MIRNA

MIRNA
episode 118



Mirna menatap cermin dikamarnya. Ia mematut dirinya disana "Mengapa Mas Satria terlalu lama berada dikota? Tidakkah Ia tahu jika disini begitu banyak masalah? Ataukah disana masih banyak masalah" Mirna berguman lirih, lalu pandangannya menembus jauh ke suatu tempat.


Tampak olehnya seorang pria tampan yang tak lain adalah suaminya tampak sedang duduk dikelilingi oleh beberapa orang pria termasuk Hadi sang adik iparnya.


Sepertinya mereka terlihat begitu sangat serius dalam membahas sesuatu yang sangat penting. Mirna tidak tahu itu apa, namun mereka sepertinya sedang membahas pekerjaan yang menyangkut tentang perusahaan Satria.


Rasa rindu menyeruak didalam hati Mirna, namun sepertinya suaminya sedang tidak dapat diganggu saat ini.


Sementara itu, Syafiyah meringkuk dikamarnya. Ia masih bingung mengapa Mirna memiliki kekuatan super yang tak biasa, dan sosok genderuwo yang selalu mengganggunya itu seolah menginginkan janin dalam kandungannya.


"Mengapa sosok berbulu itu mengingankan janinku? Apakah janin ini kelak akan menjadi manusia yang sangat berbeda?" guman Syafiyah dalam hatinya.


"Tetapi tidak mungkin, jikapun menjadi manusia berbeda itu tentu anaknya Mirna, sebab Ia memiliki tenaga yang luar biasa" Syafiyah berguman lirih.


"Apakah anakku dan anakna kelak akan bisa akur? Dan bagaimana dengan harta dari Mas Satria? Apakah akan dibagi sama rata juga?" Syafiyah mulai menduga-duga kemungkinan kedepannya.


Syafiyah melirik jam didinding kamarnya dan melihat sudah hampir menunjukkan waktu Isya. Ia merasa sangat lapar dan ingin pergi kedapur untuk mengambil makan malamnya.


Saat berada dimeja makan, Ia melihat ada beberpa lauk makan malam yang sudah tersedia. Sepertinya Mirna telah memasak sedari siang tadi.


Ia kemudian mengambil sebuah piring menyendokkan nasi di atas piring makannya dan ayam goreng sambal yang membuatnya lapar.


Saat sedang asyik menyantab makan malamnya, Ia seolah mendengar suara berisik angsa yang mengitari rumahnya. Ia mencoba untuk tidak perduli, namun rasa berisiknya semakin begitu jelas dan kali ini seperti tepat didepan pintu dapur.


"Angsa siapa yang berisik banget keliling rumah? Nanti kalau Mas Satria sudah balik, Aku suruh pagar saja rumah ini keliling, agar tidak ada yang bisa masuk sembarangan apalagi hewan peliharaan" guman Syafiyah dengan kesal.


Suara itu semakin lama semakin kuat dan terdengar jelas, membuat Syafiyah penasaran ingin membukanya, dan Ia beranjak dari duduknya, ingin mengusir hewan tersebut karena suaranya yang sangat berisik.


Syafiyah melangkah dengan cepat, lalu akan membuka pintu dapur belakang, tetapi langkahnya terhenti, sebab Ia masih teringat akan peristiwa saat disumur belakang, sebab pintu dapur menuju arah sumur belakang.


Syafiyah menjadi ragu dan mengurungkan niatnya untuk tidak membuka pintu dapur. Ia berjalan mundur dan berniat untuk kekamarnya, namun saat Ia berjalan mundur, Ia menabrak tubih Mirna dan tersentak kaget.


"Mirna..!! Ngagetan saja!!" ucap Syafiyah ketus saat memutar tubuhnya dan melihat Mirna dibelakangnya.


"Jangan pernah buka pintu ataupun jendela kamar saat malam hari, dan abaikan suara hewan tersebut, sebab itu adalah jelmaan dari makhluk yang sedang mengincar janin Mbak Syafiyah" Ucap Mirna mencoba menjelaskan.


Syafiyah menatap pada Mirna "Berisik.!!" ucapnya dengan kesal, lalu pergi masuk kedalam kamarnya.


Setelah berada didalam kamar, Ia mencoba merenungkan apa yang diucapkan oleh Mirna. "Mengapa Mirna mengatakan jika Makhluk itu sedang mengincar janinku? Mengapa bukan janinnya? Atau jangan-jangan Mirna adalah pelaku dari semuanya?" Guman Syafiyah lirih.


"Bisa saja Ia bekerjasama dengan para makhluk tersebut, namun berpura-pura menasehatiku" gumannya lagi dengan praduga yang semakin membuatnya penasaran.


Saat sedang dalam dugaan-dugaannya, tiba-tiba saja suara lemparan yang sangat kuat diatas genteng rumah mereka. Suara keras itu begitu nyata terdengar, hingga membuatnya tersentak, namun tak benda itu menggelinding jatuh.


Sesaat Ia mendengar suara angsa itu kembali lagi ribut berkeliling disamping rumahnya dan kini berhenti didepan bawah jendelanya.


Suaranya yang berisik membuat Syafiyah tak dapat tidur nyenyak. Sesaat Ia berniat hendak mengusir hewan tersebut dengan menghardiknya dari dalam kamar dengan cara menggedorkan jendelany.


"Hei.. Berisik banget sih..!! Pergi sana" ucap Syafiyah dan menggedorkan jendela kamarnya.


Bukannya pergi dengan perlakuan Syafiyah, angsa itu semakin berisik dan memancing Syafiyah untuk segera keluar dari rumahnya.


Mirna yang menyadari akan hal tersebut segera keluar dari rumah dan menghajar angsa tersebut hingga pergi menjauh. Angsa itu melayang terbang dan terdengar suara cekikikan yang sangat membuat bulu kuduk merinding.


Setelah kepergian angsa jelmaan tersebut, Mirna memagar ghaib rumah Satria, dan berharap tidak ada lagi gangguan dari makhluk ghaib tersebut beserta dengan pasukannya.


Setelah memberikan pagar ghaib pada rumah Satria, Mirna memasuki kamarnya dan berbaring ditepian ranjang.


Ia menerawang jauh menatap langit-langit kamarnya. Ia melihat jika sang suami baru saja selesai dari meeting bersama dengan para rekan bisnisnya, dan saat ini sedang berada didalam kamarnya karena baru saja membersihkan diri dikamar mandi.


Seaaat Mirna dengan cepat melesat keluar dari rumah dan menuju kekota hanya dengan hitungan menit saja.


Ia memasuki kamar sang suami dengan begitu sangat mudahnya.


Lalu memeluk Satria dari arah belakang yang tentunya membuat Satria sangat terkejut.


"Sayang.. Kamu membuatku sangat kaget saja" ucap Satria yang terkejut dengan kedatangan Mirna yang tiba-tiba saja berada dibelakangnya.


"Mengapa lama sekali kamu pulang?" tanya Mirna yang tak melepaskan pelukannya.


"Mas masih ada masalah disini? Mengapa kamu menyusul kemari? Bagaimana dengan Mbak Syafiyahmu? Apakah Ia aman jika kamu tinggalkan sendirian?" ucap Satria dengan cemas.


"Aku sudah memagar ghaib rumah, selagi Mbak Syafiyah tidak keluar rumah, maka itu akan baik-baik saja" ucap Mirna menjelaskan.


Satria melepaskan pelukan Mirna, dan memutar tubuhnya menghadap istri keduanya itu "Maafkan Mas yang telah merepotkanmu, Namun Mas masih ada masalah diperusahaan, dan jika semuanya cepat selesai, Mas akan segera kembali" ucap Satria sembari membelai lembut rambut Mirna.


"Aku merindukanmu. Sehari saja tak melihatmu membuatku begitu hampa" ucap Mirna yang mengeratkan pelukannya dan mencoba menggoda suaminya.


"Mas juga rindu.. Tapi doakan saja agar masalah yang sedang Mas hadapi segera kelar. Oh ya, Kamu belum berkenalan dengan Papa Bram dan Mama Jayanti, esok Mas akan berzirah ke makamnya, apakah Kamu mau ikut?" Tanya Satria dengan lembut.


Mirna menganggukkan kepalanya dan menarik Satria ke atas ranjang. Sepertinya Ia sudah sangat lama menahan hasratnya karena sibuk menjaga Syafiyah dari semua makhluk yang terus meneror madunya itu.


Mirna ingin melewatkan malam ini dengan penuh lautan asmara tanpa harus ada gangguan siapapun.