MIRNA

MIRNA
episode 158



Polisi menemukan sidik jari milik Dino yang melekat dipohon rambutan.


Dengan cepat mereka bergerak menemui Dino yang kini masih mengurung diri dikamarnya.


Saat dua orang penyidik datang ke rumah Dino, Didi yang melihatnya merasa sangat penasaran.


Lalu Didi keluar dari rumahnya dan mencoba menghampiri kedua polisi tersebut.


"Maaf, Pak.. Ada apa, Ya? Kenapa tiba-tiba datang ke rumah sahabat saya?" tanya Didi penasaran.


"Maaf, anda siapanya saudara Dino?" tanya penyidik itu dengan selidik.


"Saya saudara sepupunya" jawab Didi berbohong.


"Kami butuh informasi dari saudara Dino untuk dimintai keterangannya tentang kasus pembunuhan dikebun rambutan yang menghilangkan nyawa seorang remaja bernama Roby" jawab kepolisian tersebut.


Ibu Dino yang tak sengaja mendengarnya tiba-tiba merasa bagaikan disambar petir disiang hari. tubuh wanita paruh baya itu bergetar dan degub jantung berdetak lebih kencang.


"A-Apa? Dino terlibat pembunahan?" guman Wanita paruh baya itu dalam hatinya. Tubuhnya bergetar menahan rasa takut yang sangat luar biasa.


Didi tersentak menahan rasa terkejutnya yang merasa tak percaya akan hal ini.


"Ti-tidak.. Tidak mungkin Dino melakukan ini, Saya mengenalnya dengan sangat dekat sekali" jawab Didi menepis dugaan kedua polisi tersebut.


Kedua polisi itu menatap pada Didi "Kami harus bertemu dengan saudara Dino, harap tidak menghalangi pekerjaan kami" ucap Salah seorang polisi tersebut.


Dengan cepat Ibu Dino kembali ke dapur, Ia tidak ingin Dino dibawa ke kantor polisi apaalagi menjadi tahanan polisi.


Kedua polisi itu mencoba berulang kali mengucapkan salam dan memanggil pemilik rumah, namun tak ada jawaban dari siapapun.


Tak berselang lama, seorang pria paruh baya baru pulang dari bekerja dan melihat kehadiran dua orang polisi dirumahnya membuatnya merasa sedikit terkejut.


Sedangkan Dino tak juga keluar dari kamarnya.


Dengan perasaan yang panik, pria paruh baya yang tak lain adalah ayah Dino merasa sangat ketakutan dan Ia merasakan jika kehadiran kedua polisi itu pasti memiliki alasan yang sangat kuat untuk sebuah kasus yang berhubungan dengan anak lelakinya.


"Maaf, Pak.. Kalau boleh tau bapak ada hubungan dengan keluarga ini?" tanya Seorang polisi kepada Pria paruh baya tersebut.


Para tetangga mulai berkumpul dan merasa penasaran dengan apa yang terjadi dan membuat Ayah Dino semakin panik bercampur malu andai Dino dibawa menggunakan mobil polisi.


Hal ini dalam kehidupan masyarakat desa adalah hal yang sangat tabu sekali.


"Saya kepala keluarga dirumah ini" jawab Pria paruh baya tersebut dengan nada bergetar.


"Kalau begitu ijinkan kami memeriksa rumah ini untuk mencari keberadaan anak bapak yang bernama Dino" ucap Polisi tersebut.


Dengan mengangguk lemah, Ayah Dino mempersilahkan polisi tersebut untuk memeriksa rumahnya dan mencoba untuk tidak menghalangi pekerjaan kepolisian, sebab jika Dino tidak bersalah, maka Ia akan dikeluarkan dengan cepat


Kedua polisi itu segera masuk kedalam rumah setelah memperlihatkan surat penangkapan untuk Dino dan kemudian menggeledab seisi rumah, terutama mendobrak pintu kamar Dino yang terkunci.


Setelah pintu kamar berhasil di dobrak, tampak meringkuk ketakutan dengan wajah memucat dan juga tubuh menggigil.


Sebenarnya Ia bukan takut dengan kedatangan kedua polisi tersebut. Namun Ia ketakutan setiap kali Ia terbayang wajah pembunuh remaja bernama Roby tersebut dan dengan cara keji mencabut paksa organ inti milik remaja tersebut.


Dengan tanpa perlawanan, Dino dibawa ke kantor polisi. Ibu Dino histeris melihat puteranya digiring ke mobil polisi, dan ayah Dino hanya dapat menatapnya dengan perasaan yang berkecamuk.


Didi meminta ijin untuk memndampingi Dino, dan setelah mendapat ijin dari kepolisian, Didi menitipkan Wanda istrinya yang sedang mengandung 5 bulan tersebut kepada ibundanya dan Ia ikut bersama dengan mobil polisi.


Didi mencoba menenangkan sahabatnya. Ia meyakini jika Dino tidak bersalah dalam hal ini.


Didi juga mencoba membacakan doa-doa yang Ia hafal agar Dino sadar dari rasa ketakutannya.


Setelah mendapatkan terapy dari Didi, perlahan Dino mulai tenang dan dapat mengendalikan dirinya.


Setelah memberi waktu kepada Dino untuk lebih tenang, akhirnya pihak penyidik mulai memberikan pertanyaan yang ringan terlebih dahulu.


"Saudara Dino, apakah kamu mengenal saudara Roby secara dekat?"


Dino menggelengkan kepalanya, sebab Ia hanya mengenal remaja itu sekilas saja jika bertemu ditengah jalan.


"Apa yang saudara lakukan saat malam kejadian tersebut dengan bersembunyi dibalik pohon rambutan.


Seketika bayangan sosok mengerikan itu kembali terbayang diwajahnya dan membuatnya menggigil ketakutan.


Lalu Ia menatap kepada Didi yang kini mendampinginya.


Didi meraih tubuh sahabatnya, lalu merangkulnya "Tenangkan hatimu, tarik nafas dengan dalam, lalu keluarkan melalui mulutmu, lakukan sebanyak 3 kali dan beristighfarlah" Titah Didi kepada sahabatnya.


Dino kemudian melakukan apa yang dikatakan oleh sahabatnya, lalu Ia kembali merasa tenang.


"Sa-saya hanya berniat mengintip remaja itu bercinta" jawab Dino gugup dan terbata dalam nada bicaranya.


"Selain mengintip mereka bercinta, apa saja yang anda lakukan?" cecar penyidik itu.


Dino menggelengkan kepalanya, pertanda Ia memang hanya mengintip saja.


"Apakah ada orang lain selain anda yang datang unruk menghabisi remaja lelaki itu?" tanya penyidik penuh dengan selidik.


Dino menganggukkan kepalanya dengan cepat.


Para penyidik saling pandang "Apakah anda mengingat wajahnya? Atau ciri-cirinya?" cecar penyidik tersebut.


Dino menganggukkan kepalanya, dan hal ini membuat para penyidik semakin bersemangat.


Seorang penyidik yang memiliki kemampuan dalam hal melukis lalu mengambil secarik kertas HVS dan memegang pensil untuk bersiap melukis ciri-ciri dari pembunuh tersebut.


Lalu Dino dengan lancar menyebutkan ciri-ciri dari pelaku pembunuhan tersebut.


Setelah hasil lukisan tersebut selesai, para anggota penyidik dan termasuk Didi tercengan melihat hasilnya. Dimana hasil dari lukisan itu sesosok wajah menyeramkan dengan tubuh yang memiliki bulu yang tidak terlalu lebat namun dengan rupa yang terlalu sangat buruk.


Didi sangat terkejut dengan lukisan itu, sebab itu adalah sosok makhluk yang dilihatnya diwarung mbak Lela dan juga warung Yanti enam.tahun yang lalu.


"Pak.. Bukankah ini ciri-ciri dari sosok yang pernah diungkapkan oleh Irjen Adhit dan juga Irjen Jefry, namun kita menyangkalnya" ungkap penyidik yang pernah melukis sosok tersebut


Lalu mereka saling pandang.


" Bagaimana cara Ia melakukannya?" tanya penyidik itu kepada Dino.


"Mencabutnya paksa saat senjata pamungkas remaja itu sedang tegak berdiri untuk melakukan pelepasan puncak bercintanya" jawab Dino mulai lancar.


Seketika para penyidik dan juga Didi terperangah mendengarnya dan mereka tak menyangka jika pelaku tersebut sangat sadis dalam melakukan aksi kejinya.


"Lalu dibawa kemana organ inti yang sudah dicabutnya dengan paksa?" cecar penyidik kepada Dino.


"Ia memakannya" jawab Dino cepat.


Seketika para penyidik tersentak mendengar pengakuan dan kesaksian Dino.