MIRNA

MIRNA
Episode 63



Mirna bersandar didinding dapur, jantungnya berdegub kencang. Ia tak menduga jika Nini Maru sudah mengintainya dirumah ini.


Mirna berharap jika janin dalam kandungannya baik-baik saja dan Ia harus menjaganya dengan baik.


Sesaat Syafiyah keluar dari pintu kamar, Ia melihat suasana begitu sepi.


Syafiyah menuju dapur dimana Ia tadi terakhir bertemu dengan Mirna sang madu.


Ia melihat Mirna bersandar didinding dapur, dalam wajah memucat.


"Hei.. Mirna?! Sedang apa kamu disitu?" tanya Syafiyah dengan penasaran.


Mirna menoleh kearah Syafiyah yang memanggilnya, dan berjalan menuju kamarnya. Saat melintasi Syafiyah, Ia berhenti sejenak dan menatap kepada Syafiyah "Untuk saat ini jangan keluar rumah" ucap Syafiyah mengingatkan dan beranjak masuk kekamarnya.


Syafiyah membolakan matanya dan ternganga "Enak saja mau ngatur-ngatur hidupku, emang Dia siapa?" guman Syafiyah dengan kesal.


Mirna memasuki kamarnya, Ia masih teringat akan sosok Nini Maru yang kini sudah terlihat patroli disekitar rumahnya.


"Dasar, Wanita iblis!!" maki Mirna dengan kesal.


Mirna merasakan Jika Nini Maru juga sedang mengincar janinnya, sebagai tumbal terakhir untuk menyempurnakan kesaktiannya, namun masih membutuhkan tumbal janin lain yang masih sangat banyak.


Syafiyah mendengus kesal, Ia tidak suka jika diatur-atur apalagi yang mengatur itu madunya.


Syafiyah merogoh saku celananya. Uang 600 ribu yang dimintanya dsri Mirna waktu semalam masih Ia simpan.


Syafiyah berencana ingin membeli skin care dan alat cosmetik lainnya. Ia begitu iri melihat kulit Mirna yang putih berkilau, bahkan tiada celah sedikitpun.


Bahkan Mirna memiliki wajah Ayu rupawan nan sempurnah. Terkadang Syafiyah merasa minder sendiri.


Syafiyah ingin keluar untuk berbelanja. Ia menuju garasi mobil dan ingin mengeluarkan mobil satunya.


Saat memasuki garasi, suasana sangat gelap, dan Syafiyah merasakan sesuatu yang membuat bulu kuduknya meremang.


Syafiyah memasuki mobil dan menghidupkan mesin untuk memanaskannya terlebih dahulu.


Syafiyah semakin merasakan seauatu yang aneh, dan tanpa sengaja Ia melihat sosok mengerikan sedang duduk dijok tengah mobil sembari menatapnya penuh tatapan tajam dengan bola mata merah menyala, serta seringai tajam yang terselip di sudut bibir atasnya.


Syafiyah tersentak kaget dan berteriak sekuat tenaganya, namun suaranya tercekat ditelinganya dan tak dapat kekuar.


Sosok itu memajukan tubuhnya dan menuju kepada Syafiyah yqng kini sedang dalam ketakutan.


Syafiyah bergetar ketakutan. Tubuhnya menggigil dan tak mampu bertahan lebih lama.


Jemari keriput serta kuku panjang nan runcing itu menjulur meraih bahu Syafiyah. Wajah wanita itu memucat dan raut ketakutan begitu tergambar jelas dimatanya.


Syafiyah berusaha membuka kunci pintu mobil, namun tak dapat terbuka. Tangannya seolah lemah tak bertenaga.


Tiba-tiba saja sebuah sabetan selendang menghempas pintu mobil dan membuat Syafiyah tersentak kaget, lalu dengan hitungan detik selendang itu menarik tubuh Syafiyah keluar dari mobil dan menariknya masuk kedalam rumah, dan pintu tertutup dengan sendirinya.


Syafiyah terhempas dilantai rumah, Ia bingung dengan kekuatan apa yang sedang menyelamatkannya barusan.


Namun Syafiyah bersyukur berhasil dari serangan makhluk meyeramkan yang ada didalam mobil.


Tak berselang lama, Mirna keluar dari kamarnya yang terbuka, tatapannya tampak tajam.


"Sudah saya ingatkan jangan keluar, Mbak.. Tetapi Mbak tidak mendengarkan saya" ucap Mirna dengan tenang, namun penuh penekanan.


Syafiyah menatap Mirna, lagi-lagi Ia harus berhadapan dengan sang Madu, Ia beranjak bangkit dari lantai lalu menuju kamarnya.


Syafiyah masih mengingat wajah makhluk menyeramkan itu. Bola matanya merah menyala, dengan rambut panjang terurai dan wajah setengah hancur.


"Mengapa Mirna seolah mengetahui jika Aku bertemu makhluk itu?" guman Syafiyah dalam hatinya.


Sementara itu, dibawah jurang didekat rumah Mirna ditepi hutan, satu jasad pria yang mulai membususk mengundang hewan carnivora untuk mengerumuninya.


Perlahan perut jasad tanpa identitas itu menggembung dan berisi angin. Pembusukan yang dibantu berbagai hewan terjadi begitu cepat.


Luka dari lato-lato yang terlepas, membuat lalat yang singgah bertelur disana dan mengahasilkan larva.


Perlahan belatung mulai berkumpul dan menggerogoti jasad tersebut, hingga perut itu meletus dan mebgeluarkan cairan hijau yang sangat bau menyengat dan menjijikkan.


Dalam sekejab, jasad itu mulai kehilangan dagingnya karena hewan-hewan yang berebut untuk menjadikan santapan mereka.


Tumpukan dedauanan kering mulai menutupi jasad tersebut, namun kerumunan lalat gak mampu menutupinya.


Kakek Nugroho kembali ke sungai, Ia menatap rumah Mirna dengan tatapan tajam, Ia melihat rumah itu tampak kosong.


Kakek Nugroho berjalan sembari membawa ikan dalam jaringnya. Ia berjalan dengan langkah layaknya seperti seorang pria berusia muda.


Semakin lama, Kakek Nugroho terlihat semakin muda dan tubuhnya tampak sehat.


Ia berjalan menuju warung Lela, sembari membawa ikan dalam jaringnya.


Kakek Nugroho melihat warung Lela yang kini tampak semakin ramai dan banyak pelanggan pria.


Lela yang melihat kehadiran pria senja itu memandanginya dari arah dapur.


Rambut sebahu beruban dan jenggot yang juga sudah memutih membuatnya tampak seperti pria senja pada umumnya, namun dibalik penampilannya itu, ada sesuatu yang tersembunyi.


Yanti menghampiri Kakek Nugroho yang duduk dibangku kosong disudut warung.


Penampilan Yanti yang menggunakan pakaian tanpa lengan dan dengan leher pakain yang melebar, membiarkan sedikit bongkahan melonnya menyembul, serta rok mini yang sedikit mengembang.


"Mau minum apa, Kek?" tanya Yanti dengan nada genit.


Tatapan Kakek Nugroho tampak nyalang, Ia melirik apapun yang disuguhkan oleh Yanti kepadanya.


Yanti duduk didepan kakek Nugroho yang terhalang meja dengan alas seadanya.


Yanti merasakan sebuah sapuan tangan kasar berada di pangkal kakinya. Entah sejak kapan tangan kasar itu bersarang dikakinya.


Yanti menatap mata pria itu dengan sedikit terkejut, namun Ia hanya membiarkannya saja.


"Hemm.. Ternyata benar kata orang-orang, tua-tua keladi, makin tua makin menjadi"ucap Yanti menyindir.


Pria itu hanya membalas dengan tatapan me- sum.


"Kopi hitam satu gelas" ucapnya sembari mencubit pangkal pa-ha milik Yanti.


Yanti sedikit menggeliat, lalu beranjak dan menyeduh kopi yang diminta pria senja itu.


Saat melintasi pekanggan lain, tak jarang tangan nakal menyentuh bokong Yanti yang tampak menonjol, dan hal tersebut yang membuat warung itu semakin ramai dikunjungi para pria.


Yanti bukannya marah, malah membalas dengan mencubit balik pa- ha pria yang mencoleknya.


Sesaat Lela berfikir untuk menyediakan kamar sebagai tempat untuk pria yang mau menyewa jasa layanan plus-plus mereka.


Sepertinya Yanti dapat diajak kerja sama dalam hal ini, dan jika diperlukan, mereka akan menambah karyawan wanita muda untuk memenuhi permintaan pelanggan.


Yanti sudah siap menyeduh kopi untuk dihidangkan kepada kakek Nugroho. Setelah itu Ia kembali ke dapur untuk melayani permintaan pelanggan lainnya.


Saat Ia menuju dapur, seorang pria mengikutinya dan kearah dapur, dan menyelipkan uang di bra Yanti.


Lela yang memergokinya lalu menghampiri keduanya, dan membisikkan sesuatu ketelinga pria itu.


Lalu pria me-sum itu menganggukkan kepalanya pertanda setuju, dan Ia memberikan beberapa lembar uang kepada Lela dan Yanti juga melirik pertanda setuju.


Lalu Yanti dan pria itu masuk kedalam rumah dan menuju kamar Lela yang kini berubah fungsi untuk dijadikan tempat me- sum.