MIRNA

MIRNA
episode-281



Keduanya berjalan tertatih menuju sepeda motor mereka yang mengalami sedikit ringsek, namun masih dapat digunakan.


Warga membantu mereka menegakkan sepeda motor yang terlempar tersebut.


Lalu keduanya berpamitan untuk pergi ke sekolah dan mereka mengucapkan teriamakasih kembali kepada warga yang sudah ikhlas membantu mereka dan mereka menuju ke sekolah meski mereka tahu jika mereka sudah terlambat.


Sesampainya disekolah, mereka sudah terlambat dan memasuki kelas dengan luka lecet dan pakaian mereka juga tampak banyak mengalami robek dibeberapa bagian.


Teman-teman mereka memandang dengan perasaan penuh penasaran begitu juga dengan guru mereka.


Samudera mengambil soal yang ada dimeja guru "Apa yang terjadi pada kalian?" tanya guru bidang study fisika yang melihat kondisi Samudera begitu sangat mengenaskan.


"Maaf kami terlambat, Bu. Karena mengalami kecelakaan dijalan saat menuju ke sekolah" jawab Samudera.


Guru wanita tersebut mendenguskan nafasnya "Baiklah.. Ibu beri tambahan waktu 5 menit, dan kerjakan soalnya dengan benar. setelah itu pergi ke ruang UKS untuk mengobati luka kalian!" ucap sang guru sembari menyerahkan dua soal tertulis kepada Samudera.


Namun guru itu mengingat jika setelah ini ada ujian sejarah yang akan menyusul. Perasaan iba datang dari hatinya, lalu Ia keluar dari dalam kelas.


Samudera dan Angkasa mencoba mengerjakan materi soal yang diujikan meski harus menahan rasa nyeri dari luka mereka.


Tak berselang lama, suara bel berbunyi, dan para siswa lainnya mengumpulkan soal ujian beserta jawabannya dan karena masih ada tambahan waktu 5 menit, maka Samudera dan Angkasa mempercepat menyelesainkan soalnya sebelum waktu yang diberikan habis.


Dan mereka menyelesaikannya dalam waktu yang telah diberikan dan tersisa beberapa detik saja.


Tak berselang lama, guru wanita itu datang membawa kotak P3K yang berisi beberapa obat-obatan dan menghampiri kedua bocah tersebut.


Lalu Ia menuangkan cairan Rivanol ke kapas dan meminta Samudera menyingkap celana panjangnya sebatas lutut, karena lututnya yang tampak robek.


Samudera menggulung celananya dan tampak luka robek yang cukup parah. Saat guru wanita itu membersihkan lukanya, membuat Samudera mengringis kesakitan "Ibuu.." gumannya lirih sembari merapatkan giginya.


Entah mengapa Ia terbayang wajah Mirna sang Ibu saat merasakan sakit dilututnya.


Sedangkan dialam lain yang tak kasat mata, sebuah hati yang kini terkurung cahaya kegelapan merasakan seseorang memanggilnya. Hatinya tergetar, merasakan sebuah panggilan jiwa yang meski hanya sebutir debu.


Ia menatap sekelilingnya dan memandang dengan kekosongan jiwa.


Para iblis datang berkumpul dan melaporkan jika mereka gagal dalam mencelakai Samudera dan mereka berjanji akan segera melaksanakan perintah tersebut sampai dapat membawa Samudera ke tempat mereka untuk persembahan.


Disisi lain, ibu gurunya memberikan cairan antiseptik dan menempelkan plaster untuk luka, lalu melakukan hal yang sama pada luka lainnya dan juga luka Angkasa.


"Sudah..! Lain kali kalau naik motor jangan ngebut! Dengar?!" omel Ibu guru tersebut.


Keduanya menganggukkan kepala "Dengar, Bu.. Terimakasih sudah diobati" Ucap Samudera dan Angkasa.


Guru fisika itu tersenyum tipir sembari membawa kotak P3K-nya dan mengumpulkan semua kertas jawaban dan juga soal dan meminggalkan kelas.


Lalu pergantian guru dimulai, dan siswa kembali senyap untuk mengerjakan soal Sejarah dan ujian kembali dilanjutkan.


Beberapa waktu berlalu dan terdengar suara bel berbunyi dan para siswa mengumpulkan kertas jawaban dan soal. Alex menghampiri keduanya dan meraih kertas soal serta kertas jawaban ujian dari keduanya. "Sini. Biar Aku yang bawa ke depan" ucap Alex sembari memungut kertas tersebut dan beranjak meninggalkan keduanya.


Jam istirahat telah tiba, dan masih ada satu soal ujian terakhir setelah istirahat.


"Kalian mau nitip apa ke ke kakantin?" tanya Alex dengan tulus.


"Nitip gorengan dan juga minuman cup dingin" ucap Samudera sembari menyerahkan uangnnya.


"Sudah, pakai uangku saja" ucap Alex lalu beranjak keluar dari kelas dan meninggalkan ke duanya.


Leni yang sedari tadi penasaran melihat keduanya menghampiri Samudera dan Angkasa. Ia duduk dikursi kosong dan menatap dua bocah tampan tersebut.


"Gimana ceritanya kalian bisa kecelakaan sampai mengenaskan seperti ini?" ucap Leni yang melihat pakaian mereka kena noda darah juga.


"Tidak fokus saja saat menyetir, jadi tidak lihat ada kaleng minuman didepan dan akhirnya tergelincir" jawab Angkasa berbohong. Karena tidak mungkin Ia mengatakan jika mereka mengatakan ada makhluk iblis yang menyerang mereka, yang ada mereka akan dikatakan sedang berhalusinasi dan mencari sensasi


"Kamu gak tidur semalaman, Ya? Bergadang main Game online?" tuding Leni kepada ke duanya.


Samudera menggelengkan kepalanya " Kami tidak mengenal game online. Darimana kamu tahu kami bergadang?" tanya Angkasa.


"lihat, Tuh..! Mata kalian sudah seperti mata panda" jawab Leni dengan tatatpan tanpa ekspresi-datar.


Keduanya mengakui jika dua malam ini mereka bergadang, namun bukan untuk game online, melainkan misi untuk menyelesaikan ritual pendalaman ilmu kanuragan ajian segoro geni serta dzikir untuk menyelamatkan ibunda mereka dan itu juga adalah rahasia keduanya yang orang lain tidak boleh mengetahuinya.


"Mungkin kami memang tertidur agak larut malam. Terimakasih atas perhatian kamu" jawab Samudera.


Leni hanya menggedikkan bahunya dan memanyunkan bibirnya.


"Terimakasih, Lex.." ucap keduanya, dan Alex hanya menjawab dengan menaikkan ke dua alisnya.


Leni ikut mencomot gorengan dalam plastik kresek tersebut dan merampas minuman cup milik Samudera dan menyeruputnyanya tanpa permisi, lalu meletakkannya diatas meja.


Samudera hanya mendenguskan nafasnya melihat sikap Leni yang sudah terbiasa berbuat seperti itu kepada siapapun.


"Motor kalian ringsek parah juga! Berarti kalian Mengalami kecelakaan yang cukup parah?!" ucap Alex penuh selidik.


"Ya..bagaimana kau tahu" Jawab Angkasa.


"Tadi Aku penasaran dan mencoba ke parkiran untuk melihatnya" jawab Alex.


Obrolan mereka terhenti saat bel berbunyi dan mereka kembali ke bangku masing-masing untuk mengikuti ujian selanjutnya. Sesaat Samudera dan Angkasa baru mengingat jika mereka sedang melakoni puasa mutih, dan untungnya Leni merampas minuman Samudera dan gorengan mereka, sehingga mereka tidak batal dalam berpuasanya.


Sementara itu, Satria masih terus menggaungkan doanya meminta agar jantung hatinya dikembalikan ke sedia kala. Ia merasakan saat ini jika kekasih hatinya telah berbelot dan butuh pertolongan segera.


Namun bagaimana mungkin jika penyelamatan Mirna harus menukarkan jiwa Samudera untuk menjadi syaratnya. Ia tidak ingin kehilangan ke duanya, dan terus berusaha untuk mengirimkan segala doa yang Ia panjatkan agar ada setitik cahaya yang dapat memberi celah untuk membuat Mirna kembali sadar.


Sanudera dan Angkasa tiba dirumah dengan kondisi mengenaskan. Satria menghentikan ritualnya. Ia menyeka darah yang keluar dari mulutnya dan keluar menemui keduanya.


Tampak kedua puteranya sangat menegenaskan membuat Satria menghampiri mereka.


"Segera salin pakaian kalian, shalat Dzuhur dan tidur siang, sebab malam nanti kalian setelah ritual dan sahur tidak akan diperbolehkan tidur hingga subuh menjelang" titah Satria kepada ke duanya.


Samudera menatap Satria-Ayahnya penuh seribu tanya. Namun Ia menyembunyikannya dan tak ingin ayahnya bertambah risau.


Keduanya memasuki kamar dan bersalin pakaian, lalu shalat Dzuhur dan tak lupa mereka merafalkan doa mantra ajian segoro geni agar ajian itu segera meresap dan menyatu dengan tubuh mereka.


Keduanya menuruti perintah dari sang ayah. Angkasa sudah tertidur, sedangkan Samudera begitu sulit untuk memejamkan matanya.


Ia mengingat sebuah kalimat yang diucapkan oleh Iblis yang menyambarnya "Kau harus mati, atas perintah ibumu, Mirna!" ucap iblis itu dengan nada menyeramkan.


Angkasa mendenguskan nafasnya, Ia terus berdzikir memohon perlindungan kepada Rabb-Nya dari segala prasangka buruknya.


Ia tidak ingin terprovokasi oleh ucapan iblis tersebut yang bisa saja menipunya.


"Ibuu.. Kembalilah" ucapnya lirih dan perlahan Ia tertidur.


Nini Maru, Ki Kliwon dan Juga Ki Genderuwo sedang mengelilingi Mirna yang kini sudah berubah wujudnya.


"Mirnaaa... Kau harus menguatkan hatimu untuk kembali kepada kami. Ingatlah.. Tempatmu adalah kegelapan, bukan jalan yang lurus.. Kau harus dapat melupakan mereka yang dapat kini sudah mempengaruhimu!!" ucap Nini Maru dengan nada provokasi.


Mirna menatap ke tiganya dengan tatapan nanar.


"Kami akan membantumu untuk mendapatkan Samudera dan Kau akan kembali cantik seperti semula setelah jiwa Samudera terkorbankan dan keturunan Ki Karso musnah dari muka bumi" ucap Nini Maru meyakinkan.


"Bawakan anak itu kepadaku!" ucap Mirna dengan nada datar.


Ke tiganya menganggukkan kepalanya, sedangkan Rey masih ditawan oleh kuntilanak kuning dan bersenang-senang.


Rey menjambak kuntilanak Kuning karena sudah memperkaosnya, dan Kuntilanak kuning membalasnya dengan menggigit rudal sebesar anak lesung tersebut hingga mengeluarkan cairan berwarna hitam.


"Siaalaan, Kauu!!" maki Rey dan mencoba mengejar kuntilanak kuning yang sudah melesat menghilang dari pandangannya.


Niat hatinya ingin bercinta dengan Mirna kembali gagal karena Mirna telah melukai rudalnya dengam kukunya yang sangat tajam dan meruncing. Kini Rey mengerang kesakitan meratapi nasibnya yang sangat sial


Samudera tersentak dari tidurnya saat adzan Ashar berkumandang. Ia membangunkan Angkasa untuk shalat Ashar dan tidak lupa dengan merafalkan ajian tersebut dan meniupkan ke kedua telapak tangan dan menyapukan ke seluruh tubuh dari ujung kepala hingga ujung kaki.


Sementara itu, senja mulai menampakkan wujudnya. Warna jingga dilangit yang menandai pertukaran waktu Ashar dan Maghrib.


Keduanya mendengar sayup-sayup adzan Maghrib mereka berbuka puasa dengan nasi putih dan juga air putih saja.


Lalu ke duanya melakukan shalat Maghrib dan saat itu terdengar suara gese-kan kuku jendela dibagian ruang shalat saat keduanya baru saja mengangkat takbir.


Suara-suara geraman dan juga dentuman itu terdengar menakutkan dan mencoba memecah konsentrasi keduanya.


Suara dentuman itu semakin terdengar keras dan membuat cucu Bu Ratna menangis karena mendengar merasakan kehadiran para iblis tersebut.


Satria merasakan mereka telah mengepung ruamanya dengan menggerakkan semua pasukannya untuk meneror rumahnya.


Kembali angin kencang bertiup dan memporak porandakan apa saja yang dapat mereka temui.


Suara petir menyambar dan kilatan cahaya halilintar terus mengacau konsentrasi kedua bocah tersebut sehingga keduanya harus tetap menjaga konsentrasinya.