
"Dataanglah.. Aku memanggilmu" suara parau dari sosok makhluk bertubuh keriput penuh dengan penuh luka yang mengenakan gaun berwarna merah, dan gaun itu dalam kondisi setengah hangus terbakar.
Sosok bayangan hitam itu datang memenuhi panggilan dari sosok wanita keriput yang tak lain adalah Nini Maru, sang kuntilanak merah.
"Ada apa Ni? Apakah ada yang dapat Aku bantu untukmu" Tanya bayangan hitam tersebut, yang mana kelak akan menjadi mertuanya.
"Carikan untukku tumbal janin.. Aku membutuhkannya" titah Nini Maru tanpa bisa dibantah.
Bayangan hitam itu terdiam.."Tunggulah dalam dua bulan ini, akan ada yang dapat Aku berikan untukmu" ucap Bayangan hitam itu kepada Nini Maru.
"Mengapa harus begitu lama Aku menunggu? Carikan yang dapat Kau cari sekarang! Aku membutuhkannya" titah Nini Maru dengan nada perintah yang tidak dapat dibantah.
"Baikalah, Ni.." jawab Bayangan hitam itu dan menghilang.
Setelah kepergian bayangan hitam tersebut, Nini Maru menatap tajam dengan pandangan lurus kedepan.
Mirnaaaaaaa.....
Suaranya begitu kuat menggelegar dan membahana. Wajah makhluk itu menengadah keaatas menatap langit. Ia penuh kemarahan karena suatu pengkhianatan.
Nada teriakannya penuh amarah, dan juga penuh dendam.
Sementara itu, malam semakin kelam. langit gelap tanpa cahaya rembulan kerena ditutupi awan kelabu.
Udara dingin menusuk hingga ketulang, semua terasa begitu mencekam, sunyi dan juga sepi.
Malam itu tampak Danang dan Nia yang kini menempati rumah Bayu yang lama sedang menanti kelahiran sang jabang bayi.
Menurut perkiraan bidan yang memeriksa kandungannya, calon bayi itu akan lahir sekitar 2 minggu lagi, bisa maju dan bisa juga mundur, tergantung kondisi janin dan juga kondisi kesehatan sang ibu.
Sementara itu, Rumi yang merupakan istri kedua Danang juga sedang hamil muda, Ia sedang mengandung usia kandungan 3 bulan.
Setelah setahun dinikahi oleh Danang secara bersamaan dengan Nia, kini mereka tinggal seatap dirumah almarhum Reza, paman dari Bayu yang kini menjadi majikannya.
Kedua wanita itu memiliki kamar terpisah, dan Danang akan menggilir mereka setiap malam.
Malam ini menjadi giliran bagi Rumi, maka Danang mengunjungi kamar Rumi.
Danang yang bekerja membersihkan kebun dan rumah milik Bayu, memiliki kulit hitam manis, karena terjemur dibawah sinar matahari saat sedang bekerja.
Saat itu, satu sosok bayangan hitam itu menempel ditubuh Danang saat sebelum pria itu memasuki kamar Rumi.
Tiba-tiba saja Danang merasakan tubuhnya sangat kuat dan juga bersemangat.
Danang yang sedang melihat Rumi sudah menunggunya sejak tadi menatap dengan tatapan nyalang dan dengan hasrat menggebu laksana kerasukan iblis, Danang menerkam Rumi bagaikan hariamu lapar.
Dalam keliarannya, Danang seperti tak menghiraukan kondisi Rumi yang sedang hamil muda dan rentan dengan kontraksi.
Berulangkali Rumi mengingatkan agar Danang tidak bermain kasar terhadapnya, namun peringatan Rumi tak diindahkan oleh Danang yang seperti sedang kerasukan iblis.
Hingga 2 jam lamanya Danang mengagahi isyri mudanya hingga tak berdaya.
Setelah penyatuan tersebut, Rumi merasakan perutnya sangat keram, dan tiba-tiba mulas hingga ingin buang air besar.
Lalu tiba-tiba saja rasa ingin buang air besar tersebut begitu sangat kuat, dan...
Bluuussssh...
Sebuah benda segumpalan daging merah dengan bintik putih sebesar kepalan tangan orang dewasa meluncur dengan cepat dari rahim yang Rumi yang saat ini sedang berada ditepian ranjang.
Wajah Rumi memucat karena kelelahan melayani Danang dan juga baru saja mengeluarkan benda tersebut.
pandangam Rumi seketika bagaiakan melihat kunang-kunang yang bertebangan dan kemudian berubah menjadi gelap, dan..
Seerrrrrr....
Darah meluncur deras bersama ambruknya Rumi.
Sesaat bayangan hitam menyambar gumpalan daging merah itu, lalu meyesap darah yang keluar dari rahim Rumi hingga puas, lalu pergi menghilang.
Sementara itu, Danang masih memejamkan matanya, terkapar tak berdaya dengan permainannya selama 2 jam terus menerus mencapai puncak surgawi.
Setelah pukul 2 malam, Danang tersadar dari tidurnya. Ia mengusap kedua matanya, lalu melihat Rumi tampak tertidur pulas, meskipun Ia tidak tahu jika sebenarnya Rumi sedang pingsan.
Danang bangkit dari tidurnya, lalu beranjak ingin menutupi tubuh Rumi yang tanpa busana.
Dan tanpa sengaja Ia melihat darah yang merembes keluar dari rahim istrinya.
Kedua mata Danang membola, dan Ia memucat melihat semuanya.
"Dik, Rumi.. Kamu kenapa, Sayang..?" tanya Danang dengan bingung. Lalu Ia mencoba menyadarkan Rumi yang saat itu sedang tak sadarkan diri dengan mengguncang tubuh Rumi.
Namun Rumi juga belum sadar, hingga akhirnya suara Danang terdengar hingga ke kakamr Nia.
Istri pertamanya itu beranjak bangkit, lalu menuju kamar madunya, dan saat membuka pintu, Ia tersentak karena kaget melihat Madunya berlumuran darah.
"Apa yang terjadi dengan Kak Rumi, Mas..?" tanya Nia bingung. Meskipun usia Nia lebih muda dari Rumi, namun Karena Nia dinikahi terlebih dahulu, maka Nia menjadi istri pertama, namu Nia tetap memanggil kakak pada Rumi.
Danang menggelengkan kepalanya, pertanda Ia juga baru tahu.
Sesaat Nia menghampiri Madunya dengan langkah yang sedikit gontai, karena perutnya yang sangat membuncit. Nia lalu mencoba memeriksa yang terjadi.
"Kak Rumi keguguran, Mas" ucap Nia memastikan analisanya.
"Haaah.. Ke..kenapa bisa?" tanya Danang dengan membolakan matanya.
"Ya mana saya tahu, Mas kekencangan kali goyangnya.. Sebab usia kandungan Kak Rumi masih muda, jadi rentan terhadap guncangan." jawab Nia dengan gamblang.
Danang mengacak rambutnya yang tak gatal, lalu berinisisatif untuk memberikan Rumi jamu yang tersedia dirumah untuk mengeringkan darah tersebut.
Sementara itu, Bayangan hitam tersebut membawa janin tersebut kepada sosok wanita berwajah hancur dan juga pakaiannya yang robek bekas terbakar.
Wanita itu begitu menyukai sajian yang dibawakan oleh sosok bayangan hitam tersebut.
Senyum makhluk mengerikan itu tampak begit sumringah dibalik giginya yang runciing dan juga tajam.
"Ini persembahan untukmu, Ni" ucap sosok bayangan hitam, semabri menyerahkan persembahannya yang berupa janin dalam seonggok daging merah.
"Terima kasih, Kau sungguh Abdi dan sekutuku yang sangat baik.." ucap sosok wanita yang mengerikan itu, yang tak lain adalah Nini Maru.
Nini Maru menatapnya dengan tak sabar. Ia memasukkannya kedalam mulutnya dan mengunyahnya dengan sangat rakus.
Ia menyesap darah yang menempel disetiap jemari tangannya.
rasa manis yang begitu sangat nikmat dan membuatnya selalu ingin dan ingin lagi.
Bersamaan dengan itu, luka diwajahny berangsur membaik sedikit demi sedikit dan energinya kian berangsur bertambah membaik.
"Aku butuh banyak janin lagi, agar pemulihanku segera membaik" ucap Nini Maru dengan suara paraunya.
"Baik Nyi.. Nanti saya akan bantu untuk mencarikannya" jawab bayangan hitam tersebut.
Seketika Nini Maru tertawa nyaring mendengar jawaban dari budaknya tersebut.