MIRNA

MIRNA
episode-275



Satria mempercepat langkahnya memasuki rumah. Sesampainya dirumah Ia menuju kamarnya dan mebyalin pakaian, lalu membuay sarapan untuk ke dua puternya.


Ia membuat omelet telur lalu meletakkan diatas sekeping roti tawar, menyiramnya dengan saos pedas dan menutupnya kembali dengan roti tawar dan membuat 3 porsi untuk sarapan pagi ini, lalu menyeduh susu untuk tiga gelas.


Kedua puteranya menuju meja makan dan duduk dengan tanpa semangat. Mereka tak melihat Mirna berada di dapur, mereka yakin jika Mirna, ibunda mereka belum kembali.


"Makanlah.. Hanya ini sarapan yang bisa ayah buat" ucap Satria sembari mengigit rotinya. Ia dapat merasakan jika roti yang iya kunyah bagaikan duri yang sangat sulit untuk ditelan memasuki tenggorokannya.


Ke duanya tampak tidak bersemangat dan memakan sarapannya dengan wajah lesu.


"Yah.. Bagaimana kondisi Ibu?" tanya Samudera yang terus mencecar Satria sedari subuh tadi.


"Doakan saja ibu dalam kondisi baik-baik saja. Kalian harus dapat melewati satu ujian lagi untuk dapat menyelamatkan ibumu" ucap Satria, lalu menyeruput susu panasnya.


"Sarapanlah, karena membalas sesuatu itu butuh energi" ucap Satria lalu berjalan menunggalkan meja makan dan menuju teras. Ia menatap nanar lurus halaman rumah. Ia sebenarnya sendiri rapuh memikirkan Mirna, namun Ia tak ingin kedua puternya mengetahui jika apa yang dirasakannya saat ini.


Samudera dan juga Angkasa sudah selesai dengan sarapannya dan menuju ke teras untuk berangkat ke sekolah.


"Yah! Doakan ujian kenaikan kelas kami berhasil, ya" ucap Angkasa dengan wajah yang sedikit lesu.


Tampak mereka seperti tak bersemangat karena pastinya Angkasa tau jika Ibunya sedang dalam penyekapan.


Hari ini mereka akan mengikuti ujian kenaikan kelas dan mereka harus mendapatkan nilai yang baik agar bisa naik kelas.


Satria menganggukkan kepalanya dan kedua bocah itu menyalim Satria dan bergegas menuju ke motor dan berboncengan pergi ke sekolah.


Setelah kepergian ke dua puteranya, Satria melihat awan hitam menggumpal dilangit dan semakin lama semakin berarak menuju ke arah halaman rumahnya.


Satria membolakan matanya, dan ini masih siang hari, dan mengapa mereka muncul untuk mengacau.


Satria beranjak dari duduknya dan menatap ke arah gumpalan awan tersebut. Dengan menatap tajam pada gumpalan awan hitam itu, Satria melihat jika itu adalah pasukan suruhan dari Ki Kliwon, Nini Maru dan juga Ki genderuwo.


Satria merafalkan mantra ajian segoro geni untuk mengusir para iblis tersebut .


Seketika langit yang semula cerah berubah menjadi gelap dengan langit yang mulai menghitam.


Sebuah kilatan halilintar tiba-tiba memendarkan cahayanya dan seketika suara petir yang menyambar apa saja yang ada dihadapannya.


Lalu ketika pendaran cahaya halilintar bertemu dengan hawa panas ajian segoro geni bertemu, maka seketika terjadi ledakan yang sangat dahsyat..


Duuuuuuuuaaarr...


Suara ledakan itu begitu sangat dahsyat sehingga menyambar pohon rambutan yang tumbuh dibalik pagar rumah Satria.


Sesaat Satria mendengar suara tangisan cucu Bu Ratna yang berada disamping pagar rumahnya, sepertinya bayi itu terkejut akan suara ledakan yang sangat dahsyat tersebut.


Satria tak ingin membuat tetangganya terganggu atas masalah yang sedang dihadapinya.


Satria melenguhkan nafasnya. Ia beranjak masuk ke dalam kamarnya lalu mulai melakukan ritual untuk melepaskan sukmanya. Ia akan menggiring para iblis itu menuju hutan larangan agar tidak ada warga yang terganggu.


Para iblis itu terpancing dengan taktik Satria dan melesat mengejar Satria yang membawa salah satu iblis terlemah saat jarak mereka sudah dekat, Satria melemparkan iblis itu kepada para rekannya.


Dan dengan gerakan satu putaran, Satria melemparkan keris yang dulu pernah bersemayam ditubuh Bayu dan kini telah diisi khadam Chakra mahkota yang melesat menyerang para iblis itu dengan menyemburkan api berwarna jingga hingga membuat suara ledakan dahsyat saat semburan api tersebut bertemu dengan cahaya halilintar yang menyambar dengan dahsyat.


Para iblis itu hangus terbakar dengan suara teriakan yang memekakkan telinga.


*****


Hari menjelang siang. Samudera dan juga Angkasa baru menyelesaikan ujian mereka. Keduanya bergegas pulang kerumah.


Saat diperjalanan. Tampak sebuah sepeda motor sedang mengikuti Tasya dari arah belakang.


Dua pengendara itu berbadan tinggi kekar dengan tampang seram menakutkan.


Tasya memakai sepeda motor baru dengan model terkini.Ia tak menyadari jika pengendara itu sedang mengekorinya. Sesampainya dijalanan sepi, tampak dua pengendara itu menghampiri Tasya dan menyalibnya lalu memaksa Tasya berhenti dengan menodongkan senjata tajam.


Tasya yang ketakutan akhirnya menghentikan motornya dan menggigil ketakutan.


Samudera dan Angkasa yang sedang berada dibelakang Tasya mencoba berhenti dari jarak sekitar 30 meter dari para pria bertubuh kekar yang sedang mengintimidasi gadis tersebut.


Angkasa mengerutkan keningnya, lalu dengan cepat menarik gas motornya dan melaju kencang saat melihat pria kekar itu menodongkan senjata tajamnya pada Tasya.


Saat berada disisi para pria itu, Samudera menyambar pakaian pria berbaju hitam itu dan menyeretnya hingga sejauh 100 dan melemparkannya ke dalam parit.


Sedangkan salah rekannya masih bengong melihat rekannya dilempar begitu saja ke dalam parit.


Lalu satu pria yang masih berada didekat Tasya, beranjak dari motornya dan menjadikan Tasya tawanan.


Ia mengeluarkan sebuah senjata api yang Ia todongkan ke kepala Tasya.


Angkasa memutar motornya dan menatap tajam pada pria yang jauh dihadapannya dan Ia merafal kan doa untuk membuat pria yang kini berjarak 100 merer dihadapannya dapat tunduk dan tidak berkutik.


Lalu Angkasa menarik gas motornya dan melaju kencang dengan cepat berada didepan pria yang sedang menodongakan senjata apiinya.


Lalu ketika jarak mereka cukup dekat, pria itu menembakkan senjata apinya ke arah Angksa dan bocah itu merunduk dan Samudera melakukan hal yang sama, sehingga peluru itu menyasar angin. Anehnya saat ini warga tidak ada yang melintas, sehingga suasana sepi dan lengang dan tidak ada yang mengetahui kejadian tersebut.


Sesaat Samudera melompat, lalu menerjangnpria tersebut hingga jatuh tersungkur dan meminta Tasya agar segera pergi dari tempat tersebut.


Dengan cepat Tasya beranjak pergi dar tempat tersebut dan menuju pulang.


Setelah kepergian Tasya. Sesuatu yang aneh terjadi.


Pria yang terjerembab ke dalam parit datang melayang dan menyerang dengan sebilah senjata tajam yang kini berubah menjadi sebuah tombak.


Kedua mata pria berubah menjadi berwarna hitam seluruhnya dan tiba-tiba berubah memiliki taring dan berekor.


Tubuh mereka ditumbuhi bulu-bulu tebal yang berwarna keabuan dan kini menyerang keduanya yang masih terperangah dengan tatapan tak percaya.