayo!" Jawab Angkasa sembari memapah tubuh Samudera.


Keduanya berjalan menapaki jalanan yang terus menanjak. Rasa sakit masih terasa, namun tenaganya sudah dapat diandalkan jika hanya untuk berjalan.


"Bagaimana kamu dapat menyusulku?" tanya Samudera kepada adiknya.


"Tidak sulit menemukanmu, Kak..! Meskipun banyak rintangan yang juga harus aku hadapi!" jawab Angkasa.


"Aku merasakan lapar. Kita belum sarapan!" ucap Samudera dengan nafasnya yang tersengal.


Angkasa mencari tempat berteduh, dan memang sebenarnya mereka belum sarapan.


Sebuah pohon kecil menjadi tempat berteduh. "Kakak disini dulu. Aku akan mencari sumber air untuk minum dan juga berburu ayam hutan sebentar!" ucap Angkasa, sembari melangkah ingin meninggalkan Samudera.


"Kakak ikut. Aku Ingin mandi, dan rasanya tubuhku sangat lengket!" ucap Samudera dengan wajah menghiba.


Merasa tak tega, Angkasa menganggukkan kepalanya sembari menggendong tubuh sang kakak di belakang punggungnya.


Angkasa berjalan menuruni tebing jurang mencari air bersih untuk minum. Tak berselang lama, dari kejauahan tampak anak sungai yang sangat kecil mengalir dari arah utara dan menuju selatan.


Angkasa mempercepat langkahnya meskipun tubuh Samudera sedikit menghalangi langkahnya, namun tak menyurutkannya untuk menghampiri sumber air. Dengan segala kekuatan tenaga dalamnya, Ia akhirnya sampai ditepi anak sungai.


Angkasa menurunkan tubuh sang kakak, lalu Ia mengisi botol air kosong dan mengisi hingga beberapa botol untuk perbekalan mereka dalam perjalanan nantinya.


Samudera melepaskan pakaiannya, dan berjalan tertatih menuju anak sungai yang tepiannya sangat landai dan banyak terdapat bebatuan kecil dan juga besar didalamnya.


Setelah selesai mengisi air, Angkasa mencari ikan untuk sarapan mereka.


Dalam kejernihan air tersebut, Ia berharap ada ikan yang lewat meski hanya seekor saja.


Tanpa diduga Ia mendengar suara gemerisik dari balik semak belukar. Tatapan mata tajam dan bathinnya menembus semak belukar. Ia melihat seekor ayam hutan jantan sedang mencari makan dibalik semak.


Melihat Samudera sang kakak sedang mandi, Angkasa melesat ke dalam semak untuk memburu ayam hutan tersebut.


Ia mengendap-endap untuk dapat berburu ayam hutan tersebut.


Ayam jantan itu tampak begitu santai, hingga saatnya Angkasa melemparkan sebilah belati sembari mengucapkan basmallah dan shalawat, dan


Wuuuuusssshh..


Ujung mata pisau tepat mengenai perut ayam hutan jantan tersebut.


Peeeeook...


Jerit ayam tersebut sembari menggelepar dan dengan secepat kikat Angkasa menyembelihnya dan setelah memastikan ayam tersebut telah mati, Angkasa membersihkannya dan mengulitinya.


Ia menenteng ayam tersebut untuk dibawa ke tepi anak sungai untuk disucikan dan akan dipanggang.


Ia bersiul dengan riang dan sesaat Ia terdiam menatap ke anak sungai. Ia berdiri terpaku dan menatap nanar karena tempat dimana Ia meninggalkan kakaknya yang sedang mandi dan tak terlihat Samudera disana.


Ia melemparkan ayam hasil buruannya, lalu menyapu pandangannya pada setiap bobir sungai, dan tidak ada jejak Samudera disana. Namun tombak berkepala banteng milik sang kakak masih terlihat disana, tergeletak bersama dengan pakaian yang dikenakannya, sebab sang kakak mandi menggunakan celana panjangnya.


Angkasa menajamkan mata bathinnya. Ia mencoba mencari keberadaan sang kakak. Namun cahaya kegelapan menutup pandangannya.


Ia duduk bersila diatas batu, mencoba memaksa menembus tempat dimana Samudera menghilang.


Dalam pandangannya. Ia melihat segerombolan siluman Baabi yang bekerjasama dengan Siluman banteng yang merupakan pasukan tersisa dari suruhan Nini Maru telah menculik Samudera saat sedang mandi dan membawanya pergi.


Angkasa hanya dapat melihat sebatas itu saja, sebab setelahnya, pandangannya terhalang oleh cahaua kegelapan yang melingkupi tubuh Samudera sehingga tidak dapat ditembusnya.


Angkasa menghela nafas berat. Ia memungut tombak bertanduk banteng yang menjadi milik kakaknya dan membawanya bersama menuju puncak gunung.


Rasa lapar yang tadinya begitu mendera perutnya, kiji menguap begitu saja. Ia tak lagi merasakan rasa lapar tersebut. Ia bergegas menaiki tebing jurang dan mencoba mencari keberadaan sang kakak.


Angkasa meyakini jika sang Kakak kini berada dalam penyekapan dan membutuhkan pertolongannya.


Nafas Angkasa memburu, Ia sudah berjanji pada ayahnya untuk membawa kembali ke dua orang yang sama Ia cintai, dan tidak boleh ada yang tertinggal salah satunya.


Angkasa terus menyibakkan semak belukar yang tampak menghalangi jalannya.


Mentarri mulai bersinar terik dan tentunya membuat tubuhnya serasa seperti terbakar oleh sengatan sinar mentari.


Ia mempercepat langkahnya. Ia harus menemukan sang Kakak sebelum terlambat.


Angkasa memandang bayangan dirinya. Dimana mentari berada tepat pada bayang manusia. saat dimana tepat pukul 12 siang, dan saat ini waktu para makhluk astral berkeliaran.


Wuuuuuusssh..


Desiran angin yang sangat kencang menerpa tubuh Angkasa dan hampir saja menerbangkannya dan membuatnya oleng sehingga membuatnya berpotensi jatuh ke tebing jurang yang lumayan curam.


Angkasa memejamkan ke dua matanya. Ia melihat dalam mata bathinnya jika saat ini Ia sedang dihadang oleh ratusan siluman yang akan menghalanginya untuk dapat menaiki puncak gunung dan menemukan keberadaan Angkasa.


Sosok siluman yang menculik Angkasa. Mereka menampakkan wujudnya dan membuat formasi lingkaran untuk menghalangi Angkasa.


Angkasa bersiap untuk memberikan perlawanan. Ia mengayunkan tongkat milik Samudera lalu menyalurkan tenaga dalamnya sembari merafalkan ajian segoro geni dan bersiap untuk menahan serangan.


Panglima perang yang merupakan siluman Baabi meniupkan sumpit yang menyasar pada Angkasa.


Dengan gerakan cepat, Angkasa menangkap anak sumpit yang hampir saja menghujam matanya dengan menggunakan jemari tengah dan jemari telunjuknya.


Anak sumpit itu berhasil Ia tangkap dan berada tepat diantara jemari tengah dan jemari telunjuknya.


Lalu dengan gerakan cepat Ia mengembalikannya kepada panglima siluman Baabi itu dengan cepat.


Wuuuusssh.. Sssst..


Anak sumpit mendarat tepat dikening panglima siluman Baabi dan seketika tubuh itu membiru dan membusuk, lalu menjadi serpihan dan tinggal tulang belulang dan akhirnya menghilang.


Seketika para pasukannya tercengang melihat panglima mereka telah musnah. Lalu mereka dengan serentak meniupkan anak sumpit tersebut dan para siluman Banteng melemparkan tombak mereka.


Angkasa dengan gerakan cepat Angkasa memutarkan tombak milik kakanya untuk menghalau segala senjata yang menyerbunya.


Suara dentingan dari tombak yang saling beradu disiang hari terdengar bagaikan suara melody yang sangat mengerikan.


Tring..triiiing..


Wuuuuuush..


Triiiing..triiing..


Suara anak sumpit yang terus berbalik dan bergitu juga tombak yang mengarah kembali ke tuannya.


Suara jeritan kesakitan dan juga lolongan yang mengiringi binasanya para siluman itu begitu menambah keriuhan siang ini.


Perlahan langit yang terang dan sangat terik menurunkan hujannya yang datang tiba-tiba dan biasa masyarakat menyebutnya hujan panas.


Angkasa memasang penutup kepala jaket hoddienya. Ia melihat jika para siluman itu sudah musnah, dan Ia kembali melanjutkan perjalanannya meski hujan masih mengguyur dan Ia tidak perduli akan hal itu.


Satu sosok makhluk melesat dengan cepat dan melayang diudara.


Tubuh kerdil dan hanya rangka setinggi sekitar 25 cm saja dengan rambut yang panjang melebihi panjang tubuhnya. Gigi taring meruncing hingga sampai ke dada dan kuku yang panjang dan juga meruncing menghiasi kuku jemarinya yang berkeriput dan tampak sangat mengenaskan.


Dua bola mata memerah dan dari sudut bibirnya tampak darah merembes keluar yang menandakan Ia baru saja sedang menghisap darah manusia.


Angkasa menatapnya dengan sangat tajam, dan sosok Jenglot alias Ki Kliwon atau juga orang menyebutnya ajian Batara Karang yang merupakan ilmu atau ajian yang membuat pemilik ajian tersebut tidak dapat mati.