MIRNA

MIRNA
Lela



Pendarahan yang dialami Lela menjadi perbincangan warga.


Mereka sangat bingung dan juga penasaran mengapa Lela sampai pendarahan. Sebab selama ini Lela itu adalah janda.


Sementara itu, Lela tersadar dari pingsannya. Ia mendapati dirinya berada dipuskesmas. Setelah dokter memberikan perawatan intensif, akhirnya Lela dapat diijinkan pulang.


Perawat memberitahu jika Lela mengalami keguguran. Ia mengerti jika Ia keguguran karena disengaja olehnya. Namun Ia heran mengapa janinnya tidak ada ditempatnya. Lela berfikir akan mencarinya nanti setelah Ia pulang dari puskesmas.


Lela pulang dengan diantar oleh ojek yang biasa mangkal disekitar puskesmas.


Setelah Lela sampai diwarungnya, beberapa tetangga menghampirinya dan mencoba menanyakan kesehatannya, sebagiannya kepo Lela pendarahan karena apa.


"Koq bisa pendarahan apa sebabnya, Mbak?" tanya tetangga Lela yang sudah sangat kepo sekali.


Lela mencoba tersenyum dengan pertanyaan dari tetangganya itu.


"Anu mbak.. Ternyata setelah bang Gugun meninggal, saya itu sudah telat satu bulan, dan karena kecapekan, saya jadi keguguran" jawab Lela mencoba jujur.


"Oooo.." jawab serentak ibu-ibu tetangganya.


Sementara itu, Lela berpamitan untuk beristirahat. Seketika para ibu-ibu berghibah ria memberikan spekulasi mereka sendiri.


Lela mencoba mengabaikan bisik-bisik tersebut yang membuatnya akan semakin pusing.


Lela menuju dapurnya, lalu mulai meracik jamu buatannya untuk melunturkan sisa-sisa darah yang melekat didalam rahimnya.


Lela memasak jamu itu, lalu meminumnya dengan segera. Setelah itu Ia menuju kamarnya, mencoba mencari janinnya, kali saja terjatuh dibawah ranjang, namun Ia tak menemukan apapun disana.


Lela merasa bingung, sebab Ia berniat untuk menguburkan janin itu. Namun karena tak menemukannya, Lela akhirnya pasrah saja.


Setelah meminum jamu ramuannya, Lela merasakan jika sisa darah itu kembali meluncur, dan Ia menggunakan pembalut untuk menampungnya agar darah itu tidak berceceran.


Lela masih menutup warungnya, mungkin selama beberapa hari ini Ia tidak akan membuka warungnya, melihat kondisi bagaimana Ia nantinya. Jika pulih lebih cepat, maka Ia akan membuka warung lebih awal dari hari yang dijadwalkannya.


Disisi lain, Satria masih merawat Syafiyah yang belum nuga dapat beraktifitas. Jikapun dibawa keluar negeri untuk berobat adalah hal yang sia-sia, sebab tulang ekornya yang patah, sehingga sulit untuk disembuhkan.


Bayu dan Mala sedang berada didapur, mereka sedang makan siang sembari bercanda.


"Sayang, Kita pindah rumah yuk? Rumah yang Mas bangun sudah siap. Mas merasa segan jika tinggal disini bersama menantu. Merasa tidak bebas saja." ucap Bayu mengutarakan maksudnya.


"Tidak bebas seperti apa, Mas?" tanya Mala penasaran.


"Ya misalnya pas ketahuan mesra-mesraan, sedangkan Ia istrinya dalam kondisi seperti itu, kan jadi tidak enak." ucap Bayu dengan berbisik, takut didengar oleh Satria.


"Lalu siapa yang akan menjaga Syafiyah jika nanti Satria keluar rumah karena ada keperluan atau apa gitu?" Ucap Mala mempertimbangkan segalanya.


Bayu terdiam sesaat. Mencoba mencari solusi untuk kebaikan bersama.


"Kita carikan saja pengasuh untuk Syafiyah, maka jika Satria ingin berpergian keluar rumah ada yang menjaganya.." ucap Bayu menyarankan


Mala mencoba mempertimbangkan apa yang diucapkan oleh Bayu. "Bagaimana jika Mirna yang menjaga Syafiyah, jika sore Mirna bisa pulang kerumahnya, kalau pagi Ia baru datang merawat Syafiyah.." usul Mala.


Bayu menganggukkan kepalanya "Boleh juga" jawab Bayu mengiyakan pendapat Mala.


"Lalu bagaimana caranya Kita memberitahu Satria agar tidak tersinggung?" ucap Mala merasa dilema.


"Kamu sajalah, Sayang.. Kan Kamu Ibunya, pasti lebih tau caranya" ucap Bayu dengan merayu.


Mala akhirnya tak tahan juga dengan bujuk rayu Bayu.


"Baiklah, nanti akan saya cari waktu yang tepat" ucap Mala menyanggupi.


Bayu tersenyum sumringah, karena bagaimanapun, hidup bersama menantu itu tidaklah begitu merasa nyaman. Sebab akan ada rasa sungkan dan sebagainya.


Sementara itu, malam mulai beranjak mendekati pukul 10 malam. Lela terbangun dari tidurnya. Ia mendengar suara orang bercakap-cakap diwarungnya.


Ternyata orang tersebut adalah Didi dan Doni yang sedang bermain phonsel. Mungkin mereka memanfaatkan wifi gratis dari warung Lela. Namun Lela membiarkannya saja, sebab Ia merasa ada yang menjaga warungnya.


Lela kembali ke ranjangnya, namun matanya tak juga mau terpejam, akhirnya Ia keluar dari rumah, bergabung dengan kedua pemuda itu.


"Eh, Mbak Lela.. Sudah baikan Mbak?" tanya Doni basa-basi.


Lela tersenyum membalas pertanyaan Doni. Lalu duduk bersama kedua pemuda itu.


"Numpang Wifi-nya ya, Mbak"ucap Didi nyengir.


"Pakailah, gak apa-apa koq.. Sekalian kalian jagain warung Mbak" jawab Lela.


Kedua pemuda itu cengengesan. Lalu melanjutkan bermain phonsel.


Pukul 11 malam, merasa mulai mengantuk, sebab esok Ia akan bekerja.


"Di.. Balik, yuk.. Ngantuk.. Besok mau kerja" ucap Doni mengajak sahabatnya pulang.


Didi juga sudah tampak menguap " Iya.. Ngantuk banget. Mbak.. Kami permisi pulang, Ya.. Besok malam kami kemari lagi" ucap Didi menimpali.


Lela menganggukkan kepalanya. Meskipun sebenarnya Ia masih ingin ditemani oleh kedua pemuda itu.


Lalu kedua pemuda itu berpamitan pulang, dan tak lama setelah kepulangan kedua pemuda itu, tampak kakek Nugroho lewat sembari menatap Lela.


"Mau kemana, Kek" sapa Lela ramah.


"Mau kemari, boleh?" jawab Kakek Nugroho.


Lela yang saat ini merasa kesepian akhirnya menganggukkan kepalanya" boleh, Kek.. Silahkan" jawab Lela.


Lalu keduanya mengobrol hal-hal ringan saja. Hingga Lela merasa jika dirinya sangat mengantuk.


"Kek.. Saya masuk duluan, Ya.. Sayang sangat mengantuk" ucap Lela dengan nada lirih, sembari menguap.


Saat mulut Lela terbuka lebar karena menguap, Ia merasakan seauatu seperti masuk kedalam rongga mulutnya.


Lalu rasa kantuknya kian berat dan tak lagi dapat ditahannya.


Lela beranjak dari dududknya dan menuju masuk kedalam rumahnya.


Saat Ia berada diambang pintu, Kakek Nugroho memanggilnya "Boleh Kakek menumpang kamar mandi" ucap Kakek Nugroho kepada Lela.


Lela yang sudah sangat mengantuk sekali, merasa tidak berkonsentrasi, "Silahkan, Kek.." ucap Lela yang berjalan sempoyongan untuk mencapai pintu rumahnya.


Kakek Nugroho bergegas bangkit, lalu memapah tubuh Lela yang sudah dikuasai oleh rasa kantuk yang sangat luar biasa.


Kakek Nugroho membawa Lela kedalam kamar, dan meletakkan tubuh Lela disana.


Setelah itu, Kakek Nugroho kembali keruang tengah untuk menutup pintu.


Setelah itu Ia kembali lagi kekamar Lela. Pria senja itu menatap Lela dengan seksama. Ia menghampiri tubuh wanita itu. Lalu tanpa permis, Ia membuka kedua pangkal kaki Wanita itu.


Lela yang menggunakan daster, tentulah sangat mudah bagi Kakek Nugroho untuk menyingkapnya.


Ia menarik penutup bukit kecil milik Lela. Lalu menatap nanar darah yang keluar dari goa surgawi itu.


Seketika Kakek Nugroho menyesapnya hingga habis.


Lela serasa bagaikan mimpi, dan membiarkan apa yang terjadi, karena semakin lama kantuknya tak dapat diajak kompromi.


Setelah selesai menyesap darah tersebut. Kakek Nugroho pergi meninggalkan Lela, setelah kembali memakaikan penutup dibukit bergoa itu. Setelah itu pergi meninggalkan rumah Lela.