MIRNA

MIRNA
Korban-2



Tubuh kedua pria itu perlahan menjadi kaku, lalu sebuah bayangan hitam muncul dalam gelapnya malam yang berselimut embun, suasana dingin, sedingin tubuh kedua pria yang tertimpa sepeda motor tersebut.


Kedua tubuh yang sudah menjadi kaku itu saling tindih, kedua mata mereka terbuka seakan merasa sakit yang luar biasa sebelum mereka menghembuskan nafas terakhir mereka.


Bayangan hitam itu muncul dan menyeringai. Lalu Ia mencabut kedua lato-lato milik kedua pria itu.


Kreeeekkk..


Kedua pasang lato-lato beserta pucuk senjata iti tercabut dari tempatnya. lalu bayangan hitam itu menghilang dan pergi tanpa bekas. Dengan mendapatkan dua lato-lato sekaligus, maka ini adalah korban ke-6 dan bayangan hitam itu memerlukan 38 lagi lato-lato, Ia harus segera mendapatkannya, sebelum batas waktu tersebut habis.


Keesokan paginya. Mirna kembali lagi seperti biasanya, pergi kesungai untuk mencuci pakaian. Ia berjalan dengan santai dan seperti tidak ada masalah apapun yang terjadi.


Ia berpapasan dengan Kakek Nugroho, tampak keduanya hanya saling melempar senyum sapa.


"Cepat sekali, Kek berangkat menjala ikannya" sapa Mirna dengan ramah, yang membawa cuciannya didalam ember dan meletakkannya diatas kepalanya.


"Iya, Cu.. Biar cepat pulang dan beristirahat" jawab Kakek Nugroho dengan sopan.


Mirna hanya tersenyum menanggapi jawaban Kakek Nugroho. Lalu keduanya sampai ditepian sungai dan mereka mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing.


Kakek Nugroho naik keatas sampannya, lalu mendayung sampannya dan menjauh dari Mirna, sedangkan Mirna mulai mencuci pakaiannya.


Mirna terus mencuci, hingga Ia merasakan sebuah kerinduan pada Satria. Sudah hampir seminggu ini Satria tidak mengunjunginya, hatinya begitu hampa, Ia mencuci dengan begitu tidak bersemangat.


Sementara itu, Satria kembali menjalani rutinitasnya, memandikan Syafiyah dan mengurusi keperluan lainnya.


Semua Ia lakukan dengan ikhlas dan juga dengan baik. Satria memberikan sarapan kepada Syafiyah, menyuapinya dengan sangat lembut. Setelah selesai, Ia juga memberikan obat pereda rasa nyeri pada Syafiyah.


Satria mencoba melakukan riset untuk membuat Sayafiyah agar kembali lagi dapat berjalan dengan normal dan juga beraktifitas kembali.


Mbak Lela sudah datang, lalu seperti biasanya, Ia memulai pekerjaannya, memasak sarapan dan membersihkan rumah. Kali ini ada jadwal Ia menyetrika pakaiannya.


Mbak Lela selalu merasa gugup jika berhadapan dengan Satria. Ia merasa sangat tidak sanggup memandang wajah tampan itu. Andai saja Ia menjadi Istri pria muda itu, tentulah sangat membahagiakan.


Angan-angan Mbak Lela yang terlalu jauh itu membuatnya terkadang tidak fokus saat bekerja.


Bertemu dengan Satria setiap saat, akan membuat dirinya merasa seperti tersiksa. Ia ingin sekali disapa oleh Satria, walau hanya sekali saja, namun pria muda itu tampak begitu sangat dingin padanya.


"Sarapannya sudah saya masakin, Tuan" ucap Mbak Lela dengan pandangan jelalatan. Hali ini terkadang yang membuat Satria merasa risih sekali.


Satria hanya menganggukkan kepalanya, lalu mengambil sarapannya dan membawanya kekamar untuk menghindari tatapan Mbak Lela yang tampak begitu liar menjelajahi tubuh kekarnya.


Disatu sisi, Mbak Lela tak puas hanya untuk menatap tubuh kekar itu, namun Ia menginginkan hal lebih. Apalagi Ia sudah sangat lama tidak ada yang mencangkul sawahnya, sehingga ketika bertemu dengan Satria, ada denyutan lain disawahnya yang hanya sepetak kecil saja.


Baru dua hari bekerja dirumahnya, Satria sudah merasa gerah. Ia merasakan jika Mbak Lela memiliki maksud tertentu selain bekerja. Ingin memecatnya, namun Ia merasa sungkan dengan Bu Ratna yang sudah mencarikan pekerja untuknya.


Satria akhirnya harus berlapang dada dan mencoba memberikan waktu untuk sebulan ini saja. Mungkin Ia akan mencari Asisten rumah tangga lainnya.


Sementara itu, Mirna sudah selesai dengan mencucinya. Ia kemudian mandi berendam dan menikmati dinginginnya air sungai. Dalam benaknya, wajah Satria tak dapat lekang dari ingatannya.


Sesaat Ia mendengar suara lirih memanggilnya.


Mirnaaaaaa...


Suara itu terdengar jelas ditelinganya, Mirna menutup kedua telinganya dan mencoba mengabaikannya.


Mirna mempercepat mandinya, lalu bersiap untuk naik keatas tepian dan menjemur pakaiannya.


Saat itu, Didi dan Dino sedang menuruni undakan tanah. Didi membawa senapan angin untuk memburu tupai. Tanpa sengaja mereka berpapasan dengan Mirna yang baru selesai mandi dan ingin pulang membawa cuciannya.


"Wah.. Di.. Ada cewek cantik, Di" ucap Dino yang seakan mengalir air liurnya melihat Mina berkain basah dan menjunjung ember cuciannya.


"Namanya juga rezeki, Di.. Masa iya ditolak" jawab Dino dengan cengengesan.


Didi hanya menggelengkan kepalanya.."Jangan macam-macam Kau sama anak gadis orang, kalau minat lamar" Didi menanggapi ucap Dino yang mulai aneh.


"Iya..iya.. Serius amat sih, Lu.. Amat z santai"jawab Dino kesal.


Saat berpapasan, tanpa sengaja, Mirna hampir terpeleset karena kainnya yang basah membuat jalanan licin.


Aaaaaw..


Teriak Mirna saat akan terjatuh karena tubuhnya yang tidak seimbang.


Lalu dengan sigap Didi menahan tubuh Mirna dari arah belakang, agar tidak terjungkal kebelakang.


Berkat bantuan Didi, akhinya Mirna dapat membenahi posisinya dan berdiri tegak kembali.


"Terimakasih, Mas" ucap Mirna dengan sopan.


"Sama-sama Mbak, lain kali pakai kain kering kalau siap mandi, Mbak, biar jangan licin jalannya kena titisan air kain basah Mbaknya.. Kalau jatuh kan sayang cuciannya, Mbak, jadi kotor lagi" ucap Didi menyarankan.


Mirna menganggukkan kepalanya, lalu berpamitan.


Didi dan juga Dino kembali menyusuri pinggiran hutan untuk memburu tupai, karena ada pesanan dari warung penjual tuak (Minuman berakohol dari hasil sadapan permentasi air nira/enau).


Biasanya daging tupai ini akan dijadikan sebagai tambul atau makanan pendamping untuk meminum tuak tersebut.


Mereka menyusuri tepian sungai dan memandangi setiap dahan pohon untuk melihat tupai yang biasa melompat dan berjalan diatas dahan.


"Di.. Cewek tadi cantik banget ya.." Dino membuka percakapan mereka.


"Iya, Cantik.. Kenapa? Kamu naksir?" tanya Didi kepada sahabatnya.


"Aku kan cuma menyatakan pendapatku saja" jawab Dino dengan sebal.


Dooooooor.. Dooooor..


Didi menembak dua ekor tupai secara bersamaan. Lalu tampak lagi tupai itu melintas dan Ia menembaknya kembali..


Sudah hampir 15 ekor Ia menembak tupai hari ini, dan mendapatkan lumayan banyak.


Lalu melintas lagi seekor tupai merah didahan pohon yang sedikit jauh dari jarak mereka, dan..


Doooor..


Suara letusan senapan anginnya yang bersamaan dengan tewasnya tupai tersebut.


"Wah.. tupai merah, Di.." seru Dino dengan semangat.


"Iya.. Buruan.. Sono ambil, Aku mau menembak tupai lainnya biar genap 20 ekor" titah Didi lali mengarahkan pandangannya ke dahan lainnya.


Dinopun menuruti titah Didi, berlari kearah dahan pohon tempat dimana Didi menembak tupai merah itu.


Sesampainya dibawah pohon tersebit, matanya mengitari sekitarnya, lalu matanya tertuju pada sesuatu yang dianggapnya menarik perhatiannya, Ia mencoba mendekatinya, dan...


Aaaaaaarrgh...


Dino berlari sekencangnya yang membuat Didi tersentak melihat sahabatnya berlari kencang kearahnya bagaiakan dikejar setan disiang bolong.