
terdengar lantunan adzan subuh. Satria bangun dari tidurnya, bergegas kekamar mandi membersihkan diri dan bersuci, lalu akan berangkat ke mushallah.
Saat ini Ia berpapasan dengan Bayu sang Ayah sambungnya yang juga akan berangkat ke Mushallah, lalu keduanya berangkat bersamaan.
Sementara itu, Mirna menggeliatkan tubuhnya, lalu beranjak bangkit dari ranjangnya dan pergi kekamar mandi membersihkan diri. Setelah itu Ia keluar dari kamarnya, dan melihat Mala juga sudah keluar dari kamarnya dengan menggunakan mukena.
"Sudah bangun?" tanya Mala lembut, lalu beranjak keruangan shalat keluarga.
Mirna menganggukkan kepalanya, dan mengekori Mala dari arah belakang.
"Ibu mau shalat dulu, apakah Kamu mai ikut juga?" tanya Mala dengan lembut.
Mirna hanya menganggukan kepalanya. "Kamu sudah berwudhu?" tanya Mala. Mirna menggelengkan kepalanya.
Mala terdiam, lalu menatap pada Mirna. "Ya sudah.. Ikutin saja gerakan saya, nanti akan saya pinta Satria untuk mengajarimu rukun-rukunnya" ucap Mala.
Lalu Ia membantu Mirna mengenakan mukenandan juga sarungnya.
Mirna tampak sangat cantik dengan balutan mukena itu "Kamu cantik sekali, Sayamg" puji Mala kepada Mirna yang membuat gadis itu tersipu dan merundukkan kepalanya.
Ditempat lain, Nini Maru bergetar tubuhnya dan merasa sangat gelisah. "Mirnaaaaa.. Jangan lakukan itu.. Aku membencimu!!" teriak Nini Maru.
Pohon beringin tampak berguncang dengan begitu kerasnya.."Aaaaaarrrgh.. Pengkhianat..!! Kamu Mirna!" teriak Nini Maru dengan sangat kesal.
Mala melaksanakan shalat subuhnya dengan sangat khusyuk dan Mirna mengikutinya dari arah belakang. Ada sesuatu yang membuat Mirna begitu sangat gelisah, Ia seperti merasakan rasa dingin menjalar keseluruh tubuhnya.
Hingga Mala selesai shalat subuh, Mirna masih diam duduk diatas sejadahnya dan Mala mengajaknya untuk masuk kekamar.
Setelah Mala sang ibu mertua meninggalkannya, Ia membuka mukenanya, lalu pergi kedapur dan memasak sarapan.
Satria dan Bayu baru pulang dari Mushallah. Ia pergi kedapur mengambil air minum dan melihat Mirna mengerjakan pekerjaan rumah tangga layaknya seorang istri pada umumnya.
Namun Mirna tampak diam, tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.
Malam pertama mereka dilewati tanpa aktifitas apapun, sehingga keduanya terlihat seperti bukan pengantin baru.
Satria masih ragu akan keputusannya yang telah menikahi Mirna, Ia masih membutuhkan waktu untuk menerima kenyataan ini.
Satria kembali kekakamar Syafiyah, Ia melihat istri pertamanya itu baru saja bangun tidur. Satria menghampirinya dan duduk ditepian ranjang.
"Bagaimana, Mas?" tanya Syafiyah dengan perasaan penasaran.
Satria mengerutkan keningnya "Bagaimana apa maksudnya?" Satria balik bertanya.
"Apakah sudah melaksanakan kewajiban Mas untuk memenuhi hak Mirna? Hak nya mendapatkan kebutuhan bathinnya" jawab Syafiyah dengan lirirh.
Satria hanya terdiam, lalu menatap pada Syafiyah "Kamu belum mandi, Ayo Mas mandikan" Satria mengakihkan pembicaraannya.
Syafiyah tau jika Satria belum menunaikan kewajibannya, Ia dapat melihatnya dari gerakan tubuh dan mimik wajah sang suami.
"Kamu mengalihkan pembicaraan Kita, Mas.. Jangan sampai Kamu menanggung dosa karena mengabaikannya" ucap Syafiyah mencoba menasehati Satria.
Pria itu hanya berdiam diri saja, Ia menggendong tubuh Syafiyah, lalu membawanya kekamar mandi, dan memberihkan tubuh istrinya.
"Mas lagi ingin bercinta, Sayang.." ucap Satria saat memandikan tubuh polos Syafiyah.
"Tapi Mas kan tau, kalau fiyah tidak bisa melakukannya, pinggang fiyah sakit jika dihentak" jawab Syafiyah.
Satria telah selesai memandikan Syafiyab, saat Ia keluar dari kamar mandi, Ia melihat Mirna baru saja keluar dari kamar mereka. Ternyata Mirna membawakan sarapan untuk Syafiyah.
Satria menyalin pakaian untuk istri pertamanya, lalu menyisir rambutnya, dan menyuapinya hingga selesai.
Saat Satria meletakkan piring didapur, Ia melihat Mala, Ibunya dan juga Bayu sang amAyah sambungnya tengah menikmati sarapan buatan Mirna.
Selama ini Ibunya yang selalu menyajikan sarapan dan makanan untuk sehari-hari, belum pernah Ibunya mendapatkan pelayanan seperti itu.
"Eh.. Satria.. Sini sarapan.. Ternyata Mirna pintar memasak juga.." ucap Ibunya sembari menyuapkan sarapannya.
Satria duduk dikuesi makan, lalu Mirna mengambilkan piring dan juga sendok untuk Satria, menyodorkan sarapan yang sudah diasingkan khusus untuk Satria.
Selama menikahi Syafiyah, belum pernah Ia merasakan pelayanan seperti yang dilakukan Mirna untuknya.
Namun Satria melihat jika Mirna tak banyak bicara, hanya melakukan hal yang harus dilakukannya saja.
Setelah selesai sarapan, Ibunnya berpamitan karena Pak Bayu akan melakukan pekerjaan.
"Ibu pamit pulang ya, Sayang.. Sebab Ayahmu akan melakukan pekerjaannya" ucap Mala dengan tenang.."Sekarang Ibu merasa lega, karena ada Mirna yang mengurus keperluan Kamu" ucap Mala dengan sangat tenang, sembari melirik kepada Mirna yang tampak tertunduk.
Satria hanya tersenyum miris dan tidak menajwab apapun.
Mala pergi meningalkan rumah Satria dan kini tinggal Satria dan Mirna yang masih didapur.
Mirna memunguti piring kotor sisa makan Ibu mertuanya. Ia mengumpulkan piring-piring itu kedalam washtafell.
Satria menyuapkan sarapannya sembari terus melirik kearah Mirna yang sibuk dengan piring kotornya.
Terbesit rasa kasihan pada gadis itu karena Ia telah mengabaikannya. Namun Ia tidak ingin memaksakan sesuatunya, Ia ingin semuanya mengalir apa adanya.
Setelah sarapan, Satria meletakkan piring kotornya diwastafell, namun secara bersamaan, Mirna ingin meletakkan piring yang bersih ke rak piring hingga mereka bertabrakan dan hidung mancung Satria menyentuh pipi putih Mirna.
Keduanya terdiam dalam beberapa menit dan nafas mereka memburu dalam jarak yang sangat begitu dekat.
Satria segera menjauh, Ia tau jika perasaannya saat begitu sangat berbeda. Ia menyadari jika dimata gadis ada cinta dan harapan yang begitu sangat besar. Apakah Ia begitu sangat egois sehingga mengabaikan istri keduanya.
Lalu Satria memasuki kamar Syafiyah. Ia menuju meja kerjanya, namun peristiwa tadi membuatnya sangat gelisah dan juga tidak fokus dalam bekerja.
Satria kembali keluar dari kamarnya, lalu menuju dapur, dan tak menemukan Mirna didapur. Ia mencarinya kekamar, namun tak juga Ia temukan.
Sesaat Satria merasa gelisah. Ia merasa khawatir tentang kemana Mirna yang tiba-tiba menghilang.
Lalu Satria pergi keluar dan mencari Mirna diluar, Satria menduga jika Mirna merajuk dan pulang kerumahnya ditepi hutan.
Satria merasa sangat menyesal dengan sikap Acuhnya, lalu tanpa sengaja Ia melihat Mirna sedang berada disamping rumah sedang menjemur pakaian. Wajahnya yang Ayu tertepa sinar mentari yang menambah kecantikannya kian bertambah.
"Sepagi ini Ia telah menyelasaikan semua pekerjaan rumah tangga?" Satria berguman dalam hatinya dan memandangi wajah ayu yang hanya diam tanpa sepatah katapun.
Setelah selesai dengan jemuran pakaiannya, Mirna berjalan hendak masuk kedalam rumah, lalu Satria buru-buru pergi dari ambang pintu. Ia menuju kamar Mirna dan duduk ditepian ranjang.
Satria terlihat gugup dan dan juga bingung dengan perasaannya.
Ia mendengar suara derap langkah kaki Mirna memasuki kamarnya, dan Satria semakin gugup.