MIRNA

MIRNA
Episode 45



Widuri bersikap acuh kepada Satria yang sedang mengomel kepadanya.


"Bagaimana, apakah Kau sudah memikirkannya?" tanya Widuri dengan santai.


"Memikirkan apa?" tanya Satria balik tanpa menoleh kearah Widuri.


Widuri memiringkan tubuhnya dan menatap kepada Satria. "Apakah Kau sudah memikirkan untuk menikahi Mirna?" tanya Widuri dengan tatapan penuh selidik.


"Kau ini sama saja, bagaimana jika Aku menikahi saja?" jawab Satria ketus.


"Boleh juga.. Kapan rencananya?" ucap Widuri sembari menatap Satria yang masih terlihat ketus.


Satria mendenguskan nafasnya dengan kesal, lalu memunggungi Widuri dan mencoba untuk tidur "Pergilah.. jangan membuatku khilaf dengan tidur bersamaku" titah Satria lirih.


Terdengar suara Widuri tertawa nyaring, lalu pergi meninggalkan Satria.


Satria mengerjapkan kedua matanya saat mengetahui Widuri telah pergi dari ranjangnya.


Satria merasa sangat dilema, Ia memandang Syafiyah sedang tidur terlelap dan tampak menderu nafasnya.


Haruskah Ia menikahi gadis itu hanya karena permintaan istrinya? Ia semakin bingung ketika ketiga wanita itu juga mendesaknya untuk menikahi Mirna.


Mentari pagi bersinar dengan sangat terang, menghangatkan setiap insan dan makhluk hidup lainnya.


Mirna sudah berjalan menuju rumah Satria. Ia ingin mengerjakan tugasnya sesuai perjanjian dengan Satria bahwa Ia bertugas membersihkan rumah, namun terkadang Ia juga harus membersihkan Syafiyah.


Sesampainya dirumah Satria, Ia memulai pekerjaannya dan seperti biasa menyapu dan mengepel rumah.


Setelah membersihkan rumah, Ia memasak untuk makan siang dan kini ingin memandikan Syafiyah.


Tampaknya Satria sedang sangat sibuk hari ini, sehingga lupa untuk memandikan Syafiyah.


Mirna menggendong tubuh Syafiyah, lalu membawanya kekamar mandi.


Satria melirikny melalui ekor matanya saat melihat gadis itu menggendong Istrinya kekamar mandi.


Setelah kedua wanita itu masuk kedalam kamar mandi, Satria mendenguskan nafasnya, lalu duduk bersandar dan menengadahkan kepalanya sembari memejamkan kedua matanya.


Satria keluar dari kamarnya, lalu menuju meja makan. Saat menyingkap tudung saji, Ia melihat dimeja makan telah tersaji menu makan siang. Sepertinya Mirna telah memasak dan ada beberapa lauk pauk yang tampak begitu menggiurkan, sepertinya Mirna pandai juga memasak.


Satria memakan masakan Mirna, terasa cocok dengan lidahnya, hampir sama seperti masakan Mala Ibunya.


Tanpa terasa Satria menghabiskan banyak makan siangnya, lalu Ia melihat Mirna keluar dari kamarnya dan menuju kedapur.


Satria buru-buru meletakkan piring kotonya diwashtafel, Ia tidak ingin terlihat begitu menikmati masakan Mirna.


Saat Mirna sudah didapur, Ia beranjak bangkit dan menuju kekamarnya tanpa menyapa Mirna.


Saat hampir dengan pintu kamarnya. Satria berlari dan masuk kekamar dengan cepat.


Saat berada didalam kamar, Ia melihat Syafiyah tekah rapih dan juga wangi.


Syafiyah menatapnya dan Ia tahu apa yang ada didalam tatapan istrinya.


Satria tersenyum miris, lalu kembali ke meja kerjanya, dan kembali mengerjakan pekerjaannya.


Sesaat Satria kembali gelisah dengan tatapan Syafiyah yang tampak begitu menghiba.


Satria kembali keluar dari kamarnya dan menemui gadis itu. Tampak Mirna sedang mencuci piring di washtafell.


Satria menghampirinya, dan duduk dikursi makan. Ia menatap Mirna dan tampak bingung harus mengatakan apa.


"Emm.. Mirna" ucap Satria bingung. Mirna menyelesaikan cucian piring terakhirnya "Ya.." jawab Mirna setelah meletakkan piring ke rak piring.


Seketika suasana hening, dan tampak sepi. Mirna menatap pria didepannya "Alasannya?" tanya Mirna dengan lirih.


"Karena Syafiyah yang memintanya" ucap Satria dengan cepat.


Lalu Mirna memalingkan wajahnya dan memutar tubuhnya membelakangi Satria "Menikahlah denganku, saat hatimu benar-benar ingin menikahiku dari hatimu bukan karena seseorang yang memintamu" ucap Mirna dengan nada yang terdengar miris.


"Tetapi Aku akan belajar menerimamu, dan ini keinginan Syafiyah, jadi Ku mohon mengertilah" pinta Satria dengan wajah memelas.


Sesaat Mirna memandangnya "Baiklah.. Namun ada syaratnya" jawab Mirna dengan sebuah syarat yang harus dipenuhi Oleh Satria.


"Apa itu" jawab Satria dengan cepat.


"Jangan menyentuhku, jika hanya karena hasratmu saja, bukan karena ketulusanmu..!" ucap Mirna dengan tatapan tajam.


"Baiklah.." jawab Satria. Lagi pula Ia tidak mungkin akan menyentuh gadis itu, sebab Ia menikah juga karena sebuah desakan dari ketiga wanita tersebut.


Mirna mendenguskan nafasnya dengan berat, lalu menatap Satria yang tampak seperti sangat gugup.


"Kapan Kamu menikahiku?" tanya Mirna dengan penasaran.


"Aku akan mengurus berkas-berkasmu terlebih dahulu, mungkin sekitar 2 hari lagi akan selesai" jawab Satria menjelaskan.


Seketika Mirna menganggukkan kepalanya, dan Ia meminta untuk pulang cepat karena Ia belum mencuci pakaiannya.


Satria menganggukkan kepalanya dan Mirna berpamitan pulang.


Sesampainya dirumahnya, Mirna mengemasi pakaian kotornya dan pergi kesungai untuk mencuci. Hari sudah menunjukkan pukul 2 siang, dan Mirna tampak begitu sangat serius dalam mencuci pakaiannya.


Sembari mencuci, Ia memikirkan perkataan Satria yang begitu sangat membuatnya merasa gelisah.


Siapa yang tidak senang saat mendengar pria pujaannya ingin menikahinya, namun pria itu menikahinya bukan karena keinginannya, namun hanya karena merasa ditekan dan memenuhi keinginan istrinya.


Namun Ia merasa heran, mengapa Syafiyah rela berbagi suami dengannya, tidakkah Syafiyah takut jika cinta Satria terbagi untuknya, namun Ia juga harus sadar diri, jika sejatinya cinta Satria hanya untuk istrinya, Syafiyah.


Sementara itu, Satria mengurus berkas-berkas surat kependudukan Mirna sekaligus buku nikah mereka di KUA.


Dengan kekuatan uang, Ia dengan mudahnya mengurus semuanya dalam hitungan mudah. Namun Mirna harus hadir kekantor Capil untuk melakukan rekam dan sidik jari di kantor Catatan sipil.


Satria terpaksa menjemput Mirna kerumahnya, saat melihat Mirna tidak ada dirumah, maka Satria menuju sungai dan melihat gadis itu baru saja selesai mandi dan membawa pakaian yang baru saja dicucinya.


Satria membolakan matanya melihat tubuh gadis itu yang hanya berbalut kain sarung untuk menutupinya.


Seketika Satria segera beristighfar dan memalingkan wajahnya lalu menuju ke mobilnya.


Setelah menunggu beberapa lama, Ia melihat Mirna yang sudah tampak rapih dan membuka pintu rumahnya karena melihat Satria didalam mobilnya.


Ia segera menghapiri Satria, lalu membuka pintu mobil tersebut.. "Ada apa?" tanya Mirna dengan nada datar.


"Hanya ingin mengajak Kamu buat mengambil data dikantor catatan Sipil" ucap Satria menjelaskan.


Mirna hanya menganggukkan kepalanya, dan mengunci pintu rumahnya. Dan tanpa dipinta oleh Satria, Ia memilih naik ke jok tengah dan memilih untuk duduk disana.


Satria melajukan mobilnya dan menuju kantor capil untuk membawa Mirna untuk melakukan perekaman tentang data dirinya.


Saat berada dikantor capil, Mirna mulai melakukan perekaman wajah dan juga sidik jari.


Petugas yang merekam data diri Mirna merasa bingung saat melihat sidik jari Mirna yang sangat berbeda dari semua warga yang pernah direkamnya.


Namun Ia mencoba menepiskan segala rasa penasarannya, sebab Satria telah membayarnya dengan jumlah yang banyak.