MIRNA

MIRNA
Episode 49



Mirna pergi berbelanja ke toko Pak Joko yang disebutkan oleh Satria. Ia hanya membawa beberapa lembar uang yang diberikan oleh Satria.


Ia berjalan dengan menggunakan daster bebentuk circle yang sangat sederhana, namun begitu indah dipakaianya.


Beberpa mata memandangnya dengan decakan kagum terutama kaum Adam yang tak sengaja melihatnya berjalan.


"Cantik ya menantu kedua Mbak Mala.. Gila banget. Kalau Aku memiliki istri seperti itu mah, bakal betah dirumah" ucap Paino dengan air liur yang seakan meleleh melihat kecantikan Mirna yang sangat memesona.


"Iya.. Tapi sepadan sih, anak Mala juga cakep, ya wajarlah dapat istri juga cakep. nah, dirimu wajah pas-pasan berharap ingin memiliki istri cakep seperti itu cuma bisa mengkhayal atau mimpi saja" jawab Parman asal bicara saja.


"Iiih.. Jahat banget jadi temen.. Ya walaupun cuma mimpi kan gak ada melarang" jawab Paino dengan memanyunkan bibirnya.


Parman menelan air liurnya melihat Mirna yang berjalan dengan melenggang yang membuat jakunnya naik turun.


"Bisa khilaf kalau dilihatin lama-lama" Parman kembali mengoceh.


"Udah, ah.. Ntar ada yang tegang lagi" balas Paino, lalu melanjutkan pekerjaannya sedang membengkel sepeda motor.


lalu keduanya tertawa dengan terbahak "Emang, Ya.. Rumput tetangga itu lebih hijau.." balas Parman sembari menggelengkan kepalanya.


sementara itu, Syafiyah perlahan mengerjapkan kedua matanya, lalu samar-samar Ia melihat Satria yang sedang duduk kursi kerjanya.


"Mas.." ucap Syafiyah dengan lirih, lalu menatap sendu pada Satria.


Pria itu menghentikan pekerjaaannya dan menatap kepada Syafiyah.


"Ada apa, Sayang" tanya Satria, lalu menghampiri istrinya.


Syafiyah tersedu dan menangis sejadi-jadinya. "Mirna, Mas.." ucap Syafiyah dengan sesenggukan dan air matanya yang mengalir deras.


Satria merasa bingung dengan sikap Syafiyah yang sangat berbeda. Selama ini Ia yang begitu sangat antusias untuk memaksa Satria menikahi Mirna, namun mengapa Ia kini yang tampak begitu sangat ketakutan.


"Apa yang terjadi?" tanya Satria penasaran.


"Ia menyiksaku, Mas" ucap Syafiyah kembali tersedu.


Sementara itu, Mirna baru saja sampai ditoko Pak Joko dan mulai memilih bahan apa yang akan dibeli dan dimasaknya untuk menu hari ini.


Lisa yang saat ini sedang berada ditoko sembako tersebut, merasa sangat kesal melihat Mirna, karena wanita itu ternyata berhasil menjadi Istri untuk Satria.


Tatatapan Lisa begitu sangat tajam dan juga penuh kebencian.


Mirna bebalik menatap balik kepada Lisa yang menatapnya tak suka.


Mirna menatap pada Lisa yang mana wanita itu


seseorang yang pernah berusaha mencuri perhiasan milik Syafiyah.


Lisa memilih kacang panjang dan cabai hijau untuk menunya hari ini. Setelah selesai, Ia pergi kekasir karena tak tahan dengan tatapan Mirna yang terlihat begitu sangat tajam.


Mirna memilih 3 ekor ikan Nila yang sudah dibersihkan. Ia teringat kakek Nugroho yang selalu memberikan ikan secara gratis kepadanya.


Tiba-tiba saja Ia merindukan rumahnya, dan ingin kembali kesana.


Mirna ingin memasak asam pedas ikan tersebut, dan juga membeli satu karung beras seberat 10 kg dan beberapa bumbu lainnya.


Disatu sisi, Satria mengertmutkan keningnya "Menyiksamu?" Satria mengulangi ucapa Syafiyah.


Lalu Syafiyah menganggukkan kepalanya dan Syafiyah menjelaskan semua apa yang terjadi. Satria tampak terperangah mendengar ucapan Syafiyah.


Ia tidak percaya dengan apa yamg didengarnya, namun Syafiyah tampak jujur dengan apa yang diucapkannya.


Satria merasakan dunianya berputar. Ia tidak mengerti dengan semuanya, awalnya Ia dipaksa menikahi gadis itu, lalu Ia turutkan, dan ketika rasa cinta itu sudah tumbuh untuk Mirna, Ia dipaksa untuk mengusir sang wanita, apakah Ia hanya seorang boneka saja? Satria diam dan terhenyak.


"Usir Dia, Mas.. Dia bisa menjadi monster kapanpun tanpa pernah kita duga dan kita tebak." ucap Syafiyah yang masih terus menangis dan mengoceh.


Mirna sudah sampai dirumah Satria, dan Ia menuju dapur lalu memasak.


Ia meracik bumbunya, Ia pernah melihat Mala memasak ikan Asam pedas, dan Ia mengingatnya.


Satria mendengar suara orang menghaluskan bumbu dengan mesin blender. Satria meyakini jika itu adalah Mirna.


Satria keluar dari kamarnya dan menuju dapur. Ia melihat Mirna sedang memasak dengan begitu sangat telatennya. Ia tidak pernah melihat hal itu pada diri Syafiyah.


Percintaan mereka pagi tadi membuat Satria merasa begitu sangat terikat oleh istri keduanya. Easa cinta itu semakin tumbuh dan berkembang dihatinya, namun permintaan Syafiyah, membuatnya menjadi dilema.


"Apakah Syafiyah begitu sangat cemburu kepada Mirna? Sehingga memaksaku untuk mengusirnya" Satria berguman dalam hatinya.


Mirna telah menyelesaikan masakannya. Ia mengambilkan satu mangkuk khusus untuk Satria dan menghidangkannya di meja makan, sebab ini sudah memasuki makan siang.


Mirna menyendokkan nasi kedalam piring, lalu menghidangkannya kepada Satria, lalu menuangkan air minum kedalam gelas.


Lagi-lagi tindakan Mirna membuat Satria terbui. Ia tak pernah merasakannya pada Syafiyah.


Satria memakan hidangan yang diberikan oleh Mirna, Ia merasakan rasa bumbunya begitu menggugah selera, sama seperti yang dimasak oleh Ibunya.


Ia benar-benar tidak tega jika harus mengusir Mirna dari rumahnya.


"Enak, Mas?" tanya Mirna lirih.


Satria menganggukkan kepalanya "Ya sangat enak.." jawab Satria berusaha jujur.


Mirna tersenyum senang, dan senyum itu tampak begitu sangat menggodanya.


"Emm.. Mirna. Apakah Kamu tidak rindu rumah Kamu yang ditepi hutan?" tanya Satria, mencoba menyingkirkan Mirna dengan cara halus.


Mirna terperangah mendengar ucapan Satria "Mirna boleh balik kerumah tepi hutan?" ucap Mirna dengan wajah sumringah, karena Ia merindukan rumahnya.


Sementara itu, Satria merasa sangat sedih melepaskan istri keduanya.


"Iya, Boleh.. Nanti Mas akan berkunjung kesana" ucap Satria dengan tatapan sendu.


Mirna sudah selesai mengerjakan pekerjaan rumah.. Nanti Mas anterin Mirna pulang, Ya" ucapnya antusias.


Satria menganggukkan kepalanya dengan lemah. Lalu Mirna membereskan piring kotor milik Satria dan mencucinya.


"Bisa kita pulang sekarang, Mas?" tanya Mirna dengan tatapan serius.


"Ya.." jawab Satria lirih.. "Mas ambil kunci mobi dikamar" jawab Satria lagi. Lalu Ia beranjak kedalam kamar dan meraih kunci mobil yang terletak dimeja kerjanya.


"Bagaimana, Mas?" tanya Syafiyah dengan penasaran.


Satria menganggukkan kepalanya, lalu memperlihatkan kuci mobil, yang mana Ia akan mengantarkan Mirna pulang kerumahnya.


Syafiyah tersenyum senang, dan merasa lega. Ia masih mengingat perlakuan Mirna saat tadi dan membuatnya masih begitu trauma.


Mirna bergegas keluar rumah, Ia sudah tak sabar ingin pulang kerumahnya. Saat melihat Satria keluar rumah, lalu membawa kunci mobil dan tak lupa mengunci rumahnya, Mirna sudah tampak tak sabar.


Satria menuju mobilnya dan masuk kedalam mobil. Mirna membuka pintu jok tengah dan ingin masuk kedalamnya "Duduklah didepan, karena kamu sudah menjadi istriku" ucap Satria dengan nada perintah.


Mirna terdiam, lalu menutup kembali pintu tersebut, dan membuka pintu jok depan, lalu duduk disisi Satria, dan mobilpun meluncur menuju rumah Mirna.