MIRNA

MIRNA
Episode 70



Mirna memasuki rumah setelah Satria membawa seluruh bahan belanjaan miliknya. 


"Mas sudah sarapan?" Tanya Mirna saat sudah berada didapur.


Satria hanya menggelengkan kepalanya, dan meletakkan beras yang baru saja dibawanya.


Mirna kemudian meracik daging yang baru saja dibelinya, lalu akan memasak daging teriyaki dan tumis kangkung.


Sementara itu, Satria memperhatikan para tukang yang sedang bekerja dan sepertinya jari akan selesai.


Satria kembali ke dapur setelah mencoum aroma daging yang sedang dimasak oleh Mirna.


"Emmmm.. harum sekali  masakan kamu, Sayang" ucap Satria saat sudah tiba didapur. Mirna tersenyum tipis menanggapinya.


Setelah hampir 30 menit menunggu, akhirnya masakan Mirna selesai juga. 


Mirna menatanya dipiring dan menyajikannya untuk Satria dan juga para tukang tersebut.


Mirna menyajikannya ditempat dan wadah yang berbeda.


Satria makan didapur, sedangkan para tukang itu makam diruang tengah.


Satria tampak sangat lahab memakan masakan Mirna "Enak banget, Yank..  kapan kamu balik lagi ke rumah?" Tanya Satria tak sabar.


"Mirna masih betah tinggal dirumah jni, Mas.. nanti akan Mirna kabari jika sudah siap l


kembali kesana" jawab Mirna selembut mungkin.


Satria tampak sedikit kecewa, sebab tanpa Mirna Ia merasa kesepian, serta pekerjaan rumah yang juga membuatnya harus mengerjakannya.


"Jangan lama-lama, Ya" pinta Satria dengan menghiba. 


Mirna menganggukkan kepalanya, lalu menuangkan air kedalam gelas dan memberikannya kepada Satria.


Sementara itu, Yanti menuju kamar rahasia yang terletak dibagian kamar belakang dan selalu terkunci. Yanti tampak terus menghubungi pria yang bernama brewok tersebut.


Tiba-tiba saja sebuah desiran angin berhawa sangat dingin menerpa kulitnya, lalu aroma kembang kenanga menyeruak kedalam kamar rahasia tersebut.


Bersamaan dengan hal tersebut, muncul sosok wanita berambut panjang dengan raut wajah setengah terbakar dan menggunakan gaun berwarna merah.


"Apakah Kau sudah menyediakan tumbal janin untukku?" Tanya Sosok mengerikan itu dengan suara parau.


Kalau sesaji ayam cemani dan burung gagak sudah aku usahakan, namun tumbal janin masih sedang aku fikirkan" ucap Yanti setengah berbisik agar tak didengar Mbak Lisa yang Ia takut tiba-tiba menguping pembicaraannya.


"Apakah Kau melupakan seseorang? Sepertinya Ia akan menjadi tumbal yang menyegarkan malam ini.." ucap Sosok wanita yang tak lain adalah Nini Maru.


Yanti mengernyitkan keningnya, Ia mencoba mengingat siapa sosok yang dimaksud oleh Nini Maru, seketika Ia tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya.


"Ya.. aku mengingatnya, dan malam nanti Aku akan pergi kesana untuk mengambilnya" ucap Yanti dengan sumringah.


"Bagus.. kau memang abdiku yang dapat ku andalkan. Dan tampaknya Kau juga sedang mengandung, maka persiapkan janin itu untukku, maka kekayaan melimpah akan menantimu" ucap Nini Maru menjanjikan.


 


Yanti menganggukkan kepalanya, dan tersenyum bahagia mendengar apa yang dijanjikan oleh Nini Maru.


Disisi lain, Satri2qa merasakan hawa panas yang tak jauh dari rumah Mirna, Ia memejamkan matanya, dan mencoba mencaritahu apa yang sedang dirasakannya.


Tak jauh dari Ia berada, Ia melihat sosok yang mengerikan itu sedang berada disebuah kamar, dan bersama Yanti, seorang gadis yang pernah menjadi asisten rumah tangga dan juga memfitnahnya.


Satria tersentak dari duduknya dan menatap Mirna "Sayang.. kamu tidak bisa berada dirumah ini sendirian, kamu harus ikut Mas balik kerumah" pinta Satria merasa cemas dengan keadaan Mirna.


Sesaat Satria tersadar dengan apa yang diucapkan oleh Mirna, Ya.. diatara mereka Syafiyah adalah yang terlemah.


Mirna meyakinkan Satria jika Ia akan  baik-baik saja dan dapat menjaga dirinya sendiri.


"Tetapi Kamu sedang mengandung, Sayang.. dan Nini Maru pasti sedang mengincar janin ini" ucap Satria setengah berbisik agar tak didengar oleh kedua tukang tersebut.


Mirna mengerjapkan kedua matanya "Jaga Syafiyah, Mas.. Ia juga tampak sedang mengandung" ucap Mirna mengingatkan.


Satria mendenguskan nafasnya dengan berat, dan menganggukkan kepalanya.


"Ya.. tapi Mas juga harus menjagamu, jiak kamu tinggal disini, maka sulit bagi Mas untuk mengawasimu" ucap Satria sembari menggenggam jemari lentik Mirna.


Hari hampir senja, kedua tukang itu sudah selesai mengerjakan pekerjaannya, dan Satria membayarnya sesuai perjanjian mereka.


"Besok akan datang sofa yang baru, dan Mas usahakan Mas akan datang esok, Mas kangen sama Kamu" ucap Satria dengan lirih.


Mirna tersenyum tipis "Hampir senja, Mas. Segeralah kembali, malam ini malam Jum'at, jaga Syafiyah dengan baik" ucap Mirna mengingatkan.


Satria dengan terpaksa mengangguk dan sebelum Ia pergi meninggalkan Mirna, Ia menyesap lembut bibir mungil milik Mirna, lalu berpamitan pulang dengan berat hati.


Mirna menatap kepergian Satria dan melambaikan tangannya hingga mobil Satria menghilang ditikungan jalan.


WMirna ingin menutup pintu rumahnya, namun Ia melirik kearah warung Yanti, dan melihat seorang pria paruh baya yang sedang membawa sesuatu, dan Mirna dan mencium aroma darah segar yang berasal dari darah ayam cemani dan juga darah burung gagak yang dimasukkan kedalam kantong plastik.


Seaaat mata Mirna beradu dengan mata pria paruh baya itu. Pria itu tampak tersentak kaget melihat tatapan tajam mata Mirna, lalu Mirna kembali masuk kedalam rumah dan mengunci pintu rumahnya.


Rumah masih tampak berantakan karena baru selesai dipasang platfom, dan Mirna menarik selendangnya, lalu mengibaskannya dan seketika ruangannya bersih tanpa noda.


Mirna membaringkan tubuhnya diranjang, Ia membelai perutnya yang sedikit membuncit, Ia bersenandung cinta dengan begitu syahdu, dan Satria yang baru saja sampai didepan pintu rumahnya merasa tersentuh dengan senandung yang dibawakan oleh Mirna.


Malam telah tiba. Udara begitu terasa sangat dingin, dan semua orang mulai tampak larut dengan aktifitas masing-masing.


Warung milik Yanti masih tampak sepi, mungkin karena baru buka siang tadi dan belum ada orang ingin berkunjung.


Lisa memancingnya dengan menghidupkan musik yang sangat keras dan berdentum seakan memekakkan telinga.


Sementara itu, Yanti masih berada didalam kamar rahasianya. Ia meletakkan darah ayam cemani dan juga darah burung gagak didalam dua buah cawan.


Lalu Ia menata daging ayam cemani dan juga daging burung gagak dalam sebuah nampan yang berbentuk bundar.


Yanti membakar dupa yang sudah disediakannya dengan menaburkan sepotong kemenyan dan memercikan minyak duyung ke bara api tersebut.


Kemudian Yanti mengambil kembang tujuh rupa dan memasukkannya kedalam darah yang tersedia didalam cawan tersebut.


¹


Seketika aroma khas kemenyan beserta minyak duyung yang beraroma kuat menyengat itu menyeruak memenuhi kamar rahasianya.


Yanti mulai melakukan ritual pemujaan. Ia menanggalkan pakaiannya hingga tanpa sehelaipun, lalu Ia duduk bersila dan membaca mantra untuk pemanggilan Nini Maru.


Sesaat aroma kembang kenanga disertai desiran angin dengan hawa dingin sedingin es Mengiringi kemunculan sosok itu.


Sosok wanita yang tak lain Nini Maru, menempel didinding kamar rahasia milik Yanti dan , lalu merangkak turun dan menghampiri sesaji yang disediakan oleh Yanti.


Nini Maru kemudian menyesap sari sesaji yang disediakan oleh Yanti. Setelah puas, Ia menatap pada gadis itu, lalu membelai ujung kepala sang gadis dengan menggunakan jemarinya yang panjang dan keriput serta kuku jemarinya yang meruncing dan berwarna hitam.


Sebelum tengah malam nanti maka pergilah untuk mencari tumbal janin untukku, setelah itu, puaskan satu pria untuk menjadi korban persembahan dan cabutlah buah lato-latonya, lalu letakkan ditempat sesaji ini bersamaan dengan janin tersebut dan akan datang sosok bayangan hitam yang akan menerima sesaji darimu, lalu bercintalah dengannya, esok akan kau temukan kekayaan yang kau inginkan" ucap Nini Maru dengan suara paraunya.


Lalu dengan sekejab Nini Maru menghilang, dan kini Yanti mengambil satu cawan berisikan cairan darah yang merupakan campuran darah ayam cemani dan juga burung gagak. Yanti meneguk setengahnya, lalu menyiramkannya keujung kepalanya, dan menjadikannya lulur keseluruh tubuhnya.