
Rey berkelebat dikelebatan malam. Ia masih mencari sosok pria yang akan berbuat maksiat dan akan dijadikan tumbal untuknya.
Dino tampak uring-uringan setelah Didi menikah. Mereka tak lagi dapat terus bersama seperti dahulu.
Biasanya saat masih melajang, mereka berburu hewan liar bersama, nongkrong ke warung mbak Lela bersama, namun sekarang mereka memiliki jarak yang sedikit jauh, karena Didi fokus kepada rumah tangga dan juga istrinya.
Apalagi kini Wanda juga sedang mengandung dan membutuhkan perhatian dari Didi.
Dino keluar dari rumahnya, duduk diteras sembari merokok.
Karena merasa sangat kesepian, akhirnya Ia beranjak dari duduknya untuk berjalan-jalan keluar rumah dan mencari hiburan.
Ia mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan yang sangat santai.
Angin malam dan juga suasana sepi membuatnya semakin bosan karena tidak adanya teman bercerita.
Saat bersamaan, Ia melihat sepasang remaja yang diperkirakan masih duduk dibangku SMA sedang tampak berboncengan dengan begitu mesra.
Dalam hati Dino merutuki nasibnya yang sangat mengenaskan karena masih menjomblo.
Dino berada dibelakang muda-mudi tersebut dan memperlambat laju motornya.
Namun diluar dugaan, remaja itu membelokkan motornya ke arah persimpangan yang mana itu menuju ke arah kebun rambutan.
Seketika Dino merasa penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh kedua remaja tersebut dimalam-malam seperti ini.
Untuk menghindari kecurigaan dari remaja tersebut, Dino berpura-pura melewati simpang tersebut, tetapi itu hanya taktiknya saja.
Setelah melihat remaja itu jauh memasuki kebun rambutan. Dino mematikan sepeda motornya, lalu berbelok menuju kebun rambutan dengan dengan cara mendorong sepeda motornya yang telah diamatikan mesinnya dan memingalkannya dibawah salah satu pohon rambutan.
Dino berjalan mengendap-endap dan mencoba menajamkan indera pendengarannya untuk mencari sumber suara yang terdengar seperti rintihan surgawi.
Dino semakin penasaran dan ingin segera melihat apa yang sedang dilakukan oleh oleh kedua remaja itu.
Naluri lelakinya semakin menggebu, dan ingin tahu saat terdengar suara rintihan remaja puteri yang sepertinya sedang melayang dalam lautan hasrat bercinta.
Dino semakin jelas mendengar suara rintihan itu berasal dari balik pohon rambutan yang ada didepannya.
Dengan berjinjit Ia terus mencoba mengintai dan akhirnya Ia dapat melihat dalam keremangan cahaya rembulan yang mana dua remaja saling bermandi peluh dalam kemaksiatan.
Usia mereka yang masih dalam masa pubertas dan seharusnya dirumah mengerjkan tugas sekolah, namun kini harus melakukan pekerjaan yang telah membuat kedua orangtua mereka akan kecewa.
Dino merasa berkeringat melihat aksi kedua remaja tersebut dan membuatnya gelisah.
Namun samar-samar, Dino melihat sekelebat bayangan hitam yang kemudian merubah sosok menjadi seorang wujud pria mengerikan sedang memperhatikan keduanya.
Seketika Dino merasakan bulu kuduknya meremang dan merasa sangat penuh kengerian.
Saat remaja putera itu menambah ritme gerakannya dan pertanda akan melakukan pelepasan puncak surgawinya, sosok itu dengan cepat menarik sang remaja putera dan mencabut paksa lato-lato dan senjata pamungkas sang remaja pria lalu melahabnya hingga habis.
Sedangkan sang remaja puteri yang masih melayang tidak menyadari jika saat ini Ia digauli oleh sosok mengerikan itu hingga mengejang mencapai puncak surgawinya, lalu sosok itu menghilang.
Dino yang masih terperangah menyaksikan kejadian didepannya merasa menggigil ketakutan dan ngacir mencari sepeda motornya lalu tancap gas dan pulang kerumah.
Sementara itu, remaja puteri itu belum menyadari jika kekasih sedang menggelepar kesakitan meregang nyawa karena darah yang terus mengucur dari luka dipangkal kakinya.
kemudian Ia beranjak menghampiri kekasihnya yang terkapar diatas dedaunan kering.
Ia mengira kekasihnya itu kejang karena masih merasakan sisa pelepasannya.
Namun Ia tidak menyadari jika itu karena sang kekasih meregang nyawa.
"Sayang.. Balik yuk.." ucapnya, lalu mencoba mengguncang sang kekasih. Namun tak ada sahutan dan juga respon.
Remaja puteri semakin bingung dan juga panik karena kekasihnya tak juga merespon apa yang diucapkannya.
Sesaat Ia meraih phonselnya dan menghidupkan senter untuk memberikan pencahayaan dan melihat kondisi kekasihnya yang juga tak merespon.
Saat cahaya senter menyorot tubuh sang kekasih, alangkah terkejutnya Ia saat melihat kondisi sang kekasih yang sangat mengenaskan dan organ intinya sudah hilang seperti ada yang mencabut paksanya.
Ia tersentak dan tak sengaja menjatuhkan phonselnya, lalu bergegas bangkit dan memungut phonselnya dengan cepat, lalu mengambil kunci motor disaku celana sang kekasih yang tercecer tak jauh dari dekat jasad sang kekasih terbujur tak bernyawa.
Ia berlari menuju sepeda motor dengan tubuh mennggigil ketakutan dan wajah pucat pasi.
Dengan sisa tenaga dan keberaniannya, Ia membawa sepeda motor itu melaju menuju pulang kerumah.
Sesampainya dirumah, Ia memasuki kamar san mengunci pintu kamar lalu meringkuk ketakutan dan wajah memucat.
Ia bingung harus apa. Sebab Ia sudah menyerahkan mahkotanya kepada sang kekasih, dan ada benih didalam rahimnya.
Sementara kekasihnya tiba-tiba meninggal secara tragis dan mengenaskan.
Hal ini tentu akan menjadi bencana baginya, sebab Ia akan dijadikan saksi jika sampai jasad sang kekasih ditemukan.
Ia juga akan menanggung malu karena ketahuan telah berbuat maksiat dan tentunya akan dikeluarkan dari sekolah juga.
Ia merasa masa depannya sudah hancur dan tentunya penyesalan itu datang terlambat.
Sementara itu, Dino yang melihat kejadian mengerikan itu menjadi begitu sangat syok. Bagaimana mungkin peristiwa yang selama ini menjadi misteri dan penuh tanda tanya siapa pelaku yang mengambil paksa lato-lato dari setiap korban laki-laki berada dihadapannya.
Meskipun Ia tidak begitu jelas melihat siapa sosok itu, namun bagaimana cara sosok pelaku mengambil organ inti tersebut tentu membuat Dino akan mengenang seumur hidupnya dan menjadi bayang-bayang yang mengerikan.
Dino tak dapat memejamkan matanya meskipun Ia berusaha untuk memejamkannya.
Tubuhnya menggigil dan tampak sangat gelisah. Wajahnya memucat dan bibirnya bergetar.
Ia baru menyadari jika apa yang dikatakan Didi waktu itu benar adanya dan setelah Ia menyaksikan sendiri apa yang dikatakan Didi jika pelaku pembunuhan dengan pengambilan organ inti pria itu selalu korban yang berbuat maksiat.
Dino semakin takut dan ingin segera menikah agar tidak menjadi korban yang mengerikan.
Saat ini Ia tak berani untuk keluar dari kamarnya. Ia masih terus terbayang peristiwa tersebut.
Sementara itu, jasad sang remaja putera masih terbiar sendiri dengan beralaskan dedaunan kering, dan angin malam yang terus berembus menerpa kulitnya yang perlahan mulai dingin dan akan menjadi kaku.
Sedangkan rasa kenik- matan sesaat yang Ia rasakan, kini harus berbalas dengan kematian yang sangat menyakitkan dan juga terhinakan.
Darah yang masih merembes dari luka menganga itu terus mengalir dan tentunya mengundang kerumunan semut berdatangan untuk menyesap darah sebagai makanan pembuka mereka.