MIRNA

MIRNA
episode-234



Samudera dan Angkasa membolakan matanya melihat sosok itu yang selama ini mereka hormati ternyata seorang fedofil dan melenyapkan nyawa siswinya.


Setelah berhasil melenyapkan nyawa Melly, Sosok itu memutar arah pulang melalui jalan belakang sekolah.


Malam beranjak dengan kegelapan yang sangat pekat. Suasana sangat mencekam dan membuat kesunyian yang begitu dalam.


Lalu berkelebatan bayangan yang menghampiri Jasad Melly yang baru saja menghembuskan nyawanya.


Tampak sosok yang berambut panjang dengan bergaun merah dan dua bola mata bersinar merah menyala menghampiri jasad Melly dan gigi taring disudut bibirnya menyeringai dengan sangat mengerikan.


Jemari tangan keriput dengan kuku runcing yang panjang menyibak jalan lahir milik Melky, lalu jemari runcing itu merobek jalan lahir tersebut dan memaksa masuk lalu mengambil janin yang masih berusia tiga bulan tersebut yang mana juga sudah tidak bernyawa.


Setelah mendapatkan janin tersebut, sosok itu memakannya, dan menyesap darah yang masih mengalir dari sana.


Setelah mendapatkan apa yang diinginkannya, sosok makhluk mengerikan bergaun merah itu segera melesat pergi meninggalkan jasad Melly yang tampak mengenaskan.


Sementara itu, sosok pria berseragam dinas tersebut melaju membelah kegelapan malam. Ia memikih jalan yang sedikit semak dan dipenuh oleh pepohonan kebun warga.


Ia terpaksa melintasi jalanan itu karena agar tidak ada yang melihat apa yang baru saja sedang dilakukannya.


Dengan sedikit gugup Ia mengendarai sepeda motornya membelah jalanan setapak menuju kerumahnya.


Rumah yang tidak begitu mewah dann terletak sedikit menjauh dari rumah warga lainnya.


Ia memasuki rumahnya. Tampak gelap karena Ia belum sempat menghidupkan lampu bohlamnya.


Ckleeeek..


Terdengar suara tombol lampu ditekan, lalu ruangan tampak terang dan membuat sosok pria itu dapat melihat isi ruangannya.


Tak berselang lama, seseok remaja lelaki menyelinap masuk ke dalam ruangan rumahnya.


"Pak!" Seru anak remaja berseragam SMA tersebut.


Sosok pria yang dipanggil Bapak itu menoleh kearah suara remaja lelaki berseragam sekolah tersebut.


"Sejak kapan Kamu disini?" tanya sosok pria itu.


"Baru saja, Pak. Tak lama dari bapak tiba"


Sosok pria itu mendenguskan nafasnya. Lalu memandang remaja laki-laki itu.


"Mana bayaran saya?! Kan saya sudah memenuhi perintah, Bapak!"


Sosok itu menatap tajam pada sang remaja yang kini berdiri dihadapannya dan menuntut pembayaran sesuai perjanjian mereka.


"Kemarilah, mendekat! Aku akan memberikanmu bayarannya.


Remaja lelaki itu mendekat tanpa rasa curiga sedekitpun. Saat jarak mereka begitu sangat dekat, sosok pria yang dipanggil Bapak itu membekap mulut remaja tersebut, dan mengunci kedua tangan sang remaja kearah belakang lalu Ia melumpuhkan remaja itu dengan mudahnya.


Remaja itu tak sadarkan diri, dan dengan cepat sosok pria itu mengikat kedua tangan kebarah belakang dan menyeret tubuh remaja yang sudah tak sadarkan itu kedalam kamar.


Setelah berhasil menyekap remaja itu, Ia melucuti pakaian sang remaja, lalu melakukan hal terburuk dengan cara nista dan keji.


Ia ternyata mengidap kelainan hasrat yang menyukai dua jenis insan sekaligus.


Ia menuntaskan hasratnya kepada remaja lelaki yang tak sadar diri itu melalui jalur belakang, dan setelah merasa terpu-askan, Ia meninggalkan remaja itu didalam kamar dan menguncinya.


Sosok pria itu berjalan menuju terasnya, Ia menyalakan sebatang rokok dan menyulutnya dengan pemantik api, lalu menghi-sapnya dengan sangat dalam dan menghembuskan asapnya yang kini mengepul diudara.


Tatatpannya menerawang jauh. Ia sepertinya sedang mmeikirkan sesuatu. Ia menjadi sosok mengerikan setelah kematian istrinya beberapa tahun yang lalu saat melahirkan calon bayinya. Lalu Ia berubah karena tidak dapat menyalurkan hasratnya, dan menyalahkan Tuhan yang telah merenggut istrinya.


Samudera dan Angkasa berusaha mencari jalan kembali, dan sukma keduanya berusaha untuk kembali ke raganya.


Keduanya tersentak dan saling pandang setelah mengetahui siapa yang mereka lihat sebagai pembunuh tersebut.


Lalu keduanya mencoba untuk membongkar kedok tersebut.


"Ayo, kita kesana!"


"Boleh makan siang dulu, gak?! Kakak lapar banget. Menjalankan misi juga butuh tenaga" cecar Samudera.


Angkasa mengerutkan keningnya, lalu mencoba membenarkan apa yang diucapkan oleh Kakaknya.


Lalu keduanya beranjak dari kamar dan menuju kedapur untuk melihat makan siang yang biasanya sudah disediakan oleh ibunya, Mirna.


Setelah keduabya makan siang, mereka menuju keluar dan mengendarai sepeda motornya, lalu keduanya menuju sebuah tempat dimana sosok yang mereka curigai itu berada.


Keduanya menyusuri jalanan setapak menuju sebuah rumah yang menjadi tempat penyekapan sesosok remaja yang tak lain adalah kakak kelas mereka.


Berjarak sekitar 30 meter dari rumah tersebut, Samudera menghentikan sepeda motornya dan meminta Angkasa untuk turun dari boncengan.


"Turun! Kita berhenti disini saja, dan harus menjaga jarak!" titah Samudera.


Angkasa menganggukkan kepalanya, lalu turun dari boncengan dan mencoba membantu Samudera mendorong sepeda motor mereka untuk disembunyikan kedalam semak.


Setelah menyembunyikan sepeda motornya, mereka kemudian mengendap-endap menuju rumah tersebut.


"Sepertinya bapak itu belum pulang dari sekolah, sebab polisi masih memeriksa seluruh staf sekolah" ujar Samudera.


Angkasa menganggukkan kepalanya, lalu melanjutkan mengendap ke belakang rumah sosok pria yang mereka hormati selama ini.


"Kita lewat pintu belakang saja! Tapi bagaimana caranya membuka pintu dapur ini?" ucap Samudera.


Lalu Angkasa menghampiri handle pintu tersebut, Ia memejamkan kedua matanya, lalu menggerakan kunci pintu yang berada didalam rumah dengan fikirannya.


Seketika pintu itu terbuka, dan mereka menerobos masuk dan memeriksa ruangan.


Sebuah kamar menjadi perhatatian mereka "Pintu kamar yang itu!" ucap Samudera.


Angkasa menganggukkan kepalanya, lalu Angkasa dengan menggunakan keahliannya yang tak biasa membuka pintu tersebut dan mereka melihat sosok kakak kelas mereka sedang terkapar dan tak sadarkan diri.


Sepertinya Ia sudah berulang kalai mendapatkan pelecehan. Lalu Angkasa membantu memakaikan pakaian seragam sekolah itu kepada kakak kelasnya.


Setelah selesai, Samudera memanggul tubuh remaja itu dipundaknya.


"Ayo! Kita segera bawa Ia kekantor polisi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.


Keduanya bergegas keluar dari kamar, dan saat keduanya keluar dari kamar, tiba-tiba..


"Kalian..!! Apa yang kalian lakukan disini? Letakkan tubuh Dody kembali ke kamar, sekarang!" titah sosok itu kepada Angkasa dan Samudera dengan nada perintah.


Keduanya saling pandang, dan kini mereka menatap sosok pria itu dengan tatapan menantang.


"Kalau kami tidak mau, Bapak mau apa?!" Angkasa balik menantang.


"Breengsek..!! Siapa yang meminta kalian memasuki rumahku tanpa seijinku!" ucap Pria itu dengan sengit.


Lalu Angkasa membisikkan sesuatu kepada Samudera.


"Ayo! Pergilah. Bawa Ia ke kantor polisi, dan masalah bapak ini biar aku yang menanganinya" ucap Angkasa kepada kakakanya.


Lalu Samudera menganggukkan kepalanya, dan membawa tubuh Dody diatas pundaknya, lalu menyelinap dari arah pintu dapur.


"Tunggu!! Jangan bawa Dody, Breeengsek!" makai pria itu dengan penuh amarah.


Tiba-tiba Ia meraih senjata tajam yang terselip didinding rumahnya yang terbuat dari kayu dan ingin mengejar Samudera yang melarikan tubuh Dody.


Saat itu Angkasa mencoba menahan kejaran sosok bapak tersebut dengan sebuah tendangan.


Buuuugh..


Aaaaaggh..


Sosok yang dipanggil bapak itu terjerembab dilantai dengan sebilah senjata tajam yang masih berada ditangannya.