MIRNA

MIRNA
episode-270



Setelah dua pocong itu kembali ke tempatnya. Samdura kembali menyerahkan tas sandang berisi uang dagangan Mbok Titi yang kini masih terdampar ditanah basah dan be-cek.


"Mbok.. Kamu ikut pulang atau tetap disini?" tanya Samudera mencoba memberi tahu Mbok Titin yang sepertinya tampak kesal dengan prilaku ke dua bocah tersebut.


"Tinggalkan saya disini, saya bisa pulang sendiri" ucap Mbok Titin kesal.


Lalu keduanya mencoba membantu Mbok Titin beranjak bangkit dari tang basah dan kotor tersebut.


Mbok Titin menolaknya "Saya bisa bangkit sendiri, pergilah kalian, jangan bersikap perduli lagi kepada saya" ucap Mbok Titin kesal.


Kemudian Samudera dan juga Angkasa beranjak bangkit dan meninggalkan Mbok Titin yang tampak masih kesal.


"Kalau sudah dapat pulang sendiri, maka pulanglah Mbok.. Jangan turutkan jalan sesat yang hanya sementara dan merugikanmu" pinta Angkasa.


Mbok Titin hanya diam saja danntidak menggubris ucapan bocah remaja tersebut.


Angkasa dan Samudera beranjak menjnggalkan Mbok Titin lalu menuju semak untuk mengambil sepeda motor mereka.


Keduanya sudah basah kuyup dan menggigil kedinginan. Malam juga semakin larut, lalu keduanya menaiki motor itu dan kembali pulang.


Suara mesin motor mebderu dan meninggalkan Mbok Titin yang masih terkapar ditanah basah.


Ia berusaha untuk bangkit dan dan berjalan terseok menuju rumah Ki Brewok hang sudah rusak parah.


Ia menuju ke arah belakang rumah dan memandikan tubuhnya dengan air dalam kendi berukuran besar tersebut, dan duduk dianak tangga dapur.


Ia beranjak bangkit mencari tubuh Ki Brewok yang tadi tergeletak ditanah samping rumah.


Saat Ia menciba berjalan menuju keaeah samping, tampak sosok berbulu lebat itu menarik lato-lato Ki Brewok dan memakannya.


Ternyata nilai pertemanan mereka hanya setipis tissu. Sehingga tidak lagi melihat bagaimana penderitaan Ki Brewok tetapi Rey mengambil kesempatan dalam kesempitan.


Mbok Titin yang baru saja selesai mandi, berdiri dengan gemetar melihat kejadian yang ada didepan matanya.


Sosok Rey menghilang dan meninggalkan jasad Ki Brewok yang sudah terkapar dengan tanpa jiwa lagi.


Mbok Titin meringkuk kedinginan dan Ia berniat naik kedalam rumah Ki Brewok dan saat baru saja Ia tiba diambang pintu, seorang pria menyergapnya.


"Rina..?!" ucapnya dalam kegelapan dan menyergap Mbok Rina lalu menyeretnya kekamar dan melampiaskan kerinduannya yang sudah lama terpendam.


Mbok Titin yang kebingungan dan kedingin akhirnya pasrah saja tanpa perlawanan saat pria tersebut mencumbunya dalam kegelapan, bahkan Ia tidak tahu siapa pria tersebut.


Sementara itu, Angkasa dan juga Samudera baru tiba dirumah saat waktu menunjukkan pukul 12 malam. Keduanya menggigil dan Mirna menyambutnya diambang pintu.


Tanpa bertanya apapun, Ia menggiring ke dua puteranya menuju kamar mandi "Mandilah, Ibu sudah menyediakan air hangat untuk mandi kalian" ucap Mirna dengan nada lirih.


Keduanya hanya menganggukkan kepalanya dan menuju kamar mandi.


Didalam kamar mandi sudah tersedia dua buah wadah plastik besar berisi air hangat untuk mandi mereka. Lalu mereka mandi dengan segera dan membersihkan diri.


Setelah selesai mandi, keduanya menyalin pakaian dan melihat ada dua gelas susu panas dengan beberapa keping roti bakar isian telur omelet dan saos pedas. Tampaknya sang Ibu mengerti jika mereka belum makan.


Keduanya meneguk susu tersebut dan menyantab roti bakar yang yelah tersedia dengan sangat lahabnya.


Setelah selesai makan, keduanya merasa mengantuk dan beranjaknke ranjang, kemudian tertidur lelap.


Setelah memastikan keduanya terlelap. Mirna memasuki kamar tersebut. Ia membuka beberapa kancing pakain Samudera dan Angkasa. Ia memeriksa luka lebam yang berada didada kiri Samudera dan juga pundak kanan Angkasa.


Kemudian Ia meletakkan telapak tangannya pada luka dilebam dada kiri Samudera dan telapak satunya berada dipundak kanan Angkasa.


Seketika tubuhnya bergetar dan keringat mengucur dari pori-porinya yang berkilau bak berlian.


Setelah merasakan luka lebam itu memudar, sesaat tubuhnya merasa lemah dan pandangannya menggelap.


Buuuuuuugghhh..


Tubuh ramping itu limbung ke lantai hingga sebuah tangkapan menangkap tubuhnya, lalu membopongnya dan membawa ke luar dari kamar Samudera dan Angkasa.


Satria merebahkan tubuh lemah Mirna diatas ranjang dengan sangat hati-hati dan lembut.


Lalu Ia menyeka keringat yang bercucuran dengan deras. Satria memberikan pagutan lembut dibibir yang merapat tersebut.


Mirna memberikan reaksinya. Hingga akhirnya Satria memberikan sentuhan hangat untuk menstimualsi peredaran darah Mirna dengan cumbuannya.


Setelah melihat Mirna merespon, Ia semakin bersemangat dan mencoba memberikan madu cintanya agar menegmbalikan energi Mirna yang terbuang.


Perlahan mata Mirna terbuka dan memandang sayu pada sang suami. Satria semakin gencar memberikan sentuhan demi sentuhan yang membuat Mirna merasakan bagaikan tersengat aliran listrik.


Dengan cepat Satria kembali menumpahkan sari madunya pada Mirna. Perlahan wajah pucatnya mulai merona dan tampak berseri.


"Makasih, Sayang.." ucap Mirna setelah mendapatkan apa yang dibutuhkannya.


"Mengapa Kau melakukan itu? Mas bisa melakukannya" ucap Satria sembari mendekap tubuh Mirna dengan penuh kehangatan.


"Aku tidak sanggup melihat mereka terkuka seperti itu" Jawab Mirna dengan lirih.


Satria menghela nafasnya dengan berat. "Masih ada satu ujian satu lagi yang harus mereka terima. semoga saja mereka dapat melewatinya" ucap Satria dengan lirih.


Mirna menengadahkan kepalanya melihat wajah sang suami. Tatapannya penuh ke khawatiran dan begitu sendu.


"Aku sangat mengkhawatirkan kedua puteraku" ucap Mirna lirih.


"Mereka akan baik-baik saja, percayalah.. Ada Allha bersama mereka.." jawab Satria sembari mengecup ujung kepala Mirna.


Mirna menyembunyikan kepalanya didada suaminya, mendekap erat tubuh pria itu dan mencari ketenangan disana.


Sementara itu, Mbok Titin yang sudah lama menjada dan mendapat serangan tiba-tiba dari pria dimalam hari, membuatnya merasa melupakan tentang tali pocong yang hilang. Ia terkapar diruang kamar yang tampak berantakan dan gelap gulita tanpa pencahayaan.


Rumah yang sudah mengalami kerusakan disana-sini akibat akibat ajian Gelap Ngampar milik Ki Brewok menjadi saksi jika malam ini merupakan keberuntungan dan juga kesialan baginya.


"Rina.. Akhirnya kamu datang juga.. Makasih, Sayang sudah kembali padaku" ucap Pria itu yang terus menggarap sawahnya tanpa henti hingga membuat Mbok Titin tak berdaya.


Hingga hampir 3 jam lamanya pria menggarapnya, dan setelah kehabisan energi, Ia baru menghentikannya.


Mbok Titin tak perduli saat Pria itu menyebut namanya Rina. Baginya Ia sudah mendapatkan sesuatu yang hilang selama ini.


Disisi lain, jasad Ki Brewok masih teronggok di halaman samping rumah dengan darah yang menggenangi tanah yang ditumbuhi rerumputan tersebut.


Binatang penghisap darah seperti pacat datang mengendus aroma amis darah tersebut dan berkerumun untuk menghi-sap darah yang mengalir dengan deras.


Bahkan beberapa semut juga mulai berbondong-bondong mengahampirinya.