MIRNA

MIRNA
episode 120



Yanti masih menetralkan nafasnya yang tersengal karena merasakan mimpi buruk yang sangat mengerikan.


Wanita itu beranjak dari tidurnya dan menatap cermin yang mencoba melihat dirinya yang tampak kacau


Yanti memegang kulit wajahnya yang rusak akibat terkena siraman kopi panas ayahnya. "Bukannkah Nini Maru menjanjikan wajah yang cantik kepadaku jika dapat memberikan tumbal untuknya? Namun mengapa kulit wajahku tetap rusak seperti ini?" guman Yanti dengan kesal.


Lalu Ia mencoba memalingkan wajahnya menatap kolong ranjangnya yang tadi sudah membawanya pada mimpi menyeramkan dan menakutkan.


Yanti merunduk dan mencoba melihat ke bawah kolong ranjang itu, namun tak ada yang tampak menakutkan disana, hanya ada sisa aroma amis darah yang mengering, Yanti menduga jika tidak bersih dalam mengepel kemarin.


Setelah memastikan tak ada apapun dikolong ranjangnya, Yanti keluar dari kamarnya. Ia melihat pelanggan warungnya sangat ramai, dan Ia tersenyum jika ini akan menambah pundi-pundi uangnya.


Lalu Yanti berjalan menyusuri koridor menuju dapurnya. Namun belum sempat Ia sampai ke dapur, seorang pelanggan yang sedang mabuk parah menariknya, lalu dengan brutal menggaulinya, sedangkan Ia saat ini masa dalam penyembuhan karena rahimnya yang terasa gatal dan juga luka.


Pria itu meninggalkannya begitu saja setelah mendapatkan penuntasannya dan berjalan sempoyongan karena dalam kondisi mabuk parah.


Yanti mengomel dengan kesal karena Ia masih merasakan nyeri di organ intinya. Namun Yanti akhirnya memilih untuk pergi ke dapur dan menuju kamar rahasianya.


Yanti berjalan tertatih menuju kamar rahasianya dan segera menguncinya.


Aroma busuk menyeruak dari dalam kamar tersebut dan terlihat tubuh pria yang menjadi korban kebiadaban Yanti dan Rey itu sudah menggembung dan membiru.


Kulit-kulitnya tampak sudah berkelupas dan dibagian organ intinya yang dicabut paksa itu sudah membusuk dan mengeluarkan belatung.


Yanti merasa bingung untuk menghilangkan bau busuk tersebut.


Dengan kebingungan, Yanti mencoba memikirkan cara menghilangkan bau pada Jasad tersebut.


Yanti Ingin menumpukkan jasad itu pada tumpukan kerangka lainnya dan menjadikannya satu.


Kini sudah ada 3 kerangka dan 1 jasad pria yang berada didalam kamar itu.


Wanita itu menarik lengan jasad pria tersebut agar menumpuk dengan kerangka lainnya, bukannya bergerak, tetapi lengan itu malah terlepas dan membuat Yanti terjatuh dilantai.


Wanita itu mendengus kesal, lalu melemparkan lengan itu dengan begitu saja.


Yanti beranjak bangkit dan keluar dari kamar rahasia itu untuk keluar dan membeli minyak tanah untuk menyiram jasad pria tersebut.


Diperjalanan, Ia mendadak menghentikan mobilnya karena sesaat Ia melihat bayang sosok wanita bergaun merah sedang melayang dan masuk kedalam mobilnya.


Yanti tampak terkejut karena kehadiran Nini Maru yang datang tiba-tiba.


"Apaan sih, Ni? Datang dengan tiba-tiba saja" Yanti mengomel kesal. Ia sangat tidak ingin jika Nini Maru meminta tumbal lagi.


Wanita bergaun merah dengan rambut panjang yang tergerai begitu saja menambah kesan menyeramkan pada sosok wanita itu.


"Kamu harus.." ucapan Nini Maru terhenti.


"Harus apa Ni?! Jangan katakan jika Nini minta tumbal lagi?" Yanti menyela dengan cepat.


"Sialan Kamu..!! Bisa-bisanya menyela saya saat belum selesai berbicara" jawab Nini Maru dengan kesal.


Yanti memanyunkan bibirnya dengan kesal, sebab Ia tidak ingin mendengar Nini Maru meminta tumbal lagi.


"Aku ingin kamu mengerjakan sesuatu yang sangat penting" ucap Nini Maru dengan suara parau.


"Apalagi sih, Ni.. Aku ini lagi repot mau mencari minyak tanah untuk menghilangkan bau jasad pria yang ada dirumah" Yanti mengeluh dengan kesal.


Yanti mendenguskan nafasnya dengan lebih kesal dari Nini Maru "Tugas apaan?" tanya Yanti dengan kesal.


"Syafiyah" ucap Nini Maru dengan cepat.


Yanti terperangah dan mengerutkan keningnya mendengar nama mantan majikannya yang disebut oleh Nini Maru.


"Syafiyah?" Yanti kembali mengulangi nama itu.


"Ya.. Dia. Kamu harus dapat membuat wanita itu celaka dan jika perlu ambil janinnya" ucap Nini Maru dengan suara yang sangat parau dan penuh penekanan.


Seketika Yanti merasa bingung, sebab mengapa Nini Maru begitu tampak dendam dan menginginkan janin dalam kandungan Syafiyah. Selama ini Nini Maru selalu tidak pernah menolak janin siapapun yang Ia tumbalkan. Namun mengapa kali ini Ia menginginkan janin Syafiyah? Yanti teramat penasaran.


"Mengapa Nini begitu sangat inginkan janin Syafiyah? Apakah Nini memiliki dendam di masa lalu?" tanya Yanti penuh selidik.


"Itu bukan urusanmu.!! Tugasmu adalah untuk mengambil janinnya, dan lakukan itu dengan baik" titah Nini Maru dengan penekanan.


Yanti tersenyum sinis "Tetapi Aku ingin tahu!" jawab Yanti dengan penuh ambisi.


Nini Maru menatap pada Yanti "Kau itu adalah budakku, maka ikuti semua yang Ku katakan.!! Ucap Nini Maru sembari menajamkam pandangannya dan mencengkram dagu Yanti dengan menggunakan jemari tangannya yang keriput dengan kuku-kukunya yang tajam dan runcing.


Yanti meringis kesakitan, dan merintih dengan suara tertahan.


Setelah melakukan penekanan kepada Yanti, Nini Maru melayang pergi dengan meninggalkan aroma kenanga yang menyeruak dengan begitu menyengat.


Yanti menhempaskan tubuhnya disandaran jok mobilnya. Nafasnya tersengal dan sangat memburu.


Ia sebenarnya penasaran mengapa Nini Maru begitu menaruh dendam terhadap Syafiyah dan ini merupakan sesuatu yang membuat Yanti sangat penasaran.


"Jika Syafiyah keguguran, apakah aku bisa mendekati Satria? Tetapi wanita bernama Mirna itu sangat sulit disingkirkan dan Ia menjadi batu sandungan untukku" Guman Yanti dengan lirih.


Seketika Yanti teringat akan jasad pria tersebut, Ia harus mencari bahan untuk menghilang bau pada jasad tersebut.


Yanti menghampiri toko sembako ditempatnya biasa berbelanja.


Namun tidak ada menjual minyak tananh.


Seketika Ia melihat ikan asin yang dijual ditoko tersebut.


Yanti mulai mengubah Idenya, Ia ingin menaburkan garampada jasad pria itu.


Ia membeli banyak garam hingga hampir 40 pak besar ia beli dan membuat pemilik toko merasa bingung dengan apa yang dilakukan oleh Yanti, namun Ia tak mengambil peduli dan menjual garam tersebut.


Kemudian Yanti meminta plastik berukuran besar yang merupakan sisa membungkus Mie hun yang pastinya berukuran besar dan mengambl satu buah karet.


Setelah Yanti membayarnya, Ia segera pulang dan menuju arah pintu belakang.


Yanti mengangkut pack garam itu kebelakang pintu dapur agar memudahkannya untuk melansirnya kedalam kamar rahasinya.


Setelah selesai,Yanti segera buru-buru masuk kedalam warung dan menyelinap ke dapur, lalu menuju kamar rahasianya, Ia membuka pintu dapur dan dengan terburu-buru memasukkan.pac garam itu kedalam kamar tersebut.


Setelah selesai, Ia menguncinya, dan membuka kantong plastik berukuran besar tersebut lalu memasukkan jasad pria tersebug dengan cara ditekuk dan tak lupa memasukkan potongan lengan yang tadi terlepas.


Setelah itu Yanti mengguyur jasad tersebut dengan garam, lalu membungkusnya dan mengikatnya hingga kedap udara.


Setelah itu Ia membiarkan jasad tersebut mengalami pengeringan.