MIRNA

MIRNA
episode 200



"Ada apa ini? Mengapa kalian ribut-ribu?: tanya warga yang berkeluaran dan menghampiri para pemuda yang tampak mencari sesuatu.


"Ada seeetaan, Kang.. Wujudnya mengerikan, kami melihatnya langsung dan Ia lari ke arah hutan ini" ucap pemuda yang pertama kali melihat Yanti.


Seperti apa wujudnya? Tanya warga lainnya tak sabar.


"Matanya bersinar merah, dan bergigi taring, serta kulitnya hancur sekujur tubuh dengan luka parah seperti borok dan berdarah, bau amis dannm anyir.." pemuda yang lain menimpali ucapan sahabtnya.


Seketika mererka saling pandang membayangkan wujud mengerikan yang diceritakan oleh para pemuda itu.


"Jangan-jangan Ia yang membunuh Nek Salmi dengan taringnya dan menghisap darahnya?" ujar seorang warga mulai menerka-nerka.


Sesaat mereka terdiam. "Jika benar Makhluk mengerikan itu pelakunya, desa kita ini benar-benar sangat sudah tidak aman. Setiap saat selalu saja ada warga yang meninggal karena kehilangan organ intinya, kehilangan janin dan sebagainya" warga yang lainnya ikut angkat bicara.


"Iya.. Sepertinya ada pelaku pesugihan di desa kita ini" yang lain menimpali.


Warga menatap hutan yang disinyalir oleh para pemuda jika makhluk itu melarikan diri ke arah sana.


"Apakah esok kita melakukan penyisisran ke hutan saja? Jika Kita ketemu makhluk itu Kita bakar dia hutan" seorang warga menyampaikan usulnya.


Warga lainnya terdiam "Jangan..!! Itu hutan terlarang. Kita warga sudah mengetahui turun-menurun tidak boleh memasuki hutan tersebut karena dapat berakibat fatal, dan kita jangan gegabah. Sebab pernah ada 5 orang warga desa yang mencoba memasukinya karena ada danau tempat ikan yang sangat banyak dan ke limanya tidak pernah kembali sampai sekarang" seorang warga mengingatkan.


Seketika warga teringat akan larangan tersebut, dan mereka juga tidak ingin menjadi salah satu dari warga yang terdahulu menghilang tanpa kabar setelah memasuki hutan tersebut.


"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya seorang diantaranya.


"Ya Kita jika melihatnya harus waspada jika sendirian, kalau ramai Kita tangkap makhluk itu dan kita bakar saja" jawab yang lainnya.


Warga menganggukkan kepalanya dan mencoba untuk menimbang apa yang menjadi saran dan peringatan dari yang lainnya.


Meskipun sebagian dari warga penasaran dengan hutan larangan yang tak pernah tersentuh oleh warga larena rumor yang telah berkembang tersebut sejak masa dulu.


Setelah hampir tengah malam, warga memutuskan untuk segera pulang ke rumah masing dan waspada pada kemungkinan yang terjadi. Mereka mempersiapkan senjata tajam dirumah masing-masing untuk berjaga-jaga andai saja makhluk itu mencoba mengganggu keluarga mereka.


Sementara itu, Yanti masih merasakan tubuh tubuhnya sangat panas. Kulit tubuhnya yang sudah menajdi borok dan juga bercampur darah anyir karena sebagian bernanah, membuatnya semakin mengenaskan.


Ketiga iblis itu mendesak kehausan darah, sedangkan tubuh kasarnya kini sudah sangat mengenaskan.


"Daraaah.. Aku butuh darah dan janiin" erang Nini Maru yang sangat begitu dahaga dan rasa panas yang menyergapnya.


Sedangkan Rey mendesak untuk mendapatkan lati-lato sebagai makanannya, lalu Ki genderuwo menginginkan tubuh Lela yang sudah sangat lama tidak digaulinya.


Sementara itu, Yanti merasakan tubuhnya sangat panas. Suhunya kian memingkat dan membuatnya bergelinjang karena bingung harus bagaimana cara menurunkan hawa panas tersebut.


Bola matanya yang hampir lepas itu terus mengeluarkan darah dan nanah yang membuat tubuh kasarnya sangat menderita.


"Bagaimana caranya aku mendapatkan darah segar? Satu kail dua ikan sekaligus.." ucap Yanti lirih.


Saat ini Yanti juga tidak menyadari jika perbuatan Ki Kliwon sang Jenglot yang juga dituduhkan kepadanya membuat pergerakannya semakin sulit.


Entah apa yang difikirkan oleh Yanti, Ia sudah tidak tahan lagi dengan apa yang dirasakannya saat ini. Ia benar-benar menginginkan janin dan darah untuk menghilangkan rasa dahaganya yang kian mendera.


Saat ini Ia masih bertahan diatas dahan, menunggu warga terlelap kembali dan melupakan sejenak tentang apa yang mereka lihat tentang wujudnya.


Waktu menunjukkan pukul satu dini hari. Warga mulai terlelap dalam tidurnya.


Yanti kembali keluar dari dalam hutan dan menuju desa. Ia harus mendapatkan darah malam ini agar mengurai rasa dahaganya.


Ia mencoba melesat menembus kegelapan malam dan hutan yang sangat lebat. Meskipun tidak secepat biasanya, namun ketiga iblis itu harus bekerja sama untuk membuat tubuh Yanti dapa bergerak dengan cepat menembus hutan dan memasuki pinggir desa.


Ia melewati rumah warga yang tadi melihat wujudnya, Ia memilih RT sebelah, untuk mencari mangsa yang bisa menjadikannya terpu-askan segala keinginannya.


Ia berjalan melesat dengan sangat hati-hati. kondisi saat ini sudah sunyi senyap dan Ia memastikan jika warga sudah tertidur dan lelap.


Namun Yanti menangkap suara lirih rintihan dan de-han dari sebuah rumah yang tak jauh darinya tempat berada.


Sebuah rumah bilik bambu dengan yang cahaya penerangannya tampak begitu remang-remang karena sang pemilik rumah sengaja mematika sebagian dari penerangannya.


Yanti melesat dengan sangat lemah mencapai rumah tersebut. Ia mengintip dari balik bilik bambu yang kini membuatnya sangat bersemangat.


Ia melihat dua insan yang sedang berpacu dalam mencapi puncak surga duniawi yang mana mereka adalah pasangan me-sum antara janda dan sosok pemuda yang sudah lama menjalin asmara terlarang tanpa ikatan pernikahan.


Tampak keduanya bermandikan peluh disaat malam dingin yang menembus ke tulang.


Wanita bernama Surti itu terus melenguh karena mendapatkan kenik- matan dari perjaka yang menjadi teman berme-sum rianya.


Namun sang wanita tiba-tiba merasakan aroma anyir dan amis darah yang merupakan perpaduan sari darah dan nanah yang melekat pada tubih Yanti.


Namun karena lawan ranjangnya terus memacu gerakannya, membuatnya menepis semua indera penciumannya yang kini merasakan kejanggalan.


Rey sudah tak tahan ingin memakan lato-lato pemuda tersebut dan ini adalah kesempatan bagi Yanti yang kjni harus dikendalikan oleh ketiga iblis tersebut.


Tubuh kasar Yanti sudah tak dapat lagi Ia kendalikan. Ia menerobos masuk melalui pintu belakang rumah yang sangat mudah untuk dijebol.


Suara dobrakan pintu itu membuat kedua pasangan me-sum itu mengakhiri pergulatannya dan nafas mereka tersengal ketakutan jika yang mendobrak pintu adalah warga.


Namun mereka dikejutkan oleh kehadiran sosok mebgerikan dengan bola mata yang bergelantungan hampir lepas dengan wajah dan tubuh hancur mengenaskan.


Keduanha berteriak histeris karena ketakutan, dan membuat warga yang tertidur lelap terbangun karena tersentak mendengar teriakan dari rumah Surti sang janda.


Seketika mereka bergegas menuju ke rumah janda muda tersebut untuk melihat apa yang terjadi. Mereka menduga jika ada maling atau juga mungkin Surti akan diperko-sa oleh seseorang, mereka yang mensebgar teriakan itu sudah hampir sampai mencapai rumah Surti.