
Mirna masih berada didalam kamarnya, Ia melihat bulir-bulir tasbih yang berada digenggamannya.
Ia mencari benang terkuat untuk kembali menyatukan bulir-bulir tasbih tersebut. Ia tidak dapat membiarkan Syafiyah tanpa gelang tersebut.
Mirna meletakkan butiran tasbih itu didalam sebuah wadah botol bekas minuman dan menutupnya, lalu segera keluar untuk mencari benang yang diinginnkannya.
Mirna pergi menuju toko grosir Pak Joko. Ia berjalan dengan begitu cepat sehingga tak satupun yang menyadarinya.
Ia tiba di depan ruko milik Pak Joko. Saat ini toko itu masih tampak sangat ramai dengan para pembeli, karena toko Pak Joko satu-satunya yang terbesar di sekitar kelurahan mereka.
Mirna teringat jika beberapa bahan makanan mereka yang sudah habis dan akan sekalian membelinya.
Beberapa pembeli memperhatikan Mirna. Sebab Mirna tampak begitu mencolok diantara mereka. Ia begitu memesona dengan kulit putih bersih dan juga wajah yang terbilang membuat siapapun akan tertarik dan tak jemu untuk memandangnya.
Salah satu diantaranya seorang pria berusia 30-an tahun tampak begitu sangat terpesona akan kecantikan Mirna, Ia tidak menduga jika ada wanita secantik itu didesa yang Ia tinggali.
Pria itu seorang pendatang yang baru saja beberapa bulan yang lalu pindah karena menikah dengan seirang gadis didesa ini.
Tatapan mata pria itu begitu sangat kentara akan sebuah keinginan yang tersembunyi.
Mirna membeli beras dan juga beberapa bahan lainnya. Lalu tak lupa Ia membeli sebuah benang nylon terkuat yang akan membuat untuk butiran tasbih yang sudah berhamburan tersebut.
Setelah membayar semua bahan belajaannya, Mirna berjalan membawa semua barang belanjaannya tanpa rasa berat apapun.
Seorang pria mengikuti Mirna yang sedang berjalan kaki membawa barang belanjanya menggunakan sepeda motor.
Mirna tersenyum sinis karena tentu saja Ia mengetahui apa yang ada didalam otak dan hati pria itu.
Mirna berjalan berpura-pura tidak mengetahui jika pria itu mengikutinya. Lalu pria itu menghentikan sepeda motornya tepat dihadapan Mirna "Mari saya bantu, Mbak. Pasti berasnya sangat berat tentunya" ucap Pria itu menawarkan bantuan.
Mirna tersenyum tipis dan menatap pria itu dengan sinis.
"Makasih, Mas.. Tapi saya masih bisa membawanya" Jawab Mirna dengan datar.
"Ayolah, Mbak.. Masa iya Mbaknya dah glowing gini panas-panasan diterik mentari" Pria itu berusaha untuk terus menawarkan bantuannya.
Mirna tak menggubris rayuan pria itu, dan Ia berusaha untuk terus melangkah dan melewati sang pria.
Namun Pria itu tampak gigih untuk membuat Mirna luluh agar mau diantarkan oleh pria tersebut.
Saat Mirna melintasi pria itu, dengan cepat si pria menangkap pergelangan tangan Mirna dan memaksa Mirna untuk naik keatas sepeda motornya.
Mirna diam memandang pria itu, lalu menatap tajam pada sang pria.
Mirna meletakkan barang belanjanya dan menatap sang pria yang masih duduk di jok motornya.
Tangan Mirna yang sebelah kanan memegang stang gas sepeda motor itu. Lalu tanpa diduga Ia mengangkat sepeda motor pria itu berada tiga jengkal dari atas tanah dengan satu tangan saja dan pria itu masih berada di atas joknya.
Pria itu membolakan matanya karena merasa takut dan juga tercengang melihat apa yang sedang dilakukan oleh wanita cantik tersebut.
Dan dengan mudahnya Mirna mendorong seperti sebuah kertas yang sangat ringan dan sepeda motor itu meluncur dengan cepat kebelakang dan...
Buuuuugh... Braaaaak
Sepeda motor itu meluncur dengan cepat, tanpa dapat pria itu dikendalika dan menabrak sebuah pohon.
Pria itu berteriak kencang dan meringis menahan sakit karena Ia terlempar dan terjatuh ditanah.
Mirna kemudian memunguti belanjaanya dan meninggalkan pria itu.
Pria itu berusaha untuk bangkit, dengan beberapa luka yang ada dibagian lutut dan sikunya, Ia berjalan sempoyongan menghampiri sepwda motornya.
Ia melihat mencari sosok Mirna, namun tak menemukannya.
"Sialan..!! Kuat sekali dia, pasti kalau diranjang sangat panas, buat Aku tambah penasaran saja" guman sang pria yang memeriksa luka dibeberapa bagian tubuhnya.
Ia membangkitkan sepeda motornya, dan mencoba mengenderainya. Namun anehnya tak satupun ada warga yang melihat kejadian barusan.
Mirna telah sampai dirumahnya, Ia menata belanja yang dibelinya, lalu memasak untuk keperluan malam mereka. Setelah selesai dengan rutinitasnya, Ia memasuki kamarnya dan mjlai menjalin bulir- bulir tasbih itu untuk Ia berikan kepada Syafiyah.
Tak berselang lama, Syafiyah pulang dari bekerja, Ia melihat rumah yang sangat rapih dan juga bersih.
Lalu Ia memasuki kamarnya dan membersihkan diri.
Setelah adzan Isya berlalu, Ia merasakan perutnya sangat lapar, namun Mirna tak terlihat "Kemana Dia? Apa masih mendekam dikamarnya?" guman Syafiyah lirih, lalu berjalan menuju tudung saji dan memeriksa jika makan malam sudah tersedia.
Ia memakannya dengan sangat lahab, hingga tanpa sadar kekenyangan dan membuatnya sukit umtuk bangkit.
Sesaat Ia teringat akan Satria, lalu Ia kembali ke kamar dan mencari phonselny untuk melakukan vedeo call.
Ia mencari nama sang suami, lalu menekan tombol panggilan vedeo, dan Satria menerimanya.
"Hallo, Sayang.. Apa kabar?" tanya Satria yang tampaknya disebuah rumah yang sangat besar dan mewah. Ya, Itu rumah peninggalan kedua orangtua angkatnya Satria yang bernama Bram dan Jayanti. Rumah itu sangat besar dan juga berlantai dua, berbeda dengan rumah mereka yang di desa, meskipun terbilang cukup besar namun tidak sebesar rumah tersebut.
"Baik.. Sayang, kapan pulang?" tanya Syafiyah manja. Kali ini Ia sepertinya tampak merindukan pria itu.
"Bersabar, Ya.. Nanti kalau sudah selesai pekerjaan disini Mas akan kembali secepatnya. Jangan keras kepala dan turuti apa perkataan Mirna" pesan Satria kepada Istri pertamanya.
Deeeeegh..
Jantung Syafiyah berdetak kencang dan hatinya berdenyut sakit, sebab Satria menyebuy nama wanita itu dan memintanya patuh kepada wanita madunya? Oh, No.. Dia memiliki pendidikan lebih tinggi dan seorang pejabat pemerintahan yang mana disegani dan dihormati oleh penduduk desa, masa Iya harus patuh terhadap Mirna yang notabene sebagai madu dan tidak jelas pendidikannya.
Syafiyah yang tadinya senang mendadak badmood.
"Mirnanya ada sayang? Mas mau ngomong sebentar dengannya, karena ada sesuatu yang penting yang ingin Mas katakan" ucap Satria dengan begitu lembutnya.
Seketika wajah Syafiyah, Ia menghubungi suaminya untuk bermanja, bukannya mendapat respon manja berbalik menanyakan Mirna.
"Hal penting apaan sih, Mas? Ngomong debhan Fiyah saja, ntar Fiyah sampaikan" ucap Syafiyah kesal.
Satria tersenyum semanis mungkin, dan hal ini membuat Syafiyah kelepek-klepek.
"Ini beda sahang, kamu gak bakal akan faham" jawab Satria dengan lembut.
"Apa? Gak faham? Aku ini berpendidikan, Mas.. Hal apa yang tidak aku faham?! Mas ini ngeselin banget, sih" ucap Syafiyah yang dengan perasaan kesal menutup panggilan vedeonya dengan perasaan kesal.
Syafiyah melemparkan phonselnya diatas ranjang dan mengacak rambutnya dengan kasal.
"Enak saja Mas Satria mau banding-bandingkan aku dengan Mirna. Jika masalah cantik ya itu emang benar kalah darinya, tapi masalah pendidikan jangan coba-coba Mas Satria bandingkan Aku dengannya. Aku ini pejabat pemerintahan, sedangkan Mirna taunya cuma mengurus rumah tangga" guman Syafiyah dengan kesal.