MIRNA

MIRNA
episode-259



Nafas Angkasa dan juga Samudera tersengal karena habis berlarian tadi.


Teman mereka melihat kakak beradik tersebut bagaikan orang yang sedang dikejar syetan, karena keduanya bermandikan keringat.


"Kalian ini kenapa, sih? Nafas ngos-ngosan kek orang habis dikejar setaan saja!" ucap Ririn yang duduk disebelah kiri Angkasa.


Angkasa menghirup oksigen dengan dalam, lalu menghembuskannya melalui mulut.


Setelah nafasnya mulai mereda, Ia menoleh kearah Ririn.


"Iya.. Syetannya ngekori mulu, ngalahin kang renteiner" jawab Angkasa.


"Emang kalian punya hutang apa sama tu syeetan?" tanya Ririn entah yang nyambung entah tidak dengan pertanyaannya.


"Hutang cilok" jawab Angkasa asal.


Ririn memanyunkan bibir. "Untung ganteng, kalau gak udah aku getok kepalamu!" ucap Ririn dengan kesal.


Lalu mereka kembali fokus menatap kedepan dan memperhatikan guru tersebut menerangkan materi ajar.


Rey melesat ke rumah Nek Surti yang saat itu ketiga rekannya sedang tidur karena saat ini adalh waktu istirahat bagi mereka setelah mendapatkan tumbal yang datang dengan sendirinya.


"Dasar rekan gak ada akhlak!! Saya disuruh ngekori tuh bocah, eh.. Mereka enak-enakan molor!" gerutu Rey sembari menatap ketiga rekannya.


Eey memandangi dua jasad remaja yang kini tergeletak begitu saja dilantai tanah yang kotor dan semut api mulai berdatangan karena aroma amis darah yang memasih tersisa di ke dua jasad tersebut.


Semut-semut itu mulai menggerogoti tubuh mereka dari bekas luka yang ada. Kedua jasad itu semakin dingin dan mengeras, namun tiada satupun yang mengetahuinya.


Rey mendekati jasad Fery. Ia mencoba memasuki raga tersebut. perlahan raga fery bergerak, lalu membuka matanya, dan beranjak bangkit lalu, berdiri menatap jasad Lulu yang masih terbaring.


Namun saat mengetahui jika Ferry tak memiliki rudal, seketika Rey membatalkan niatnya untuk memakai raga Fery karena sudah tidak berudal. Lalu Rey kembali keluar dari jasad Fery, dan sesaat jasad kaku tersebut ambruk menindih jasad Lulu yang terduduk dilantai tanah tersebut.


Ditempat lain, orang tua Lulu kebingungan mencari puterinya. Sebab Lulu tak ditemukan dikamarnya dan sudah dicari ke sekolah, namun tak juga ditemukan.


Hal yang dicurigai adalah Fery, karena ada yang mengetahui jika Fery sang remaja pengangguran itu selalu bersama dengan Lulu.


Lalu pihak kekuarga mendatangi rumah orangtua Fery dan mempertanyakan dimana puteri mereka, namun ternyata keluarga Fery baru menyadari jika anaknya juga tidak ada dirumah.


Lalu keluarga mengadakan pencarian hingga keluar desa tetangga, namun tak jua ditemukan keberadaan mereka.


Akhirnya kedua keluarga melaporkan kepihak yang berwajib untuk melaporkan anak hilang.


Bel berbunyi...


Pertanda jika pembelajaran telah usai. Lalu para siswa menyusun tas dan buku mereka lalu bersiap untuk pulang.


Waktu menunjukkan pukul 4 sore, dan mereka sudah shalat ashar dimushallah sekolah.


"Dik.. Kapan Ayah dan Ibu pulang dari rumah Om Hadi?" tanya Samudera kepada Angkasa sembari menyusun bukunya ke dalam tas.


Angkasa mengangkat kedua bahunya "Gak tau, mungkin hari ini" jawab Angkasa dengan santai.


Lalu keduanya beranjak pulang dan menuju parkiran. Saat bersamaan, Tasya juga berada disana, dan mengambil motor maticnya untuk segera pulang, dan saat mata mereka beradu pandang, Samudera melemparkan senyum ramah dan disambut senyum malu-malu oleh Tasya.


Angkasa mengerutkan keningnya dan meraih kunci motor yang dipegang Samudera, lalu menghidupkan mesinnya.


"Mau pulang apa tetap diparkiran?" tanya Angkasa kepada kakaknya yang masih berdiri terpaku menatap gadis ayu tersebut.


Samudera tersentak, lalu beranjak naik ke boncengan dan motor melaju kencang menuju pulang ke rumah.


****


Keduanya berjalan kaki dan melirik ke warung bakso Kang Ujang yang tendanya baru saja diperbaiki karena terkena sambaran petir saat malam itu.


Wuuuuushhh..


Desiran angin menerpa keduanya. Angin yang berhembus sangat dingin dan terasa begitu berbeda, lalu bulu kuduk keduanya meremang, merasakan sesuatu seperti mengikuti keduanya.


"Nih, Syetaan nagapa ngikutin terus sih?" ucap Samudera dengan kesal.


"Mereka mau menculik, kakak" jawab Angkasa terlalu jujur.


"Siaalaann..!! Enak saja main culik!" jawab Samudera yang mempercepat langkahnya.


"Santai saja, Kak! Mungkin saja Ia mau ikutan ke mushallah dan kita ajak shalat berjamaah sekalian!" ucap Angkasa.


Samudera menoleh ke arah Angkasa "Mereka setaan laknaat! Mana mungkin mau taunat!" balas Samudera.


Angkasa mengangkat ke dua bahunya, lalu mempercepat langkahnya menuju mushlallah.


Saat bersamaan, keduanya melihat sesuatu melintas dihadapan mereka bersamaan dengan berkumandangnya adzan.


Dengan kesal, Angkasa memungut sebuah batu kerikil yang ada di jalanan, lalu dengan mengucapkan ta'awuzd Ia melemparkannya kepada sosok yang melintasi mereka barusan.


Wuuuussssh..


Batu kerikil itu mengenai kepala sosok yang melintasi mereka yang tak lain adalah Nini Maru, lalu keduanya ngacir menuju mushallah.


"Sialaan, tuh Bocah.!!" maki Nini Maru dengan kesal "Awas, kalian, Ya!" ucapnya, lalu beranjak pergi.


Saat ini, Satria dan juga Mirna sedang berada diperjalanan bersama Mala dan juga Bayu yang menumpang mobil mereka karena mobil Bayu kecebur sungai.


Mereka baru saja selesai melaksanakan shalat maghrib dan melanjutkan perjalanan pulang.


Saat melintasi jembatan yang malam itu membuat mereka mengalami kecelakaan, Bayu dan Mala saling pandang, sebab masih terngiang diingatan mereka peristiwa tersebut.


Saat keduanya masih sedang berfikir tentang hal tersebut, tiba-tiba sosok Ki Genderuwo berada ditengah jalan dan menghalangi jalan mereka, dan..


Wuuuuusssh..


Kedua mata Mala dan Juga Bayu membola saat mengetahui sosok itu tertabrak mobil yang dikendarai oleh Satria.


Seketika Mala tercengang "Sat.. Kanu barusan nabrak apaan?" tanya Mala dengan penasaran, sebab tampaknya Satria dan juga Mirna tak merespon apapun dengan apa yang sudah terjadi.


"Itu Syetaan iseng, Bu!" jawab Satria tenang.


Dan benar saja, Kini Ki Genderuwo sudah berada di depan kaca mobil dan menghalangi pandangan Satria untuk menyetir mobil.


Tubuhnya yang besar dan berbulu lebat itu menatap dengan sorot mata merah menyala mencoba mengguncang mobil yang mereka tumpangi sehingga membuat mobil itu oleng.


Satria mencoba menepikan mobil dan sengaja mengerem mendadak membuat sosok Ki Genderuwo terpental.


Lalu Mirna turun dari dalam mobil dan menatap pada Ki Genderuwo yang sedang berusaha untuk bangkit dan menggeram dengan kuat.


Mala dan Bayu tetperangah melihatnya menatap bingung.


Sosok tinggi besar itu melayangkan tendangannya kepada Mirna dengan kesal. Lalu Ia Mirna menghindar dan melemparkan selendangnya yang berhasil mengikat pergelangan kaki Ki Genderuwo, lalu memutar-mutarnya dan kemudian melemparkannya hingga terpental jauh.


Mala dan Bayu hingga terperangah melihat aksi Mirna yang diluar nalar dan ini semakkn membuat Mala penasaran tentang siapa menantunya sebenarnya.