MIRNA

MIRNA
Episode 42



Jali tertawa sendiri dalam hatinya melihat Mirna yang begitu mudahnya diperdaya oleh mereka.


"Eiiih.. Gila.. Cantik bener ternyata cuuy.." guman Jali dalam hatinya.


Sementara Jeffri dan juga Dandy sudah senyum-senyum sendiri sedari tadi "Dapat rezeki nomplok Kita.. " ucap Jeffri yang tampak tak sabar.


Jali memacu sepeda motornya dengan kecepatan yang tak biasa. Jika orang awam melihatnya, Jali tampak tidak membonceng sesiapapun. Namun dimata ketiga pemuda itu, mereka jelas membonceng Mirna yang cantik rupawan.


Jali bukannya membawa Mirna pang kerumah, melainkan membawa gadis itu kekebun jagung tempat dimana mereka akan melakukan eksekusi terhadap gadis itu.


Jeffri dan dan Dandy mengikuti arah Jali yang membawa Mirna kekebun jagung. Namun mereka melihat Mirna tampak begitu sangat santainya, dan tidak protes ataupun berontak ketika Ia dibawah ketempat sunyi.


Sesampainya digubuk kebun jangung, Jali menghentikan motornya. Mereka menghidupkan senter dari phonselnya, meletakkannya digubuk jagung sebagai penerangan.


Mirna hanya diam saja melihat apa yang dilakukan oleh ketiga pemuda itu, sebab Ia sudah menebak apa isi otak ketiganya.


Bahkan Mirna tidak berniat melarikan diri saat ketiganya sedang menyusun alas tikar seadanya dan juga pencahayaan.


Melihat sikap Mirna yang tak bereaksi, membuat ketiganya semakin tersenyum girang. Mereka mengira Mirna adalah gadis lugu nan polos yang dapat mereka tipu.


Lalu Dandi menggiring Mirna gubuk, meminta Mirna rebahan digubuk tersebut, dan anehnya Mirna menuruti semua apa yang diminta oleh Dandy.


Tak ada sikap perlawanan dari Mirna, membuat ketiganya bersemangat, lalu mereka mengeksekusi Mirna dengan brutal.


Setelah pukul 10 malam, ketiganya menyerah karena merasa kelelahan. Sebab setiap kali mengeksekusi Mirna, gadis itu selalu kembali seperti virgin.


Saat mereka ingin meninggalkan Mirna, Gadis itu tersenyum menyeringai dan kali ini Ia beraksi.


Pukul 3 dini hari. Ketiganya masih berpacu dalam gelombang hasrat menggebu, hingga pukul 5 pagi, ketiganya ambruk dan tak dapat bergerak lagi.


Tenaga ketiganya terkuras habis, lalu ambruk dan tak dapat ditoleransi lagi. Mereka sangat kelelahan, bahkan membuka mata saja mereka tak sanggup untuk melakukannya.


Lalu Mirna berjalan meninggalkan ketiganya, dengan senyum penuh dendam.


Sesaat sosok bayangan hitam datang menghampiri ketiganya yang mana nafas mereka masih tersengal dalam kelelahan.


Tanpa merasa ampun, Ia mencabut lato-lato ketiga pemuda yang masih bernyawa tersebut.


Seketika ketiga membolakan matanya, mulut mereka menganga dan raut wajah kesakitan yang teramat sangat, namun mereka tidak dapat bergerak.


Darah yang mengalir deras dari lato-lago mereka yang dicabut dengan paksa itu terus mengalir dan menggenangi dipan gubuk kebun jagung, yqng menjadi saksi bisu atas segala yang terjadi.


Perlahan mereka tak bergerak selamanya dwngan wajah menahan sakit yang sangat luar biasa.


Sosok bayangan hitam itu dengan cepat menyantap ketiga lato-lato itu dengan rakusnya. Maka Ia sudah mendaptkan 14 buah tumbal lato-lato yang diinginkannya.


Mentari bersinar dengan sangat cerah, Mirna sudah bersiap dan berangkat kerumah Satria untuk bekerja.


Ia tampak begitu anggun dan mempesona. Ia terlihat santai dan juga tidak perduli saat melihat kerumunan warga yang memasuki area simpang masuk kedalam kebun jagung.


Mirna sampai dirumah Satria, dan mulai mengerjakan tugasnya.


Sementara itu, pemilik kebun jagung yang pagi ini akan membersihkan lahannya untuk membersihkan hama dari tanaman jagungnya tampak dikejutkan saat melihat ketiga pemuda tak bernyawa tanpa busana didalam gubuk miliknya dalam kondisi tanpa busana dan juga kehilangan organ vitalnya.


"Sepertinya ada seseorang yang menganut ilmu hitam" bisik Didi kepada Dino sahabatnya yang merasakan curiga ada sesuatu yang tidak beres.


Dino juga menganggukkan kepalanya, sebab mereka juga pernah menemukan jasad dalam kondisi seperti ini ditepi hutan tempo hari.


Polisi melakukan identifikasi terhadap ketiga jenazah pemuda tersebut.


Para orangtua mereka berteriak histeris melihat kondisi ketiga puteranya yang sangat mengenaskan.


Tampak didipan gubuk itu cairan kental milik para pemuda dan juga seorang wanita yang sudah mengering, namun cairan milik ketiga pemuda itu masih tampak basah, dan sepertinya mereka baru saja melakukan hubungan terlarang.


Polisi menaburkan bubuk putih untuk mengambil sample sidik jari. Bahkan polisi mengambil sample cairan kental tersebut untuk dijadikan alat bukti sebagai jalan pemecahan kasus tersebut.


Sementara itu, Satria yang tak pernah keluar rumah, menjadikannya orang yang sangat tertutup dan tidak begitu perduli terhadap lingkungan sekitar. Ia akan keluar rumah jika melakukan shalat berjamaah dimushallah dan keperkuan lainnya.


Mirna sudah selesai membersihkan rumah Satria, dan Ia juga sudah memasak bubur untuk Syafiyah dan keperluan lainnya.


Satria sarapan dengan apa yang dimasak oleh Mirna. Ia tak menduga jika gadis itu pandai memasak dan mengemas rumah hingga rapih.


Saat Satria sedang sarapan, Mirna mengambil alih pekerjaaan Satria untuk meyuapi Syafiyah.


Saat selesai sarapan, Ia melihat Mirna menggendong Syafiyah kekamar mandi, lalu membersihkan Syafiyah dan menyalin pakaian istrinya. Setelah selesai melakukan semuanya, Mirna keluar dari kamar Satria tanpa sepatah katapun.


Satria memandangnya dengan penuh arti, lalu Mirna menuju washtafell dan mencuci piring hingga bersih dan tak ada lagi yang harus dukerjaakannya.


Mirna kemudian sarapan, dan menikmati waktu istirahatnya.


Satria duduk dikursi kerjanya, saat itu Syafiyah memanggilnya, dan Satria menghampirinya.


"Mas.. Maukah Kamu mengabulkan permintaanku" bisik Syafiyah kepada Satria..


"Apapun itu, Sayang.. Katakanlah" ucap Satria dengan lembut.


"Menikahlah dengan Mirna, agar kamu memiliki ketemurunan" pjnta Syafiyah dengan tatapan sendu.


Seketika raut wajah Satria berubah menjadi datar, Ia memandang aneh pada istrinya.


"Apa yang sedang Kamu fikirkan? Apakah Mirna sudah mempengaruhimu?" cecar Satria kepada Istrinya.


Syafiyah menggelengkan kepalanya. "Bahkan Ia tidak mengatakan sepatah katapun.. Aku hanya berharap Kamu dapat memiliki keturunan. Aku tahu Kamu menyukainya, namun demi menjaga perasaanku, Kamu mengurungkan semua niatmu" ucap Syafiyah lirih.


Satria menghela nafasnya dengan sangat berat "Sudahlah.. Jangan berfikir yang macam-macam, fokus pada kesehatanmu" ucap Satria semabri membelai lembut ujung kepala istrinya.


Syafiyah menggelengkan kepalanya "Jika Kamu menikah dengannya, maka rasa bersalahku selama ini kepada kamu akan terbayarkan" ucap Syafiyah dengan nada memelas.


"Tidak ada yang bersalah dalam hal ini. Kamu murni kecelakaan, dan Aku ikhlas menerima kondisi Kamu saat ini." jawab Satria bersikeras dengan pendiriannya.


Namun Syafiyah juga tetap bersikukuh dengan permintaannya "Jika Kamu tidak menikahinya, maka Mas tidak akan pernah melihatku lagi" ancam Syafiyah dengan nada serius.


Satria menatap istrinya "Jangan sinting, Kamu.. Sudahlah.. Jangan berfikir yang aneh-aneh.. Mas mencintai Kamu apa adanya, dan akan tetap mencintaimu sampai kapanpun" jawab, Satria, lalu kembali kemeja kerjanya dan menghempaskan bokongnya dikursi kerja dengan perasaan yang bercampur aduk..