MIRNA

MIRNA
episode 161



Suara tawa cekikikan dari Yanti yang kini menyatu dengan Nini Maru masih terdengar jelas ditelinga warga, hingga suara itu menghilang.


Didi yang melihat kerumunan warga dan mengatakan jika Ayah Dino melihat sosok kuntilanak sedang mengawasi jendela kamarnya seketika bergidik.


Seketika suasana malam itu menjadi riuh. Warga mulai menjadi was-was.


"Desa kita mengapa menjadi sangat menyeramkan? Siang tadi foto kakek pencari ikan itu sedang diburon polisi karena disinyalir dalang dari korban hilangnya organ Vital yang mati secara mengenaskan" ungkap seorang warga lali-laki.


"Iya.. Kini ada pula kuntilanak yang mengincar janin" warga lainnya menimpali.


"Desa Kita sedang tidak baik-baik saja. Ada praktek ilmu hitam ataupun pesugihan di desa ini" ujar Ayah Dino.


Seketika warga saling pandang, dan mereka harus meningkatkan penjagaan bagi wanita hamil dan juga para remaja laki-laki mereka agar tidak berkeliaran diluar rumah apalagi sampai berniat berbuat maksiat.


"Kita harus buat ronda bergilir untuk menjaga keamanan desa. Namun yang memiliki istri sedang mengandung wajib menjaga istrinya" Seorang diantaranya mengusulkan.


Lalu warga menganggukkan kepalanya pertanda setuju.


lalu warga mulai membubarkan diri dan esok akan diadakan rapat untuk memulai membuat ronda agar tidak ada lagi korban berjatuhan yang akan membuat desa seperi mati.


Sementara itu, Didi masuk ke dalam kamar dan mendekap istrinya. Ia merasa begitu sangat khawatir saat mendengar jika ada kuntilanak yang menyatroni rumahnya.


Ibunya Didi masuk kedalam kamar menantunya dan mencoba duduk ditepian ranjang.


Wanita paruh baya itu memandang menantunya.


"Bu. Apakah ada jenis iblis yang menginginkan tumbal janin?" tanya Didi kepada Ibunya.


wanita paruh baya itu menganngukkan kepalanya.


"Ya.. Dan disetiap daerah ada sebutannya masing, semisal Kuyang, palasik dan sebagainya. Itu kuat kaitannya dengan manusia yang bersekutu dengan iblis tersebut.." jawab wanita paruh baya itu.


"Itu artinya ada seseorang yang bersekutu dengan iblis di desa ini?" tanya Didi.


Ibunya hanya menganggukkan kepalanya "Bisa jadi"


"Untuk apa Ia bersekutu dengan iblis tersebut?"


"Banyak kebutuhan, ilmu hitam, kekakyaan, kejayaan dan sebagainya?"


Didi menghela nafasnya dengan sangat berat.


"Wanda.. Kamu harus mengukuti pituah orang-orang masa dulu. Jangan keluyuran di waktu maghrib, apalagi mandi saat masa-masa waktu itu. Jangan tidur di waktu maghrib, dan lupa selalu berdoa meminta keselamatan dan perlindungan dari Rabb-Mu" ujar sang mertua kepada menantunya.


Wanda menganggukkan kepalanya, lalu mencoba mengingat pesan sang ibu mertuanya.


*****


Siang harinya, para warga berkumpul dan membahas tentang ronda yang akan dilaksanakan mulai malam ini.


Setelah disepakati, setiap malam akan ada 4 orang yang akan berjaga untuk ronda.


Hal tersebut akan membuat warga semakin waspada terutama yang memiliki anggota keluarga yang sedang mengandung.


Issu tentang adanya kuntilanak tersebut terus menyebar hingga keluar dari desa dan merembet hingga ke desa tetangga.


Bahkan munculnya kuntilanak yang selalu bersamaan dengan iblis yang mengambil organ inti pria juga menjadi perbincangan yang hangat dan menggemparkan.


Bahkan issu tentang kuntilanak yang membuat Syafiyah tewas saat melahirkan menjadi perbincangan kembali, jika ini ada kaitannya dengan almarhum Ki Karso beberapa puluh tahun yang lalu.


Warga mulai mengungkit-ngungkit kisah kelam tersebut, dan kini keluarga Satria menjadi sorotan dan mulai adanya bisikkan-bisikan tetangga yang mulai terdengar ditelinga Satria dan juga Mirna.


"Mas.. Cepat Khitan Samudera dan juga Angkasa sebelum semuanya semakin memburuk. Samudera saat ini dalam incaran Nini Maru" ucap Mirna kepada Satria.


"Baiklah.. Dimana kedua anak itu?" tanya Satria kepada Mirna.


"Sedang tidur di kamar" jawab Mirna


Saat Mirna membuka pintu kamar, Mirna tersentak saat melihat keduanya tak lagi tampak didalam kamar.


"Mas.. Samudera dan Angkasa tidak ada didalam kamar" ucap Mirna yang sedikit panik, namun berusaha mencoba tenang.


Satria memejamkan kedua matanya, lalu mencari keberadaan ke dua puteranya.


Tampak olehnya kedua puteranya sedang bermain di kolam galian belakang rumah milik warga yang terdapat didekat jurang. Kolam galian itu berisi bibit ikan dan tentunya sangat dalam.


Satria melesat menghampiri kedua puteranya yang mencoba bermain dipinggiran kolam tersebut.


"Apa yang kalian kerjakan didekat kolam ini? Tanya Satria dengan nada tenang namun membuat keduanya gemetar.


Keduanya tertunduk karena ketakutan, dan tak ada yang dapat menajwab.


"Pulang.. Dan jangan sampai Ayah melihat kalian berada ditempat ini lagi, faham..?!" hardik Satria yang membuat keduanya menggigil ketakutan.


Lalu keduanya beranjak dari tepian galian dan melangkah menaiki tebing dan menuju pulang ke rumah.


Setelah keduanya sampai didalam rumah, Mirna meminta keduanya untuk segera mandi, sebab akan segera dikhitan.


Keduanya masih bingung dengan khitan dimaksud ibunya, namun mencoba mematuhi agar tak lagi kena omelan.


Setelah kedua bocah itu selesai mandi, lalu Satria memasuki kamar kedua anaknya.


Satria membawa semua peralatan medisnya dan akan mengkhitan kedua puteranya.


Hal ini diketahui oleh Nink Maru, dan tentu akan membuat petaka bagi dirinya.


"Tidaaaaaak.. Rey.. Cepat gagalkan usaha Satria untuk mengkhitan puternya.." titah Nini Maru dengan panik.


Namun Rey sendiri bingung bagaimana caranya menghalanginya.


Melihat Satria mengeluarkan alat laser untuk mengkhitan, kedua anaknya merasa bingung dan juga penasaran "Itu untuk apa, Yah?" tanya Samudera dengan penasaran.


"Berbaringlah, Ayah akan mengkhitanmu" ucap Satria dengan berusaha tenang.


Keduanya masih bingung, namun melihat sang Ayah menghampirinya dengan alat-alat yang sangat mengerikan membuat bocah itu protes.


"Ayah mau ngapain?" tanya Sanudera protes dengan ketakutan.


"Tidak ada, hanya ada kotoran di organ pipismu, jadi ayah mau buang kotoran itu" jawab Satria.


Namun saat itu, atap rumah Satria seolah sedang dilempar sebuah bongkahan batu besar, dan membuat Mirna tersentak.


"Bereskan mereka" titah Satria kepada Mirna.


Mirna menganggukkan kepalanya, lalu melihat leluar rumah dan Ia melihat Rey sedang berusaha merusak konsentrasi Satria dengan suara-suar berisik yang merupakan teluh dan juga santet yang dikirim oleh Nini Maru.


Namun Mirna meminta Chakra Mahkota untuk segera membinasakan Rey, sebab kini kekuatan Mirna hanya tinggal setengah saja, sebab telah diberikan kepada kedua puteranya.


Melihat naga itu menjelma, Rey memilih ngacir dan proses khitan berjalan lancar.


Nini Maru yang mengetahui hal tersebut menjadi murka, lalu menghempaskan Rey sebagai wujud kekesalannya.


"Ni.. Aku sudah berusaha menggagalkannya, namu rumah itu sulit ditembus dan Chakra Mahkota selalu ikut campur dengan semua urusan kita" ucap Rey mencoba membela dirinya.


"Celaka.. Celakalah.. Ini akan membuat kehancuranku semakin dekat.. Kau sangat tolooll..!" maki Nini Maru kepada Rey dengan kesal.


Samudera yang baru selesai di khitan meringis "Apa ini, Yah? Mengapa bentuknya jadi berbeda?" tanyanya dengan penasaran.


"Itu tandanya kau akan menuju pendewasaan dan kotorannya sudah hilang" jawab Satria.


Lalu Ia menuju Angkasa dan tampak bocah itu nyengir menatap Ayahnya "Apakah aku juga?" tanya Angkasa kepada Satria dan melihat Ayahnya sudah memegang alat yang sama saat mengkhitan sang Kakak.


"Ibuuuuuu..." teriak Angkasa saat Ayah mulai mengkhitannya.