MIRNA

MIRNA
Kejadian



Lisa terkejut melihat Mirna berada diambang pintu menatapnya penuh kebencian. Pandangan mata gadis itu tajam menusuk kalbu. Lisa tergugup tak mampu memandangnya dengan lama.


Mirna melentikkan jemarinya, lalu meletakkan kembali liontin yang melayang itu pada tempatnya tan sepengetahuan Lisa yang saat ini sedang tercengang memandangnya.


Tak berselang lama, Mirna mendengar suara deru mesin mobil Satria memasuki halaman rumahnya, lalu Mirna beranjak dari tempatnya, dan sebelumnya menatap Lisa penuh tatapan sarkas.


Mirna kembali duduk di sofanya, berpura-pura tidak mengetahui kejadian tersebut.


Lalu Ia menyandarkan tubuhnya disandaran sofa, serta memejamkan kedua matanya. Sementara itu, Lisa memunguti pakaian kotor dan membawanya kekamar mandi untuk dicuci.


Saat melintasi Mirna, Lisa menatap sinis pada gadis yang sedang memejamkan mata tersebut.


Lisa berlalu hingga tanpa sadar menabrak dinding, dan keningnya memerah, lalu meringis kesakitan dan bergegas kekamar mandi.


Satria datang membawa sebuah amplpo coklat yang berisi uang untuk jatah bulanan Mirna.


Ia melihat gadis itu sedang duduk disofa dan sepertinya tertidur, Satria tak ingin membangunkannya, Ia beranggapan jika gadis itu kecapekan karena berjalan kaki untuk menempuh rumahnya, ada rasa iba dihatinya.


Nafas gadis itu tampak naik turun, begitu halus terdengar, bagaikan sebuah irama melodi yang mengalun dengan lembut.


Satria memandang wajah gadis itu dengan seksama, lalu Ia menelusuri wajah sang gadis dengan dengan pandangannya, kecantikan yang sempurna dan tak mampu untuk Ia gambarkan.


Lisa tanpa sengaja memergoki jika Tuannya sedang memperhatikan gadis yang sedang tertidur itu, sungguh Ia sangat kesal, sebab Sayria menegurnyapun tidak pernah.


"Siapa sih gadis itu? Mengap Tuan Muda sampai segitunya memandangnya" gerutu Lisa dalam hatinya.


Lisa sangat membenci gadis yang belum Ia ketahui namanya itu. Satria beranjak dari tempatnya, lalu menuju kamarnya, dan kembali bekerja, Ia membiarkan Mirna tertidur disofa, jika nanti sudah terbangun maka baru akan diberikannya uang tersebut.


Sementara itu, Kakek Nugroho baru saja pulang dari menjala ikan. Ia tak mendapati Mirna yang biasanya mandi ditepi sungai. Ia menepikan sampannya, lalu naik ketepian dan sebelumnya mengikatkan tali sampan pada rerumputan, agar tidak hanyut.


Kini Kakek Nugroho naik ketepian sungai dan berjalan menaiki undakan untuk mencapai keatas.


Sesampainya diatas, Kakek Nugroho menggantungkam satu kantong ikan dalam pkastik kresek didinding luar dapur milik Gadis itu.


Lalu Ia melangkah untuk pergi dan akan menjajakan ikannya.


Setelah cukup lama berjalan, ikan-ikannya selalu saja habis dibeli orang yang sudah selalu setia menunggu kepulangannya dari menjala, sebab ikannya masih segar.


Hanya terginggal satu kilo saja. Kakek Nugroho membawanya pulang, untuk dimasak sendiri, dan sisanya Ia berencana akan memberikannya pada Lela.


Kakek Nugroho memamsuki gang rumah sekaligus warung milik Lela. Ia berjalan menuju warung janda muda itu.


Pria senja itu memiliki rambut panjang sebatas pundak, dengan janggut yang sedikit lebat dan juga sediki panjang.


Tubuhnya pria senja itu juga tampak berotot dan kulitnya hitam legam karena terpapar sinar mentari.


Saat ini, Ia sedang melihat Lela menyeduh teh panas untuk pelanggannya, lalu Pria senja itu memasuki warung dan duduk dibangku kosong untuk memesan kopi hitam.


Lela yang melihat kehadiran Kakek Nugroho merada kikuk sendiri. Sebab Ia merasa jika berhalusinasi sampai membayangkan bercinta dengan pria senja itu.


Lela si janda muda tanpa anak itu menghampiri sang Kakek, sedangkan pelanggan lain ada yang sibuk bercerita dengan teman nongkrongnya, ada juga yang bermain catur.


"Mau pesan apa, kek?" tanya Lela berusaha mengontrol dirinya.


"Baiklah, Kek.. Tunggu sebentar, Lela buatkan sebentar" ucap Lela sembari beranjak dan menyeduh kopi hitam untuk sang kakek.


Lela tiba-tiba saja bergetar saat menyeduh kopi itu, Ia teringat akan peristiwa semalam yang mana saat Ia menyeduh kopi itu untuk si Kakek, dan saat si Kakek menggarapnya, semua seakan nyata, namun Ia tidak memiliki bukti apapun.


Lela bergegas menyeduhnya, lalu mengantarkannya kepada si Kakek dan meletakkan kopi itu diatas meja.


Pria senja itu meraih gelas tersebut, lalu mengaduk kopinya agar gulanya larut, lalu Ia meneguknya.


Lela bergegas kedapur warung, Ia duduk dibangku dan mengawasi pelanggannya dari sana, sebab dapur warung itu tidak semuanya tertutup, karena setinggi satu meter tembok, sisanya diberi kawat pagar yang berlubang lebar agar memudahkan Lela mengawasi setiap pelanggannya.


Lela memperhatikan satu persatu pelanggannya, lalu matanya tertuju pada pria senja itu, tampak pria itu mencomot satu pisang goreng dan mengunyahnya.


Entah mengapa Lela merasa bergetar saat duduk dibangku kosong itu. Peristiwa semalam itu begitu sangat mengusiknya, dan selalu terngiang diingatannya.


Lela merasa gelisah setiap kali memandang pria senja itu, ada sesuatu yang berbeda.


Tak berselang lama, Pria senja itu meneguk habis kopinya, lalu memanggil Lela dan membayarnya, setelah itu memberikan Lela setengah ikannya, dan berlalu pergi.


Sementara itu, hari menjelang sore. Mirna tersentak dari tidurnya, dan menyadari jika Ia tertidur cukup nyenyak. Mirna menggeliatkan tubuhnya, dan mendapati suasana yang sunyi, Ia celingukan mencari seseorang, namun tak terlihat.


Mirna menyadari jika Lisa sudah pulang kerumahnya, karena asisten rumah tangga itu tak lagi terlihat.


Mirna beranjak dari sofa, dan berusaha untuk berdiri. Ia memutuskan ingin pulang, melihat Satria sekejab saja sudah dapat menghapus rasa rindunya, lalu ingin pulang dan bergegas untuk pergi.


Namun saat bersamaan, Satria muncul dari balik pintu kamar dengan membawa satu buah amplop berwarna coklat.


"Ini jatah bulanan, Kamu" ucap Satria sembari menyodorkan amplop tersebut.


Mirna menatap manik hitam pada mata pria itu, sesuatu yang begitu meneduhkan hatinya, hanya dengan memandangnya saja.


Mirna meraih amplop tersebut. "Terimakasih" ucap Mirna lirih, lalu berpamitan pulang"


"Ya.." jawab Satria singkat, lalu memandangi kepergian gadis itu.


Ingin rasanya Ia mengantar gadis itu kembali pulang, namun Ia tak tau harus berbuat apa, Ia hanya membiarkannya saja.


Mirna melangkah meninggalkan rumah Satria, dan kembali menyusuri jalanan menuju rumahnya.


Gadis itu berjalan dengan kecepatan yang tak bisa dilihat mata orang awam, sebab dalam sekejap saja Ia sudah sampai dirumahnya.


Mirna membuka pintu belakang rumahnya. Ia melihat jika ada ikan yang tergantung didinding bagian luar dapurnya, ia memastikan jika yang memberi ikan itu adalah Kakek Nugroho.


Mirna membuka pintunya, dan meraih ikan itu untuk dibersikan.


Mirna menyimpan ikan tersebut kedalam lemari es, lalu Ia memasuki kamar untuk menyimpan uang pemberian dari Satria.


Sesaat Mirna mendengar suara yang sedang memanggilnya.


Mirnaaaaaa....


Suara itu begitu terdengar lirih dan sangat penuh dendam..