
Mirna kembali merasakan tubuhnya pulih setelah Satria memberikan madu kehidupannya. Ia melihat ranjangnya yang kini pria itu sedang tertidur sangat lelapnya.
Mirna berjalan menuju keluar dari kamar dan ingin pergi kedapur untuk mengambil air putih karena merasakan tenggorokannya sangat kering.
Ia berjalan menuju dapur, lalu menuangkan air kedalam gelas dan meneguknya.
Saat itu Ia mendengar suara rintihan yang menyayat hati. Mirna menajamkan pendengarannya dan memastikan jika itu suara dari kuntilanak yang baru saja menjadi dan umurnya masih terlalu dini.
Mirna memejamkan matanya, lalu mencoba menemui sosok itu dengan sukmanya.
Ia melihat sosok itu tanpa sehelai benangpun dan dalam kondisi menggendong sosok orok yang sangat mengerikan.
Mirna mencoba menyapanya "Apa yang kau lakukan disini?" tanya Mirna mencoba beramah-tamah. Sosok itu menoleh ke arah Mirna, wajahnya sangat pucat dan Ia begitu sangat membutuhkan pertolongan.
"Dimana gaunmu?" tanya Mirna lagi.
Sosok itu menggelengkan kepalanya, Ia kembali merintih dengan rintihan yang menyayat hati.
Mirna melihat jika Nini Maru telah merampas gaunnya, dan Mirna mencoba untuk membantunya.
"Tetaplah disini, aku akan mengambilkan gaun untukmu" ucap Mirna, lalu melesat kembali kerumah dan mencoba mengambil sebuah gamis berwarna putih dan kembali ke tempat sosok kuntilanak itu dan memberikan gamis itu kepada sang kuntil.
"Ambillah, dan kenakan" ucap Mirna sembari memberikan gamis itu kepada sosok kuntilanak yang tak lain adalah Rini.
Sosok itu dengan cepat meraihnya dan mengenakannya.
"Apa yang sedang Kau lakukan disini?" tanya Mirna kepada Sosok Rini.
"Aku ingin jasadku disempurnakan" jawab sosok Rini dengan suara lirih dan sangat penuh harapan.
Mirna memejamkan kedua matanya dan mencoba mencari jawaban dari apa yang diucapkan oleh sosok Rini.
Lalu Ia membuka kedua matanya, dan menatap iba pada sosok Rini.
"Baiklah, Aku akan membantu penyempurnaannya, tetapi berjanjilah untuk tidak mengganggu warga disini, apalagi sampai berkeliaran dan membuat ke onaran" ucap Mirna kepada sosok Rini.
Sosok Rini menganggukkan kepalanya, lalu berpamitan dan mengjilang setalah Ia mendapatkan apa yang diinginkannya.
Namun diluar dari perjanjiannya dengan Mirna, Ja sepertinya ingin memberikan balasan kepada ketiga temannya yang telah menenggelamkan jasadnya didasar rawa.
Sosok Rini kini melayang dan tentunya dengan gaun terbarunya yang dibeli Mirna dari sebuah pusat perbelanjaan saat sering menemui Satria dikota saat masa kehamilannya waktu itu.
Dalam kegelapan malam, sunyi dan mencengkam. Rini melihat ketiga sahabatnya sedang berkumpul disebuah warung yang sudah hampir tutup dan menjadi tempat mereka mangkal.
Ketiganya merasa sangat sial malam ini, karena mereka hanya dibayar sekian puluh ribu saja, dan itu tidak cukup untuk membeli rokok mereka apalagi untuk membeli narkoba meskipun hanya sedikit saja.
Mereka tidak bisa hidup tanpa mengonsumsi sabu meski hanya sedikit saja.
Sehari saja tidak mengonsumsi benda haram itu akan itu akan membuat mereka seperti orang yang tidak waras, meskipun sebenarnya mereka juga sudah setengah tidak waras.
"Bagaimana ini? Kita tidak mendapatkan uang cukup untuk membeli sabu malam ini" ucap Tia kesal.
Sosok Rini memperhatikan ketiga sahabatnya yang bahkan tidak merasa bersalah setelah mencampakkannya kedalam rawa.
"Kalau begitu kita kumpulkan uang ini menjadi satu dan kita bisa menukarnya dengan sebungkus sabu" jawab Tini menyarankan.
Tia mencoba mencari jalan tengah permasalahan mereka "Begini saja, Kamu kan sedang tidak dapat langganan tadi, bagaimana jika sisa kekurangannya dibayar sama kamu saja" Tia menyarankan.
Ziyah menatap pada Tia "Huuh.. Dasar, Ya kalian" jawab Ziyah semakin kesal.
"Nah..itu baru bener.. Ayolah Ziyah.. Berkorbanlah demi sahabatmu" ucap Tini mencoba mengompori.
Ziyah mendenguskan nafasnya dengan kesal "Okelah, coba hubungi Kang Jojo, suruh dia antar barangnha kemari" ucap Ziyah kepada keduanya.
Lalu dengan tatapan penuh kelicikan, Tia dan juga Tini menganggukkan kepalanya.
Rini menatap para sahabatnya yang ternyata didalam hati mereka itu tidak ada saling ketulusan, tetapi memanfaatkan dan mengambil keutungan dari sahabatnya sendiri.
Pemilik warung ditepi jalan itu menutup warungnya dan meninggalkan ketiganya, malam ini Ia hanya mendapatkan setoran 20 ribu saja dari ketiganya, karena ketiganya tak mendapatkan pelanggannya.
Pemilik warung itu meninggalkan ketiganya dengan wajah masam dan sangat kesal.
Setelah pemilik warung itu pergi, maka ketiganya membuat rencana untuk malam ini.
Tia segera menghubungi Kang Jojo yang saat ini sedang sangat mereka harapkan.
Setelah mendapatkan jawaban dari Jojo yang bersedia datang, mereka merasa sangat senang.
Lalu tak berselang lama, pria bertubuh gempal dengan perut membuncit menghampiri ketiganya.
"Ini barangnya, mana uangnya?" tanya Kang Joko kepada ketiganya" lalu Tia memberikan uang 60 ribu rupiah kepada Jojo.
Pria itu mengerutkan keningny "Waah.. Ini mah kurang uangnya" ucap Jojo dengan cepat dan penuh penekanan.
"Iya, Kang.. Kami tau, maka itu kekurangannya Ziyah yang akan membayarnya dengan kehangatan" jawab Tia cepat.
Jojo mendenguskan nafasnya dengan kesal "Gak perlu.. Ini saya anggap hutang sisa 40 ribunya, dan jkka lewat dari 4 hari, maka menjadi 80 ribu" jawab Jojo.
Ziyah banggkit dari duduknya dan menghampiri Jojo "Kan sudah saya bilang saya bayar dengan kehangatan kenapa ditolak, Kang?" ucap Ziyah sembari membelai nakal tubuh Jojo.
Jojo menepis tangan Ziyah, lalu menatap sinis "Halaaah.. Kalian itu sudah pernah saya cicipi, dan gak ada yang enak.!! Sudah.. Ini saya anggap hutang sisanya, dan ingat, lewat 4 hari akan berlipat" ucap Jojo yang terdengar menyakitkan hati, namun ketiganya butuh barang itu.
Jojo beranjak pergi, lalu mengendarai motornya dan dengan kecepatan tinggi meninggalkan ketiganya yang tampak sangat kesal.
Ketiganya memaki Jojo yang sudah menghina mereka dan itu sangat menyebalkan.
Namun mererka sudah tak sabar mengonsumsi barang itu dan rencananya akan digunakan secara bergantian.
Setelah mempersiapkan alat hisapnya mereka bergantian mencoba menghisapnya. Lalu mereka mulai mengigau tak jelas.
Sesaat Sosok Rini melayang menghampiri ketiganya yang saat ini ingin memperingatkan kepada ketiga remaja yang dulu mereka begitu sangat dekat dan juga akrab.
Ketiga remaja yang sedang sakau itu tampak meracau tak jelas, dan hingga pada saatnya Rini duduk disisi Tia, Tini dan juga ziyah.
Rini menghenbuskan angin berhawa dingin kepada Ziyah, dan itu membuat sang gadis merasakan bulu kuduk nya meremang, dan saat Ia mencoba menoleh ke arah belakang, dan alangkah terkejutnya Ia saat melihat sosok Rini dengan wajah pucat menatapnya penuh amarab.
Seketika Ziyah berteriak ketakutan dan mencoba memberitahu kedua sahabtnya jika Ia melihat sosok Rini dengan tatapan sangat mengerikan.