MIRNA

MIRNA
episode 199



Yanti masih bergulingan dilantai goa. Hawa panas itu semakin menyiksanya, tubuh kasarnya seakan terbakar dengan hawa panas yang dilancarkan Satria melalui ajian segoro geninya.


Nini Maru dan dua iblis lainnya yang bersemayam ditubuh Yanti merasa sangat ikut kepanasan dan akhirnya ke tiga iblis memaksa tubuh Yanti yang saat ini bergulingan dilantai goa untuk segera masuk ke desa mencari tumbal darah ataupun janin.


Tubuh kasar itu beranjak bangkit dengan kondisi yang sangat mengenaskan dan juga tampak sangat mengerikan.


Ia berjalan sempoyongan dan ingin melesat memasuki desa, namun energinya terserap dan Ia sangat lemah.


Yanti menembus hutan lebat nan gelap. Menyusuri semak berduri untuk sampai mencapai desa. Terkadang semak berduri menggores tubuhnya yang sudah tanpa kulit karena dipenuhi borok dan goresan semak berduri itu menambah luka di boroknya memerah dan darah mengalir sehingga membuat aroma amis kian menyebar.


Setelah hampir subuh, akhirnya Yanti menembus hutan dan kini Ia tiba di tepi hutan, tepatnya di rumah Mirna yang sudah lama terbengkalai.


Tampaknya rumah itu sudah tak pernah lagi dikunjungi Mirna. Yanti masih ragu untuk ke rumah tersebut, namun Ia butuh tempat berlindung.


Setelah berfikir sedikit lama, Ia akhirnya memutuskan untuk mencari dahan pohon yang yang besar dan memilih untuk menjadikan pohon tersebut sebagai tempatnya berlindung. Sebab jika Ia menggunakan rumah milik Mirna, kemungkinan Mirna akan melacaknya.


Yanti yang kini tak lagi dapat dikenali wujud aslinya, berubah menjadi sosok mengerikan.


Rambutnya yang acak-acakan dan wajah hancurnya akan membuat siapa saja merasa ketakutan jika melihatnya.


Yanti menuju ke sungai bisa tempat Mirna membenamkan diri saat berada ditepi hutan, dan kenangan itu diingat oleh kakek Nugroho alias genderuwo yang bersarang ditubuh Yanti.


Lalu tubih kasar Yanti memasuki sungai yang sudah tampak semak karena tidak pernah lagi disentuh oleh manusia lagi.


Yanti mencoba mendinginkan tubuhnya yang terasa panas tersebut didalam sungai, namun tiba-tiba air sungai berubah mendidih dan membuatnya tersentak kaget, lalu buru-buru beranjak naik ke permukaan karena air yang tiba-tiba mendidih itu membuat kulitnya terasa melepuh dibagian boroknya dan berkelupasan yang semakin membuat aroma anyir yang menjijikkan.


Setelah berhasil keluar dari sungai dan naik ketepian, tubuh Yanti tampak berasap karena hawa panas yang berasal dari tubuhnya membuat air yang disentuhnya mendidih.


Kondisi Yanti semakin tak karuan, dan hal ini semakin membuatnya merasakan haus yang sangat begitu menderanya.


Sementara itu, warga dihebohkan dengan kematian seorang wanita renta yang kini terbujur kaku dialntai tanah rumahnya yang sangat reot.


Mereka menemukan wanita renta tak bernyawa itu setelah seorang yang menempa makanan padanya dan akan mengambilnya untuk sebuah acara dirumahnya. Karena tak juga diantarkan pesanannya, maka wanita pemesan kue tersebut penasaran dan mencoba menhambangi rjmah sang nenek.


Namun Ia terkejut saat mendatangi rumah wanita renta itu, karena mendapati sang nenek mati mengenaskan dengan luka tancapan dilehernya seperti taring dan menghisap darahnya hingga habis.


Warga beranggapan itu adalah perbuatan hewan buas yang mungkin saja telah menyatroni rumahnya.


Akhirnya warga memilih untuk memakamkan jasad wanita itu secara syariat.


Setelah kejadian meninggalnya wanita renta tersebut, warga mulai waspada dan berhati-hati akan kehadiran hewan buas yang mulai berkeliaran memasuki desa. Mereka tidak mengira jika itu adalah perbuatan makhluk yang mengerikan bernama Jenglot Ki Kliwon.


Malam telah tiba, kegelapan dan kesunyian yang kini dirasakan oleh warga. Yanti yang sudah sangat haus akan darah mencoba keluar dari persembunyiannya dan mencari mangsa baru.


Ketiga iblis yang bersarang ditubuhnya berperang ingin didahulukan. Nini Maru menginginkan tumbal Janin, sedangkan Ki Genderuwo ingin bercinta dengan Lela, dan Rey ingin tumbal lato-lato.


Yanti berjalan dengan gontai dan menuju ke perkampungan warga. Ia ingin menuju ke tempat Lela sesuai keinginan Ki Genderuwo, tetapi Ia ragu karena tentunya warung Lela masih ramai pada jam-jam seperti ini dan juga tentunya akan membuat ke kehebohan jika Ia mempelihatkan dirinya kepada warga.


Rambutnya juga mengalami kebotakan dibeberapa tempat dibagian kepalanya yang memperlihatkan boroknya yang mengeluarkan darah dan aroma amis dan anyir yang sangat memualkan perut andai tercium.


Ia berjalan dengan mengendap dan memilih di bagian belakang rumah para warga yang masih terdapat semak dan juga kebun milik warga.


Yanti melihat beberapa pemuda sedang berkumpul diteras salah seorang warga dengan bergitar sembari bernyanyi dan sebagian laonnya sibuk dengan phonselnya.


Yanti memperhatikan satu persatu dari para remaja tersebut siapa yang akan dijadikannya korban.


Ia berjalan mencoba menyelinap dan mencari posisi yang tepat untuk dijadikan pengintaian dan juga untuk menarik salah satu pemuda secara acak.


Setelah bersusah payah, akhirnya Ia berhasil menyelinap ke sisi kiri rumah warga yang dijadikan untuk tempat para pemuda berkumpul dan bergitar.


Yanti yang dikuasai ketiga iblis tersebut memancarkan mata berwarna merah dan gigi taring yang sudah meruncing disudut bibirnya.


Salah seorang pemuda kebelet pipis dan ingin buang air kecil..Ia bergegas ke sisi kiri rumah sahabatnya. Lalu tanpa sengaja Ia melihat Yanti yang juga melihatnya.


Seketika Ia tersentak kaget dan menatap sosok mengerikan tersebut dan berteriak sekencangnya.


"Aaaaaargh.. Ada setaaan..!!" teriaknya dengan sangat lantang, sehingga membuat para pemuda yang sedang bernyanyi dan bergitar ria itu berhenti memetik gitar dan bernyanyi, lalu mencoba melihat apa yang sedang terjadi pada sahabat mereka.


Sesaat mereka terhenyak melihat penampakan mengerikan dari sosok Yanti yang begitu mengerikan.


Tiba-tiba saja salah seorang diantara mereka berteriak "Haaaantuuu... Tangkap..!" teriaknya memprovokasi pemuda lainnya.


Seketika para pemuda itu terprovokasi dan mengejar sosok Yanti yang saat itu berada disisi kiri rumah warga tersebut, lalu mereka beramai-ramai mengejar sosok Yanti dengan teriakan komando tersebut.


Seketika Yanti mendapat signal bahaya lalu kabur menyelamatkan dirinya dari kejaran para pemuda itu.


Ia mempercepat langkahnya menghindari kejaran para pemuda tersebut dengan langkah terseok dan menerobos hutan untuk terus menuju dahan tempat bersembunyi sementara waktu.


Nafasnya tersengal dan Ia tampak begitu sangat terpuruk dengan kondisinya saat ini.


Dari dalam hutan Ia melihat para pemuda yang mengejarnya menggunakan cahaya senter phonsel mereka untuk menemukan keberadaannya.


Bahkan diantara mereka ada yang membawa senjata tajam dan membuat Yanti semakin bersikap waspada.


Para pemuda tidak berani memasuki hutan karena mereka takut hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, dan mereka melakukan pengejaran hanya sebatas tepi hutan saja.


Warga yang mendengar keributan para pemuda itu membuat penasaran dan berkeluaran dari rumah untuk melihat apa yang terjadi.